Kamis, 27 September 2012

ash-Shirathu al-Mustaqim

Islam Garis Lurus

Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Ta’ala, dan mari kita bangun terus aqidah kita di atas landasan ilmu yang benar.


Menurut Islam, jalan yang ditapaki manusia itu ada dua, yaitu: Jalan yang lurus dan Jalan yang bengkok. Jalan yang lurus adalah jalan yang sampai kepada Allah, sedangkan jalan yang bengkok adalah jalan yang tidak sampai kepada Allah, melainkan sampai kepada murka Allah. Untuk kita perlu mengenali jalan yang lurus dan jalan yang bengkok ini sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat al-Fatihah: 6-7. Kita kenali jalan yang lurus, supaya kita kenal jalan yang bengkok.

Kita semua bermunajat kepada Allah lebih dari 17 kali setiap hari, memohon kepada Allah, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” (QS. al-Fatihah: 6). Kata hidayah pada ayat ini bermakna “Bimbingan dan Taufiq”. Juga terkandung makna “Berikanlah ilham kepada kami” , atau “Berikan rizki kami” , atau “Berilah anugerah kami” . Sedangkan ash-Shirathu al-Mustaqim menurut Imam Abu Ja’far ibnu Jarir: para ahli tafsir tentang telah sepakat bahwa ash-Shirathu al-Mustaqim adalah jalan yang terang dan lurus yang tidak bengkok-bengkok di dalamnya.

Kemudian terjadi perbedaan ungkapan dari para ahli tafsir tentang hal ini, antara lain Bermakna Kitabullah, sebagaimana hadits riwayat dari Ibnu Abi Hatim; Bermakna al-Islam, sebagaimana riwayat adh-Dhahhak, Maemun bin Mahron dari Ibnu Abbas; Bermakna al-Hak (kebenaran), demikian kata mujahid. Abu al-Aliyah berkata, “Bahwa ash-Shirathu al-Mustaqim adalah Rasulullah dan dua orang sahabat sesudahnya. Maka Ashim menceritakan hal itu kepada al-Hasan al-Bashri, maka al-Hasan al-Bashri berkata, “Abu al-Aliyah telah berkata benar dan memberi nasehat.”
Artinya, “Jalan lurus” itu mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jadi ungkapan Abu al-Aliyah ini bermakna lebih khusus.

Tetapi perbedaan ungkapan tersebut pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu, mengikuti Allah dan RasulNya demikian penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dan hal ini sesuai dengan penjelasan pada ayat berikutnya:  

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. al-Fatihah: 7).

Inilah adalah tafsir dari ayat “Shiratha al-Mustaqim” . Jadi ada 3 jalan di sini: satu jalan lurus, dan dua model jalan bengkok.

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah
Kemudian, siapa orang yang diberi nikmat itu? Allah sendiri yang menjelaskan bahwa orang-orang yang diberi nikmat itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surat an-Nisa’ 69-70:

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (QS. an-Nisa’: 69-70).

Jadi, orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala, dengan meniti jalan yang lurus adalah: Para Nabi: orang-orang yang dipilih Allah dengan diberinya wahyu kepada mereka; Para Shiddiqin: Orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang secara khusus ayat ini berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu karena dia adalah ash-Shiddiq al-Akbar; Para Syuhada, yaitu orang yang mati dalam menegakkan agama Allah. Yang secara khusus ayat ini ditujukan kepada Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum, karena mereka adalah para Syuhada’; Para shalihin: orang-orang yang shaleh, yaitu orang-orang yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para pengikut setianya sampai hari kiamat.

Mereka itulah di atas shiratu al-Mustaqim, jalan yang lurus, yang mendapat nikmat Allah, teman yang sebaik-baiknya. Mengikuti selain mereka berarti mengikuti jalan yang bengkok atau sesat.

Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah
Allah Ta’ala berfirman:  
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah: 7). 

Maksudnya: Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak, sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun menyimpang darinya. Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan, serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata “Bukan”, guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua model jalan yang rusak, yaitu model rusaknya para ulama (ilmuwan, pemikir) yang diwakili oleh orang-orang Yahudi dan model rusaknya para ubbad (ahli ibadah) dan zuhhad (ahli zuhud) yang awam yang diwakili oleh orang-orang Nashrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu, agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengatahuan akan kebenaran serta pengamalannya, sementara orang-orang Yahudi tidak memiliki, sedangkan orang-orang Nashrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan bagi orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan bagi orang-orang Nashrani. Karena orang-orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, itu berhak mendapat kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Jadi orang yang dimurkai adalah orang yang tahu kebenaran tetapi menyimpang. Sedangkan orang yang sesat adalah orang yang beramal tetapi tidak berilmu. Secara khusus orang yang dimurkai adalah Yahudi. Dan orang yang sesat adalah Nashrani. Demikian pendapat para ahli tafsir, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Katsir.

Memang, orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah sesat dan mendapat murka. Tetapi sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang diri mereka:

“Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (dan orang yang) menyembah Taghut” (QS. al-Maidah: 77).

Sedangkan sifat orang Nasrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala mengenai ikhwal mereka: “Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. al-Maidah: 77).

“Kemudian masalah ini banyak disebutkan dalam hadits dan atsar, yang intinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa yang dimurkai adalah Yahudi dan yang sesat adalah Nasrani. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, hlm. 28).

Sehingga makna dan tafsir dari ayat tersebut adalah: “Tunjukkilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka(yaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan sholihin), bukan jalan orang-orang yang dimurkai (yaitu orang-orang Yahudi beserta orang-orang yang sepaham dengannya) dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat (yaitu orang-orang Nasrani dan orang-orang yang sepaham dengan mereka).”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dari ayat ini jelas, tidak ada pluralisme agama (menganggap semua agama benar) dalam Islam. Yang ada adalah jalan yang lurus (yang benar dan diridhai Allah), dan jalan yang bengkok (jalan yang salah, yang dimurkai Allah). Maka dengan demikian, batallah paham liberal (JIL dan lain-lain yang sepaham dengannya) yang menyatakan dan membela mati-matia bahwa semua agama benar, semua agama bisa masuk surga kata mereka, kecuali orang-orang yang mereka sebut eksklusif, fundamentalis dan ekstremis.

Dalilnya sudah jelas dan tegas. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19). “Dan telah kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Ali Imran: 85). “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imron: 85).

Baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Tidak seorangpun mendengar tentang aku dari umat (manusia) ini, seorang Yahudi ataupun Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus karenanya, kecuali ia termasuk para penduduk neraka.” (HR. Muslim).

Umrah Adalah Jihad

Keutamaan Umrah

Setiap orang pasti merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Di tempat tersebut ada dua aktivitas ibadah yang mulia yaitu umrah dan haji. Untuk umrah sendiri bisa dilakukan setiap saat. Sedangkan haji hanya khusus di bulan haji, bulan Dzulhijjah.


Umrah sendiri memiliki beberapa keutamaan.

1. Umrah adalah Jihad sebagaimana ibadah haji.
‘Aisyah berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ».

“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

2. Menghapus dosa di antara dua umrah.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

3. Umrah menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa.
Dari Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Ibadah mulia ini pun dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat baik tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup atau pun ketika sudah tiada. Ini pun menunjukkan kemuliaan ibadah tersebut.

Semoga Allah mudahkan kita melakukan ibadah yang mulia ini. 
Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, terbitan Maktabah Taufiqiyah, 2/276.

Hati Yang Tenang Adalah Buah Tauhid

Buah Tauhid, Sudahkah Ada Pada Diri Kita? Hati Yang Tenang

Memahami tauhid perkara yang sangat mulia. Lebih dari itu, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari tentu tak kalah mulianya, bahkan itulah tujuan seorang mempelajari tauhid melalui kitab-kitab para ulama. Seringkali, kita lupa bahwa tauhid bukan sekedar wacana yang cukup untuk didiskusikan & dibaca berulang-ulang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka berikanlah peringatan, sesungguhnya peringatan itu akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat : 55).


