Rabu, 29 Agustus 2012

Berprasangka Baik

Inilah Keutamaan Berbaik Sangka

Suatu hari Rasulullah SAW mengutus Umar RA untuk menarik zakat dari para sahabat. Akan tetapi, Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas yang juga paman Nabi SAW tidak menyerahkan zakatnya. Umar pun kemudian melaporkan sikap ketiga sahabat itu kepada Rasulullah.

Mendengar laporan itu, Rasulullah bersabda, ''Tiada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil enggan untuk menyerahkan zakat kecuali dirinya fakir, kemudian Allah menjadikannya kaya. Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di jalan Allah. Adapun Abbas, aku  telah mengambil zakatnya dua tahun lalu.''

Setelah itu, Rasulullah pun bersabda, ''Wahai Umar, apakah kamu tidak tahu bahwa paman seseorang itu sama seperti ayahnya?'' (HR Bukhari dan Muslim). Dari kisah itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk berbaik sangka kepada sesama. Nabi SAW senantiasa mengingatkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk.

Allah SWT juga melarang hamba-Nya  yang beriman untuk berprasangka. ''Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa... ' (QS al-Hujurat:12).  Syekh Salim bin Ied al-Hilali dalam Syarah Riyadhus Shalihin, mengungkapkan, seorang hamba Allah yang beriman hendaknya menjauhkan diri dari menuduh, menghianati keluarga, kerabat dan orang-orang bukan pada tempatnya.

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadisnya, ''Jauhilah olehmu prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.'' (Muttafaq 'alaih).  Lalu apa sebenarnya prasangka itu? Dalam Alquran, prasangka disebut dengan az-Zhann. Syekh Mahmud al-Mishri dalam kitab Mausu'ah min Akhlaqir-Rasul, menjelaskan secara detail tentang jenis-jenis prasangka.

Menurut Syekh al-Mishri, ada empat macam prasangka yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, prasangka yang diharamkan. Prasangka yang termasuk kategori haram itu adalah berprasangka buruk terhadap Allah serta berprasangka buruk terhadap kaum Muslimin yang adil.

Kedua, prasangka yang diperbolehkan. ''Prasangka yang diperbolehkan adalah yang terlintas dalam hati seorang Muslim kepada saudaranya karena adanya hal yang mencurigakan,'' papar Syekh al-Mishri. Ketiga, prasangka yang dianjurkan. Menurut dia, prasangka jenis ini adalah prasangka yang baik terhadap sesama Muslim.

Keempat prasangka yang diperintahkan. Menurut Syekh al-Mishri, prasangka yang diperintahkan adalah prasangka dalam hal ibadah dan hukum yang belum ada nashnya. ''Dalam hal ibadah, kita cukup berdasarkan prasangka yang kuat, seperti menerima kesaksian dari saksi yang adil, mencari arah kiblat, menaksir kerusakan-kerusakan, dan denda pidana yang tidak ada nash yang menentukan jumlah atau kadarnya,'' ungkapnya.

Sufyan ats-Tsauri menjelaskan ada dua jenis prasangka, yakni berdosa dan tidak berdosa.  Prasangka yang berdosa, tutur ats-Tasuri,  jika seseorang berprasangka dan mengucapkannya kepada orang lain.  Sedangkan,  yang tak berdosa adalah  prasangka yang tidak diucapkan atau disebarkan kepada orang lain.

Rasulullah SAW senantiasa mendidik dan mengarahkan para sahabat agar berbaik sangka (ber-husnuzh-zhann) terhadap Allah SWT  dan manusia di sekitar mereka, agar hati mereka tetap bersatu. Tiga hari menjelang wafat, Rasulullah SAW bersabda, ''Janganlah seseorang meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah SWT.'' (HR Muslim, hadis sahih).

Berbaik sangka kepada Allah SWT merupakan kenikmatan yang paling agung. Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW tentang kemuliaan berprasangka baik kepada sang Khalik. ''Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku.''

''Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Ahmad bin Abbas an-Numri berkata, ''Sungguh aku berharap kepada Allah hingga seolah aku melihat betapa indahnya balasan Allah atas kebaikan prasangkaku.'' Syekh al-Mishri, mengungkapkan, kebersihan hati seorang Mukmin adalah salah satu hal yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hati yang bersih akan memudahkan umat untuk menjalin ukhuwah Islamiyah. Salah satu cara memelihara jalinan ukhuwah Islamiyah adalah dengan berbaik sangka kepada saudara-saudara sesama Muslim.


Pesan Terakhir Rasulullah SAW

Wasiat Terakhir Rasulullah SAW

Assalamualaikum wr.wb.

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmatnya sehingga saya diizinkan untuk menulis dan memostingkan "Wasiat terakhir Rasulullah",setelah seharian cari kata-kata yang pantas akhirnya saya postingkan. Semoga Ilmu dari Allah ini bisa membuat kita semakin cinta kepada ALLAH dan Rasulullah. amiin.

Saudaraku semua, Pada suatu Subuh Rasulullah Saw memanggil Imam Ali, rupanya saat itu Rasulullah Saw merasa kedinginan yang sangat, Beliau merasa tidak bisa melangkahkan kaki untuk memimpin Sholat Subuh berjamaah, sehingga Beliau memutuskan memanggil Imam Ali untuk memberi pesan Kepada Abu Bakar agar MengImami Sholat Subuh berjamaah.

Dikisahkan tiga kali Imam Ali meminta Abu bakar untuk mengimami Sholat Subuh berjamaah, sesuai pesan Baginda Rasulullah Saw. Dan tiga kali juga Abu Bakar menolak,dia berkata “kalau masih ada Rasulullah tidak pantas saya mengimami Sholat Subuh” begitu kata Abu Bakar. Hingga akhirnya Rasulullah memaksakan dirinya untuk menjadi Imam, yang diriwayatkan itulah Sholat Subuhnya yang terakhir. Kemudian berangkatlah Rasulullah untuk mengImami Sholat Subuhnya dan ternyata itu Sholat Subuh yang terakhir, disebagian riwayat dikisahkan, ketika Rasulullah mengucapkan Salam, Beliau langsung menghadapkan mukanya,menghadapkan wajahnya kepada Jamaahnya, kepada Sohabatnya yang pada saat itu sudah berlinang air mata semua, karena mereka merasa jangan-jangan Rasulullah sudah akan meninggalkan mereka.
 
Pada saat Beliau selesai Salam beliau langsung menghadapkan wajahnya kepada jamaahnya dan dibacakannya ayat yang terakhir Surat Al-Kahfi Surat ke-18 ayat 110 :

Para Sahabat yang mendengar ayat ini dan mengerti benar ayat ini, mereka makin menangis mereka melinangkan air mata, diantaranya Abu Bakar Ra.

Katakanlah wahai Muhammad Sesungguhnya Aku ini manusia yang sama seperti kalian, seolah-olah Rasulullah Saw ingin berkata kepada kita semua umatnya, kalau Rasulullah adalah manusia biasa yang butuh makan kalu Rasulullah adalah manusia biasa seperti kita yang butuh minum, maka Rasulullah adalah manusia yang hidup dan suatu saat akan meninggal dunia.

Barang siapa yang ingin bertemu Allah Swt. Tuhannya, hendaknya dia banyak-banyak melakukan amal Soleh dan jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu.

