Jumat, 23 Oktober 2009

bagian 3 Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Ka’b melanjutkan: Ketika saya keluar beberapa orang dari Bani Salamah marah, yakni dari kaumnya. Mereka terus mencercaku, mencelaku, kenapa saya mengatakan semacam itu. Seandainya saya beralasan dengan alasan apa saja itu sudah cukup Rasulullah SAW akan memaafkanmu. Perhatikan kelemahan jiwa manusia sampai pada diri orang-orang mulia sekelas para sahabat ra. Ka’b: Mereka terus mencercaku sampai saya hampir kembali untuk berbohong.

Tekanan masyarakat, tekanan keluarga dan tekanan lingkungan sangat keras sampai kepada mereka para sahabat yang mulia ra. Lalu bagaimana sekarang,
mayoritas manusia standar timbangannya sudah terbalik. Mayoritas manusia duduk berpangku tangan dari jihad. Sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran dan ingat. Semoga Allah SWT memberikan taufiq kepadanya. Dialah yang memiliki segala puji dan anugerah. Kita berharap kepada-Nya semoga Dia memantapkan kita dan memantapkan berbagai nikmat ini kepada kita sampai kita menemui-Nya dan Dia pun ridha dengan kita.

Ka’b: Kemudian saya berkata kepada mereka, apakah ada orang lain yang mengalami sepertiku? Mereka menjawab: Ya, ada dua orang yang mengalami sepertimu. Mereka berdua berkata seperti apa yang kamu katakan. Mereka berdua juga ditanya seperti kamu ditanya. Maka ia menyebutkan dua orang itu, yaitu Muroroh bin Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah. Keduanya pernah ikut perang Badar ra sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.

Kemudian datang perintah untuk memboikot dan mengucilkan. Mengucilkan orang-orang yang duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah. Ka’b: Bumi menjadi terasa asing bagiku. Seolah-olah ia bukan bumi yang sudah saya kenal dan jiwaku sendiri terasa asing. Siapa yang mengucilkanmu wahai hamba Allah? Yang mengucilkanmu adalah pemimpin anak Adam yang apabila murka kepadamu maka Rabb pemilik langit dan bumi SWT juga murka kepadamu. Suatu perkara yang besar sekali. Ketidakberangkatan tiga orang dari jumlah 30 ribu mujahid sebenarnya tidak berpengaruh terhadap pasukan. Namun, ini adalah masalah yang masuk ke hati. Mengapa hati ini duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah. Di sini tidak penting apakah berpengaruh ataukah tidak. Ini merupakan amanah yang ada di pundakmu dan kewajibanmu yang seharusnya kamu laksanakan.

Ia dikucilkan dan diasingkan, sampai jiwanya juga terasa asing baginya. Ka’b: Setelah pengasinganku berlangsung cukup lama, ada seorang utusan datang dari Raja Ghassan. Kalian tahu kaum Ghassan adalah berasal dari Bani Qailah. Antara mereka dan antara suku Aus dan Khazraj ada pertalian nasab (keturunan), jadi induk mereka satu. Kabar itu sampai ke kaum Ghassan. Raja mereka mengirimkan utusan lagi kepadanya mengatakan: bergabunglah dengan kami, kami akan membantumu dengan harta kami. Kamu tidak akan tinggal di negeri kehinaan dan kesia-siaan. Ka’b menanggapi: Sampai orang-orang kafir antusias kepadaku. Orang-orang musyrik antusias untuk merekrutku. Demikian juga keadaan orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dari jihad, para penguasa pengkhianat dan antek-antek mereka antusias kepada mereka. Orang-orang kafir itu antusias kepadanya dan menambah kesesatan mereka dari membela laa ilaaha illallaah.
(( وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ ))
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” [QS. Huud (11): 113].
Semoga Allah melindungi kita dan kalian darinya.

Ka’b: Saya mengambil kitab atau lembaran kitab, saya melemparkannya. Ia menaruhnya di tungku perapian. Ketika permasalahannya membuatnya merasa sempit. Ia berkata: Saya naik tembok sepupuku Abu Qotadah, dia orang yang paling aku sukai. Saya bertanya: Wahai Abu Qotadah: “Saya memintamu karena Allah.” Perhatikan wahai para hamba Allah, keterikatan iman dengan jihad dan keterikatan jihad dengan iman. Bumi terasa sempit baginya, demikian jiwanya. Manusia terbaik SAW telah memboikotnya. Bagaimana bumi akan terasa luas dan bagaimana jiwanya akan terasa lapang. Ka’b: “Saya berkata: Wahai Abu Qotadah, kehilangan apa saja ketenangan itu?” Karena begitu sempitnya perasaanya, ketenangan dari sesuatu teragung dalam hati, (yakni) dari iman. Ka’b ingin merasa tenang dari cinta Allah dan cinta Rasul-Nya SAW.

Ka’b: “Saya minta kepadamu wahai Abu Qotadah, apakah kamu tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Kejahatan besar sekali apabila engkau menelantarkan laa ilaaha illallaah. Bukankah yang menerangi hati kita hanya laa ilaaha illallaah? Bagaimana engkau meninggalkan kalimat agung ini, engkau duduk-duduk bersama dengan orang-orang yang tidak berangkat berjihad. Sementara engkau menganggap bahwa engkau mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ka’b: “Abu Qotadah tidak menanggapiku, sebagai bentuk pemboikotan!” Sampai Ka’b mengatakan di awal hadits: “Saya memberi salam kepadanya, tapi orang yang paling saya cintai tidak menjawab salamku, demi komitmen dengan perintah Allah untuk melaksanakan sangsi kepada mereka orang-orang yang duduk-duduk berpangku tangan dari membela Allah. Hanya saja setelah itu Allah melimpahkan rahmat-Nya (kasih sayang-Nya) kepada mereka dan menerima taubat mereka ra. Ka’b: “Saya memohon dengan sangat kepadanya kedua kali: Apakah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Ka’b: “Abu Qotadah tidak menjawab.” Saya memohon dengan sangat kepadanya ketiga kali: Apakah engkau tahu bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qotadah: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ka’b berkata: ”Saya pun pergi dengan air mata yang membanjir dari kedua mataku.” Ka’b menangis! Sesuatu teragung yang ada pada dirinya yaitu keimanannya kepada Allah, orang yang paling ia cintai tidak mampu menetapkannya untuknya perkara yang agung ini. Lalu apa nilai hidup (tanpa iman kepada Allah)? Abu Qotadah tidak menetapkan keimanannya kepada Allah dan tidak menafikannya darinya. Ia berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Setelah itu Ka’b ra mengatakan –ini termasuk pelajaran yang patut kita jadikan pelajaran-: Setelah berlalu 40 hari, seorang utusan Rasulullah SAW datang, ia berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu.” Perhatikan wahai para hamba Allah, termasuk sesuatu yang paling special ada pada para tokoh adalah rumah dan istri. Tiba perintah untuk meninggalkan istrinya, meninggalkan ibu rumah tangganya. Utusan itu mengatakan: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadamu untuk meninggalkan istrimu.” Hati yang hidup, apabila lalai akan teringat dan kembali kepada kebenaran. Mereka (tiga orang itu) menyadari besarnya kejahatan yang dilakukannya dengan meninggalkan laa ilaaha illallaah. Utusan itu mengatakan: “Rasulullah SAW memerintahkanmu untuk meninggalkan istrimu.” Ka’b: “Saya disuruh menceraikannya atau apa?” Ka’b ra sudah siap menceraikan ibunya anak-anaknya demi meraih keridhaan Allah SWT.” Utusan: “Tidak, tapi jangan sekali-kali engkau mendekatinya.” Ka’b berkata kepada istrinya: “Pulanglah ke keluargamu sampai Allah memutuskan urusan kita.”