Saudaraku sekalian-semoga Allah menambahkan nikmat Islam & Sunnah kepada kita-apabila kita kaji lebih dalam dengan pikiran yang jernih & hati yang tenang, sesungguhnya faidah mempelajari tauhid sangatlah banyak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Salah satu manfaat dari tauhid adalah ia akan menjadi pilar terbesar untuk membangkitkan kemauan menjalankan ketaatan. Sebab, seorang yang bertauhid akan mempersembahkan amalnya tulus karena Allah subhanahu wa ta’ala. Karena dorongan itulah maka dia akan tetap beramal dalam keadaan sepi/sendirian maupun ketika berada di depan orang/terang-terangan. Sedangkan orang yang tak bertauhid-misalnya orang yang riya’- maka dia akan melakukan amal sedekah, shalat & berdzikir hanya jika di sisinya terdapat orang yang melihatnya. Oleh karena itu, sebagian ulama salaf mengatakan, “Sesungguhnya saya sangat ingin mengerjakan suatu ketaatan yang tak diketahui oleh siapa pun selain Dia” ” (al-Qaul al-Mufid, jilid 1. attasmeem.com).

Ikhlas, menuntut perjuangan
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan untuk-Nya, dengan lurus [bertauhid]…” (QS. al-Bayyinah : 5). Ibadah tak akan diterima jika tak ikhlas. Sebagaimana ia tak akan diterima jika dilakukan dengan cara yang salah. Seorang yang menginginkan agar amalnya sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia akan berusaha mempelajari ilmu tentang ibadah yang akan dia jalani. Setelah mengetahui ilmu tersebut maka dia pun akan berusaha untuk menerapkannya. Kemudian apabila lupa, maka dia pun kembali membuka bukunya, mengingat-ingat tata cara & bacaan doa yang luput dari ingatannya. Demikianlah seterusnya, sampai dia berhasil meniru tata cara beribadah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Mungkin diperlukan waktu yang tak sebentar, sepekan dua pekan, sebulan dua bulan, atau bahkan setahun lamanya sampai dia benar-benar bisa melakukannya dengan baik & sempurna. Demikianlah ketika seorang ingin menjadikan ibadahnya persis sebagaimana dituntunkan oleh Nabi-Nya.

Maka tak berbeda halnya dlm hal keikhlasan. Untuk mendapatkan keikhlasan dalam beribadah maka seorang hamba harus senantiasa belajar & belajar, mengingat-ingat & merenungkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, membaca ayat-ayat al-Qur’an, menyimak hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & membaca keterangan-keterangan para ulama. al-Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Kitab al-‘Ilm dalam Shahihnya dengan judul ’Ilmu sebelum ucapan & perbuatan’. Apa yang beliau kemukakan sangatlah tepat! Dan tak cukup berhenti di situ saja, setelah mengetahui ilmunya, maka orang masih harus melakukan perjuangan berikutnya yaitu agar ikhlas itu benar-benar terwujud dalam dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami niscaya Kami akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan menuju keridhaan Kami.” (QS. al-Ankabut : 69).

Pentingnya ilmu ikhlas
Kita semua tahu bahwa untuk berwudhu yang benar ada ilmunya. Untuk shalat yang benar ada ilmunya. Untuk berpuasa yang benar ada ilmunya. Demikian pula untuk menunaikan ibadah-ibadah lain dengan benar pun ada ilmunya. Namun hendaknya kita juga ingat bahwa ternyata ikhlas pun ada ilmunya. Bagaimana tidak? Sementara ikhlas itulah tujuan hidup kita, untuk mengajak kepada keikhlasan itulah para rasul dibangkitkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami menciptakan jin & manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul [yang mengajak] sembahlah Allah & jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl : 36).

Salah satu bukti pentingnya ilmu ikhlas ini adalah apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin fil hadits Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, an-Nawawi, & Syaikh as-Sa’di rahimahumullah yang memulai kitab mereka dengan hadits ‘Innamal a’maalu bin niyaat’. Anda bisa melihat hal itu dalam Sahih Bukhari, hadits yang pertama. Umdat al-Ahkam hadits yang pertama. al-Arba’in an-Nawawiyah, hadits yang pertama. Bahjat al-Qulub al-Abrar, hadits yang pertama. Para ulama terkemuka itu menempatkan hadits ‘Innamal a’maalu bin niyaat’ sebagai hadits pertama dalam kitab-kitab mereka. Tentu saja hal itu menunjukkan betapa pentingnya kandungan hadits tersebut yang tak lain adalah ajaran keikhlasan beribadah untk Allah ta’ala.

Buah tauhid itu (baca: ikhlas) sudah ada dalam diri kita?
Menilai orang lain sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Namun, ketika kita berusaha untuk menilai diri sendiri terkadang kita mengalami kesulitan. Sebagian orang yang tertipu- merasa bahwa dirinya sudah ikhlas padahal dia belum ikhlas. Sebagian orang yang lain berjuang untuk meraih keikhlasan namun dengan cara-cara yang tak disyari’atkan, sampai-sampai banyak kewajiban & ibadah yang ditinggalkannya demi mendapatkan apa yang dia anggap sebagai keikhlasan. Dia meninggalkan amal karena takut dikatakan sebagai orang yang riya’. Sebagian lagi berusaha untuk ikhlas, namun godaan & rintangan kerapkali menyeretnya ke tepi-tepi jurang kemunafikan. Ketika bersama orang banyak begitu bersemangat, namun ketika sendirian maka lenyaplah gairahnya utk beramal. Aduhai, termasuk kelompok yang manakah kita?

Saudaraku, perlu kita sadari bahwa riya’d alam beramal merupakan akhlak yang sangat tercela. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Riya’ adalah akhlak yang sangat tercela & ia termasuk ciri orang munafik.” (al-Qaul al-Mufid, jilid 2. at-tasmeem.com). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila mereka (orang-orang munafik) hendak mendirikan shalat, maka mereka lakukan dengan rasa malas. Mereka ingin amalnya dilihat oleh manusia (riya’), & mereka tak mengingat Allah kecuali hanya sedikit saja.” (QS. an-Nisaa’: 143).

Sebenarnya apa sih yang kita harapkan dalam hidup ini? Bukankah kitaberharap Allah menerima amal-amal kita? Bukankah kita juga berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita? Bukankah kita juga berharap kelak Allah memasukkan kita ke surga & menyelamatkan kita dari api neraka? Bukankah kita juga tahu bahwa hanya Allah yang bisa memenuhi harapan-harapan kita tersebut? Kita pun tahu bahwa tak seorang pun manusia yang menguasai pemberian rezeki, kehidupan, kematian, surga & neraka selain Allah semata? Lalu mengapa kita tertipu oleh pujian manusia, dukungan mereka, senyuman mereka & kedudukan mereka? Apa yang bisa kita harapkan dari manusia? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya apa-apa yang kalian seru (ibadahi) selain Allah itu hanyalah hamba [yang lemah] sebagaimana kalian.” (QS. al-A’raaf : 194). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang berharap untuk berjumpa dengan Rabbnya maka lakukanlah amal salih & tak mempersekutukan sesuatu pun [dengan Allah] dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. al-Kahfi : 110).

Cukuplah Allah sebagai saksi atas amal-amal kita! Alangkah meruginya apabila kita mengalami nasib buruk seperti tiga golongan orang yang diadili pertama kali pada hari kiamat nanti. Mereka berjihad, menimba ilmu serta mengajarkannya, rajin berderma; namun ternyata mereka riya’. Dan oleh karena dosa itulah Allah tak segan-segan untuk mencampakkan mereka ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah! Semoga Allah menjaga diri kita dari syirik yang tersembunyi, & semoga Allah mencabut nyawa kita dalam keadaan kita mengabdi kepada-Nya semata; bukan mengabdi kepada dunia ataupun hawa nafsu manusia. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. 

Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Bertato Dalam Islam

Hukum Tato Dalam Islam

hukum tato (tattoo) menurut pandangan syariah Islam? Dan bagaimana wudhu dan shalat-nya orang yang bertato?

Tato atau tatoo adalah melukis, "mengukir" atau merajah kulit dengan jarum dan zat pewarna dalam berbagai bentuk gambar, simbol atau sekedar coretan.


 (غرز الجلد بإبر وحشوه بالكحل وغيره ليتغير لونه إلى الزرقة أو الخضرة)
Tatoo bersifat permanen karena terlukis dalam kulit.

Hukum tato (Inggris: tattoo; Arab: الوشم) adalah haram menurut kesepakan ulama (ijmak). Berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim (muttafaq alaih):


لعن الله الواشمات والموتشمات ، والمتنمصات ، والمتفلجات للحسن ، المغيرات خلق الله

Artinya: Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya, melakukan tato di wajahnya (mutawasshimah), menghilangkan rambut dari wajahnya, menyambung giginya, demi kecantikan, mereka telah merubah ciptaan Allah.

Dan berdasarkan Quran Surah An-Nisa' 4:119

 وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّهِ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا
مِّن دُونِ اللّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا


Artinya: Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah (dan mereka benar-benar mengubahnya). Barangsiapa yang menjadikan setan sebagai pelindung yang selain Allah, maka sungguh dia menderita kerugian yang nyata.

Oleh karena itu, bagi yang sudah memasang tato, maka wajib dia menghilangkannya dan bertaubat.

Bila tatoo dilakukan setelah baligh dengan keinginannya sendiri, maka diwajibkan untuk menghilangkannya atau setidaknya berusaha untuk menghilangkannya, asalkan mengilangkan tatoo tersebut tidak sampai merusak anggota tubuh (kulit) yang tertatoo atau menimbulkan rasa sakit yang di atas kewajaran. Bila demikian, maka tidak diharuskan menghilangkannya dan cukup bertobat dan sah shalatnya.

Dengan ditemukannya teknologi laser untuk menghilangkan tato secara permanen tanpa mencederai kulit, maka membuang tato adalah wajib secara mutlak.(by.alkhoirot)

Jodoh dan Berjodoh

Jodoh dan Berjodoh

Jodoh dan berjodoh adalah bagian dari
Keputusan Alloh,penetapan Alloh atas
manusia.Urusan jodoh dan berjodoh,bukan
sebuah urusan kecil dan main-main,karena
Alloh tak pernah main-main dalam
menciptakan manusia,menentukan
rezeki,dan perjalanan hidup hingga matinya
manusia.Alloh tak sedang ‘mengocok
lotre’dan mengundi seperti arisan ketika
menentukan jodoh seseorang 
 
Maka jika kita memiliki harapan tentang
calon pendamping hidup kita,menginginkan
agar kita segera dipertemukan dengan jodoh
kita,maka mintalah pada Alloh!bicaralah
pada Alloh!mendekatlah pada Alloh!
Bulatkan,kuatkan dan kencangkan keyakinan kita
pada Alloh.Apa yang tidak mungkin bagi
kita,adalah sangat mudah bagi Alloh
[Filzah Aulia Mahabbah]
 
-------------------------------------------
 
 3 Rahasia yang Tidak diketahui Oleh Manusia
 
Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini,  semuanya hampir dikatahui oleh kita sebagai manusia apabila kita bersedia dan mempunyai keinginan kuat untuk belajar. Apapun yang ingin kita ketahui, akan terungkap apabila kita bertekad untuk belajar, tekun dalam mencari tahu, maka kita akan mendapatkan apa yang paling ingin kita ketahui. Akan tetapi kita sebagai manusia, yang juga sebagai pesiarah sementara di bumi ini tidak ada satupun diantara kita yang mangetahui tentang Rezeki, Jodoh dan Kematian. Ke-tiganya manjadi hal yang paling rahasia. Tidak ada seorangpun dari kita manusia yang mengetahui ke-tiga hal tersebut.  Yang paling tahu akan ke-tiga hal tersebut di atas adalah Pemberi Nafas kehidupan, Selain dari pada Dia, tidak ada yang tahu. Oleh karena itu ke-tiga hal tesebut menjadi rahasia besar yang tidak akan pernah diketahui oleh manusia.

Tidak ada seorang manusia yang dapat mengetahui Rejeki dan keberuntungannya hari ini, besok, lusa maupun bulan depan ataupun di tahun yang akan datang. Tak seorangpun tahu akan hal ini. Karena kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berjuang semampu kita, selebihnya ditentukan oleh Sang Pencipta Alam semesta.

Kita manusia pasti selalu ingin mendapatkan jodoh atau pendamping hidup di bumi ini yang pas, cocok, sesuai dengan inginan dan harapan kita. Namun dalam hal jodoh, kita semua tidak tahu siapa jodoh kita dan dari mana datangnya jodoh kita. Karena jodoh menjadi rahasia yang Kuasa yang akan diberikan kepada kita.

Dan 

Dia telah lebih dahulu mengetahui siapa diri kita dan siapa jodoh kita, yang kelak di tunjukan kepada kita untuk mendampingi kita. Dia telah mengetahui segala sesuatu tentang kita semenjak kita masih berada di alam yang kita sendiri belum tahu. Karena jodoh kita ada di tangan Pemberi Nafas kehidupan.

Di Bumi ini tidak ada seorangpun yang tahu tetang hari kematiannya. Karena kematian itu menjadi hal yang sangat rahasia.  Hanya ada Satu yang tahu Yakni, Sang Maha Tahu yang mengetahui kematian kita, karena 

Dialah yang menciptakan kita dan pencipta alam semesta beserta isinya dan memberikan nafas Kehidupan kita. Dan tidak ada seorangpun diantara kita yang bisa menentukan atau meramalkan kapan tibanya ajal seseorang. Manusia tidak pernah punya hak untuk menentukan kematian atau mengakhiri hidup seseorang, selain Dia Sang Pemberi kehidupan.
 
 

Jadilah Hati yang Dapat Menerima Nasehat Dalam Kebenaran

Semoga Hati Kita dimudahkan dalam Menerima Nasehat dan Kebenaran

Di antara sebab tersebarnya kebatilan & bertambah buruknya keadaan masyarakat adalah berbagai macam alasan yang diada-adakan oleh syaitan & bala tentaranya demi melestarikan kemungkaran. Umat-umat terdahulu yang menentang dakwah para rasul pun demikian. Ketika para rasul itu menyeru mereka untuk mengesakan Allah & taat kepada utusan-Nya, maka serentak muncullah berbagai dalih & argumentasi mereka utk mengelak dari kewajiban tersebut.


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila dikatakan kepada mereka; ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, maka mereka mengatakan; ‘Bahkan kami akan tetap mengikuti apa-apa yang kami dapati dari nenek-nenek moyang kami’. Apakah mereka akan tetap mengikutinya apabila ternyata nenek moyang mereka adalah orang-orang yang tak memahami apa pun & sama sekali tak berada di jalan petunjuk?” (Qs. al-Baqarah: 171)

Wahyu dari Allah yang semestinya mereka hormati & patuhi pun seolah tak ada artinya. Para rasul yang telah diberi tugas untuk membimbing mereka pun tak ubahnya mereka anggap seperti orang biasa. Bahkan yang lebih keji lagi mereka menuduh kaum beriman pengikut rasul telah mengikuti seorang lelaki yang tersihir, aduhai betapa besar kedustaan mereka! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang zalim itu mengatakan; tidaklah kalian mengikuti kecuali seorang lelaki yang dikuasai oleh sihir.” (Qs. al-Furqan: 8). Inilah sunnatullah! Perjalanan dakwah senantiasa dirintangi oleh makhluk-makhluk durhaka yang nekad membangkang kepada Rabbnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikian itulah, Kami menjadikan bagi setiap nabi musuh dari kalangan para pendosa.” (Qs. al-Furqan: 31)

Saudaraku-semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat- apabila kita cermati secara seksama, sekian banyak kemungkaran yang ada di atmosfer kehidupan kaum muslimin pada hari ini, maka akan kita dapatkan bahwa ternyata salah satu senjata syaitan paling ampuh yang menyimpangkan bani Adam dari jalan yang lurus adalah hujjah-hujjah palsu & kerancuan pemahaman yang memoles kebatilan sehingga tampak menjadi sesuatu yang indah & menyenangkan.