Dikisahkan Abu Bakar Ra. Mengingat episode disaat Beliau menemani Rasulullah Saw Hijrah, ada goa Tsur disana, Allah kemudian Wahyukan kepada Nabi Agung Muhammad Saw untuk beristirahat disana. Masuklah kemudian Abu Bakar dengan Rasulullah kedalam goa itu, begitu masuk karena lelahnya Rasulullah tertidur dalam pangkuan Abu Bakar Ra. Yang bukan saja dia adalah Jamaahnya, Sahabatnya, tapi beliau adalah Mertua dari Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah tertidur dipangkuan Abu Bakar, Abu Bakar melihat ada ular dan Abu Bakar sendiri tahu bahwa ular itu akan menggigit salah satu diantara mereka berdua yaitu Rasulullah atau Abu Bakar akan digigit oleh ular itu, dan karena kaki Abu Bakar yang menjulur maka digigitlah kakinya, jika saja Abu Bakar tidak Mencintai Rasulullah dengan begitu besar, ingin rasanya Beliau mengusir ular itu, tapi Beliau tahu jika Beliau mengusir ular itu maka Rasulullah Saw. Akan terbangun dari tidurnya, dan karena kecintaannya yang begitu besar pada Rasulullah, Abu Bakar Ra. Mengikhlaskan kakinya untuk digigit ular itu, dan saat digigit oleh ular itu hampir saja Abu Bakar menjerit karena sakitnya, tapi Beliau tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena Beliau tidak mau membangunkan Baginda Rasulullah Saw. Subhanallah! Cinta para Sahabat Rasulullah kepada Rasulullah memang tidak dapat diukur. Dan Beliau mendengar Rasulullah Saw. Membaca ayat tadi Surat Al-Kahfi ayat ke 110.

Imam Ali pun begitu, Beliau ingat disaat beliau menemani Baginda Rasulullah dari kamarnya untuk kemudian berdiri menjadi Imam Sholat Subuh dan Rasulullah membacakan ayat itu, dan Imam Ali paham bahwa Rasulullah mendekati ajal Beliau. Imam Ali mengingat ketika Jibril Mewahyukan kepada Rasulullah, bahwa ada enam kafir Quraisy yang bergerak berjalan untuk mengepung rumah Rasulullah, salah satu yang dipanggil adalah Imam Ali Ra. Ditawarkan oleh Rasulullah “siapakah diantara kalian engkau Ali Sahabatku atau engkau Ayahku Abu Bakar? Yang akan menggantikanku disini agar kafir Quraisy mengira aku masih ada disini”, kemudian Imam Ali mengambil posisi “aku saja Ya Rasulullah” dan Imam Ali menempati Posisi tidurnya Rasulullah. Dan Rasulullah pergi berangkat, tapi sayang saat itu sudah tiba dahulu enam Kafir Quraisy yang kira-kira sudah sejarak lagi untuk sampai dirumah Rasulullah, lalu kemudian Allah Swt. Mewahyukan lewat Jibril,agar Rasulullah menggenggam pasir dan kemudian menyebarkannya didepan rumah, dan singkat ceritanya kemudian Kafir Quraisy itu tertidur, Subhanallah.

Begitu kira-kira kisah Sholat Subuh terakhir Rasulullah.

Pada saat Rasulullah sampai dirumah, kemudian terdengar ada suara pintu yang diberi Salam, Fatimah kemudian menyaut "Wa’alaikum salam warohmatullahi Wabarokatuh. Siapa yang diluar?" Kemudian dijawab, “ Saya sudah datang, salamkan kepada Rasulullah aku sudah datang “ perlu diketahui wahai Saudaraku semua, hanya satu orang yang malaikat Jibril dan Izroil memberi Salam ketika hendak menjemput kita semua, yaitu Kepada Baginda Rasulullah Saw. Karena Allah memerintahkan kepada Izroil “ Wahai Izroil kalau nanti Rasulullah Saw. Menolak untuk dicabut Nyawanya, maka Pulanglah “ Subhanallah, disampaikan kemudian oleh Fatimah kepada Rasulullah bahwa di depan ada tamu. Rasulullah menjawab “ tamu yang kau maksud sudah ada disini “ Fatimah bingung karena tidak ada yang bisa dia lihat tapi Rasulullah mengatakan bahwa tamunya sudah ada disini, karena tamunya Adalah Malaikat Izroil Alaihi Sholatu wassalam. Saudaraku semua umat muslim, Rasulullah Saw. Tahu bahwa diperintahkan kepada Izroil jika Rasulullah menolak untuk diambil Nyawanya maka Rasulullah boleh mengusir Izroil. Maka keluarlah kalimat dari Beliau bahwa beliau belum berkenan Dicabut Nyawanya, sebelum Beliau bertemu Malaikat Jibril Alaihi Sholatu Wassalam.

“Ya Izroil aku belum Ridho kau ambil Nyawaku sebelum kau Hadirkan Jibril dihadapanku” ini menyalahi aturan ini, kematian Rasulullah Saw tidak Lazim, Harusnya tidak boleh Izroil menghadap orang yang akan Dicabut Nyawanya kecuali ditemani Malaikat Jibril. Dan ini sudah Hadist Rasulullah Saw. “ Tidak ada satupun diantara kalian apakah muslim atau kafir, kecuali kau meninggal Dunia dengan didatangi Malaikat Jibril dan Izroil “ kenapa perlu malaikat Jibril itu datang?Rasulullah kemudian Meriwayatkan. Malaikat Jibril pun tidak datang sendiri melainkan dengan tiga Kelompok Kematian” 

digambarkan Oleh Allah dalam Surat As-Sajdah ayat 11 :

Bukan hanya satu tapi ada tiga kelompok kematian, Izroil hanya tingga eksekusi ketika tinggal di tenggorokan. Bukan Izroil yang mengerjakan, selama ini kita beranggapan bahwa Izroil yang mengerjakan semua tapi tidak, melainkan tiga kelompok kematian. Kelompok yang pertama mengeksekusi dari jempol kaki hingga ke lutut. Dimatikannya saraf-saraf kita satu persatu, malaikat yang kedua melanjutkan mencabut nyawa dari lutut hingga ke pusar, selesai kemudian malaikat ketiga mencabut Nyawa dari pusar hingga tenggorokan. Barulah Malaikat Jibril dan Izroil mengeksekusi dari tenggorokan, Izroil mempersilahkan Jibril untuk maju terlebih dahulu,untuk apa? Rasulullah Saw. Berkata kalau yang didatangi ini adalah suami yang menyayangi istrinya, memberi rizki dengan jalan yang halah taat dia beribadah sholatnya tekun, senang dia meminta ampun kepada Allah, kalau yang didatangi kata Rasulullah adalah seorang anak yang taat kepada orang tuanya patuh kepada gurunya dia jaga Sholatnya dia keluarkan zakatnya dia cari jalan-jalan Rizki yang halah disisinya, kalau yang dia datangi adalah seorang istri yang menjaga aib suaminya, menjaga kehormatan suaminya, pokoknya Kata Rasulullah kalau yang didatangi ini adalah orang yang sholeh, maka Jibril akan mendatangi Si Fullan yang mau meninggal dunia ini dari sisi kanan, kemudian Jibril mengepakan sayapnya yang kanan dan tampaklah Surga yang bertingkat-tingkat disana. Saking senangnya orang itu kata Rasulullah Saw. Orang ini tidak dapat mengatakan sepatah katapun, tidak bisa ingat dengan siapapun dan kemudian memutihlah dan bersinarlah wajahnya karena saking bahagianya. Subhanallah.

Sebaliknya kalau yang didatangi adalah orang-orang yang durhaka, suka meninggalkan Sholat suka berbohong suka berjudi main perempuan mencuri dan belum Bertaubat kepada Allah Swt. Sebelum dia mati maka Jibril akanmendatanginya dari sebelah kiri dan Mengepakan sayapnya yang sebelah kiri. Dan diNeraka lah mereka akan tinggal. Astaghfirullah. Sama seperti si Sholeh dia juga tidak bisa berkata apapun tetapi itu karena ketakutannya. Beristighfarlah kalian sebelum Nyawa sampai di tenggorokan. Karena tidak akan ada lagi kata.