Dengan kalimat Allah, dengan dien ini kita menghalalkan kemaluan wanita di atas kitab Allah dan di atas sunnah Rasulullah SAW. Rabb kita SWT Dzat Yang menciptakan mereka untuk kita.

(( وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا ))

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” [QS. Ar-Ruum (30): 21].
Termasuk keutamaan Allah yang diberikan kepadamu wanita ini dalam penciptaannya, dan dalam menikahinya. Ketentraman, rasa kasih dan sayang. Bagaimana engkau menelantarkan dien ini yang menjadi sebab Allah SWT menganugerahimu segalanya. Bagaimana engkau menelantarkan dien Rabbmu SWT yang telah menciptakanmu dari sebelumnya tidak berwujud tanpa daya, kekuatan dan upaya darimu.

www.info-iman.blogspot.com

Bagian 2 Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Kita berhenti sejenak pada beberapa ibrah (pelajaran) dalam hadits Ka’b untuk kita renungkan dan kita tidak akan membahas semua ibrah yang terkandung di dalamnya karena itu sudah dibahas panjang lebar oleh para ulama pensyarah (yang menjelaskan maksud) hadits. Seperti Imam Nawawi rhm dan Ibnu Hajar rhm. Ka’b melanjutkan: Ketika Rasulullah SAW kembali, saya dilanda kesedihan yang mendalam dan kedukaan. Saya berkata: Dengan apa saya akan menemui beliau. Saya mendatangi beliau. Beliau tersenyum dengan senyuman kemarahan. Beliau murka kepada Ka’b. Ibnu Hajar juga menyebutkan perkataan beberapa ahli Maghazi, Ka’b berkata: Beliau berpaling dariku –yakni Ka’b berkata bahwa Rasulullah SAW berpaling dariku-. Saya berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda berpaling dariku. Demi Allah saya tidak berbuat nifak.
Aku tidak ragu-ragu dan aku tidak mengganti (agamaku). Perkara yang sangat besar ia meninggalkan pembelaan terhadap dien. Ka’b: Kenapa Anda berpaling dariku. Demi Allah saya tidak berbuat nifak. Aku tidak ragu-ragu dan aku tidak mengganti (agamaku). Lalu datanglah jawaban yang sangat kuat dan keras. Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang membuatmu absent? –Sebuah pertanyaan dimana orang-orang juga akan ditanya demikian-. Apa yang membuatmu absent dari membela laa ilaaha illallaah?”  Apa yang membuatmu absent?

Kita mengharap kepada Allah SWT agar melapangkan dada ulama kita sehingga memperhatikan siroh para pendahulu kita. Mengeluarkan fatwa kepada umat tentang hukum jihad yang sekarang adalah fardhu ‘ain dimana para salaf bersepakat bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain dalam beberapa keadaan, mereka menyebutkan di antaranya adalah jika musuh masuk menyerang negeri Islam. Lihatlah sekarang ia telah masuk ke negeri Islam sejak berpuluh-puluh tahun lamanya. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Lalu siapa yang bertanggung jawab akan laa ilaaha illallaah? Jika masing-masing kita mencari-cari udzur dengan berbagai udzur, siapa untuk bertanggung jawab? Apakah dien Allah SWT akan dibiarkan begitu saja dinodai, sementara kita bertanggung jawab atasnya? Harus ada introspeksi hingga kita bisa menegakkan kebenaran dengan izin-Nya SWT.

Di sini Ka’b mengaku dengan jelas dan gamblang yang bisa menjadi ibrah bagi orang-orang yang memiliki akal.

Ka’b melanjutkan: Saya berkata: Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya saya duduk di samping selain Anda dari para pecinta dunia pasti aku akan keluar terbebas dari kemurkaannya dengan membawa udzur –perhatikan wahai para hamba Allah- Ka’b melengkapi: Sungguh saya diberikan kemampuan berdebat. Banyak orang sekarang yang diberikan kemampuan berdebat. Dalil-dalil yang jelas dan gamblang dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah SAW mereka palingkan dengan alasan-alasan yang tidak berguna sama sekali. Ada yang mengatakan: Sekarang bukan waktunya. Lalu kapan waktunya? Lihatlah Andalusia (Spanyol) sebagai Negara Islam telah jatuh sejak lebih dari 500 tahun. 5 abad. Kapan waktunya? Setiap kali ada seorang datang mengalihkan kita kepada sesuatu yang tidak ada. (Ada yang mengalihkan) dengan perkataan. Mereka mengatakan: Belum tiba waktunya. Apakah ayat-ayat Qur’an dan hukum-hukum turun untuk dipalingkan kepada sesuatu yang tidak diketahui dan kepada sesuatu yang tidak berguna (sia-sia)?

Ini adalah ibadah agung yang dengannya manusia diperhambakan kepada Allah SWT Rabb manusia. Sebagaimana saya sebutkan dalam Shahih Bukhari-Muslim “Saya diperintahkan memerangi manusia sampai bersaksi bahwasanya tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat.” Beliau diperintahkan berperang karena ibadah. Bagaimana kita ingin menjadikan manusia menjadi hamba Allah dengan selain manhaj Muhammad SAW. Padahal orang-orang zindiq telah muncul di seluruh negeri Islam, Allah dan Rasul-Nya SAW diingkari di lembaran-lembaran Koran. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Di sini berhati-hatilah dari debat. Jangan urusin orang lain. Ikutilah mereka para salaf ra, imam dan pemimpin mereka Muhamad SAW.

Ka'b melanjutkan: Sungguh saya diberi kemampuan berdebat. Namun, demi Allah, saya tahu jika aku memberi tahu Anda dengan kebohongan yang membuat engkau ridha dengan alasanku hampir-hampir Allah akan membuat engkau murka kepadaku.

Sekarang, wahai hamba Allah, engkau akan ditanya kenapa tidak keluar? Jiwamu menipumu dan menipu saudaramu. Namun, hampir-hampir Allah akan membuat manusia marah kepadamu karena kemarahan-Nya SWT kepada orang yang menelantarkan din-Nya. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Ka'b ra melanjutkan: Jika aku menceritakan sejujurnya engkau dapati aku ada di dalamnya. Dengan kejujuran itu saya berharap balasan dari Allah.

Kira-kira 20 tahun yang lalu, saya berkeliling menemui para ulama dan masyayikh kita, meminta mereka keluar untuk berjihad ketika jihad periode pertama melawan Rusia baru mulai. Banyak dari mereka yang beralasan dengan berbagai udzur. Sedikit dari mereka yang mirip dengan manhaj Ka'b ra. Saya masih ingat perkataan sebagian mereka yang mengatakan: Wahai Usamah, pergilah, berjalanlah di atas barakah Allah. Engkau ada di atas kebenaran. Itulah jalannya. Akan tetapi kami tidak terbiasa dan akrab dengan itu. Sesungguhnya kami takut darinya. Manusia adalah musuh dari apa yang diketahuinya. Mereka tidak terbiasa dengan jihad ini karena –sebagaimana saya sebutkan- ibadah ini telah berlalu puluhan tahun sementara para pelakunya tidak berjalan di tengah manusia.

