Rabu, 03 Oktober 2012

Cara Bertengkar Yang Baik Dalam Islam

Tips Bertengkar Yang Islam

 Keluarga Samara. 
 Bismillah walhamdulillah walaa hawla walaa Quwwata Illaa billah. Shahabat Islam yang berbahagia, kita bersyukur kepada Allah bahwa
hingga hari ini Allah masih mengulur waktu buat kita. Berbicara soal vonis,
sebenarnya setiap kita telah dijatuhi hukuman mati (QS.21:35), hanya
jadwal eksekusi yang berbeda beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi,
dan saya, Anda? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa, harus kita
maksimalkan untuk berbuat baik. Diantara kebaikan itu adalah: membangun
sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami
dengan isteri.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan
berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar
dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau
ia tengah berdusta. Yang jelas saya dengan Ummu Naila sering menikmati
sa’at-sa’at bertengkar, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at
tidak bertengkar 
Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja
dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam
bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran,
setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang
mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa
kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.
Baiklah, hari ini saya ingin paparkan resep keluarga kami dalam
melangsung kan sebuah pertengkaran, alhamdulillah telah saya jalani selama 13
tahun, dan berhasil membangun keadaan yang senantiasa lebih asyik daripada
sebelum terjadi pertengkaran.
Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa
menghapusnya 
Ketika saya dan si pencuri [hati saya] eh enggak koq dia tidak curi
hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus–awal
bertemu, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan
dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap, kami mulai
membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya
adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa
perbincangan via tulisan plus waktu yang mematangkannya, tibalah kami
pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar
maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah. 
Cukup seorang saja yang
marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai
yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah
cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela,
segera ia berkata “STOP” ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata
dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …”
Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi
jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh
kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka
dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu …..”
Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”,
saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung
adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya
tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya  maka kini
giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus
untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih
baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah 
2. Marahlah untuk persoalan itu saja,  
jangan ungkit yang telah terlipat
masa. Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita
perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di
antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang
pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta
yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (sampai hari ini, biaya
pernikahan saya masih harus terus saya cicil, sayangkan kalau di delete begitu saja…

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu
yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,
awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),
sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi
lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari
lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”,maka saya telah
menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya
telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga
yang susah …. OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak
hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..
3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat masa 13 tahun, tapi saya dengan ibu dan
bapak saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga
ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak
menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal
cinta yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu
banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari
pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah
diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi
mertua !
4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka
harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya
bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana
ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu
datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan
aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada,
emang saya ini kuda ????!!!!
Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda ….. terus
saya ini apa ?”
Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak
datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada
tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi
hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa
‘ibaadil-ahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba
hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah
salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya,
padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi
habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis
shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya …
Atau habis isya sebatas …. ???
Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang
tidak bertengkar … 
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan
(Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi
sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar
hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih
setia dengan kita walau telah kita maki-maki.
Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita
menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia
pintar.

Jadikanlah Rumah Sebagai Tempat Dzikrullah

Rumahku Surgaku

Pembaca yang semoga dirahmati Allah , kita semua tentu mengharapkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, kita harus mulai membangun jalan kebahagiaan itu dari lingkup diri pribadi dan rumah tangga kita. Pada edisi kali ini, kami akan mulai mengetengahkan tema seputar rumah tangga Islami. InsyaAllah pembahasan akan kami sampaikan dalam beberapa edisi, bergantian dengan meteri aqidah, manhaj, fiqh, dst, yang biasa kami angkat.

Pembaca yang budiman, dalam upaya meniti kebahagiaan keluarga kita, ada beberapa hal yang harus kita sadari dan mengupayakan terwujudnya hal tersebut dalam rumah kita, antara lain;


Kita Harus Menyadari bahwa Rumah Adalah Nikmat.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” (QS. An-Nahl : 80).

Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Allah Ta’ala menyebutkan kesempurnaan nikmatNya atas hambaNya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat.” (Tafsir Ibnu Katsir, cet. Daarusy Sya’bi, 4/509)

Banyak sekali kegunaan rumah bagi seseorang. Ia adalah tempat makan, tidur, istirahat, dan berkumpul dengan keluarga, isteri dan anak-anak, juga tempat melakukan kegiatan yang paling pribadi dari masing-masing anggota keluarga. Allah  berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab : 33)

Jika kita renungkan keadaan orang-orang yang tidak memiliki rumah, yakni orang-orang yang hidup di pengasingan, di emper-emper jalan serta para pengungsi yang terusir di perkemahan-perkemahan sementara, niscaya kita memahami benar nikmatnya ada di rumah.