Bedanya saat mencabut Nyawa Rasulullah Jibril tidak datang, kemanakah dia? Karena tidak perlu lagi dia mengepakan Sayapnya sudah jelas tempat Rasulullah adalah di Surga yang terbaik. Subhanallah, tapi dimanakah Jibril bukankah seharusnya dia turun bersama Izroil. Memang dia turun bersama dengan Izroil dari Baitul Makmur tetapi di langit yang Pertama Dia bilang kepada Izroil “ Teruskan ya Izroil aku tidak tega melihat kau mencabut orang yang paling aku Cintai” Subhanallah. Tapi karena Rasulullah menginginkan kehadiran Jibril akhirnya Izroil kembali lagi menuju langit yang pertama mengundang Kembali Jibril untuk datang menjemput Rasulullah.

Begitu sampai Jibril bertanya kepada Rasulullah “ Ada apa Ya Rasulullah engkau memanggilku ?” ternyata begitu cintanya Rasulullah kepada kita Umatnya beliau ingin bertanya bagaimana Nasib kita semua Umat Muslim Subhanallah. “ Wahai Jibril aku belum Ridho kau cabut Nyawaku sebelum aku tahu bagaimana Nasib Umatku sepeninggal Diriku “ Subhanallah Cinta Rasulullah kepada kita begitu besar. Jibril menjawab “ Itu bukan Hakku ya Rasul Ijinkan Aku kembali dulu nanti akan kukabarkan jawaban dari Allah “.

Barulah kemudian keluarlah Hadist dari Rasulullah Bahwa kita Umatnya akan selamat kalau kita memegang Kitabullah dan memegang Sunnahnya Rasulullah. Barulah kemudian Rasulullah menjawab “ Saya Ikhlas dan Ridho dicabut Nyawanya “. Kemudia Rasulullah balik kanan dan Izroil pun bekerja langsung bukan diwakili oleh yang lain. Begitu Izroil bekerja mengambil Nyawa Rasulullah Jibril memalingkan Mukanya kekanan, dan ditanyalah Jibril oleh Izroil “ Kenapa wahai engkau Jibril, Mengapa kau Memalingkan Mukamu? “ Jibril menjawab “ Teruskanlah saja, Aku tidak tega melihat kau Mengambil Nyawa Orang yang paling aku Cintai “ Subhanallah dua kali Jibril mengatakan itu. Tidak sanggup dia, karena Rasulullah bilang “ Seukuranku saja dicabut Nyawa itu, tanpa Ridho dari Allah, akan lebih sakit daripada di sabet dengan seribu pedang yang paling tajam di Dunia “ tapi dengan Ridho Allah Rasulullah tidak merasakan apapun.

Ketika Izroil mencabut Nyawa Rasulullah dari ujung kaki, Rasulullah berkata “ Umatku Umatku Umatku “ Rasulullah tidak menyebut Ibunya Istrinya atau Keluarganya. Tapi Baginda Rasulullah menyebut kita Semua “ Umatku Umatku Umatku “ Subhanallah, begitu besar cinta Rasulullah. Sampai di lutut Rasulullah masih menyebut kata yang sama. Mungkin jika saya termasuk Umatnya maka seolah-olah Baginda Rasul menyebut Nama saya. Subhanallah. Seolah-olah Rasulullah juga ingin mengatakan kepada kita “Bagaimana Nasibmu nanti?”. Begitu sampai di pusar / begitu sampai di pinggang kalimat Beliau ganti “ Asholat Asholat Asholat “. Dari Pusar ke tenggorokan Beliau mengatakan “ Alaikum Bissholat Alaikum Bissholat Alaikum Bissholat “ Rasulullah mengatakan “ Wajib Atasmu Sholat Wajib Atasmu Sholat Wajib Atasmu Sholat “. Sampai di tenggorokan mestinya Rasulullah tidak bisa berkata lagi seperti yang Beliau katakan. “ takan ada lagi manusia yang bisa berbicara karena disinilah Malaikat Jibril dan Izroil bekerja “ tapi ada satu rahasia kenapa Rasulullah masih Bisa mewariskan Nasehat yang paling terakhir, karena ketika Izroil sampai ditenggorokan Izroil mempersilahkan Jibril, kata Jibril “ tidak usah, Rasulullah memang benar-benar Ma’sum.” Karena tidak diperlihatkan itu, tidak dikepakannya sayapnya, maka Rasulullah masih bisa berbicara. Dan inilah Nasehat Beliau yang terakhir “ Kewajiban Atasmu Sholat dan kewajiban Sholatnya orang-orang yang ada dipundakmu”. Dan Rasulullah menghembuskan nafas yang terakhir dengan kalam “ Ashadu Ala Ilahaillallahu Wa Ashaduanna Muhammadarrasulullah “.

Dijemput oleh tidak kurang tujupuluh ribu malaikat yang menyambut, dikisahkan saat itu Burung-burung berhenti terbang, angin berhenti bertiup, Menyambut kedatangan sosok Manusia Agung yang Dirahmati Allah menjadi Rahmat bagi seluruh Alam Semesta, Tapi Cintanya Rasulullah kepada kita tidak selesai sampai disitu.

Diriwayatkan dalam suatu kitab kecil ada suatu episode ketika menjelaskan Surat Al Kahfi :


Saudaraku Semua, Asalkan kita menjalankan Perintah Allah yaitu berpegang pada kitabnya dan Sunnah Rasulullah InsyaAllah, kita akan selamat di Dunia atau Di akhirat.

Pada saat kita dibangkitkan kembali, orang yang akan Allah bangkitkan pertama adalah Rasulullah Saw. Allah mengutus empat Malaikatnya yaitu Izroil, Isrofil, Mikail dan Malaikat Jibril, untuk mencari makam Rasulullah Saw. Dimana Makamnya. Tetapi empat Malaikat itu tidak dapat menemukan dimana Makam Rasulullah. Sampai kemudian Allah Swt. Memberikan Cahyanya dan tampaklah cahyanya, dan empat malaikat itu saling berkata, bangunkan bangunkan bangunkan, Izroil diperintah apa kata Izroil “ la “ tidak. Isrofil dan Mikail pun sama. Sampai akhirnya mereka memutuskan yang lebih berhak adalah Jibril. Lalu saat membangunkan Jibril berkata “ Bangun wahai kekasihku Bangun wahai kekasihku Bangun wahai kekasihku “ dan kalimat pertama yang dikatakan Rasulullah adalah “ Dimana Umatkuu! “ Subhanallah betapa Cinta Rasulullah tak terputuskan. Tapi cintakah kita kepadanya? Menjalankankah kita Sunnahnya hari ini? Kemarin ? lusa ? Astaghfirullah.

Lalu kemudian Rasulullah bertanya “ Hari apakah ini ? “ Jibril menjawab “ Ini hari sudah Dijanjikan Oleh Allah Swt. Dimana Malaikat Ridwan menghiasi Surga untuk dimasuki orang-orang yang Soleh, dimana hari ini Allah memerintahkan Malaikat penjaga Neraka, untuk memanaskan tungku-tungku neraka dan dibuka pintu itu “ Rasulullah berkata lagi seolah-olah tidak bergeming hari apa itu “ Dimana Umatku? “. Subhanallah. Rasulullah masih menanyakan dimana kita. Subhanallah! Apa yang kita lakukan.

Saudaraku semua umat Muslim, sekarang kita bisa tahu bahwa Rasulullah menyuruh kita semua Umatnya Untuk Sholat, itulah yang paling Utama, karena Sholat mencegah perbuatan Mungkar. Rasulullah benar-benar menyuruh kita untuk berpegang teguh Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Apakah kita akan mengecewakan sosok yang Sangat mencintai kita? Cintailah Rasulullah sebagaimana beliau mencintai kita, laksanakan Sunnahnya, Sholatnya ngga cuman wajib, Syukur bisa Qobliyah sama Ba’diyah, Syukur lagi Bisa Dhuha sama Tahajud, Shodaqohnya diperbanyak, agar kita bisa bertemu dengan Allah Swt.

Sekian Nasehat Akhir dari Rasulullah betapa Beliau sangat Mulia, Subhanallah. Semoga Ilmu ini bermanfaat untuk membuat kita menjadi manusia yang Soleh. Amiin!
Saya Admin Dunia Islam.

