Rabu, 10 Oktober 2012

Hindari Prasangka

Hati-hatilah Dengan Prasangka

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu; jangan mencari-cari dan memata-matai kesalahan orang lain; jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain; dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain; jangan saling membenci satu sama lain dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Bukhori)

Kedamaian dalam hidup adalah impian setiap orang. Banyak hal dilakukan agar orang bisa mendapatkan kedamaian. Misalnya bekerja keras untuk memenuhi kehidupan keluarga, menabung, berbuat baik, tidak mengganggu sesama, belajar dan menjaga kesehatan adalah contoh-contoh bagaimana kita berupaya agar bisa hidup damai. Sebab kedamaian tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan.

Berbagai cara juga dilakukan agar kedamaian tidak rusak. Dalam masyarakat terdapat pandangan bahwa membicarakan aib orang lain di muka umum tidak bijaksana. Ajaran untuk tidak memfitnah, tidak bersikap kasar dan porno, ajaran untuk tidak menggunakan barang orang lain tanpa ijin, dan tidak melanggar kesepakatan-kesepakatan yang diputuskan bersama adalah contoh yang umum di masyarakat agar kedamaian tidak rusak.     

Namun dalam kehidupan sering terjadi peristiwa yang di luar kebiasaan. Misalnya ada pendatang baru, yang mempunyai kebiasaan hidup berbeda. Adakalanya kita tidak mudah menerima sesuatu yang berbeda dengan kita. Sulit menerima kenyataan orang lain yang berbeda dapat menyebabkan munculnya pikiran-pikiran bahkan tindakan kita yang tidak baik. Jelas hal ini merusak rasa damai dalam batin dan jiwa kita.

Persoalan yang membuat kita sulit menerima hal baru yang mungkin berbeda dengan kita itu adalah prasangka atau anggapan-anggapan yang barangkali keliru atau tidak seutuhnya benar. Dalam hal ini untuk mengupayakan hidup damai, kita perlu selalu menjernihkan pikiran agar berdampak pada ketenangan batin dan jiwa.

Hal pertama untuk menjernihkan pikiran adalah percaya dan yakin bahwa pada dasarnya semua orang baik, menyukai kebaikan dan cenderung pada kebaikan. Bila ada sesuatu yang tidak mengenakan pada seseorang, barangkali hal itu datang dari luar dirinya, atau ada sebab-sebab tertentu yang mendorong seseorang berbuat tidak menyenangkan. Bahkan tidak menutup kemungkinan itu dilakukan di luar kehendak hatinya. Misalnya ada remaja yang senang mengganggu atau membuat keributan, belum tentu remaja yang bersangkutan bahagia. Mungkin selama ini dia kurang mendapat perhatian, selalu diejek atau disalahkan dan kurang diwongke. Remaja ini tidak puas dengan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya, kemudian ia ingin melampiaskan sesuatu. Alangkah indahnya bila kita sudi membantu remaja-remaja seperti ini keluar dari persoalannya dan bukan menambah beban batinnya. Mengingat kedamaian pada orang lain akan berdampak memunculkan kedamaian dalam diri kita.

Percaya dan yakin bahwa pada dasarnya semua orang baik akan membantu kita jernih dari prasangka atau anggapan-anggapan yang kurang tepat tentang orang lain. Jernih dari prasangka dan jernih dari anggapan-anggapan yang tidak benar berarti kita terbebas dari kekeruhan, keruwetan dan kesumpegan dalam pikiran dan batin. Hidup menjadi lebih ringan dan melegakan.

Salah satu prasangka yang cukup kuat berkembang dalam masyarakat misalnya prasangka bahwa semua orang beragama hendak menjadikan orang lain sebagai pengikutnya meskipun yang bersangkutan sudah beragama.

Prasangka tersebut biasanya berkembang menjadi kecurigaan sehingga menimbulkan sikap-sikap yang tidak santai, membatasi pergaulan dengannya dan mewaspadai gerak-gerik dan pendapatnya yang sesungguhnya cukup merepotkan.

Barangkali benar pada masa lalu banyak misionaris yang tugasnya adalah menjadikan pemeluk agama lain sebagai pengikutnya sebanyak mungkin. Barangkali juga masih ada segelintir orang yang sampai saat ini berambisi seperti misionaris.

Tetapi di sini perlu diketahui bahwa kebebasan dalam memilih dan menjalankan agama sesuai yang dianut merupakan hak asasi manusia.

Dengan demikian, sikap memperlakukan setiap pemeluk agama tertentu seolah-olah mereka hendak menjadikan kita sebagai pengikut mereka, sungguh suatu tindakan yang tidak adil, merepotkan kita sendiri dan bisa memunculkan rasa tidak enak yang mengganggu keselarasan hidup bersama. Justru dengan adanya komunikasi yang baik akan menghindarkan kita dari prasangka dan anggapan-anggapan buruk yang menyesatkan. Dengan komunikasi yang baik ini terjadi saling pengertian serta saling menjaga keharmonisan hidup bersama.

Contoh lain tentang perlunya kita membebaskan diri dari anggapan-anggapan yang tidak benar adalah berkaitan dengan perbedaan suku. Di kalangan masyarakat sering muncul anggapan bahwa orang Cina atau orang Minang itu pelit dan kurang membaur dalam masyarakat.

Padahal bila kita bisa berteman dan berkomunikasi dengan baik, kita akan paham bahwa setiap perantau, tidak hanya suku Cina dan Minang harus hidup hemat, bekerja keras dan disiplin, agar mereka bisa bertahan hidup atau berhasil di tempat mereka merantau. Karena itu kesan yang timbul adalah mereka pelit dan kurang bermasyarakat, padahal kepribadian yang demikian itu terbangun dari sejarah mereka dalam memperjuangkan hidup.

Sampai di sini layak kita sadari bahwa hidup yang damai harus senantiasa kita usahakan dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita juga tidak bisa berharap kedamaian akan langgeng dengan sendirinya bila kita tidak menjaga dari hal-hal yang merusaknya.

“Hati-hatilah dengan prasangka karena prasangka adalah yang terburuk dari kabar palsu; jangan mencari-cari dan memata-matai kesalahan orang lain; jangan saling mencemburui (iri) satu sama lain; dan jangan memutuskan hubungan satu sama lain; jangan saling membenci satu sama lain dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”. (HR. Bukhori)