Tentu kita akan terenyuh dan haru mendengar orang misalnya dia mengatakan, “Saya tidak punya tempat tinggal tetap, terkadang saya tidur di rumah si Fulan, terkadang di kedai kopi, kebun atau di pantai, lemari bajuku ada di dalam mobil”. Dengan demikian kitapun akan memahami makna keberserakan karena tidak memiliki tempat tinggal atau rumah.

Ketika Allah  menyiksa orang-orang Yahudi Bani Nadhir, Allah  mengambil  dari mereka nikmat rumah ini, Allah mengusir mereka dari kampung halaman mereka. Allah  berfirman, “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung pada saat pengusiran pertama kali.” (QS. Al-Hasyr: 2).

Kemudian firman-Nya, “Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr : 2)

Yang Mendorong Seorang Muslim Untuk Memperhatikan ISHLAH (Perbaikan) Rumahnya
1. Hendaknya kita semua berupaya untuk menjaga diri dan keluarga dari Api Neraka Jahannam dan selamat dari siksa yang menyala-nyala. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim : 6)

2. Besarnya tanggung jawab yang dibebankan terhadap pemimpin rumah di hadapan Allah  pada hari perhitungan. Dari Anas , bahwa Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Isyratun Nisaa’, hadits no 292)

Pembaca yang budiman, rumah adalah tempat menjaga diri dan keselamatan dari berbagai kejahatan dan menolak dari bahaya manusia lain; rumah adalah tempat perlindungan ketika terjadi fitnah. Rasulullah  bersabda, “Beruntunglah orang yang menguasai lisannya dan lapang rumahnya serta menangis atas kesalahannya.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul  Ausath dari Tsauban dan terdapat dalam Shahihul Jami’, no.3824)

Dan Nabi  juga bersabda bersabda, “Lima hal yang barangsiapa mengerjakan salah satu daripadanya maka ia akan mendapat jaminan dari Allah Ta’ala. Yaitu : orang yang menjenguk orang sakit, orang yang pergi berperang, atau orang yang masuk kepada pemimpinnya dengan maksud menegurnya atau mengingatkannya, atau ia duduk di rumahnya sehingga orang-orang selamat dari (ganggguan)nya dan ia selamat dari (gangguan) mereka.” (HR. Ahmad 5/241)

Dari Abu Musa , bahwa Rasulullah  juga menyatakan, “Keselamatan seseorang dalam fitnah yaitu ia senantiasa mendiami rumahnya.” (Shahihul Jami’ no.3543)
Orang muslim akan merasakan faedah ini ketika ia dalam keadaan terasing, saat ia tidak bisa mengubah kemungkaran-kemungkaran yang ada, maka dia memiliki tempat berlindung ketika kembali ke rumahnya. Rumah itu akan menjaga dirinya dari perbuatan dan pandangan yang dilarang, menjaga isterinya dari tabarruj (pamer kecantikan dan hiasan) serta menjaga anak-anaknya dari teman-teman yang jahat.

Aspek Keimanan Di Dalam Rumah.
Dari sebuah rumah yang Islami akan lahir penopang-penopang perbaikan bagi masyarakat, berupa da’i-da’i teladan, penuntut ilmu, mujahid yang sesungguhnya, isteri shalihah, ibu pendidik dari unsur pembangun kebaikan lainnya. Jika sedemikian penting problem tersebut, sementara rumah-rumah kita penuh dengan kemungkaran dan kelalaian, meremehkan dan melampaui batas, maka dari sini timbul tanda tanya besar, “Bagaimana cara membentuk rumah tangga yang Islami?”. 

Maka dalam edisi kali ini, kami sampaikan bahwa aspek keimanan perlu kita tumbuhkan dalam rumah, yang antara lain adalah:

1. Jadikanlah Rumah sebagai Tempat Dzikrullah (Mengingat Allah). Rasulullah  bersabda, “Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah, dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah (laksana) perumpamaan antara yang hidup dengan yang mati.” (HR. Muslim 1/539)
Karena itu rumah harus dijadikan sebagai tempat untuk melakukan berbagai macam dzikir, baik itu dzikir dalam hati maupun dengan lisan, shalat, atau membaca shalawat dan Al-Qur’an, atau mempelajari ilmu-ilmu agama, atau membaca buku-buku lain yang bermanfaat.