Salam Muslim!
 
Wassalamualaikum wr.wb.

Jangan Berburuk Sangka (Su'udzon)

Larangan Berburuk Sangka (Su'udzon) dalam Islam 

 Assalamualaikum wr.wb.
Saudaraku yang saya cintai alhamdulillah wa syukurillah, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada kita semua, Salam serta salawat tak lupa pula saya tujukan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad Saw semoga dihari akhir nanti kita mendapat Syafa'at dari beliau.
Alhamdulillah hari ini saya masih dapat menulis hal-hal yang berhubungan dengan islam dan tentang akhlak, dimana setiap hari kita menjalaninya, kali ini saya akan membahas tentang larangan berburuk sangka (su'udzon) dalam ajaran Islam, Saudaraku sekalian Rasulullah Saw Bersabda :

Qaala Rasulullah Saw :
 
"Iyyaakum Wazhzhanna Fa Innazhzhanna Akdzabul Hadiistsi Walaa Tahassasuu Walaa Tajassasuu Walaa Tanaa Jasyuu Walaa Tahaasadul Walaa Tabaaghaduu Walaatadaabarruu Wakuunuu Ibaadallaahi Ikhwaanan". (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).

Artinya :
 
Sabda Rasulullah Saw :
 
"Jauhilah olehmu purbasangka, sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dusta pembicaraan). Dan janganlah kamu mendengar rahasia orang, jangan mengintip aib orang, jangan tambah menambahi harga untuk menipu, jangan saling mendengki, benci membenci dan jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara". (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah).

Su'udzon berasal dari kata "zhan" yang artinya purbasangka, biasanya diarahkan kepada sangka yang buruk atau istilahnya Su'udzon lawan dari husnudzon artinya berbaik sangka. su'udzon bisa diumpamakan pada saat ada seseorang yang menyangka atau berfikir yang buruk kepada orang lain, hal ini dapat merusak persaudaraan dan tali silaturahmi, karena dapat menimbulkan yang namanya fitnah, dan fitnah tersebut dapat merugikan orang lain sehingga hal ini sangat ditentang dalam Islam.
Sebagai umat islam kita harus memiliki sifat husnudzon atau berbaik sangka kepada orang lain, hal ini dapat menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama makhluk Allah (manusia). Kita pun diwajibkan untuk saling bersaudara mengapa? karena bersaudara akan menambah sikap saling tolong menolong kita, sesama manusia kita tentunya saling membutuhkan, bersaudara merupakan jalan untuk mengurangi permusuhan, bersaudara itu bisa bermacam-macam bentuknya, 
 
dan berikut ini adalah hal-hal yang perlu dijaga untuk mencapai persaudaraan :
 
1) Jangan berburuk sangka (su'udzon), menyangka-nyangka tanpa bukti dan hanya kira-kira saja tanpa diselidiki, sebab dengan berprasangka buruk dapat mengakibatkan permusuhan dan keretakan persaudaraan,
 
2) Suka mendengar-dengar rahasia kawan atau orang lain, jauhilah rasa untuk ingin mengetahui rahasia orang lain yang tidak baik, hal ini pun dapat menimbulkan fitnah.
 
3) Suka mengintai-intai atau mencari-cari dan membicarakan aib orang lain, dicari-cari kesalahannya agar memperoleh celaka, sebab tak suka orang lain senang.
 
4) Suka menambah-nambah harga dalam jual-beli untuk menipu, atau menawar lebih tinggi dari orang lain sedang ia sendiri tak jadi beli.
 
5) Saling mendengki, iri hati, tak suka orang lain memperoleh kenikmatan, atau nikmat orang lain agar hilang sekali, biar pun ia sedang tak mendapat nikmat yang besar.
 
6) Bermarah-marah, hanya karena sebab kecil yang tak disukai, yang kalau tidak dapat dilerai timbullah permusuhan.
 
7) saling bermusuhan, tak mau menegur karena adanya suatu kesalahan yang sepele saja.
Tujuh macam hal inilah yang perlu kita jaga agar tidak menghingap pada diri kita, atau dalam kata lain kita harus menjauhi sikap-sikap seperti diatas agar terwujudnya persaudaraan yang kental dan indah. Menjauhi sikap Su'udzon sesungguhnya sangat penting bagi kita.
Kali ini sekian dari saya, semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi saudaraku sekalian.
Wassalamualaikum wr.wb.

Jangan Melupakan Budi Baik Orang Lain

Haruskah Membalas Budi?
 
Pendahuluan
 
Abdullâh bin ‘Abbâs radhiyallâhu'anhu bercerita,

“Suatu ketika, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam masuk ke kamar kecil (untuk membuang hajat). Maka aku menyediakan air bersih untuk Beliau pakai berwudhu. Ketika Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam selesai dari hajatnya, Beliau bertanya, “Siapakah yang telah meletakkan (air wudhu) ini?” Kemudian Beliau diberitahu, bahwa akulah yang telah melakukannya. Maka Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam (membalas kebaikanku dengan) berdoa: “Ya Allâh… berikanlah dia (Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu'anhu) pemahaman dalam agama”.[1]


Dalam kisah yang lain, suatu saat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengunjungi sebagian Sahabat dan menyantap hidangan makanan yang disajikan kepadanya di rumah mereka. Ketika Beliau telah selesai dan hendak berpamitan, bergegas tuan rumah berkata, “Rasûlullâh, tolong doakanlah bagi kami kebaikan...”. Maka Rasûlullâh membaca, “Ya Allâh… berkahilah bagi mereka semua rizki yang telah Engkau limpahkan kepada mereka. Ampuni dan sayangilah mereka”.[2]

Melalui dua kisah di atas, dapat dipetik sebuah pelajaran berharga, bahwa di antara tuntunan mulia Islam dalam bermu'amalah dengan sesama adalah berbudi luhur dan tidak lupa membalas budi baik orang lain dengan kebaikan pula.

Silahkan simak pembahasan tersebut dalam tulisan yang sederhana ini. Semoga bermanfaat.

Mari Berbudi Luhur

Allâh Ta'ala telah menjadikan Islam sebagai risalah yang sempurna dalam setiap tuntunannya. Syariat Islam mudah dan semua ajarannya indah. Islam mengajak setiap pemeluknya untuk berakhlak mulia terhadap sesama. Berbudi pekerti yang luhur adalah cerminan seorang Muslim di setiap ucapan dan sikap perbuatannya. Demikian itu, agar segenap hamba Allâh Ta'ala yang beriman dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat dengan baik dan penuh kedamaian.

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

Yang paling dicintai Rasulullah



 
Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian, dan yang paling dekat majelisnya denganku di hari Kiamat adalah yang paling mulia akhlaknya di antara kalian.[3]

Dalam kesempatan lain, Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Aku menjamin sebuah rumah di bagian tepi surga bagi seorang
yang meninggalkan debat kusir sekalipun dirinya adalah pihak yang benar.
Aku menjamin sebuah rumah di bagian tengah surga bagi
yang meninggalkan dusta sekalipun dia tengah bercanda.
Dan aku menjamin sebuah rumah di bagian paling atas surga
bagi seorang yang mulia akhlaknya."
[4]

Membalas Kebaikan adalah Kewajiban

Allâh Ta'ala berfirman:

Qs. al-Baqarah/2-237

…dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian …
(Qs. al-Baqarah/ 2:237)

Mengenai penafsiran ayat di atas, adh-Dhahhâk rahimahullâh berkata, “Keutamaan yang dimaksud adalah budi baik”. Sa`id rahimahullâh berkata, “Jangan kalian melupakan kebaikan”. Demikian pula, Qatâdah, Abu Wâ’il, as-Suddi dan lainnya menjelaskan bahwa pengertiannya adalah janganlah kalian meremehkan (melupakan) kebaikan di antara kalian…[5]

Setiap manusia adalah makhluk sosial. Dia tidak bisa lepas dari berinteraksi dengan sesama. Tidak jarang, dia harus membutuhkan orang lain dan demikian pula sebaliknya. Atas dasar ini, kaum Muslimin diperintahkan untuk saling menghormati, saling memahami kondisi dan perasaan dan saling mengasihi terhadap yang memerlukan.