Tidakkah Anda lihat, orang-orang yang sampai saat ini masih enggan meninggalkan gemerlapnya dunia panggung hiburan-entah penyanyi atau bintang film & sinetron, kalau anda bertanya kepada mereka; apa yang melatar belakangi mereka dengan suka rela & tanpa sungkan-sungkan mengobral aurat di layar-layar kaca & berdandan ala jahiliyah demi memuaskan selera penonton & sutradara? Maka jawaban mereka tak lauh dari ungkapan klise & menyakitkan hati para pecinta Allah & rasul-Nya; “Ini adalah seni, ini demi menghidupi keluarga saya, ini adalah potret kebebasan hak asasi manusia, ini adalah ekspresi budaya,” atau seabrek kepalsuan yang lainnya. Maha suci Allah, sudah sedemikian rusakkah aqidah kita?

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah, seorang mukmin hidup bukan untuk memperturutkan kemauan hawa nafsunya. Seorang mukmin menyadari bahwa ujian yang Allah berikan di alam dunia ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan penghambaan dirinya kepada Allah semata. Betapa banyak orang yang mengira bahwa apa yang dilakukannya merupakan kebaikan padahal di sisi Allah ta’ala itu semua tak ada artinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; maukah Aku kabarkan kepada kalian orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia namun mereka mengira telah melakukan amal dengan sebaik-baiknya.” (Qs. al-Kahfi: 103-104)

Lalu apa yang semestinya kita kerjakan? Sebuah pertanyaan yang penting untuk dikaji. Untuk mengatasi jerat syaitan yang satu ini, maka seorang hamba memerlukan bimbingan ilmu yang benar di samping keteguhan sikap dalam memihak kepada kebenaran. Orang yang tak dibekali ilmu yang benar, maka tindakan yang diambilnya pun hampir bisa dipastikan menyimpang dari jalan kebenaran. Oleh sebab itulah setiap harinya kita diajari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah hidayah menuju jalan yang lurus. Sementara jalan yang lurus itu dibentangkan di atas pondasi ilmu & keberpihakan konkret kepada kebenaran. Dengan pondasi ilmu maka para peniti jalan tersebut akan terbebas dari kebodohan & sikap serampangan yang cenderung pada perilaku sesat & menyimpang. Sedangkan dengan pondasi yang kedua maka para peniti jalan itu akan senantiasa terjaga dari kemurkaan Allah dgn keistiqomahan mereka di atas rel kebenaran. Iman kepada Allah tak cukup jika tak disertai keistiqomahan. Sebagaimana ucapan syahadat di lisan tak cukup jika tak diiringi dengan ketundukan & kecintaan. Demikian pula ilmu, tidaklah ia mencukupi apabila tak disertai dengan amalan.

Sebagian manusia diseret oleh hawa nafsu & kebodohannya untuk mengikuti aliran orang-orang yang sesat (adh-dhaallin) lagi menyimpang. Bukan karena niat mereka yang buruk, namun karena persepsi mereka tentang kebenaran & pengabdian telah mengalami distorsi pemikiran. Sedangkan sebagian yang lain cenderung kepada aliran orang-orang yang dimurkai (al-maghdhubi ‘alaihim) akibat pemahaman mereka tak disertai dengan kecintaan kepada kebenaran & ketulusan mengabdi kepada ar-Rahman. Mereka tahu tapi enggan mengikuti kebenaran.

Nah, yang kita perbincangkan sekarang bukanlah orang-orang yang enggan mengikuti kebenaran. Yang ingin kita soroti adalah segolongan manusia yang dengan niat baik mereka ‘terpaksa’ harus memposisikan diri mereka di barisan orang yang menyimpang. Meskipun hal itu tak mereka sadari. Dan inilah yang menyakitkan. Banyak sekali tipu daya Iblis yang mereka serap & adopsi demi melegalkan penyimpangan yang selama ini mereka tekuni. Di antara alasan yang sering kita dengar dari banyak orang yang menuturkan keadaan orang-orang semacam ini adalah ucapan mereka, “Saya tak berniat buruk. Niat saya baik. Hanya saja keadaan memaksa saya untuk melakukan hal ini. Saya sadar hal ini akan mengundang banyak kontroversi. Namun, hal itu tak penting bagi saya. Toh, saya tak mencari ridha manusia. Apa boleh buat, keadaan menuntut saya melakukannya, & lagi kalau mau diambil sisi positifnya kan tak sedikit. Kita harus realistis, tak semua orang bisa bersikap ideal seperti yang anda inginkan.” Kurang lebih itulah alasan mereka.

Sekilas, ucapan ini terdengar bijak & menyejukkan. Namun di balik itu semua, syaitan ingin menggiring manusia agar memandang baik diri mereka sendiri & menempatkan orang lain sebagai penonton belaka. Sehingga mereka tak lagi berhak untuk mengkritik atau pun mengoreksi sikapnya. Karena sutradara kehidupannya adalah dia, adapun orang lain mungkin tak mengerti realita dalam pandangannya. Ada ungkapan yang mengatakan, “Sang pemilik rumah tentu lebih mengerti tentang isi rumahnya.” Ya, itu ada benarnya, tapi ingat betapa banyak pemilik rumah yang kebingungan mencari barangnya sendiri yang hilang gara-gara lupa atau terselip di suatu tempat, padahal kejadian itu sama sekali tak keluar sejengkal pun dari pagar rumahnya! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tak mengetahui.” (Qs. an-Nahl: 43)

Banyak orang yang mudah menerima kebenaran ketika kebenaran itu tak mengusik urusan pribadinya. Namun, tak sedikit pula orang yang menolak kebenaran hanya gara-gara kebenaran itu telah mengusik urusan pribadinya. Tidakkah kita ingat kisah Abu Thalib paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Pada dasarnya dia mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh keponakannya itu, namun hanya karena khawatir apabila dia mengikuti ajaran itu maka celaan & komentar miring akan terlontar dari lisan suku Quraisy kepadanya, akhirnya syahadat pun tak mau diucapkannya, walau sekali. Hal itu menunjukkan bahwa keteguhan orang dlm meniti jalan kebenaran akan benar-benar tampak ketika kebenaran itu harus berhadap-hadapan dgn kemauan hawa nafsu & kebiasaan yang dijalaninya atau yang dijalani oleh masyarakatnya. Ketika berada dalam posisi seperti itu, bagaimanakah sikap yang diambilnya? Itulah cerminan penghambaan dirinya yang sebenarnya.