Saat ini betapa banyak rumah-rumah umat Islam yang mati karena tidak ada dzikrullah di dalamnya, sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Yang lebih parah lagi manakala yang menjadi dendangan di dalam rumah itu adalah syair-syair dan lagu-lagu, menggunjing, berdusta dan mengadu domba.
Juga kadang kita dapati rumah-rumah itu penuh dengan kemaksiatan dari kemungkaran, seperti ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis yang diharamkan), tabarruj (pamer kecantikan dan perhiasan) di antara kerabat yang bukan mahram atau kepada tetangga yang masuk ke rumah.

Bagaimana mungkin malaikat akan masuk ke dalam rumah dengan keadaan seperti itu? Karena itu hidupkanlah rumahmu dengan dzikrullah! Mudah-mudahan Allah I merahmati kita semua.

2. Jadikan Rumahmu sebagai Kiblat. Maksudnya, menjadikan rumah sebagai tempat beribadah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 87)

Ibnu Abbas  berkata, “Maksud disuruh menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kiblat yaitu mereka diperintahkan menjadikan rumah-rumah itu sebagai tempat beribadah”.  Dan Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Hal ini seakan-akan -Wallahu a’lam- ketika siksaan dan tekanan Fir’aun beserta kaumnya semakin menjadi-jadi atas mereka, maka mereka disuruh untuk memperbanyak shalat sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu”. (QS. Al-Baqarah: 153). Dalam sebuah hadits, “Apabila Rasulullah  menghadapi suatu kesulitan, maka beliau melakukan shalat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/224)

Hal ini menegaskan betapa pentingnya ibadah di dalam rumah-rumah, terutama dalam waktu-waktu lemah dan tertindas, demikian pula dalam beberapa kesempatan manakala umat Islam tidak mampu menampakkan shalat mereka di hadapan orang-orang  kafir. Dalam hal ini kita juga perlu mengenang kembali mihrab Maryam, yakni tempat peribadatan beliau, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab ia dapati makanan di sisinya.” (QS. Ali lmran : 37)
Para sahabat juga amat memperhatikan masalah shalat di dalam rumah mereka selain shalat fardhu. Sebuah kisah di bawah ini menarik sebagai pelajaran bagi kita, “Dari Mahmud bin Ar-Rabi’ Al-Anshari, bahwasanya ‘Itban bin Malik  (salah seorang sahabat Rasulullah  yang ikut serta dalam perang Badar, dari kaum Anshar), ia datang kepada Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah!, pandanganku telah menipu tapi aku tetap shalat bersama kaumku, apabila turun hujan, mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka sehingga aku (tak) bisa datang ke masjid mereka dan shalat bersama-sama, aku sangat ingin wahai Rasulullah, jika engkau datang kepadaku dan shalat di dalam rumahku sehingga aku menjadikannya sebagai mushalla (tempat shalat)”. Ia berkata, “Maka Rasulullah  bersabda kepadanya, “Akan aku lakukan Insya Allah”. ‘Itban  berkata, “Maka berangkatlah Rasulullah  dan Abu Bakar ketika siang (nampak) meninggi, maka Rasulullah  meminta izin, lalu aku mengizinkan kepada beliau, beliau tidak duduk sebelum masuk ke dalam rumah, lalu Nabi  berkata, “Di bagian mana engkau suka aku melakukan shalat dari rumahmu?” . ‘Itban  berkata: “Maka aku tunjukkan kepada beliau suatu arah dari rumahku, maka Rasulullah  berdiri kemudian bertakbir, lalu kami semua berdiri membentuk barisan, dan Nabi  shalat dua rakaat kemudian salam.”

Dalam memetik pelajaran dari hadits di atas, Ibnu Hajar berkata: “Di situ merupakan pelajaran, agar kita menggunakan tempat tertentu untuk melakukan shalat dalam rumah. Adapun larangan untuk menjadikan tempat tertentu dalam masjid adalah hadits Abu Daud, dan itu jika ia lakukan untuk riya’ atau yang sejenisnya. Menjadikan tempat tertentu dalam rumah untuk shalat bukan berarti menjadikan tempat tersebut sebagai wakaf -idak berlaku padanya hukum wakaf- meski secara umum dikategorikan dengan nama masjid.