Rambu-rambu dalam pergaulan telah dipaparkan oleh Rasûlullâh dalam hadits berikut:

mendambakan untuk dijauhkan dari api neraka








Barang siapa mendambakan untuk
dijauhkan dari (adzab) api neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
hendaklah (ketika) kematiannya datang menjemput,
ia (dalam keadaan) beriman kepada Allâh dan hari Akhir.
Dan hendaklah memperlakukan manusia dengan cara
yang ia sukai untuk diperlakukan dengannya.
[6]


Subhânallâh… Ini adalah bagian dari tuntunan indah agama Islam dalam bermu'amalah dengan manusia.
Secara garis besar, Islam mengajarkan kita untuk dapat berlaku baik terhadap manusia. Allâh Ta'ala mencintai bahkan memerintahkan kebaikan dalam setiap perkara. Allâh Ta'ala berfirman:

Qs an-Nahl/14-90

Sesungguhnya Allâh memerintahkan perbuatan adil dan kebaikan
(Qs an-Nahl/14:90)

Maka janganlah seseorang di antara kita mudah melupakan budi baik orang lain. Sungguh, seseorang yang melupakan budi baik orang lain adalah seseorang yang tidak pandai berterima kasih. Padahal berterima kasih kepada manusia atas kebaikan mereka adalah bagian dari makna bersyukur kepada Allâh Ta'ala. Sebagaimana yang disabdakan Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :

bersyukur

Tidaklah seseorang bersyukur kepada Allâh 
seseorang yang
tidak berterima kasih kepada manusia (atas kebaikan mereka, pen)
[7]

Dalam lafazh yang lain,

bersyukur

Barang siapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allâh [8]

Ibnu al-Atsîr rahimahullâh berkata,

"Maknanya adalah:
  1. Allâh Ta'ala tidak menerima syukur seorang hamba kepada-Nya atas nikmat yang telah dilimpahkan, tatkala dia tidak pandai berterima kasih atas kebaikan manusia kepadanya. Yang demikian karena (kuatnya) hubungan kedua hal tersebut satu dengan yang lain.
  2. Makna lain dari hadits di atas adalah barangsiapa memiliki kebiasaan tabiat mengingkari budi baik manusia dan tidak bersyukur (berterima kasih) atas kebaikan mereka, maka niscaya dia memiliki tabiat kebiasaan mengkufuri nikmat Allâh Ta'ala dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
  3. Ada pula makna lain yang terkandung dalam hadits di atas, bahwa barang siapa tidak mensyukuri (kebaikan) manusia, maka dia layaknya orang yang tidak mensyukuri Allâh Ta'ala. Semua makna ini terpetik melalui penyebutan nama Allâh Ta'ala Yang mulia (dalam hadits di atas. pen)”.[9]
Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan yang mulia telah mencontohkan bagaimana menyikapi orang yang telah menyodorkan satu kebaikan kepada beliau. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu'anha pernah berkata “Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam pernah menerima hadiah. Dan Beliau membalas hadiah itu dengan kebaikan”. [10]



[1]HR. al-Bukhâri no.134 dan Muslim no. 6318
[2]HR. Muslim no.5296
[3]HR. al-Bukhâri no.3759
[4]Shahîh Sunan Abu Dâwud no. 4800 dengan sanad hasan
[5]Lihat Tafsir at-Thabari atsar no. 5379 dan 5380, Tafsir Ibnu Katsîr 1/648-649
[6]HR. Muslim no. 4753
[7]Shahîh Sunan Abi Dâwud no. 4811
[8]Shahîh Sunan at-Tirmidzi no. 1954
[9]An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîts hlm . 488
[10]HR. al-Bukhâri no: 2585

Hanya Allah Yang Tahu Kita Beriman Atau Tidak

Pendidikan Akhlak Dalam Surat Al Hujuraat

Surat Al Hujuraat yang terdiri dari 18 ayat ternyata banyak berisi pendidikan akhlak. Baik Akhlak terhadap Allah dan RasulNya, juga terhadap sesama muslim atau manusia.

Pertama hendaknya kita mengutamakan petunjuk yang diberikan Allah dan Rasulnya. Bukan pendapat kita sendiri:


[49.1] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Untuk itu selain Al Qur’an, hendaknya kita juga membaca kitab Hadits seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud, dsb. Begitu pula kitab-kitab seperti Al Umm susunan Imam Syafi’ie yang syarat dengan hadits dengan pemahaman ulama Salaf yang asli serta kitab Al Muwaththo.

Dalam bersuara juga kita tidak boleh berteriak-teriak:

[49.2] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.

[49.3] Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

[49.4] Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.

[49.5] Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kalau bertemu teman, jangan berteriak-teriak dari jauh seperti preman/orang gila. Coba dekati dan ngobrol dengan suara lembut.

Dalam menerima berita juga kita harus hati-hati meski dari orang yang kita percaya. Tabayyun/periksa langsung kebenaran beritanya pada orang yang dituduh:

[49.6] Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Asbabun Nuzul ayat di atas adalah saat Walid bin Uqbah diutus Nabi untuk mengambil zakat dari kaum Harits namun tidak berangkat karena khawatir dibunuh oleh Harits. Akhirnya dia membuat laporan palsu bahwa Harits dan kaumnya ingin membunuhnya.

Untungnya Nabi tidak mempercayai berita itu begitu saja. Dikirim utusan yang lain dan ternyata Harits tidak ingin membunuh Walid. Bahkan menunggu Walid agar bisa membayar zakat [HR Ahmad, Thabrani, dsb]. Jika orang tidak cek dan ricek berita tersebut, tentu akan timbul perang bukan?

Hendaknya kita senantiasa mentaati Rasulullah. Bukan hawa nafsu atau keinginan kita sendiri. Sekarang yang kita taati hendaknya Al Qur’an dan Hadits:

[49.7] Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

[49.8] sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Jika ada 2 golongan Mukmin berperang/bertikai, hendaknya kita damaikan. Bukan justru kita adu-domba:

[49.9] Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

[49.10] Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Hendaknya kita tidak menghina kelompok lain dengan sebutan yang kita sendiri tidak suka. Boleh jadi mereka lebih baik daripada kita. Jadi jika kita tidak suka disebut Musyrik, Ahli Bid’ah, Sesat, Kafir, dan sebagainya, hendaknya kita tidak menyebut kelompok lain begitu. Yang berwenang melakukan itu adalah Ijma’/Kesepakatan ulama dari mayoritas ummat Islam di Indonesia. Jama’ah/kelompok besar yang insya Allah tidak akan sepakat dalam kesesatan. Bukan Firqoh apalagi aliran sesat macam khawarij yang gemar mengkafirkan sesama Muslim:

[49.11] Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Kita juga tidak boleh berprasangka buruk atau su’u zhon karena sebagiannya dosa. Jangan pula mencari-cari kesalahan/aib orang lain (Tajassus). Kita harus paham yang maksum/suci dari dosa itu Nabi. Ada pun manusia biasa itu tempat salah dan alpa termasuk kita. Jadi kalau dicari-cari, niscaya ketemu aib/salahnya. Dan ini dosa. Jangan pula melakukan ghibah/menggunjing aib/keburukan orang lain karena dosanya seperti memakan bangkai. Kecuali jika keburukan itu dilakukan terbuka di tempat umum/menzalimi seseorang. Itu pun dilakukan pada tempatnya yaitu melapor kepada yang berwenang:

[49.12] Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Di ayat berikut, Allah mengajarkan kita bahwa semua manusia itu diciptakan dari seorang laki-laki (Nabi Adam) dan seorang perempuan (Siti Hawa). Jadi sebetulnya semua manusia itu bersaudara. Perjalanan waktu di mana manusia berkembang-biak sehingga ada yang putih, kuning, coklat, hitam, dan sebagainya sebetulnya semua bersaudara karena nenek moyangnya sama. Oleh karena itu sifat Rasis seperti membenci Cina, Kulit Hitam, dan sebagainya sebetulnya tidak sejalan dengan Islam:

[49.13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kita juga tidak bisa mengklaim sebagai beriman/Mukmin. Cukup mengaku sebagai Muslim. Karena hanya Allah yang tahu apakah kita beriman atau tidak. Bisa jadi banyak amalan kita masih kita lakukan karena riya atau terpaksa:

[49.14] Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Orang-orang yang beriman kepada Allah, selain beriman kepada Allah dan RasulNya juga tidak ragu-ragu berjihad dengan harta dan nyawanya di jalan Allah:

[49.15] Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

[49.16] Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Di saat perang, mereka tidak ragu berperang dengan resiko terbunuh dengan harta dan jiwa mereka. Di saat damai, mereka tidak ragu menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti membantu dakwah syiar Islam, membantu fakir miskin, dan sebagainya. Bukan sekedar zakat yang memang sudah merupakan kewajiban setiap Muslim.