Setelah itu di sini Ka'b melanjutkan: Demi Allah saya tidak punya udzur. Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia tidak punya udzur. Sekarang ini banyak orang yang tidak punya udzur jika mereka mengikuti manhaj Ka'b ra. Demi Allah saya tidak punya udzur. Demi Allah, engkau sama sekali tidak lebih kuat dan mudah dari keadaanku ketika saya absent dari engkau. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh orang ini telah berlaku jujur.” Sebelum Allah SWT menganugerahkan kepadanya tekad untuk berlaku jujur ketika berita kembalinya Rasulullah SAW sampai kepadanya, ia berkata: “Saya mulai teringat akan berdusta.” Ini adalah pengakuan yang sangat penting agar kita mengatahui bagaimana tabiat jiwa manusia. Banyak orang, sekarang ini, dari kondisi mereka seolah-olah menganggap diri mereka maksum (terjaga dari dosa). (يقولك : لا لان هو) seandainya jihad itu lebih penting pasti ia pergi. Sahabat yang agung ini -termasuk senior dalam hal masuk Islamnya - mengakui dalam Shahih Bukhari-Muslim dan yang lainnya berkata: “Saya teringat akan berdusta.” Jiwa itu punya celah-celah kelemahan yang banyak sekali, padahal syaitan mengalir di pembulu darah manusia. Kita berlindung kepada Allah darinya. Namun berkat taufiq dari Allah kepadanya, ia bertekad untuk berlaku jujur. Karena kejujurannya-lah Allah SWT menyelematkannya. Sebagaimana akan dijelaskan di belakang.
bersambung


www.info-iman.blogspot.com

Syarah Hadits Ka’b bin Malik oleh Syaikh Usamah bin Ladin –hafizhahullah-

Sesungguhnya segala puji milik Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [QS. Ali Imran (3): 102].

Amma ba’du:

Pembahasan kita pada pertemuan kali ini adalah tentang kondisi umat yang agung yang telah ditimpa musibah, sebagaimana yang telah kalian ketahui sendiri, berupa berkuasanya orang-orang kafir atasnya. Mereka menjalankan hokum dengan selain hukum Allah dan menodai berbagai kesuciannya. Lihatlah sekarang telah berlalu lebih dari 8 dekade
atas pendudukan Palestina di tangan orang-orang Nasrani dan setelah mereka orang-orang Yahudi. Telah berlalu 10 tahun pendudukan pasukan salibis yang dipimpin oleh Amerika. Mereka menduduki Masjidil Haram, negeri dua tanah suci (biladul haromain). Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Meskipun musibah besar dan bencana dahsyat ini telah menimpa umat Islam, masih saja ada orang-orang yang berada dalam ketersesatan dan kebingungan. Belum mau bergerak sedikitpun untuk membela Laa ilaaha illallaah. Hanya kepada Allah-lah tempat mengadu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Banyak para pentakwil yang membolehkan duduk-duduk berpangku tangan dengan banyak argumen. Hanya saja intinya kaum muslimin dihinakan, dan syariat Allah Yang Maha Penyayang telah dijauhkan agar jangan sampai dijalankan kepada para hamba-Nya sebagai undang-undang dari Allah SWT Rabb kita.

Syariat Allah telah dijauhkan dari masyarakat, sementara mereka tersesat jauh dari manhaj Muhammad SAW dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, dalam mengangkat kehinaan dan kerendahan diri mereka. Dan diantara cara yang agung untuk menerangkan kebenaran adalah dengan mengingat bersama-sama bagaimana kondisi periode para pendahulu kita ra, bagaimana kehidupan para sahabat yang mulia ra. Dengan demikian kebenaran akan nampak jelas bagi kita daripada kebatilan, kebenaran akan nampak dalam ilustrasi yang gamblang dengan izin Allah SWT.

Saya telah merenungkan sirah mereka ra, dan di antara apa yang saya lihat paling jelas dalam masalah ini adalah hadits Ka’b bin Malik ra sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits yang lainnya. Dalam hadits panjang yang agung ini, sahabat yang mulia ini mengaku dengan terus terang tentang tabiat jiwa manusia dan kelemahannya. Ia ra tidak mendebat atau berdusta sebagaimana orang-orang yang bersumpah dusta sehingga Allah SWT membinasakan mereka dan mengomentarinya dengan komentar yang sangat buruk.

Mari kita mentadabburi bersama-sama kejujuran dan keterusterangan ini agar kita tahu bagaimana tabiat orang-orang yang duduk-duduk tidak berangkat berjihad. Kita berusaha mengobati dan menasehati jiwa kita, saudara-saudara dan ulama kita. Kita berharap kepada Allah agar sudi kiranya mengembalikan kita dengan pengembalian yang baik.

Ka’b bin Malik ra bercerita tentang perang Tabuk yang tidak diikutinya. Padahal ia adalah termasuk dari sahabat Anshar yang pertama-tama masuk Islam ra. Keislamannya tidak dirgukan lagi. Ia termasuk yang hadir, menyaksikan, dan berbai’at pada hari dilaksanakannya bai’at ‘Aqabah. Bai’at agung yang menjadi tonggak tegaknya Daulah Islam. Daulah Islam tegak di Madinah Al-Munawwaroh, sementara kita tidak lain hanyalah salah satu buah diantara buah-buahnya yang penuh barakah.

Ia menceritakan: Saya tidak pernah absen dari setiap perang yang dipimpin Rasulullah SAW sama sekali kecuali perang Badar. Dan Rasulullah SAW sendiri tidak mencela seorang pun yang absen pada perang-perang tersebut. Ia termasuk yang aktif ikut di semua perang Rasulullah SAW kecuali perang Badar. Ia termasuk yang menikmati berbagai peperangan dan mempersembahkan lehernya untuk membela laa ilaaha illallaah. Namun, manusia tetaplah manusia, yang kadang kala digelincirkan oleh setan, sekali waktu lemah dan tertipu oleh dirinya sendiri. Inilah yang dinyatakan dengan jelas oleh beliau ra.

Ia melanjutkan: Rasulullah SAW mengajak untuk berangkat berperang ketika hari semakin panas menyengat di saat orang-orang sedang qoilulah (istirahat sejenak) di bawah pohon-pohon kurma mereka. Buah kurma yang ada di pohon sudah mulai tampak matang. Ia berkata: “Waktu itu saya senang dengannya”, dalam artian ia cenderung/senang dengan naungan/keteduhan tersebut dan cenderung/senang dengan buah kurma tersebut. Inilah tabiat jiwa manusia. Kita bisa membacanya pada orang-orang besar semacam mereka ra. Jika mereka saja ada yang absen dari jihad, maka tak heran apabila ada orang-orang pilihan pada hari ini yang juga absen dari jihad. Karena orang-orang yang lebih baik dari kita dan dari mereka saja pernah ada yang absen sebagaimana disebutkan dalam hadits ini yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Saya lebih senang dan cenderung kepada pohon-pohon kurma tempat berteduh. Sementara orang-orang mulai bersiap-siap. Saya pun bersiap-siap. Waktu berlalu. Hari pertama berlalu, saya belum menyiapkan apapun. Saya berkata: Saya akan mempersiapkan diri besok. Namun belum juga melakukan apapun. Saya berkata pada diri sendiri –perhatikan pernyataannya di sini–: Saya berkata pada diriku sendiri, saya kuasa untuk berangkat bersama mereka. Si jiwa menipu pemiliknya yang biasa berjihad. Ia melanjutkan: Ini masalah sederhana, saya bisa berangkat. Saya berkata pada diriku sendiri, saya bisa berangkat dan mampu melakukannya. Saya masih dalam keadaan semula sampai waktu perang semakin dekat. Rombongan menakutkan itu pun berangkat. Sebuah rombongan agung yang dipimpin oleh Muhammad SAW diiringi Abu Bakar, Umar dan para sahabat yang mulia.