Sebagian orang-semoga Allah memberi mereka petunjuk- mengira bahwa nasehat yang disampaikan kepada mereka adalah bentuk kelancangan & kekurangajaran. Terlepas dari keras atau lembut cara menasehatinya, maka tak selayaknya seorang yang munshif (bersikap adil & objektif) mencampakkan kebenaran gara-gara kebenaran tersebut datang dengan cara yang tak berkenan atau kurang pas dalam pandangannya. Ya, itu sah-sah saja seorang menilai bahwa cara orang lain dlm menasihatinya tak pas atau tak beradab. Namun, bukan itu yang kita bicarakan! Yang kita maksud adalah kesadaran hati pada diri orang yang mendapatkan teguran agar kembali kepada Allah, & menyadari kekeliruannya-jika itu sebuah kekeliruan-tanpa menyimpan dendam. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk memberikan maaf & berlapang dada dlm menyikapi kekurangan saudara kita? Bukankah kita pun senang jika kita diperlakukan demikian? Maka alangkah tak bijaknya kita ketika kita menyadari bahwa hujjah-hujjah yang kita miliki ternyata tak cukup kuat untuk mempertahankan sikap kita yang keliru atau kurang bijak, kemudian dalam kondisi seperti itu pun kita masih menuntut orang lain secara berlebihan untuk bersikap bijak & sopan dalam menegur kita. Sementara kita dengan begitu leluasa memuntahkan sejuta alasan untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan kita. Di sisi lain kita tak memberikan kesempatan baginya untuk melontarkan kritik kepada kita.

Wallahul musta’an.

Rabu, 26 September 2012

3 Akhlak Buruk Manusia

 
1. Mudah Marah
Sifat ini merupakan perangai yang tercela baik dalam tinjauan syara’ maupun dari sisi akal sehat. Dan sifat ini merupakan sebab timbulnya ragam persoalan yang akibatnya tidak menyenangkan. Betapa banyak akibat yang timbul dari perangai ini, pembunuhan, perceraian, pertikaian antara kedua pihak dan lain sebagainya yang merupakan hasil dari sifat marah.


Bahkan sebagian kaum manusia, apabila marah, kemarahannya akan menuntunnya sehingga diapun mengkerutkan keningnya dihadapan selain orang yang membuatnya marah, ucapan yang jelek kepada seseorang yang tidak bersalah sedikitpun juga, dan menyakiti seseorang yang sebenarnya dia tidak menghendaki hal itu terjadi kepadanya selain balasan yang lebih ringan.

Lalu perkara ini akan memuncak, apabila dia sudah ridha menuang perkara yang berbahaya bagi siapa saja yang tidak sederajat kedudukannya dengan dirinya, memberi kepada seseorang yang tidak mengharap pemberiannya, dan memuliakan seseorang yang tidak mengharap pemuliaan darinya. [1]

Ini adalah perangai yang tercela, yang bertentangan dengan sifat bijak, keteguhan hati, pribadi yang luhur dan sifat adil.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukanlah seseorang dikatakan kuat dengan pandai gulat, akan tetapi seorang yang kuat apabila dapat menguasai dirinya di saat marah.” [2]

Kesempurnaan kekuatan seorang hamba adalah dengan mengendalikan pengaruh dari hawa amarah yang bergejolak, maka sebaik-baik manusia adalah seseorang yang syahwat serta hawa nafsunya mengikuti syariat. Kemarahan yang ada pada dirinya dan pembelaannya diperuntukkan kepada kebenaran untuk menepis kebathilan.

Dan seburuk-buruk manusia adalah seseorang yang di kuasai oleh syahwat dan amarahnya. [3]

Barangsiapa yang diberi taufik untuk menepis hawa marah maka dia telah beruntung dan telah selamat, jika tidak demikian maka hidupnya tidak akan bersih dan hatinya tidak akan tentram, dan tidak akan menanjak menuju kesempurnaan.

Seseorang yang tinggi derajatnya tidaklah memikul kedengkian
Dan tidak akan mencapai derajat tinggi seorang pemarah

Foot Note:
[1] Lihat al-Adab ash-Shagir wa al-Adab al-Kabir karya Ibnu al-Miqfa’ hal.105
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari 10/91 dan Muslim (2109) dari hadits Abu Hurairah
[3] Lihat Bahjah Qulub al-Abrar karya Ibnu Sa’di, syarh hadits no.71
---------------------------------------------------------

2. Berwajah Masam & Dahi Yang Berkerut
Betapa banyak manusia, anda tidaklah melihatnya kecuali wajahnya masam, kening yang berkerut, tidak mengenal senyum dan kehalusan perangai, tidak mendapat taufik berupa kegembiraan dan keceriaan.

Melainkan dia melihat orang-orang dengan pandangan marah, melirik mereka dengan pandangan kemurkaan dan kemarahan, padahal mereka tidak melakukan dosa sedikitpun juga, bukan pula karena kesalahan yang telah mereka lakukan. Namun demikianlah yang ditanamkan pada tabiatnya, dan yang muncul dalam perangai dirinya.

Akhlak seperti ini, biasanya beriringan dengan sifat angkuh, perangai yang kaku, karena sedikitnya keceriaan menunjukkan sikap menganggap remeh manusia lainnya, dan sikap memandang remeh kaum manusia lainnya adalah bentuk dari perasaan ‘ujub dan keangkuhan.

Sedikit tersenyum -terlebih disaat berjumpa dengan saudara seiman- juga timbil akibat perangai yang kaku, dan akhlak seperti ini tercela, terlebih jika menjadi perangai kaum penguasa dan orang-orang terkemuka. [1]
Serorang yang berwajah masam yang beiring dengan wajah yang murung serta jiwa yang labil adalah bukti akan jiwa yang kerdil.

Adapun jiwa-jiwa yang besar, akan diliputi dengan hawa kedamaian dan ketentraman. [2]
Berkata seseorang kepada seorang yang bijak: “Siapakah kaum manusia yang paling sempit jalannya dan paling sedikit temannya?”

Orang bijak mengatakan: “Barangispa yang berinteraksi dengan manusia dengan wajah yang masam, maka dirinya akan terjauhkan dari mereka.” [3]

Foot Note:
[1] Lihat Tahdzib al-Akhlaq karangan al-Jahidhz hal.32
[2] Lihat Aqwaal Ma’tsurah wa Kalimaat Jamiilah Dr Muhammad Luthfi ash-Shabbagh hal.181
[3] Aqwaal Ma’Tsurah hal.187
----------------------------------------------

3. Kekerasan & Kekasaran Dalam Bertutur Kata
Anda akan menjumpai dikalangan manusia, ada yang keras lagi kasar perangainya, dia sama sekali tidak bersikap lembut, tidak bersikap ramah, tidak merasa nyaman kecuali dengan umpatan dan cacian yang keji. Tidak berbicara kecuali dengan ungkapan-ungkapan yang tidak pantas, yang mana ungkapan-ungkapan tersebut akan menimbulkan kekerasan hati dan sikap kaku, sikap kasar dan kebekuan.

Dan hal itu akan menyebabkan perpecahan dan permusuhan dan datangnya godaan syaithan serta tidak mau menerima kebenaran.

Perhatikanlah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana beliau adalah seorang utusan Allah, dipersaksikan dengan wahtu ilahi, datang membawa hidayah dan agama yang benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai diri beliau:

“Sekiranya engkau seorang yang kasar lagi keras hati, maka mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [QS.Ali Imran: 159]







Bagaimana Diri Kita Setelah Bulan Ramadhan


Berharap Amalan Diterima, Berharap Berjumpa dengan Ramadhan Berikutnya

Duhai saudariku muslimah, masih lekat di benak kita, masih demikian indah nuansanya di pelupuk mata dan masih terhias indah di hati kita, semaraknya Ramadhan yang telah meninggalkan kita. Kini hari-hari yang kita jalani setelahnya semoga lebih baik dari sebelum Ramadhan tiba. Jangan sampai keadaan kita usai Ramadhan justru lebih buruk dari sebelum Ramadhan datang menjumpai kita. Allahul Musta’aan
Perlu diketahui duhai Saudariku Muslimah, al-Mu’alla bin Fadhl mengatakan bahwa


كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

“Para salaf (sahabat) biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”
Demikianlah keadaan para salaf dengan kedalaman ilmu dan baiknya amal mereka rahimahumullah. Adapun kita seharusnya lebih bersungguh-sungguh dalam berdo’a agar amal kita diterima di Ramadhan yang telah lalu dan agar dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Namun, sudahkah yang seharusnya kita lakukan ini sejalan dengan realita yang ada? Sungguh, setiap jiwa menjadi saksi atas dirinya masing-masing, meskipun ia mengungkapkan berbagai alasan dalam menjawabnya. Semoga Allah Subhanahuwa Ta’alaa meneguhkan kita untuk menapaki jejak para pendahulu kita yang shalih rahimahumullah.