Ada kaum yang saat masuk Islam merasa seolah-olah berjasa dan memberi hadiah pada Nabi. Padahal justru merekalah yang mendapat nikmat Islam sehingga terlepas dari siksa neraka:

[49.17] Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

Di zaman ini, maka setiap perbuatan baik kita entah itu berupa zakat, sedekah, dan sebagainya, pada dasarnya itu bukan untuk para ulama atau pun aktivis dakwah. Tapi untuk mereka sendiri sehingga amal tersebut bisa menghindarkan mereka dari siksa neraka dan memasukkan mereka ke dalam surga jika mereka ikhlas hatinya.

Allah mengetahui semua perkataan dan perbuatan kita. Baik pikiran/niat kita, atau pun yang kita ucapkan atau lakukan. Jadi hendaknya kita hati-hati dalam berkata dan berbuat. Setiap kebohongan kita, setiap keburukan yang kita lakukan, itu semua diketahui Allah dan dicatat oleh para Malaikat:

[49.18] Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Jadi hindari dusta, mencuri, korupsi, merampok, membunuh, berzina dan segala dosa/maksiat lainnya sebab semua itu dilihat, didengar, dan diketahui Allah SWT.

Kita Wajib Bersyukur Kepada Allah


Ittiba Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Sebagai Perwujudan Syahadatain


Kita bersyukur kepada Allâh Ta'âla atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita. Nikmat yang Allâh Ta'âla karuniakan kepada kita sangat banyak dan tidak dapat kita hitung.


Allâh Ta'âla berfirman:

(QS Ibrahim/14 : 34)
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh,
tidaklah dapat kamu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim 
dan sangat mengingkari (nikmat Allâh)
(QS Ibrahim/14 : 34)


Menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, nikmat terbagi menjadi dua. Pertama, nikmat mutlaqah (mutlak). Yaitu nikmat Islam, iman, hidup berlandaskan sunnah, terhindar dari marabahaya. Hal ini dilimpahkan oleh Allâh Ta'âla hanya kepada orang-orang mukmin yang mencintaiNya. Kedua, nikmat muqayyadah (terbatas). Yaitu nikmat sehat, rizki, keturunan, makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Nikmat ini diberikan oleh Allâh, tidak hanya bagi kaum Mukminin, namun juga kepada orang-orang kafir dan munafiqin, sebagai bukti bahwa Allâh adalah Maha Pemurah kepada setiap hambaNya, baik yang taat maupun yang ingkar.

Kita wajib bersyukur kepada Allâh Ta'âla atas nikmat yang telah diberikan kepada kita, berupa nikmat Islam dan nikmat berada di atas Sunnah Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam yang mulia, serta nikmat ‘afiat dan keselamatan.

Setiap orang yang meyakini Islam sebagai agamanya, pada hakikatnya telah menyatakan persaksian dan pengakuannya dengan dua kalimat syahadat:

asyhaduan laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
Aku bersaksi bahwa tiada ilah
yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh,
dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh

Demikian juga halnya dengan orang yang hendak masuk Islam, maka dia wajib mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

yang berarti “aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh”, mengandung makna laa ma’buda bi haqqin ilallah (tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allâh Ta'âla).[1]

Adapun makna adalah, tidak ada yang diikuti dengan benar kecuali hanya Muhammad Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Oleh karena itu, mengikuti selain Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam tanpa dalil, berarti telah mengikuti kebatilan.
Allâh Ta'âla berfirman :

(QS al A’raaf/7 : 3)
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya,
amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)

(QS al A’râf/7 : 3)[2]

(QS an Nisaa’/4: 65)
Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kamu
sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.
Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

(QS an Nisâ’/4: 65)

(QS al Ahzaab/33 : 36)
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila
Allâh dan RasulNya Telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allâh dan RasulNya, maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata.

(QS al Ahzâb : 36)

Syahadat Muhammad Rasûlullâh mengandung konsekuensi sebagai berikut :
a.
, yaitu mentaati yang diperintahkan oleh beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Dalilnya antara lain :
(QS an Nisaa’/4:13)
Barangsiapa taat kepada Allâh dan RasulNya,
niscaya Allâh memasukkannya ke dalam surga
yang mengalir di dalamnya sungai-sungai,
sedang mereka kekal di dalamnya;
dan itulah kemenangan yang besar.

(QS an Nisâ’:13)

b. yaitu membenarkan yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam sampaikan.
Dalilnya antara lain :
(QS al Hadiid/57 : 28)
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul),
bertaqwalah kepada Allâh dan berimanlah kepada RasulNya...

(QS al Hadîd : 28)
c.
, yaitu yaitu menjauhkan diri dari yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam larang.
Dalilnya antara lain :
(QS al Hasyr/59 : 7)
…Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dan bertakwalah kepada Allâh.
Sesungguhnya Allâh amat keras hukumannya.

(QS al Hasyr/59 : 7)
d.
, yaitu tidak beribadah kepada Allâh Ta'âla melainkan sesuai dengan cara yang telah disyariatkan. Dengan kata lain, kita wajib beribadah kepada Allâh Ta'âla menurut petunjuk yang beliau shallallâhu 'alaihi wasallam syari’atkan.
Dalilnya antara lain :
(QS Ali Imran/3 : 31)
Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku,
niscaya Allâh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.
Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS Ali Imran : 31).[3]
Sesungguhnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam diutus kepada jin dan manusia, dan kita diperintahkan untuk beriman kepada Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dan ittiba’ kepada beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Diutusnya Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam merupakan nikmat yang besar bagi kaum Mukminin, sebagaimana Allâh Ta'âla berfirman :
(QS Ali ‘Imran/3 : 164)
Sungguh, Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman
ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan al Hikmah.
Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu,
mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(QS Ali ‘Imran/3 : 164)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh (wafat th. 728 H) berkata:

”Kebahagiaan itu disebabkan karena mengikuti petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Sedangkan kesesatan dan celaka disebabkan menyalahi petunjuk Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Sesungguhnya, setiap kebaikan di alam semesta ini, baik yang sifatnya umum atau khusus, sumbernya dari diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Begitu juga semua kejelekan di alam semesta yang menimpa manusia, disebabkan penyimpangannya terhadap petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dan tidak mengetahui apa yang dibawa beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.
Bahwasanya kebahagiaan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat disebabkan ittiba’ (mengikuti petunjuk Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam). Risalah kenabian dibutuhkan oleh seluruh makhluk. Kebutuhan mereka kepada diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam di atas seluruh kebutuhan. Diutusnya Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam merupakan ruh bagi alam semesta, cahaya dan kehidupan.” [4]

Beliau rahimahullâh juga berkata:

”Ar Risalah (diutusnya Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam) merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk memperbaiki kehidupan seorang hamba dalam hidupnya ini di dunia dan juga kelak di akhirat. Sebagaimana seorang hamba, dia tidak akan baik untuk kehidupan akhiratnya melainkan dengan mengikuti risalah, yaitu risalah Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam. Sebagaimana juga seorang hamba, dia tidak akan baik dalam kehidupan dunianya, melainkan dengan ittiba’ risalah. Sesungguhnya manusia sangat membutuhkan agama ini, karena dia hidup di antara dua gerak; (yaitu) gerak yang mendatangkan manfaat baginya dan gerak yang dapat menolak bahaya baginya.