3. Pendidikan Keimanan untuk Anggota Keluarga. Dari ‘Aisyah -radhiallahu’anha- ia berkata, “Suatu ketika Rasullah , mengerjakan shalat malam, ketika akan witir beliau mengatakan, “Bangunlah, dan dirikanlah shalat witir wahai Aisyah!” Allah  mengasihi laki-laki yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya sehingga shalat, jika tidak mau ia memerciki wajahnya dengan air.” (HR. Muslim 6/23)

Membiasakan dan menganjurkan para isteri dengan sedekah adalah sesuatu yang bisa menambah iman, ia adalah perkara agung yang dianjurkan oleh Rasulullah  dengan sabdanya, “Wahai segenap wanita, bersedekahlah kalian. Sesungguhnya aku melihat bahwa kalian adalah sebanyak-banyak penduduk Neraka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud; Shahihul jami’, hadits no.3488)

Di antara ide yang bagus adalah dengan meletakkan kotak amal di dalam rumah untuk orang-orang miskin, sehingga setiap uang yang masuk di dalamnya menjadi hak bagi orang-orang yang membutuhkannya, karena itulah tempat dana mereka di dalam rumah orang muslim.

Dan jika anggota keluarga melihat seorang panutan yang membiasakan puasa pada ayyaamul biidh (pertengahan setiap bulan Qamariyah, yaitu tanggal 13, 14, 15), hari Senin dan Kamis, hari Asyura, hari Arafah, pada banyak hari di bulan Muharram dan Sya’ban, niscaya akan mendorong anggota keluarga yang lain untuk mengikutinya.

4. Perhatian pada Do’a-do’a yang disyari’atkan dan sunnah-sunnah yang berkaitan dengan rumah
  a Do’a masuk rumah: Rasulullah  bersabda, “Jika seorang laki-laki masuk ke dalam rumahnya kemudian menyebut nama Allah Ta’ala (membaca “bismillah”) ketika dia masuk dan ketika makan, setan berkata: “Kamu tidak punya (jatah)  tempat tidur dan tidak pula (jatah) makan di sini.” Dan jika ia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika ia masuk, maka setan berkata: “Kamu mendapatkan (jatah) tempat tidur”. Dan jika tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: “Kamu mendapat (jatah) tempat tidur dan makan.” (HR. Muslim, 3/1599)

b. Do’a keluar rumah; Dalam Sunan, Abu Daud meriwayatkan bahwasanya Rasulullah b bersabda, “Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya kemudian mengatakan:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلاَّ  بِاللهِ

“Dengan Nama Allah, aku bertawakkal (menggantungkan diri) kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”, niscaya akan dikatakan kepadanya: “Cukuplah bagimu, engkau telah diberi petunjuk, engkau telah dicukupi dan dijaga “, sehingga setan menyingkir daripadanya. Lalu setan lain berkata kepadanya: “Bagaimana kamu dapat (menggoda) laki-laki yang telah ditunjuki, dicukupi dan dijaga?.” (HR. Abu Daud no. 5095)

c. Bersiwak, dalam Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah -radhiyallah’anha- , bahwasanya ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah  jika masuk rumahnya beliau memulai dengan siwak.” (HR. Muslim, kitab Ath-Thaharah, bab 15, no. 44)

5. Rutin Membaca Surat Al-Baqarah di Rumah untuk Mengusir Setan. Hadits-hadits dalam hal ini di antaranya, Rasulullah  bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan! Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim, 1/539)

Rasulullah  juga bersabda, “Bacalah surat Al-Baqarah di rumah-rumah kalian, karena sesungguhnya setan itu tidak masuk ke dalam rumah yang dibaca di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, 1/561).

Tentang keutamaan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah serta pengaruh membacanya bagi rumah, Rasulullah  bersabda,  

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menulis suatu kitab sebelum Ia menciptakan langit dan bumi sekitar 2000 tahun, Ia berada di atas Arsy, dan menurunkan dua ayat penutup (terakhir) dari surat Al-Baqarah. Dan tidaklah setan mendekat rumah yang dibacakan di dalamnya kedua ayat tersebut selama tiga malam.” (HR. Ahmad dalam As-Sunnah 4/274)