Sebagian besar ahli siroh memperkirakan mereka berjumlah 30 ribu sahabat ra. Di sini seorang muslim harus ingat akan tipu daya jiwa. Berapa banyak orang yang duduk, berapa banyak orang yang berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah tertipu oleh jiwanya. Seandainya ia mau pergi ia pasti pergi. Seandainya bapaknya, pemimpinnya atau penunjuk jalannya ingin beragkat pasti berangkat. Namun ketidakberangkatannya termasuk ketertipuan yang nyata dan jelas. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Ia tertipu oleh jiwanya. Ia yang sudah berpengalaman dalam peperangan dan pertempuran. Kaum Anshar yang terbiasa dengan perang dan bertempur. Mereka mewarisi kebiasaan itu dari orang-orang tua mereka. Namun ia tertiupu oleh jiwanya. Lalu bagaimana dengan orang yang belum pernah berangkat perang sama sekali? Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Akan sangat mudah bagi jiwa untuk menipu pemiliknya. Mereka yang hidup dalam kehidupan yang sulit. Tidak ada listrik, AC dan tidak ada apa-apa. Buah kurma yang kelihatan mau masak di pohon kurma membuatnya berat untuk berangkat jihad. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang longgar dalam hal-hal yang mubah sampai malah berlebihan. Tenggelam dalam kemewahan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Bagaimana dengan mereka tidak tertipu oleh jiwanya kecuali orang yang Allah kehendaki selamat.

Orang-orang telah berangkat. Ka’b jatuh dalam dosa besar yang memalukan. Duduk tidak ikut membela laa ilaah illallaah. Duduk tidak ikut membela tauhid dan akidah. Merasa berat karena kenikmatan kehidupan dunia yang pada waktu masih sangat sedikit.

Udara waktu itu panas. Dalam beberapa atsar lain di Tabuk, Umar ra berkata: Jika salah seorang dari kita keluar menuju kendaraanya lehernya terasa mau putus karena saking panasnya. Lalu apa kata pecinta dunia. Apa kata mereka?

 (( وَقَالُواْ لاَ تَنفِرُواْ فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ )) ,

“Dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.” [QTS. At-Taubah (9): 81].

Mereka menghadiri hadits-hadits Rasulullah SAW, khutbah-khutbah jum’at dan mengetahui apa yang beliau sampaikan. Mengatakan dengan lisan mereka namun tidak paham. Karena masalah paham adalah berkaitan dengan kepahaman hati dan rasa takut kepada Allah. Mereka tidak paham walaupun mengetahui. Seandainya paham pasti mengetahui bahwa api neraka jahannam lebih dahsyat panasnya. Lebih dahsyat panasnya.

Sekarang apa yang bisa dikatakan kepada saudara-saudara kita? Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya jika kalian kembali cambuk sudah menunggu. Dan sesungguhnya cambuk di penjara-penjara itu panas. Dikatakan kepada mereka: Sesungguhnya aparat keamanan dan intelejen selalu mengikuti kalian. Maka kami katakana kepada mereka:

(( قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ )) ,

“Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.” [QTS. At-Taubah (9): 81].

Kita berharap kepada Allah agar menganugerahi kita dan kalian akan kefakihan (kepahaman) dan ilmu.

Hari-hari kita terbatas. Apakaha kita akan meninggalkan surga Rabb kita SWT hanya karena ancaman manusia? Tidak demi Allah. Siapa yang yakin bahwa ajal manusia terbatas, tidak bisa dimajukan dan dimundurkan. Siapa yang yakin bahwa rezeki sudah diketahui, tidak akan bertambah dan berkurang, ia tidak akan perduli. Sebagaimana dalam hadits Nabi kita SAW ketika mengajari anak muda Abdullah bin Abbas ra: “Wahai anak muda, saya ajari kamu beberapa kalimat: jagalah Allah niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah engkau dapati-Nya di depanmu. Jika kamu meminta mintalah kepada Allah. Jika kamu minta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika bersatu untuk membahayakanmu dengan sesuatu niscaya tidak bisa melakukannya kecuali yang sudah ditetapkan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Hadits ini memberikan pelajaran dan ilmu kepada kaum Muslimin. Ini merupakan anugerah nimat dari Allah kepada kita. Namun para pemuda Islam membutuhkan ilmu dan amal sekaligus untuk menyuarakan kebenaran dengan terang-terangan demi laa ilaaha illallaah sehingga masalahnya menjadi sempurna. Mempelajari ilmu namun tidak diamalkan malah akan menjadi argument yang akan mencelakakan kita. Harus dengan dua-duanya, ilmu dan mengamalkannya. Karena buah dari amal adalah rasa takut kepada Allah. Dan buah ilmu adalah beramal di atas jalan yang sudah dijelaskan Muhammad SAW agar kita mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Setelah itu, ia tertinggal rombongan perang. Ka’b berkata: Saya ingin menyusul mereka namun itu tidak ditakdirkan untukku. Ia melanjutkan: Duhai seandainya saya melakukannya. Perang agung yang penuh barakah itu termasuk perang terakhir yang diikuti Rasul kita SAW. Kesempatan besar hilang darinya, apalagi melakukan dosa besar yang memalukan. Duhai seandainya saya melakukannya.

Wahai hamba Allah gunakan kesehatanmu. Manfaatkan waktu luang dan masa mudamu. Inilah medan-medan surga telah terbuka lebar. Terdapat keterangan shahih dari Nabi kita SAW: “Sesungguhnya pintu-pintu surga terletak di bawah naungan pedang”. Ketika Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan hadits ini, ada seseorang bertanya: Wahai Abu Musa apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW?. Lihatlah kepada kepahaman mereka, ingin mengetahui untuk mengamalkannya. Bukan untuk memperbanyak ilmu yang justru akan menjadi argument yang akan mencelakakannya. Jadi harus dengan ilmu dan amal. Apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah SAW? Injgin meyakinkan bahwa hadits itu adalah hadits shahih. Abu Musa menjawab: Ya. Ia pun berlalu menuju kaumnya, mengucapkan salam kepada mereka lalu mengambil sarung pedangnya kemudian ia patahkan, terus pergi untuk berperang sampai terbunuh rhm.

Inilah manhaj para sahabat yang mulia. Manhaj para pendahulu kita yang shaleh ra. Ka'b berkata: Duhai seandainya saya melakukannya. Kesempatan masih kamu miliki sebelum datangnya hari H baru kamu berkata: Duhai seandainya saya melakukannya.