Adapun syar’iat itu, adalah cahaya yang dapat menjelaskan apa-apa yang bermanfaat baginya dan apa-apa yang berbahaya. Syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam untuk menjelaskan apa-apa yang bermanfaat bagi manusia, dan menjelaskan pula tentang apa yang berbahaya. Dan syari’at ini adalah cahaya Allâh Ta'âla di muka bumi ini, merupakan keadilan Allâh Ta'âla di antara hamba-hambanya, dan benteng Allâh Ta'âla yang sangat kokoh. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya, maka dia akan aman.

Yang dimaksud dengan syari’at ini, bukan hanya sekedar membedakan yang bahaya dan manfaat dengan perasaan. Sebab kalau hanya dengan perasaan, maka hewan pun bisa membedakannya, keledai dan unta pun bisa membedakannya. Bahkan unta dapat membedakan debu dengan tepung. Tetapi yang dimaksud disini, ialah membedakan antara manfaat iman, tauhid, keadilan, kebaikan, jujur, amanah, sabar, amar ma’ruf nahi munkar, silaturahmi, berbuat baik kepada kedua orang tua dan tetangga, memenuhi hak, mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh, tawakal kepadaNya, ridha dengan qadha dan qadharNya, tunduk kepada hakNya, taat kepada perintahNya, loyal kepada wali-wali Allâh Ta'âla dan memusuhi musuh-musuhNya, dan seterusnya.”[5]

Apa yang kalian sembah? Dan bagaimana kalian menjawab seruan atau mengikuti para rasul? Imam Ibnul Qayyim, dalam muqadimmah kitabnya, Zâdul Ma’ad fi Hadyi Khairil ’Ibad,[6] beliau menjelaskan tentang makna dua kalimat syahadat :

yang berarti aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh Ta'âla. Dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menegakkan bumi dan langit, Allâh Ta'âla menciptakan seluruh makhluk dan mengutus seluruh rasul. Dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menurunkan kitab-kitabNya, Allâh Ta'âla menetapkan syariat-syariatNya.

Dan dengan kalimat ini, Allâh Ta'âla menegakkan timbanganNya dan meletakkan semua catatan amal. Dan dengannya manusia digiring ke surga atau ke neraka. Dengan kalimat ini, manusia terbagi menjadi dua. Yaitu mukminin (orang-orang yang beriman) dan kufar (orang-orang yang kafir), orang-orang yang baik dan yang jahat.
Kalimat ini merupakan sumber dari ciptân dan perintah, ganjaran dan siksa. Kalimat ini merupakan kalimat yang hak, yang dengannya Allâh Ta'âla menciptakan seluruh makhluk. Dan tentang kalimat inilah (dan kewajibannya terhadap kalimat inilah), manusia akan dihisab. Dengan kalimat ini, kiblat dan agama ini ditegakkan, dihunusnya pedang dan ditegakkannya jihad fi sabilillah. Dan ia merupakan hak Allâh Ta'âla yang wajib dipenuhi oleh seluruh hambaNya.

Kalimat Lâ ilaha illallâh, merupakan kalimat Islam, dan kunci untuk masuk ke surga. Dengan kalimat ini, seluruh makhluk yang pertama dan terakhir akan ditanya oleh Allâh Ta'âla, serta tidak akan bergeser kedua kaki hambaNya pada Hari Kiamat di hadapan Allâh Ta'âla, sehingga dia ditanya oleh Allâh Ta'âla tentang dua masalah :

Pertama, (apa yang kalian sembah?). Kedua, (bagaimana kalian memenuhi panggilan para utusanKu (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam))?

Jawaban yang pertama, yaitu dengan mengimani kalimat Lâ ilaha illallâh, dengan mengucapkannya, memahami maknanya dan mengamalkannya. Jawaban yang kedua, yaitu dengan mengimani bahwa Muhammad adalah Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, dengan mengucapkannya dan meyakininya, dengan mentaati dan tunduk kepada beliau shallallâhu 'alaihi wasallam.

Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam adalah orang yang amanah atas wahyu yang diturunkan Allâh Ta'âla kepadanya. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam adalah seorang yang terbimbing dari seluruh makhluk yang ada. Dan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam sebagai utusan Allâh Ta'âla kepada para hambaNya.

Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam diutus dengan membawa agama yang lurus, dengan manhaj yang lurus, sebagai rahmat bagi sekalian alam, sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagai hujjah (bukti) kebenaran atas seluruh makhlukNya. Allâh Ta'âla mengutus beliau shallallâhu 'alaihi wasallam ketika terjadi masa kekosongan para Rasul. Allâh Ta'âla tunjuki dengannya jalan yang paling lurus, dan jalan yang paling jelas. Allâh Ta'âla wajibkan atas seluruh hambaNya untuk mentaati, menolong, membantu, menghormati, mencintai beliau shallallâhu 'alaihi wasallam dan menegakkan hak-hak atas beliau shallallâhu 'alaihi wasallam. Semua jalan akan ditutup oleh Allâh, kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Tidak ada jalan yang dapat membawa seseorang masuk ke dalam surga, kecuali dengan mengikuti jalan yang ditempuh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam. Allâh Ta'âla menjadikan kerendahan dan kehinân bagi orang-orang yang menyelisihi jalan Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau shallallâhu 'alaihi wasallam:

hadits
hadits
Aku diutus dengan pedang di hadapan Kiamat, sehingga Allâh disembah semata,
tidak ada sekutu bagiNya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku,
dijadikan kehinân dan kerendahan bagi orang-orang yang menyalahi perintahku.
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.

(HR Imam Ahmad dalam Musnadnya, II/50, 92; sanadnya hasan,
dari sahabat Ibnu Umar radhiyallâhu'anhu.
Dihasankan oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalany dalam Fathul Bari, VI/98)

Di dalam muqadimah kitab tersebut (Zadul Ma’ad), Ibnul Qayyim rahimahullâh menjelaskan secara tuntas tentang makna dua kalimat syahadat. Beliau menegaskan, setiap makhluk akan ditanya oleh Allâh Ta'âla tentang dua masalah besar dan penting. Yaitu, apa yang kalian sembah, dan bagaimana kalian memenuhi panggilan para utusanKu (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam)?
Disebutkan dalam firman Allâh Ta'âla:

(QS al A’raaf/7 : 6)
Maka sesungguhnya, Kami akan menanyai ummat-ummat
yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka,
dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)

(QS al A’râf : 6)

Firman Allâh Ta'âla:

(QS al Qashash/28 : 65)
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allâh menyeru mereka, seraya berkata:
“Bagaimana jawabanmu terhadap seruan para Rasul?”

(QS al Qashash : 65)

Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Allâh Ta'âla? Apakah kita mentauhidkan Allâh Ta'âla dalam beribadah? Apakah kita mengikhlaskan setiap amal ibadah karenaNya? Hal ini merupakan perkara besar yang akan ditanyakan oleh Allâh kepada seluruh hambaNya. Adapun pertanyân yang kedua, apakah kita ittiba‘ (mengikuti/meneladani) Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam ataukah tidak? Hal inipun merupakan pertanyaan besar yang akan ditanyakan Allâh Ta'âla kepada seluruh hambaNya pada Hari Kiamat. Oleh karenanya, wajib bagi kita untuk ittiba‘ kepada Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam.  

Billahi taufiq.