Duhai saudariku muslimah, semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengistiqamahkan kita di atas kebaikan hingga ajal menjemput kita. Terdapat beberapa hal yang hendaknya senantiasa kita renungkan selepas Ramadhan, diantaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Perhatikanlah duhai saudariku muslimah yang semoga Allah Subahanahuwa Ta’alaa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita bahwasanya puasa diwajibkan agar kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Jika disimpulkan dari berbagai pendapat ulama, makna taqwa berporos pada aktivitas menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Taqwa ini merupakan buah yang seharusnya dipetik oleh seorang mukmin setelah mereka menjalankan puasa Ramadhan. Sebulan penuh kita diharuskan menjalankan puasa, ditambah amalan-amalan mulia lainnya dengan janji pelipatgandaan pahala yang sangat menggiurkan jiwa-jiwa yang merindukan syurga-Nya. Pada bulan tersebut Allah ‘AzzawaJalla membantu pula dengan dikekangnya setan-setan yang durhaka sehingga kita dimudahkan untuk melatih diri kita dalam ketaatan.

Pada bulan tersebut kita sekedar mengekang hawa nafsu kita di atas ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Meskipun demikian, tak jarang kita saksikan sebagian kaum muslim yang di bulan Ramadhan tetap saja berbuat maksiat, bahkan puasa pun tidak, serta sulit menjalankan ketaatan-ketaatan. Hal yang demikian tentunya merupakan musibah besar bagi pribadi muslim, karena kesulitan menjalankan ketaatan di bulan Ramadhan harusnya dilawan. Jika tidak demikian maka akan semakin sulit menjalankan ketaatan di luar bulan Ramadhan. Hal itu karena setan yang durhaka dilepaskan kembali ketika Ramadhan berakhir sehingga hawa nafsu akan semakin menjerat diri dengan bantuan setan-setan tersebut. Duhai Saudariku Muslimah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’alaa menyelamatkan kita dari musibah semacam itu.

Berbahagialah duhai saudariku muslimah, jika selama Ramadhan kemarin jiwamu demikian ringan diajak menjalankan ketaatan dan hawa nafsumu demikian mudah dikekang dari kemaksiatan, karena itu tentunya banyak amalan-amalan mulia yang dapat kita rutinkan untuk mendidik jiwa kita terbiasa menjalankan ketaatan setelah Ramadhan. Dengan demikian, kita berharap jiwa kita lebih mudah dibawa menuju istiqamah di hari-hari selain Ramadhan ketika setan dilepaskan dan kita pun harus melawannya pula, selain musuh dalam diri kita yaitu hawa nafsu.

Duhai Saudariku Muslimah yang semoga Allah memuliakan kita di dunia dan di akhirat kelak, selama Ramadhan kita telah dilatih untuk untuk bertaqwa melalui ikhlash dengan tetap menahan lapar dan haus meskipun tak ada seorang pun disekitar kita. Kita juga dilatih untuk ittiba’dengan berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah shallallah ‘alaihiwasallam. Demikian pula, kita dilatih untuk menahanhawanafsu dengan berusaha menahan amarah ketika dihinakan atau bahkan nafsu makan dan minum. Kita juga dilatih untuk sabar dengan ketiga tingkatannya yaitu sabar dalam ketaatan dengan berusaha melaksanakan ibadah puasa dengan dibarengi tarawihnya di malam hari, sahur di akhir waktu dan menyegerakan berbuka serta menyuburkan Ramadhan dengan banyak berdzikir dan berbuat baik.

Kita juga dilatih untuk dermawan dengan merasakan kondisi si miskin yang terkadang tidak makan sama sekali dalam sehari sehingga jiwa merasakan penderitaan orang lain dan terpacu untuk lebih dermawan kepada si papa. Kita dilatih untuk menjagawaktu dengan senantiasa menghindari pembicaraan yang sia-sia dan membuang waktu serta berusaha setiap guliran waktu bernilai ibadah di sisi-Nya. Kemudian kita dilatih pula untuk mengamalkan shalatmalam(tahajud) dengan terlatih bertarawih di bulan Ramadhan, menjadikan jiwa mudah untuk shalat di malam hari. Kita dididik untuk puasa dengan kewajiban puasa di bulan Ramadhan menjadikan kita terlatih untuk mengamalkan sunnah-sunnah puasa seperti puasa senin dan kamis, puasa ayyaamulbiidh, puasa hari arafah dan yang lainnya. Termasuk latihan membaca Al-Qur’an dengan usaha kita mengkhatamkan Al-Qur’an dan mentadaburinya di bulan Ramadhan, dan tadabur inilah tujuan dibacanya Al-Qur’an yang merupakan bentuk dzikir yang paling utama. Sebagaimana disebutkan di suatu riwayat bahwasanya Ibnu ‘Umar menghafal Al-Baqarah selama 8 tahun, bukan karena beliau pemalas, sungguh jauhnya shahabat dari sifat tersebut. Tetapi hal itu terjadi karena beliau menghafal beserta tadabur ayat-ayat yang dihafalkannya. Hendaknya kita senantiasa menjadikan kegiatan ini terus berlangsung selepas Ramadhan. Dengan demikian, hendaknya kita istiqamahkan amalan-amalan tersebut setelah berlalunya Ramadhan hingga kita menyambut Ramadhan berikutnya.

Duhai saudariku muslimah, kini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah, untuk kemudian menyambut bulan Dzulhijjah. Guliran waktu akan terus berputar dan teruskanlah amalan-amalan yang telah kita latih di bulan Ramadhan. Bertaqwalah kepada Allah SubhanahuwaTa’alaa karena itulah tujuan diwajibkannya puasa bagi kita, yang dengan taqwa itulah kita akan dapatkan jalan keluar urusan-urusan kita beserta rizki yang datang dari arah yang tak disangka-sangka. Jagalah Allah ‘AzzawaJalla dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menjaga batasan-batasan yang telah ditetapkan-Nya maka Allaah TabaarakawaTa’alaa pasti akan menjaga kita dengan pertolongan dan penjagaan-Nya berupa penjagaan diri kita, agama kita, keturunan kita dan penjagaan ketika kita sakaratulmaut dengan dikokohkannya lisan kita untuk mengucapkan LaaIlaaha Illallaah . Allahul Musta’aan

-------------------------------
Disarikan dari:
  • Al Qur’an Al Karim wa Tarjamatu Ma’aaniihi ila Al Lughati Al Andunisiyyah. Madinah.
  • Nasihat Bagi Muslim Selepas Ramadhan (Rekaman). Ustadz Badrussalam. Radio Rodja. Bogor.
  • Panduan Ramadhan, bekal meraih berkah ramadhan. Muhammad Abduh Tuasikal. Pustaka Muslim. Yogyakarta.

Jagalah Akhlak Mu Wahai Wanita

Keagungan Wanita dalam Islam

Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tak asing terdengar di telinga kita bahwa akhlak wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran & partisipasi wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik & menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi bangunan masyarakat Islam.


Namun jika ia telah menyimpang dari syari’at yang Allah tetapkan, maka ia ibarat pedang yang akan merusak & menghancurkan umat. Musuh-musuh Islam sangat paham bahwa peran wanita muslimah sangat penting dlm membangun masyarakat Islam. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menyerang Islam melalui kaum wanitanya.

Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghancurkan wanita muslimah melalui emansipasi. Mereka menamakan emansipasi sebagai gerakan yang membebaskan wanita dari kezhaliman & untuk memenuhi hak-hak mereka secara adil (menurut mereka) dengan slogan toleransi, kebebasan wanita, persamaan gender, & sebagainya.