Diriwayatkan, ada ada seorang ulama shaleh sedang menghadapi sakaratul maut, ia ada di atas tempat tidur kematiannya. Kedua matanya menteskan air mata, ia adalah termasuk orang yang bertakwa dan berilmu. Ia ditanya: Apa yang membuatmu menangis? Sambil melihat kedua telapak kakinya ia menjawab: Saya menangis karena kedua telapak kakiku belum pernah terkena debu di jalan Allah.

Kalian tahu hadits shahih dari Nabi kita SAW: Kedua telapak kaki seorang hamba yang terkena debu di jalan Allah tidak akan disentuh api neraka. Allahu Akbar (Allah Mahabesar!). Suatu ibadah, hanya dengan menyentuh debunya saja bisa melindungimu dari api neraka. Bagimana dengan orang yang keluar dengan jiwanya dan hartanya dan tidak kembali lagi dengan keduanya maka itu adalah sebaik-baik amalan. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari, ketika ditanya tentang perbedaan keutamaan amalan dan amalan yang paling utama, beliau SAW menjawab: Seorang laki-laki yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya di jalan Allah”. Banyak saudara-saudara kita menakut-nakuti kita dengan bahaya. Padahal bahaya yang sebenarnya adalah bahaya ketika ada dalam kubur. Kita memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kubur kita sebagai salah satu taman surga.

Bahaya sebenarnya adalah kelak pada hari perhitungan (yaumul hisab), hari kiamat, hari dinampakkan kesalahan-kesalahan (yaumut taghabun). Engkau datang padahal telah tertipu. Umurmu telah habis pada perkara-perkara yang membuatmu duduk-duduk tidak ikut membela laa ilaaha illallaah. Allah Ta’ala berfirman memperingatkan kaum mukminin agar jangan sekali-sekali dekat-dekat dengan sifat orang-orang munafik, karena sifat orang-orang munafik yang paling menonjol adalah duduk-duduk tidak membela Allah,

(( وَجَاء الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ ))

“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan 'uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berjihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja.” [QTS. At-Taubah (9): 90].
Semoga Allah menjaga kita dan kalian dari sikap duduk-duduk berpangku tangan tidak membela Allah dan Rasul-Nya SAW.

Lihatlah para pendahulu kita itu. Ia menjelaskan dalam haditsnya ra, ia melanjutkan: Ketika rombongan perang sudah bertolak, saya keluar di Madinah. Yang membuat saya bersedih adalah saya tidak melihat di jalan-jalan Madinah kecuali orang yang sudah tenggelam dalam kemunafikan atau ia termasuk salah satu orang-orang yang memiliki udzur. Itulah mereka para pendahulu kita ra.

Ketika tiba berita bahwa Romawi sedang berpikir akan menyerang umat Islam, belum masuk negeri Islam, hanya sekadar tiba berita bahwa mereka sedang berpikir untuk berkumpul mau menyerang, pemimpin kita dan tauladan kita Muhammad SAW keluar dan mengajak orang-orang: Wahai kuda Allah berangkatlah. Yang duduk-duduk berpangku tangan tidak berangkat hanya orang munafik atau termasuk salah orang yang diudzur.
Lihatlah wahai hamba Allah, jika engkau ingin selamat, ikutilah jejak mereka orang-orang yang mulia ra yang mengikuti Muhammad SAW dan orang-orang bersamanya.

(( مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ ))

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [QTS. Al-Fath (48): 29].

Pengikutan itu harus sempurna dalam apa saja baik yang kau sukai maupun yang kamu benci. Sebagaimana dalam hadits Ubadah ra: “Kami bersumpah setia (bai’at) kepada Rasulullah SAW untuk mendengar dan taat baik dalam hal yang sulit maupun mudah, dan suka maupun benci.”
Orang-orang membenci perang, maka kamu harus menunaikan amanah yang dititipkan kepadamu.

Inilah keadaannya. Ia tidak melihat seseorang kecuali ia termasuk dari kaum munafik atau termasuk orang yang diudzur. Ketika Rasulullah sampai ke Tabuk, beliau bersabda: “Apa yang dilakukan Ka'b bin Malik?” Beliau ingat kepadanya. Seorang dari Bani Salamah menjawab: “Ia disibukkan oleh kedua pakaiannya dan karena menuruti perasaanya.” Beliau membicarakannya karena ia berpangku tangan dari pembelaan dien dan menjadikan dirinya di tempat yang tidak selayaknya bagi orang beriman, yakni berpangku tangan tidak membela dien. Mu’adz bin Jabal ra menanggapi (komentar seorang dari Bani Salamah tersebut): “Buruk sekali omonganmu. Demi Allah, wahai Rasulullah kami tidak tahu tentangnya kecuali kebaikan.” Ibnu Hajar mengomentari perkataan seseorang dari Bani Salamah tersebut: “Apa yang telah saya katakan kepada kalian bahwa orang yang berpangku tangan dari jihad telah menjadikan pembenaran bagi orang-orang untuk mencela dirinya, karena membela dien adalah termasuk kewajiban yang paling agung.” Kita berharap kepada Allah SWT agar mematikan kita dalam keadaan sedang menunaikan amanah dalam membela dien Rabb kita sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan ridha kepada kita.

Ketika dalam keadaan seperti itu beliau melihat seorang lelaki dari kejauhan berwarna putih menyibak fatamorgana. Seorang lelaki datang dari jauh. Rasulullah SAW bersabda: “Pasti ia Abu Khoitsamah”. Dan ternyata ia benar Abu bKhoitsamah Al-Anshariy ra. Ia tiba setelah mereka semua berjalan semua. Berjalan sendirian tidak menunggu ditemani para qo’idun (orang-orang yang berpangku tangan duduk-duduk saja). Hampir saja syaitan akan menyelewengkannya kepada kesesatan padahal ia adalah seorang sahabat yang mulia ra. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari beberapa perkataan ulama ahli Maghazi (pengarang kitab masalah peperangan Rasulullah SAW) mengenai kisah Abu Khoitsamah. Abu Khoitsamah berkata: Saya masuk rumahku, saya melihat pondokan yang telah diciprati air. Padahal betapa bagusnya pondokan itu jika diciprati air di musim panas. Saya melihat pondokan yang telah diciprati air dan saya memandang istriku –lihatlah orang yang beriman, lihatlah orang yang berakidah lurus dan berkeyakinan menancap kuat di hatinya- saya berkata: Demi Allah ini tidak adil, Rasulullah SAW di bawah matahari terik dan kepanasan sedangkan saya di sini berteduh dan bersenang-senang. Ia pun mengambil tunggangannya dan sedikit kurma lalu berjalan hingga menyusul Rasul kita SAW. Untuk apa Rasulullah SAW keluar? Bukankah belua keluar demi laa ilaaha illallaah? Bagaimana dengan kita yang duduk berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah? Sedangkan kita mengira telah membelanya. Padahal ia telah ditiadakan dari hukum manusia. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
bersambung