Wallahu Ta’ala a’lam

Hikmah Surat al-fath (48) Ayat 13

Penjelasan Firman Allah Surat al-fath (48) Ayat 13

Surat al-Fath berarti surat kemenangan. Surat ini, menurut para ahli tafsir, termasuk surat Madaniyyah, artinya surat yang diturunkan setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Jumlah ayatnya ada 29 ayat.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, bahwa surat ini turun ketika Rasulullah SAW kembali dari Hudaibiyyah yaitu salah satu kampung kurang lebih 25 KM dari Mekkah menuju Madinah, tepat pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H. Rasulullah saw saat itu bersama kurang lebih 1400 sahabat bermaksud melakukan Umrah di Masjidil Haram, namun dihalau oleh orang-orang Musyrik, sehingga tidak jadi melakukannya. Beliau hanya sampai di kampung Hudaibiyyah, kemudian pulang lagi menuju Madinah, setelah sebelumnya mengadakan perjanjian dengan orang-orang Musyrikin Mekkah, yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyyah.

Sebelum menjelaskan lebih jauh seputar maksud ayat-ayat di atas, ada baiknya penulis menyampaikan satu hal pentng. Hal penting dimaksud adalah, jika kita perhatikan surat-surat dalam al-Qur’an, terdapat beberapa surat atau ayat-ayat yang turun setelah terjadinya peperangan atau perjanjian damai. Misalnya, setelah terjadinya perang Badar, Allah menurunkan surat al-Anfal, yang oleh Ibnu Abbas  disebut surat Badar.

Setelah perang Uhud, Allah juga menurunkan puluhan ayat dari surat Ali Imran. Setelah perang Bani Nadhir, Allah juga menurunkan beberapa ayat dari surat al-Hasyr. Setelah perang Ahzab, Allah juga menurunkan beberapa ayat dari surat al-Ahzab. Demikian juga, setelah Perjanjian Hudaibiyyah, Allah menurunkan surat al-Fath ini, yang isinya banyak menceritakan kejadian pada perjanjian dimaksud.

Menurut para ahli tafsir, di antara hikmah semua hal di atas, agar kita semua mengambil pelajaran dari ayat-ayat dan surat-surat dimaksud untuk  kebaikan dan kemaslahatan ummat Islam pada umumnya.

Kini, mari kita kembali kepada surat dan ayat yang ditanyakan. Sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir, juga jumhur mufassirin lainnya, bahwa surat ini diturunkan berkaitan dengan Perjanjian Hudaibiyyah. Meskipun, ada sebagian pendapat ulama yang mengatakan bahwa surat ini turun berkaitan dengan Fathu Mekkah (Pembebasan Kota Mekah).

Lalu apa yang dimaksud dengan Perjanjian Hudaibiyyah? Mari kita sama-sama lihat buku-buku sîrah. Ibnu Hisyam dalam Sîrahnya, misalnya, mengatakan bahwa Rasulullah saw bersama kurang lebih 1400 para sahabat berangkat dari Madinah menuju Mekkah bermaksud menunaikan ibadah umrah di Masjidil Haram. Keinginan ini muncul setelah sebelumnya Rasulullah saw bermimpi bahwasannya beliau dapat masuk ke dalam Masjidil Haram dengan penuh keamanan dan dapat menggunting rambut (tahallul).

Mimpi beliau ini sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam surat al-Fath ayat 28: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”.

Imam Qatadah, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, mengatakan bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan Perjanjian Hudaibiyyah. Dan sebagaimana disampaikan para ulama, bahwa mimpi para nabi dan rasul adalah di antara bentuk juga bagian dari wahyu.

Setelah mimpi tersebut, Rasulullah saw dengan para sahabat berangkat menuju Mekkah, untuk umrah, bukan untuk berperang. Karena untuk tujuan umrah, beliau dan para sahabat juga membawa hewan ternak (hadyu) untuk disembelih sebagai bagian dari rangkaian ibadah kepada Allah swt.

Namun, orang-orang musyrikin Mekkah menafsirkan lain. Mereka berkesimpulan bahwa kedatangan Rasulullah saw dan para sahabatnya dimaksud untuk memerangi mereka. Akhirnya mereka mengumpulkan seluruh kekuatan dan pasukan untuk menghalau Rasulullah dan para sahabatnya memasuki kota Mekkah.