[1]Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullâhdalam kitab al Ushul ats Tsalatsah tentang makna Muhammadur Rasulullah.
[2]Al Qaulul Mufiid fi Adillati Tauhid, hlm. 35, oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin ‘Ali al Yamani al Wash-shaabi al ‘Abdali, Cet. VII, Maktabatul Irsyaad- Shan’a, Th. 1422 H.
[3]Syarah Ushul ats Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, al Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid.
[4]Majmu’ Fatâwa (XIX/93).
[5]Majmu’ Fatâwa (XIX/99).
[6]
Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibaad, Ibnul Qayyim, Tahqiq Syu’aib dan Abdul Qadir al Arna-uth (I/34), Cet. Muassassah ar Risalah, Th. 1415 H.

Label

'idul adha adab dan sunnah adik saudara sepersusuan adzan air kencing bayi air kencing Rasulullah Akhirat akhlak Akhlaq Kepribadian Akhwat akidah Al Qur'an Al Qur#039;an Al Quran Al-Qur'an Alam Aliran-aliran Amalan AMALIYAH NU anak Analisa Angin Aqidah Aqiqah Artikel Artikel IImiah Asmara Astronomi ASWAJA Azab Bab Adab Bab Nikah Bab Puasa Bab Sholat Bab Thaharah Bab Zakat bantahan belajar islam Berita bersin Bid'ah bid'ah dalam aqidah bid'ah dalam ibadah Biografi Biologi Bisnis Blackberry Budaya Budi Daya buka puasa buku Cantik Fisik catatanku Cerpen Chairil Anwar Curahan Hati Curhat daging qurban Dakwah Dakwah Pemikiran Islam dakwah umum Dambaan insan Dari Salafushshalih Dasar Islam Dasar Keislaman demam Desain Dhaif Do'a do'a buka puasa Do'a dan Dzikir Doa doa bersama doa sholat tarawih download dunia islam Dunia Islam Kontemporer Dzikir dzikir dengan tangan kiri Ekonomi Eksoplanet Emansipasi Emha Ainun Nadjib Fakta Ilmiah Fakta Jin-Iblis-Syetan Fakta Manusia faraidh Fenomena Asteroid Fenomena Bencana Alam Fenomena Bintang Fenomena Bulan Fenomena Bumi Fenomena Hewan Fenomena Kutub Fenomena Langit Fenomena Matahari Fenomena Meteorit Fenomena Petir Fenomena Planet Fenomena Ruang Angkasa Fenomena Tumbuhan Fiqh Fiqh Muamalat Fiqh Wanita Fiqih Fisika Galaksi Geografi Geologi gerhana gigi palsu Hadis Hadis 40 hadist Hadits Hadits Palsu HAID Halal Haram HAM HARI RAYA ID HUKUM ISLAM hukum natal bersama hutang i'tikaf Ibadah ibadah yang baik ibu mertua ilmu ilmuan muslim Ilmuwan imam terlalu cepat bacaannya IMAN Inovasi intermezzo Internet Iptek iqomah isbal Islam jabat tangan setelah sholat JADWAL RAMADHAN Jagad Raya Jalaluddin Rumi jamaah sholat jumat jenazah Jual Beli judi junub Kabar Dalam Negeri kabar manca negara Kahlil Gibran Kajian Karya Buku Karya Ulama KB Keajaiban Alam Keajaiban Hewan KECANTIKAN Kecelakaan Maut Kehutanan Kelautan keluarga Kepemerintahan Kepengurusan Kerajaan Kesehatan Keuangan Keutamaan KHITAN Khitan Wanita khurofat Khutbah Khutbah Jum'at khutbah jumat Khutbah Rasulullah saw Kiamat Kidung Hati Kimia Kisah Kisah Kami Kisah Nyata Kisah Orang-Orang Shaleh Kisah Teladan Komputer Konversi Energi Kosmologi Kumpulan Do'a Kumpulan Kata lafadz adzan lafadz iqomah Lain-Lain Lalu Lintas lembaga sosial Lingkungan Hidup Lubang Hitam macam puasa sunnah mahram Makanan mandi jum'at mandi wajib Manhaj Manusia Manusia dan Teknologi masjid masjid quba Masuk Perguruan Tinggi Matahari Materi gelap Mayit media cetak memandikan jenazah membayar zakat memotong kuku memotong rambut mendahului gerakan imam menemani sholat jamaah menembok kuburan mengadzankan mayit di liang kubur mengangkat tangan menghadiahkan pahala mengqadha puasa menguburkan jenazah mengucapkan selamat natal mengusap kepala Mengusap muka setelah berdoa menikah di bulan syawwal menikah setelah berzina meninggal dunia Meninggalkan sholat jum'at menjawab adzan menjual kotoran hewan menyapu kepala menyentuh wanita Meteorologi Meteorologi-Klimatologi mihrab Mineralogi minum air zamzam Motivasi motivasi belajar Motivasi Beramal MQ (menejemen qolbu) mu'athilah Muallaf muamalah Muhasabah Mungkar murottal Muslimah Muslimah Articles Musyabbihah Mutiara Hikmah Mutiara Kalimat Mutiara Tafakur Nabi Muhammad Nagham Alqur'an Nasehat Neraka News niat sholat nikah nisfu aya'ban Oase Iman Olah Raga OLAHRAGA Otak PAKAIAN panas PAUD Pendidikan Penelitian penelitian sunnah Pengembangan Diri Pengobatan Akibat Sihir Peninggalan Sejarah Penjajahan Pentingnya Waktu Peradaban Islam Perbandingan Agama dan Aliran Perbankan Pergaulan Perkawinan Perkembangan Da'wah Islam Permata Hati pernikahan Personaliti Pesawat Ruang Angkasa Pesepakbola Muslim Pojok Ramadhan posisi imam wanita produksi awal program kerja Proyek Luar Angkasa Psikologi Puasa puasa daud puasa rajab Puasa Setiap Hari puasa sunnah puasa wanita hamil Puisi Puisi bahasa Ingris qunut nazilah QURAN radar lampung Radio Rajab Ramadhan ramalan cuaca Renungan Riba dan Jual Beli salafush shalih salah bacaan sholat Salam Khudam Sastra sedekah Sejarah Sejarah Islam SEKS Sentilan Seputar Daerah Buton Shalat shodaqoh shodaqoh melebihi kadar Sholat sholat dan keputihan sholat di rumah sholat ghoib sholat jamaah sholat jamaah estafet sholat jumat sholat jumat wanita sholat pindah tempat sholat qashar sholat sambil melihat mushaf sholat sendirian sholat sunnah sholat sunnah qobliyah isya sholat sunnah sebelum asar sholat sunnah setelah shubuh sholat takhiyatul masjid sholat wanita sifat dzatiyah sifat fi'aliyah Sihir Simpan Pinjam Sirah Siroh Shahabiyyah Software Islami Sosial Kemasyarakatan Sosiologi sujud sahwi sujud syukur sumpah dan nadzar Sunnah sutrah sutroh syafaat Syurga Tafakur Alam Semesta Tafsir Tafsir Al-Qur'an tahlilan Takbirotul ihram takwil mimpi tambal gigi tamsil Tanda Akhir Zaman Tanda-Tanda Kiamat Tanya jawab Tarbiyah Tasawwuf dan Adab tata cara tidur menurut sunnah Tata Surya Taufiq Ismail Tauhid tayammum Tazkirah Tazkiyah tazkiyatun nafs Tech News Teknik Sipil teladan Tenaga Kerja tertawa saat sholat Thoharoh tidak taat suami tinggi TK Tokoh Tokoh Dan Ulama Tokoh Islam Tools TPA Tsunami Tujuan Hidup tuntunan sholat uang pensiun dari riba uang riba ucapan assalamualaika UNCATEGORY Video da'wah video Motivasi Diri Video Muhasabah video murotal W. S. Rendra waktu membaca doa wanita wanita haid Wisata wudhu yasinan zakat zakat anak kepada orang tua zakat barang temuan zakat harta zakat harta warisan zakat hasil perkebunan zakat hasil pertanian zakat mal zakat padi zakat pns zakat tanah zina