Namun ketahuilah wahai Saudariku, emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan & nilai agama. Mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki & memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Wanita dalam konsep mereka ibarat barang dagangan yang dipajang di etalase, yang siap dijadikan tontonan bagi para hamba syahwat & menjadi budak nafsu mereka. Na`udzubillah, mereka juga berusaha menjauhkan wanita dari hijab & rumah-rumah mereka, mengabaikan pengasuhan anak dengan mengatakan bahwa mengasuh anak tak mendatangkan materi, membunuh kreatifitas & menghambat potensi sumber daya manusia kaum wanita.

Coba kita perhatikan, betapa menyedihkannya pemikiran mereka ini yang memandang baik buruknya kehidupan dari sudut pandang materi. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mungkin secara sepintas, wacana emansipasi mampu menjawab problematika wanita & mengangkat harkatnya tapi tidaklah mungkin itu diraih dengan mengorbankan kehormatan & harga diri wanita.
Sungguh, tak akan bisa disatukan antara yang haq dengan yang bathil. Mereka tidaklah ingin membebaskan wanita dari kezhaliman tetapi sesungguhnya merekalah yang ingin bebas menzhalimi wanita.
Wanita Dalam Islam

Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan & pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah & keadilan. Wanita begitu dijunjung & dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain. Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya & akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka & memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dlm “Adabul Mufrod”: 76, & Ahmad: 4/154 dgn sanad shahih, lihat “Ash-Shahihah: 294).

Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, & dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali baru kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah.

Dari Abu Hurairah berkata,
“Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk  menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)
Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dlm surat An-Nisa’ ayat-19 yang artinya:
“…Dan pergaulilah mereka (para istri) dgn cara yang baik…”

Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan utk mengagungkan & menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur’an & As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka. Karena sesuatu yang banyak dibahas & mendapat banyak perhatian tentunya adalah sesuatu yang penting & mulia. Lalu masih adakah yang berani mengatakan bahwa Islam menzhalimi wanita?!
Wahai saudariku, demikianlah syari’at Islam menempatkan wanita di singgasana kemuliaan.

Adapun di zaman sekarang, kenyataan yang terjadi di masyarakat sungguh jauh dari itu semua. Penyebabnya tak lain adalah karena jauhnya umat Islam dari pemahaman yang benar terhadap agama mereka. Seringkali ada orang yang menjadikan kesalahan orang lain sebagai hujjah (argumentasi) baginya untuk turut berbuat kesalahan yang sama.
Terkadang pula orang-orang menilai syari’at Islam dari perilaku orang-orang yang menyatakan bahwa mereka beragama Islam, namun pada hakekatnya perilaku mereka belumlah menggambarkan yang demikian.
Oleh karena itu wahai Saudariku, janganlah menjadikan perilaku manusia sebagai dalil. Jadikanlah Al-Qur`an & Sunnah dengan pemahaman para shahabat sebagai petunjuk bagi kita. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari butanya hati & akal dari kebenaran.

Wallahul musta’an.

Berkeluh Kesah Itu Sifat Manusia

Sifat Manusia Dalam Al Qur'an Adalah Berkeluh Kesah 

Memahami Sifat Manusia Yang Fitrah
Dikatakan umat manusia adalah sempurna karena sifatnya yang membedakan dengan makhluk lain dan berani, Saya katakan berani karena berani ketika berjuta-juta ciptaan Tuhan menolak amanah yang diberikan justru manusia menerimanya. Sifat yang diberikan Tuhan kepada umat bukan pemicu kita untuk dapat mengarungi jalan Surga nan abadi dengan sangat mudah, namun akan terasa teramat sulit ketika sifat sudah memperdayakan sisi lemah umat. Oleh karenanya Allah Subhanahu WaTa'ala memberikan nikmat Iman dan Islam untuk dapat merangkul sifat jelek manusia kejalan yang benar. Salah satu sifat yang ingin Saya bahas pada no urut kedua setelah Sifat Manusia Adalah Sibuk adalah sebagai berikut
Sifat Manusia Adalah Bekeluh Kesah
Seperti yang sudah Saya katakan sebelumnya, yakni Tuhan memberikan kita sifat bukan semata-mata untuk dipandang jelek atau hina, mengapa? karena ada tujuan disana, tujuan yang sebenar-benarnya tujuan, namun tidak sedikit umat paham akan tujuan yang sebenarnya itu. Apa itu tujuannya? Syafaat, mengharap syafaat karena ridho Allah yang akan di dapat ketika umat paham akan segala tindak aktifitas yang di lakukan di panggung sandiwara dunia nan kejam penuh dengan tipu muslihat, pengaruh sifat besar efeknya real karena sifat yang ada pada diri kita manusia selalu dipandang negatif tanpa memahami pentingnya sifat yang Tuhan berikan sebagai landasan mengapa umat manusia dikatakan sempurna, kapan serta bagaimana.

Pernyataan sempurna apabila dibandingkan dengan ciptaan tuhan yang lain, bukan berlandaskan di mata sesama karena ingin dilihat, ingin memperoleh penghargaan karena sesama, ingin di hargai oleh sesama, tapi lupa kepada siapa kita harus bersyukur. Ketika sedang dibumbung dengan suatu prestasi, jabatan, harkat dan martabat bangga tidak ketulungan, dan ketika sedang dilanda bencana, jatuh, sengsara sedih dan putus asa nyaris nekat bunuh diri, gila dan lain sebagainya itulah sifat manusia berkeluh kesah yang kadang tidak terkontrol.

Tidak sedikit umat diera saat ini, kadang Saya sendiri merasakan alias korban tipu muslihat syaiton ketika senang lupa kepada siapa kita harus bersyukur yang ada justru mendekati sifat yang di bilang buruk lainnya tapi tidak selamanya kembali tergantung kondisi..., tatkala ketika susah biasanya barulah kita sangat dekat kepada Sang Pencipta, memohon untuk dikembalikan kebahagiaan dunianya (masih bersyukur dan lebih baik), namun ada juga yang salah ambil jalan alhasil nekat bunuh diri, gila, perkara yang bisa dilihat dan sering terjadi disaat ini, penyebabnya tidak lain karena minimnya nilai Iman seseorang. Tujuan Allah sendiri memberikan sifat keluh kesah tentu agar umat paham kepada siapa merka harus berkeluh kesah, mengadu, ketika merasa senang dan sedih Allah lah tempat kita bersimpuh berbagi kebahagiaan dengan bersyukur dan mengadu tempat kita untuk memohon pertolongan ketika bersedih, bukan kepada sesama ataupun jalan syaiton!. Bisa dilihat melalui Surat Al Ma'arij ayat: 20

(إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ﴿المعارج:٢۰
"Apabila dia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,"
Lalu seperti yang telah Saya katakan juga di atas bisa di lihat pada Surat Al Isra' ayat: 83
وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسٰنِ أَعْرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـُٔوسًا ﴿الإسراء:٨٣

"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa".

Melihat dari sejumlah kandungan yang tersimpan melalui Al Qur'an diatas manusia memang sudah kodratnya seperti itu, pertanyaannya apakah selamanya kita harus seperti itu? Cara yang lebih efektif menurut Saya adalah introkspeksi diri dan mau belajar memahami Ilmu Islam itu sendiri agar lebih mudah untuk menanggulanginya, tidak cukup sekedar tahu saja lantas terucapkan, dan paham lantas dibagikan tapi butuh implementasi dari diri pribadi dilakukan dalam kehidupan, salah satunya bisa dengan tanamkan Perkataan Menjadi PR Untuk Perbuatan dalam hati seperti yang Saya lakukan saat ini (masih harus belajar). Semua butuh proses tidak ada yang instan Tuhanpun pasti tahu akan hal itu, tapi sudah sampai batas mana kita mau berikhtiar (berusaha)? Sebenarnya kalo kita paham dari sifat kita manusia yang dibilang jelek itu hadir karena terpedaya oleh nafsu dan godaan syaiton sudah merasuk kealam bawah sadar sifat manusia itu sendiri, betapa mudahnya godaan itu mampu merayu kita masuk kejalan sesat! Faktor utama adalah karena lemahnya Iman Saya pikir, oleh karenanya mari sama-sama kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak semata-mata karena sesama namun karena Allah Subhanahu WaTa'ala yang menjadi utama. Semoga manfaat dan terima kasih Salam.