Singkat cerita, sampailah Rasulullah saw di salah satu kota bernama Hudaibiyyah, kurang lebih 20-25 KM dari kota Mekkah. Setelah terjadi saling mengirim utusan untuk damai, akhirnya musyrikin Mekkah mengutus salah seorang anggotanya bernama Suhail bin ‘Amer, untuk mengadakan perjanjian dengan Rasulullah saw. Terjadilah perjanjian damai antara Rasulullah saw dengan musyrikin Mekkah. Karena perjanjian tersebut terjadinya di kota Hudaibiyyah, maka para sejarawan muslim menyebutnya dengan nama Perjanjian Hudaibiyyah (Shulh al-Hudaibiyyah).

Di antara isi perjanjian dimaksud, sebagaimana disampaikan para sejarawan muslim seperti Ibnu Hisyam, adalah:
  1. Ummat Islam akan kembali ke Madinah pada tahun tersebut, dan tidak jadi melakukan Umrah di Mekkah. Namun pada tahun berikutnya, Rasulullah saw dan para sahabat diizinkan melakukan umrah selama tiga  hari.
  2. Tidak terjadi peperangan (gencatan senjata) untuk waktu 10 tahun.

Ketika Rasulullah saw dan para sahabat sedang diperjalanan pulang menuju Madinah, turunlah surat al-Fath ini. Dan jumhur mufassirin mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-Fath tersebut adalah Perjanjian Hudaibiyyah.

Di awal ayat, Allah menegaskan kepada Rasulullah saw bahwa dengan Perjanjian Hudaibiyyah tersebut, Allah telah memberikan kemenangan yang nyata untuk Rasulullah saw.

Imam az-Zuhri sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hisyam mengatakan, Perjanjian Hudaibiyyah adalah kemenangan yang sangat besar. Karena dengan perjanjian tersebut orang-orang musyrik dapat hidup bercampur dengan kaum muslim, mereka mendengarkan penjelasan ummat Islam, sehingga karenanya banyak di antara mereka yang masuk Islam.

Ibnu Hisyam kemudian memperkuat penjelasan Imam az-Zuhri dimaksud. Menurutnya, bukti kongkrit  dari apa yang disampaikan Imam az-Zuhri tersebut adalah, bahwa ketika Perjanjian Hudaibiyyah Rasulullah saw keluar bersama 1400 sahabat menuju Mekkah. Sementara pada Penaklukan Kota Mekkah, tepatnya dua tahun setelah Perjanjian Hudaibiyyah, Rasulullah saw keluar dengan jumlah sangat signifikan, sepuluh ribu sahabat. Ini artinya, dalam waktu kurang dari dua tahun sejak Perjanjian Hudaibiyyah, hampir sembilan ribu orang memeluk agama Islam. Semua itu di antara hasil positif dari Perjanjian Hudaibiyyah, yang ketika pernjian tersebut dibuat banyak para sahabat yang kurang setuju, karena dipandang merugikan ummat Islam.

Kini mari kita lihat kepada ayat 13 dari surat al-Fath tersebut sebagaimana yang ibu pertanyakan. Sebagaimana saya singgung sebelumnya, bahwa dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, kita juga di antaranya, perlu melihat ayat-ayat sebelumnya (as-sibâq). Ayat 13 ini alur ceritanya masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat ke 11.

Imam ar-Râzî dalam tafsirnya, at-Tafsîr al-Kabîr atau sering disebut juga dengan Mafâtîhul Ghaib, mengatakan, bahwa setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang munafik, Allah kemudian dalam ayat ke 11 menjelaskan keadaan sebagian orang-orang Arab yang tidak ikut keluar bersama Rasulullah saw menuju Mekkah untuk Umrah yang kemudian berakhir dengan Perjanjian Hudaibiyyah.

Sebagian orang-orang Arab tersebut tidak ikut keluar bersama Rasulullah saw, karena menurut keyakinan mereka, ummat Islam akan kalah. Jika penduduk Mekkah dapat memerangi ummat Islam sampai di pintu Madinah, lalu bagaimana seandainya ummat Islam memasuki kota mereka langsung? Tentu mereka akan lebih dapat mengepung dan mengalahkan ummat Islam. Demikian perkataan dan keyakinan mereka saat itu, sehingga mereka tidak turut keluar bersama Rasulullah saw.

Syaikh Thantawi dalam tafsirnya, at-Tafsîr al-Wasîth, mengatakan, bahwa di antara kabilah Arab badui yang tidak mau ikut keluar bersama Rasulullah saw dimaksud adalah dari Kabilah Ghifar, Muzainah, Juhainah, Asyja’, Aslam dan Kabilah al-Dîl.