www.info-iman.blogspot.com

Kamis, 22 Oktober 2009

Suatu saat anda ditimpa goncangan hidup berupa musibah,cobaan,atau kegagalan atas apa yang ingin kita capai padahal kita merasa sudah berikhtiar…
kemudian kita larut dalam rasa susah,tak berguna,terpuruk,terbuang,dan seabreg keruwetan lainnya. Hati – hatilah, kondisi ini mungkin mendorong anda berbuat ceroboh, dan menimbulkan masalah baru yang tidak terduga. Kenapa kita tidak mencoba mengubah penafsiran kita atas kesusahan yang menimpa kita, kenapa kita perlu bersabar??
Sabar, khususnya ketika mendapatkan kesulitan adalah menjaga hati dari menggerutu, menjaga lisan dari berkeluh kesah dan menjaga diri dari perbuatan yang terlarang. “Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah”. (HR. Bukhari). Ketika mencoba sabar,saat itu kita telah memutuskan memberikan semangat untuk pantang menyerah,efeknya luar biasa kita bisa berpikir jernih atas masalah yang dihadapi dan menanamkan harapan untuk bangkit menuju keberhasilan. Dengan sabar kita akan dapat menangkap hikmah dari cobaan tersebut. Sabar menjadikan kita semakin tangguh dalam mengarungi hidup. Kita akan mengerti bahwa kesusahan adalah cara Allah agar kita tambah dewasa,tambah kuat,tambah menghargai hidup. Cobaan datang karena Allah sayang pada kita sebagai peringatan ketika kita khilaf. Segala yang mudah didapat akan mudah menghilang,segala yang susah didapat akan susah hilang,misalnya kita lihat buah durian yang sulit dibuka dan durinya menyeramkan ternyata isinya lezat
Hidup membawa kesempatan,dan dari kesempatan muncullah pertumbuhan, bagi beberapa orang,”kesempatan” dianggap sebagai masalah,bukan sebagai balok penyusun pertumbuhan, perubahan pun dapat disambut atau ditolak,pilihannya ada pada diri kita. Ketika kehidupan memunculkan tantangan dan rintangan,kita dapat memandang setiap kesempatan sebagai sebuah tantangan seraya menemukan kekayaan yang mungkin termuat didalamnya dapat meningkatkan kualitas kita. Dengan sabar kita merangkul rasa takut dan berhadapan dengan tantangan sambil mencari keuntungan dan kesempatan atas pertumbuhan yang ditawarkan. Lihatlah bagaimana bayi merasakan sakitnya awal pertumbuhan gigi,merasakan susahnya merangkak,sakitnya merupakan cara tubuh dan jiwa memunculkan potensi baru.
Sehingga sabar membuat kreatif ketika sampai saat kedatangan musibah atau penderitaan lalu kita bersyukur dengan harap cemas,”Alhamdulillah,Kemampuan baru apalagi yang akan diberikan Allah kepadaku?”
Kemampuan yang diberikan Allah kita gunakan untuk berusaha lebih baik, kemudian kita pasrahkan / tawakal pada Allah dengan sepenuh keyakinan karena “Siapakah Kita seHingga Harus Menyerah Pada Selain Allah???”. Dengan totalitas kepercayaan kepada Allah dan niat tulus ini maka kita menyimpulkan “JIKA SAYA BERPIKIR AKAN BISA ,MAKA SAYA PASTI BISA”
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al-Baqarah:155).

www.info-iman.blogspot.com

Jumat, 16 Oktober 2009

Sholat Sunnah Sebelum Magrib Dan Isya


Tanya:

Adakah sholat sunnah sebelum maghrib dan isya? (Adi, Kota Bumi)

Jawab:

Pada dasarnya setiap antara adzan dan iqamah ada sholat sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Dari Abdullah bin Mughaffal ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Antara dua adzan ada sholat, antara dua adzan ada sholat, kemudian pada kali yang ketiga beliau berkata “bagi yang menghendaki.” (HR. Bukhari No 601)

Berdasarkan hadits di atas, seseorang dibenarkan untuk melakukan sholat sunnah sebelum sholat magrib dan isya, tentunya setelah masuk kedua waktu sholat tersebut.

Adapun anjuran untuk melakukan sholat sunnah sebelum sholat maghrib, secara khusus disebutkan dalam riwayat berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

“Dari Abdullah AL Muzani dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: Sholatlah sebelum maghrib (hingga tiga kali). Dan pada kali yang ketiga beliau menambahkan “Bagi yang menghendaki.” karena beliau khawatir orang-orang menjadikannya sunnah (yang dilazimi).” (HR. Bukhari No 6934 dan Abu Daud No 1281)
www.info-iman.blogspot.com

Wudhu Tidak Dapat Menghilangkan Hadats Besar

Tanya:

Boleh tidak saya sholat tahajjud setelah berhubungan suami istri hanya dengan wudhu saja karena malam itu terasa dingin?

Jawab:

Seorang suami yang telah menggauli istrinya, kemudian keduanya akan melakukan sholat baik sholat tahajjud maupun sholat sunnah yang lain, maka keduanya wajib mandi janabat, tidak cukup hanya berwudhu, karena wudhu tidak dapat menghilangkan hadats besar, berwudhu hanya dapat menghilangkan hadats kecil. Adapun berhubungan suami istri termasuk hadats besar dan hanya dapat dihilangkan dengan cara mandi.

Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat beikut:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ وَمَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ


“Apabila seorang (suami) menduduki empat anggota tubuh istri(nya) dan kedua alat kelamin telah bertemu maka ia telah wajib mandi.” (HR. Muslim No 349)

Dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا


“Dari Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: “Jika dua alat kelamin bertemu (maksudnya berhubungan intim antara suami istri) maka sungguh telah mewajibkan mandi. Aku melakukan hal tersebut dengan Rasulullah r lalu kamipun mandi.” (HR. Ibnu Majah No 608 dan dishahihkan oleh Albani)

Jadi setelah melakukan hubungan intim antara suami istri maka mereka berdua harus mandi, tidak boleh diganti dengan hanya berwudhu.

Namun jika cuaca sangat dingin yang jika mandi akan menyebabkan sakit bahkan binasa, sementara tidak ada alat yang dapat memanaskan air, maka dalam hal ini ia bisa mengganti mandi dengan tayammum, bukan dengan wudhu, karena tayammum dapat berfungsi juga sebagai pengganti mandi jika seseorang tidak mendapatkan air atau terhalang untuk menggunakan air karena dingin yang sangat, tempat airnya tidak aman atau karena faktor-faktor yang membolehkan lainnya. (Lihat Sholatul Mukmin, Syeikh Saad Al Qahthani 1/87)

Hal ini didasarkan pada kisah yang menimpa Amru bin ash ketika beliau junub dimalam hari dan saat itu cuaca sangat dingin, beliau mengisahkan:

عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِي الصُّبْحَ فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي مَنَعَنِي مِنَ الِاغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللَّهَ يَقُولُ ( وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا ) فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا


“Dari Amru bin Ash ia berkata: “Pada suatu malam yang dingin dalam pertempuran Dzati Sulasil aku mimpi basah. Aku khawatir jika aku mandi aku akan binasa, maka akupun bertayammum kemudian aku mengimami sholat shubuh sahabat-sahabatku. Merekapun lalu menyebutkan (melaporkan) hal ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Amru, engkau mengimami sholat shubuh sahabat-sahabatmu sementara engkau dalam keadaan junub?”. Lalu akupun menceritakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang menghalangiku untuk mandi dan aku berkata: Sesungguhnya Aku mendengar Allah berfirman: “(Artinya) Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepada kalian.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa dan tidak mengucapkan sesuatupun.” (HR. Abu Daud No 334 dan dishahihkan oleh Albani)
www.info-iman.blogspot.com

Hukum Bertayammum Setelah Khutbah

Tanya:

Bagaimana hukumnya setelah khutbah saya bertayammum?