Label

'idul adha adab dan sunnah adik saudara sepersusuan adzan air kencing bayi air kencing Rasulullah Akhirat akhlak Akhlaq Kepribadian Akhwat akidah Al Qur'an Al Qur#039;an Al Quran Al-Qur'an Alam Aliran-aliran Amalan AMALIYAH NU anak Analisa Angin Aqidah Aqiqah Artikel Artikel IImiah Asmara Astronomi ASWAJA Azab Bab Adab Bab Nikah Bab Puasa Bab Sholat Bab Thaharah Bab Zakat bantahan belajar islam Berita bersin Bid'ah bid'ah dalam aqidah bid'ah dalam ibadah Biografi Biologi Bisnis Blackberry Budaya Budi Daya buka puasa buku Cantik Fisik catatanku Cerpen Chairil Anwar Curahan Hati Curhat daging qurban Dakwah Dakwah Pemikiran Islam dakwah umum Dambaan insan Dari Salafushshalih Dasar Islam Dasar Keislaman demam Desain Dhaif Do'a do'a buka puasa Do'a dan Dzikir Doa doa bersama doa sholat tarawih download dunia islam Dunia Islam Kontemporer Dzikir dzikir dengan tangan kiri Ekonomi Eksoplanet Emansipasi Emha Ainun Nadjib Fakta Ilmiah Fakta Jin-Iblis-Syetan Fakta Manusia faraidh Fenomena Asteroid Fenomena Bencana Alam Fenomena Bintang Fenomena Bulan Fenomena Bumi Fenomena Hewan Fenomena Kutub Fenomena Langit Fenomena Matahari Fenomena Meteorit Fenomena Petir Fenomena Planet Fenomena Ruang Angkasa Fenomena Tumbuhan Fiqh Fiqh Muamalat Fiqh Wanita Fiqih Fisika Galaksi Geografi Geologi gerhana gigi palsu Hadis Hadis 40 hadist Hadits Hadits Palsu HAID Halal Haram HAM HARI RAYA ID HUKUM ISLAM hukum natal bersama hutang i'tikaf Ibadah ibadah yang baik ibu mertua ilmu ilmuan muslim Ilmuwan imam terlalu cepat bacaannya IMAN Inovasi intermezzo Internet Iptek iqomah isbal Islam jabat tangan setelah sholat JADWAL RAMADHAN Jagad Raya Jalaluddin Rumi jamaah sholat jumat jenazah Jual Beli judi junub Kabar Dalam Negeri kabar manca negara Kahlil Gibran Kajian Karya Buku Karya Ulama KB Keajaiban Alam Keajaiban Hewan KECANTIKAN Kecelakaan Maut Kehutanan Kelautan keluarga Kepemerintahan Kepengurusan Kerajaan Kesehatan Keuangan Keutamaan KHITAN Khitan Wanita khurofat Khutbah Khutbah Jum'at khutbah jumat Khutbah Rasulullah saw Kiamat Kidung Hati Kimia Kisah Kisah Kami Kisah Nyata Kisah Orang-Orang Shaleh Kisah Teladan Komputer Konversi Energi Kosmologi Kumpulan Do'a Kumpulan Kata lafadz adzan lafadz iqomah Lain-Lain Lalu Lintas lembaga sosial Lingkungan Hidup Lubang Hitam macam puasa sunnah mahram Makanan mandi jum'at mandi wajib Manhaj Manusia Manusia dan Teknologi masjid masjid quba Masuk Perguruan Tinggi Matahari Materi gelap Mayit media cetak memandikan jenazah membayar zakat memotong kuku memotong rambut mendahului gerakan imam menemani sholat jamaah menembok kuburan mengadzankan mayit di liang kubur mengangkat tangan menghadiahkan pahala mengqadha puasa menguburkan jenazah mengucapkan selamat natal mengusap kepala Mengusap muka setelah berdoa menikah di bulan syawwal menikah setelah berzina meninggal dunia Meninggalkan sholat jum'at menjawab adzan menjual kotoran hewan menyapu kepala menyentuh wanita Meteorologi Meteorologi-Klimatologi mihrab Mineralogi minum air zamzam Motivasi motivasi belajar Motivasi Beramal MQ (menejemen qolbu) mu'athilah Muallaf muamalah Muhasabah Mungkar murottal Muslimah Muslimah Articles Musyabbihah Mutiara Hikmah Mutiara Kalimat Mutiara Tafakur Nabi Muhammad Nagham Alqur'an Nasehat Neraka News niat sholat nikah nisfu aya'ban Oase Iman Olah Raga OLAHRAGA Otak PAKAIAN panas PAUD Pendidikan Penelitian penelitian sunnah Pengembangan Diri Pengobatan Akibat Sihir Peninggalan Sejarah Penjajahan Pentingnya Waktu Peradaban Islam Perbandingan Agama dan Aliran Perbankan Pergaulan Perkawinan Perkembangan Da'wah Islam Permata Hati pernikahan Personaliti Pesawat Ruang Angkasa Pesepakbola Muslim Pojok Ramadhan posisi imam wanita produksi awal program kerja Proyek Luar Angkasa Psikologi Puasa puasa daud puasa rajab Puasa Setiap Hari puasa sunnah puasa wanita hamil Puisi Puisi bahasa Ingris qunut nazilah QURAN radar lampung Radio Rajab Ramadhan ramalan cuaca Renungan Riba dan Jual Beli salafush shalih salah bacaan sholat Salam Khudam Sastra sedekah Sejarah Sejarah Islam SEKS Sentilan Seputar Daerah Buton Shalat shodaqoh shodaqoh melebihi kadar Sholat sholat dan keputihan sholat di rumah sholat ghoib sholat jamaah sholat jamaah estafet sholat jumat sholat jumat wanita sholat pindah tempat sholat qashar sholat sambil melihat mushaf sholat sendirian sholat sunnah sholat sunnah qobliyah isya sholat sunnah sebelum asar sholat sunnah setelah shubuh sholat takhiyatul masjid sholat wanita sifat dzatiyah sifat fi'aliyah Sihir Simpan Pinjam Sirah Siroh Shahabiyyah Software Islami Sosial Kemasyarakatan Sosiologi sujud sahwi sujud syukur sumpah dan nadzar Sunnah sutrah sutroh syafaat Syurga Tafakur Alam Semesta Tafsir Tafsir Al-Qur'an tahlilan Takbirotul ihram takwil mimpi tambal gigi tamsil Tanda Akhir Zaman Tanda-Tanda Kiamat Tanya jawab Tarbiyah Tasawwuf dan Adab tata cara tidur menurut sunnah Tata Surya Taufiq Ismail Tauhid tayammum Tazkirah Tazkiyah tazkiyatun nafs Tech News Teknik Sipil teladan Tenaga Kerja tertawa saat sholat Thoharoh tidak taat suami tinggi TK Tokoh Tokoh Dan Ulama Tokoh Islam Tools TPA Tsunami Tujuan Hidup tuntunan sholat uang pensiun dari riba uang riba ucapan assalamualaika UNCATEGORY Video da'wah video Motivasi Diri Video Muhasabah video murotal W. S. Rendra waktu membaca doa wanita wanita haid Wisata wudhu yasinan zakat zakat anak kepada orang tua zakat barang temuan zakat harta zakat harta warisan zakat hasil perkebunan zakat hasil pertanian zakat mal zakat padi zakat pns zakat tanah zina