Dalam ayat 11 ini, Allah mewahyukan kepada Rasulullah saw, bahwa mereka akan beralasan kepada Rasulullah saw, ketidak ikut sertaan mereka itu bukan keinginan mereka sendiri, akan tetapi karena tuntutan dan keterpaksaan. Keterpaksaan dimaksud karena mereka sibuk menjaga keluarga, harta, anak-anak, juga kaum wanita.

Karena itu, mereka juga akan memohon kepada Rasulullah saw untuk memohonkan ampun kepada Allah ketidak ikutan mereka itu. Allah berfirman: “Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami" (QS. Al-Fath [48]: 11).

Lalu apa firman Allah berikutnya tentang mereka? Allah langsung menjawabnya bahwa perkataan mereka itu tidak benar. Apa yang diucapkan mereka, bukan seperti apa yang ada dalam hati mereka. Penyebab sebenarnya mereka tidak ikut tersebut, bukan seperti yang mereka katakan, akan tetapi sebab utamanya adalah karena lemahnya keimanan mereka, sakitnya hati mereka, dan keragu-raguan yang selalu menyelimuti diri mereka. Allah melanjutkan firmanNya: “Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya” (QS. Al-Fath [48]: 11).

Masih dalam lanjutan ayat di atas, Allah juga menegaskan kepada Nabi Muhammad saw, agar beliau menyampaikan kepada orang-orang Arab badui yang tidak ikut tersebut bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menahan ketentuan Allah apapun yang akan menimpa mereka. Jika Allah berkehendak kemadaratan, berupa kematian atau kekalahan, ataupun berkehendak manfaat, berupa kemenangan dan harta rampasan, semua itu tidak akan ada yang dapat menghalangiNya.

Jika Allah berkehendak mematikan mereka sekalipun berada di rumah dan di kampung mereka, tidak ikut pergi bersama Rasulullah saw, bagi Allah sangat mudah. Dan tidak akan ada seorang pun yang dapat menolak juga menahannya. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Fathir [35]: 2).

Di akhir ayat 11 Allah kembali menegaskan, bahwa alasan utama mereka tidak ikut keluar bukan karena apa yang mereka sampaikan, akan tetapi lagi-lagi karena lemahnya keimanan mereka. Allah Maha Mengetahui keadaan hati mereka sebenarnya, dan Allah akan membalas ketidak ikut sertaan mereka itu kelak. Perhatikan firman Allah dimaksud: “Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Fath [48]: 11). Pertanyaan seperti ini, menurut para ahli tafsir dikenal dengan nama istfham inkari, pertanyaan sebagai wujud pengingkaran terhadap mereka, dan tidak memerlukan jawaban.

Ayat ke-12, Allah semakin memperkuat kebohongan orang-orang Arab Badui tersebut. Allah menegaskan, sebagaimana disampaikan Syaikh Thantawi, bahwa ”Kalian wahai orang-orang Arab Badui, yang membuat kalian tidak mau keluar bersama Rasulullah saw itu bukanlah karena kalian sibuk menjaga harta, keluarga, anak-anak dan kaum wanita, namun sebenarnya karena kalian yakin bahwa musuh dapat mengalahkan orang-orang mukmin. Musuh dapat membunuh dan menghancurkan Rasulullah saw dan orang-orang beriman, sehingga  mereka tidak dapat kembali hidup bersama keluarga mereka di Madinah.

‘Setan juga telah menggoda kalian untuk memandang benar prasangka jelek kalian itu, juga karena kalian selalu buruk sangka dalam segala hal yang menyangkut Rasulullah saw juga para sahabatnya. Karena itu, kalian di  mata Allah, benar-benar kaum yang binasa, kaum yang rusak, dan kalian tidak berhak mendapatkan sedikitpun kebaikan. Kalian hanya berhak mendapatkan kehinaan dan siksaan”.

Demikian penjelasan dari ayat ke 12 dari firman Allah di bawah ini: “Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa” (QS. Al-Fath [48]: 12)

Dengan demikian, Allah telah mencela dan menjanjjikan balasan yang keji untuk orang-orang Badui yang tidak ikut bersama Rasulullah saw untuk melakukan Umrah pada peristiwa Hudaibiyyah tersebut, karena empat sebab. Pertama, karena mereka selalu berburuk sangka kepada Allah juga kepada Rasulullah saw (QS. Al-Fath ayat 6). Kedua, karena mereka mengira bahwa Rasulullah saw dan para sahabat akan mati terbunuh oleh orang-orang musyrikin Mekkah sehingga tidak dapat kembali ke kampung halaman, Madinah.