Jawab:

Jika anda seorang khatib Jum’at dan ketika selesai atau ditengah-tengah khutbah anda berhadats, maka anda harus berwudhu kembali sebelum sholat dan tidak boleh diganti dengan tayammum kecuali bila anda termasuk orang yang diperbolehkan untuk bertayammum karena sakit atau tidak ada air untuk berwudhu, atau karena yang lainnya.


Adapun para jamaah, kiranya diminta untuk menunggu sejenak hingga sang khatib tersebut selesai berwudhu lalu ia memimpin sholat, karena sebaiknya orang yang khutbah itu merangkap menjadi imam sekaligus. Meskipun hal ini bukanlah suatu hal yang hukumnya wajib. Namun demikianlah yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Wallahu A’lam Bish Showab.
www.info-iman.blogspot.com

Apakah Seorang Khatib Boleh Menggerakkan Tangannya Ketika Berkhutbah?

Tanya:

Apakah khatib boleh menggerak-gerakkan tangannya dalam khutbah atau hanya diam? (Abu Haitsam, Natar)

Jawab:
Ketika sedang khutbah seorang khatib hendaknya tidak menggerak-gerakkan tangannya, baik dengan mengangkatnya, menunjuk kearah tertentu atau mengisyaratkan kepada sesuatu. (Lihat Syarh Mumti’, Syeikh Utsaimin 5/85 dan Sholatul Mukmin, Syaikh Saad Al Qahthani 2/823)

Seorang khatib hanya boleh mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dalam khutbah, itupun ketika ia berdoa, bukan saat ditengah-tengah khutbahnya , sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:


عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Dari Hushain dari ‘Umarah bin Ru’aibah (beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pent) ia berkata bahwa ia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. Lalu ia (’Umarah) berkata: “Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (saat berdoa dalam khutybahnya) tidak lebih dari mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim No 874)

Tangan seorang khatib ketika sedang khutbah hendaknya diam dan pandangannya melihat ke arah depan, tidak menghadapkan tubuh dan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Demikianlah tuntunan yang benar yang dipraktekkan Rasulullah r dalam khutbah jum’at.

Imam ‘Atho dan Asy-Sya’bi berkata:


كَانَ رَسُوْلُ اللهِ r إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ أَقْبَلَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ قَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau telah naik keatas mimbar beliau menghadapkan wajahnya kehadapan orang-orang kemudian mengucapkan “Assalamualaikum.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/114)

(Lihat Hadyu Nabi r fi Khutbatil Jum’ah, Syeikh Anis Thahir Al Indunisi, edisi Indonesia: Petunjuk Nabi Dalam Khutbah Jum’at hal : 23)

Bahkan Imam Ibnu Hajar mengkategorikan menoleh kekanan dan kekiri dalam berkhutbah merupakan perbuatan bid’ah.(lihat Al Mughni 3/179 dan Asy-Syarhul Kabir 5/240).

Wallahu A’lam Bish Showab.
www.info-iman.blogspot.com

Sholat Dengan Memakai Alas Kaki

Tanya:

Apa yang dimaksud dengan sholat dengan memakai alas kaki? (Sukamto, GPM)

Jawab:

Sholat dengan memakai alas kaki maksudnya adalah melakukan sholat dengan tetap memakai terompah, sandal atau yang sejenisnya, dengan tidak melepasnya.

Pada dasarnya sholat dengan memakai alas kaki ini merupakan suatu amalan yang disyariatkan bagi kaum muslimin, berdasarkan  pada riwayat yang shahih berikut ini:

عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ سَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِك أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ قَالَ نَعَمْ


"Dari Abu Maslamah Said bin Yazid ia berkata: "Aku bertanya kepada Anas bin Malik apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sholat dengan menggunakan dua sandal?" Ia menjawab: "Ya." (HR. Muslim No 862)

Mengomentari hadits ini Imam An Nawawi mengatakan: hadits ini mengandung pelajaran tentang diperbolehkannya sholat dengan mengunakan sandal dan khuff selama diyakini benda-benda tersebut tidak terkena najis. (Lihat Syarah Shohih Muslim 2/319).

Namun dalam melaksanakan sholat dengan menggunakan alas kaki ini harus memperhatikan tingkat maslahat dan mudharat yang ditimbulkan. Artinya ketika seseorang ingin mengamalkan sunnah ini ia harus mengetahui dimana ia sholat, jika ia sholat di masjid yang lantainya beralaskan karpet atau sejenisnya maka tidak sepatutnya hal itu dilakukan karena alas kaki kita akan mengotori dan mencemari karpet tersebut. Namun jika kita sholat dimasjid atau ditempat yang alasnya tanah, pasir, bebatuan, rumput atau semisalnya maka sangat baik jika hal ini diamalkan.


Dan diantara hikmah sholat dengan menggunakan alas kaki adalah untuk meyelisihi orang–orang Yahudi, karena mereka ketika sholat tidak menggunakan alas kaki. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :
عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ

"Dari Ya'la bin Syaddad bin Aus dari bapaknya ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Selisihilah orang-orang Yahudi karena sesungguhnya mereka tidak sholat dengan memakai sandal dan khuff mereka." (HR. Abu Daud No 652 dan dishahihkan oleh Albani)

Wallahu A'lam Bish Showab.


www.info-iman.blogspot.com

Jumat, 02 Oktober 2009

Sholat Asharnya Seorang Musafir


Tanya:

Seseorang melakukan safar setelah dhuhur dan pulangnya jam enam sore, bagaimana sholat asharnya?

Jawab:

Jika seseorang melakukan safar setelah dhuhur dan ia pulang jam enam sore atau menjelang waktu maghrib, maka praktis sholat asharnya berarti dilakukan ditengah perjalanan.

Bila ia membawa kendaraan pribadi maka ia bisa singgah dimasjid atau musholla yang ia lewati untuk melakukan sholat ashar tersebut dengan cara diqashar (meringkas sholat dari empat rakaat menjadi dua rakaat). Namun jika ia naik kendaraan umum dan kendaraan tersebut tidak berhenti saat waktu ashar sudah masuk, maka hendaklah ia sholat ashar didalam kendaraan tersebut dengan cara diqashar juga, dan sholatlah sesuai dengan kemampuannya. Jika dapat menghadap kiblat maka harus menghadap kiblat dan melakukannya sambil berdiri dengan melakukan rukuk dan sujud sebagaimana di darat. Namun jika hal itu tidak memungkinkan, maka sholatlah sesuai dengan kemampuannya. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta'ala :
فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ
"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian." (Surat At Taghabun : 16)

Dalam ayat lain Allah Ta'ala juga berfirman:
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Surat Al Baqarah : 286).

Lihat kitab Sholatul Mukmin, Syeikh Saad bin Wahaf Al Qahthani 2/656).

Wallahu A'lam Bish Showab.
www.info-iman.blogspot.com

Label

'idul adha adab dan sunnah adik saudara sepersusuan adzan air kencing bayi air kencing Rasulullah Akhirat akhlak Akhlaq Kepribadian Akhwat akidah Al Qur'an Al Qur#039;an Al Quran Al-Qur'an Alam Aliran-aliran Amalan AMALIYAH NU anak Analisa Angin Aqidah Aqiqah Artikel Artikel IImiah Asmara Astronomi ASWAJA Azab Bab Adab Bab Nikah Bab Puasa Bab Sholat Bab Thaharah Bab Zakat bantahan belajar islam Berita bersin Bid'ah bid'ah dalam aqidah bid'ah dalam ibadah Biografi Biologi Bisnis Blackberry Budaya Budi Daya buka puasa buku Cantik Fisik catatanku Cerpen Chairil Anwar Curahan Hati Curhat daging qurban Dakwah Dakwah Pemikiran Islam dakwah umum Dambaan insan Dari Salafushshalih Dasar Islam Dasar Keislaman demam Desain Dhaif Do'a do'a buka puasa Do'a dan Dzikir Doa doa bersama doa sholat tarawih download dunia islam Dunia Islam Kontemporer Dzikir dzikir dengan tangan kiri Ekonomi Eksoplanet Emansipasi Emha Ainun Nadjib Fakta Ilmiah Fakta Jin-Iblis-Syetan Fakta Manusia faraidh Fenomena Asteroid Fenomena Bencana Alam Fenomena Bintang Fenomena Bulan Fenomena Bumi Fenomena Hewan Fenomena Kutub Fenomena Langit Fenomena Matahari Fenomena Meteorit Fenomena Petir Fenomena Planet Fenomena Ruang Angkasa Fenomena Tumbuhan Fiqh Fiqh Muamalat Fiqh Wanita Fiqih Fisika Galaksi Geografi Geologi gerhana gigi palsu Hadis Hadis 40 hadist Hadits Hadits Palsu HAID Halal Haram HAM HARI RAYA ID HUKUM ISLAM hukum natal bersama hutang i'tikaf Ibadah ibadah yang baik ibu mertua ilmu ilmuan muslim Ilmuwan imam terlalu cepat bacaannya IMAN Inovasi intermezzo Internet Iptek iqomah isbal Islam jabat tangan setelah sholat JADWAL RAMADHAN Jagad Raya Jalaluddin Rumi jamaah sholat jumat jenazah Jual Beli judi junub Kabar Dalam Negeri kabar manca negara Kahlil Gibran Kajian Karya Buku Karya Ulama KB Keajaiban Alam Keajaiban Hewan KECANTIKAN Kecelakaan Maut Kehutanan Kelautan keluarga Kepemerintahan Kepengurusan Kerajaan Kesehatan Keuangan Keutamaan KHITAN Khitan Wanita khurofat Khutbah Khutbah Jum'at khutbah jumat Khutbah Rasulullah saw Kiamat Kidung Hati Kimia Kisah Kisah Kami Kisah Nyata Kisah Orang-Orang Shaleh Kisah Teladan Komputer Konversi Energi Kosmologi Kumpulan Do'a Kumpulan Kata lafadz adzan lafadz iqomah Lain-Lain Lalu Lintas lembaga sosial Lingkungan Hidup Lubang Hitam macam puasa sunnah mahram Makanan mandi jum'at mandi wajib Manhaj Manusia Manusia dan Teknologi masjid masjid quba Masuk Perguruan Tinggi Matahari Materi gelap Mayit media cetak memandikan jenazah membayar zakat memotong kuku memotong rambut mendahului gerakan imam menemani sholat jamaah menembok kuburan mengadzankan mayit di liang kubur mengangkat tangan menghadiahkan pahala mengqadha puasa menguburkan jenazah mengucapkan selamat natal mengusap kepala Mengusap muka setelah berdoa menikah di bulan syawwal menikah setelah berzina meninggal dunia Meninggalkan sholat jum'at menjawab adzan menjual kotoran hewan menyapu kepala menyentuh wanita Meteorologi Meteorologi-Klimatologi mihrab Mineralogi minum air zamzam Motivasi motivasi belajar Motivasi Beramal MQ (menejemen qolbu) mu'athilah Muallaf muamalah Muhasabah Mungkar murottal Muslimah Muslimah Articles Musyabbihah Mutiara Hikmah Mutiara Kalimat Mutiara Tafakur Nabi Muhammad Nagham Alqur'an Nasehat Neraka News niat sholat nikah nisfu aya'ban Oase Iman Olah Raga OLAHRAGA Otak PAKAIAN panas PAUD Pendidikan Penelitian penelitian sunnah Pengembangan Diri Pengobatan Akibat Sihir Peninggalan Sejarah Penjajahan Pentingnya Waktu Peradaban Islam Perbandingan Agama dan Aliran Perbankan Pergaulan Perkawinan Perkembangan Da'wah Islam Permata Hati pernikahan Personaliti Pesawat Ruang Angkasa Pesepakbola Muslim Pojok Ramadhan posisi imam wanita produksi awal program kerja Proyek Luar Angkasa Psikologi Puasa puasa daud puasa rajab Puasa Setiap Hari puasa sunnah puasa wanita hamil Puisi Puisi bahasa Ingris qunut nazilah QURAN radar lampung Radio Rajab Ramadhan ramalan cuaca Renungan Riba dan Jual Beli salafush shalih salah bacaan sholat Salam Khudam Sastra sedekah Sejarah Sejarah Islam SEKS Sentilan Seputar Daerah Buton Shalat shodaqoh shodaqoh melebihi kadar Sholat sholat dan keputihan sholat di rumah sholat ghoib sholat jamaah sholat jamaah estafet sholat jumat sholat jumat wanita sholat pindah tempat sholat qashar sholat sambil melihat mushaf sholat sendirian sholat sunnah sholat sunnah qobliyah isya sholat sunnah sebelum asar sholat sunnah setelah shubuh sholat takhiyatul masjid sholat wanita sifat dzatiyah sifat fi'aliyah Sihir Simpan Pinjam Sirah Siroh Shahabiyyah Software Islami Sosial Kemasyarakatan Sosiologi sujud sahwi sujud syukur sumpah dan nadzar Sunnah sutrah sutroh syafaat Syurga Tafakur Alam Semesta Tafsir Tafsir Al-Qur'an tahlilan Takbirotul ihram takwil mimpi tambal gigi tamsil Tanda Akhir Zaman Tanda-Tanda Kiamat Tanya jawab Tarbiyah Tasawwuf dan Adab tata cara tidur menurut sunnah Tata Surya Taufiq Ismail Tauhid tayammum Tazkirah Tazkiyah tazkiyatun nafs Tech News Teknik Sipil teladan Tenaga Kerja tertawa saat sholat Thoharoh tidak taat suami tinggi TK Tokoh Tokoh Dan Ulama Tokoh Islam Tools TPA Tsunami Tujuan Hidup tuntunan sholat uang pensiun dari riba uang riba ucapan assalamualaika UNCATEGORY Video da'wah video Motivasi Diri Video Muhasabah video murotal W. S. Rendra waktu membaca doa wanita wanita haid Wisata wudhu yasinan zakat zakat anak kepada orang tua zakat barang temuan zakat harta zakat harta warisan zakat hasil perkebunan zakat hasil pertanian zakat mal zakat padi zakat pns zakat tanah zina