Ketiga, alasan mereka ketidakikutan tersebut karena sibuk menjaga harta dan keluarga, dan  keempat, karena kebohongan mereka yang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hati mereka.

Pada ayat ke-13 Allah kemudian mengakhiri celaan dan ancaman bagi orang-orang Arab Badui yang tidak ikut keluar bersama Rasulullah saw tersebut dengan firmanNya: “Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala” (QS. Al-Fath [48]: 13).

Maksudnya, siapa yang tidak beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, juga tidak beriman kepada Rasulullah saw dengan jalan membenarkan juga mengikuti setiap perintah atau larangannya, maka Allah akan menghukuminya sebagai orang kafir. Di mana balasan bagi orang kafir adalah api neraka yang sangat panas, menyala-nyala, yang akan membakar seluruh tubuh dan menghancurkan seluruh badan.

Demikian Ibu, maksud dari ayat ke 13 surat al-Fath tersebut. Konteksnya memang untuk orang-orang Arab Badui yang tidak ikut keluar bersama Rasulullah saw dan para sahabat untuk melakukan umrah pada peristiwa Hudaibiyyah itu. Namun secara umum, makna dan maksudnya juga untuk kita semua selaku ummat beliau.

Di antara pelajaran sangat penting untuk kita dari ayat 13 dimaksud adalah:
1. Wajibnya kita seluruh manusia untuk mengimani atau meyakini Nabi Muhammad saw sebagai rasul dan nabi Allah yang terakhir. Karena siapa yang tidak beriman kepada Rasulullah saw, mereka dipandang sebagai manusia yang kafir sebagaimana firman Allah di atas. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa [4]: 136).

Dalam hadits Shahih riwayat Imam Muslim juga, Rasulullah saw menegaskan pentingnya mengimani beliau, baik orang Yahudi, Nashrani atau lainnya. Siapa yang meninggal tidak mengimani Rasulullah saw, maka sungguh orang yang celaka. Rasul bersabda: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Demi diri Muhammad yang berada dalam kekuasaanNya, tidak ada seorang pun dari ummat ini, baik orang Yahudi juga Nashrani, yang tidak mendengarkan risalah yang aku bawa, kemudian ia mati, dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia akan menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).

2. Wajibnya kita mentaati segala petunjuk dan aturan Rasulullah saw. Karena, di antara bukti kita beriman kepada Rasulullah saw adalah dengan mengikuti segala titah dan ajarannya, sebagaimanaa firman Allah berikut ini: “Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (QS. Al-Anfal [8]: 1).

Di samping itu, karena siapa yang taat kepada Rasulullah saw, hakikatnya adalah taat kepada Allah, sebagaimana firmanNya: “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS. An-Nisa [4]: 80).

3. Besarnya siksaan dan hukuman bagi yang tidak beriman kepada Allah juga kepada rasul-rasulNya, wabil khusus kepada Rasulullah saw. Dalam ayat tersebut Allah menjanjikan kepada orang tersebut neraka yang apinya sangat panas dan menyala-nyala. Semoga kita semua termasuk orang yang betul-betul mengimani Rasulullah saw dan mencintainya, dengan jalan melaksanakan segala sunnahnya, juga mencontoh segala gerak gerik, tutur kata dan tindaknya dalam seluruh hidup dan kehidupan kita semua, amiin.
Demikian Ibu Masykur, semoga jelas adanya. Yang benar datang dari Allah dan RasulNya, sedangkan yang salah dan keliru datang dari setan juga kebodohan saya sendiri, sementara Allah dan RasulNya, terbebas dari semua itu.  

Wallâhu a’lam bis shawâb.
Hatur nuhun

Email: aepmesir@yahoo.com

Memegang Amanah Tidak Ringan

Amanah untuk Manusia (Tafsir QS al-Ahzab [33]: 72-73).

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS al-Ahzab [33]: 72-73).
Syariah yang dibebankan kepada manusia merupakan amanah. Sebagaimana layaknya amanah, syariah tersebut wajib dipikul dan ditunaikan. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, apalagi ditolak dan diingkari. Memang, amanah tersebut tidak ringan hingga langit, bumi, dan gunung pun tidak sanggup untuk memikulnya. Namun bagi orang yang mau menunaikannya, Allah SWT akan memberikan ampunan terhadapnya. Juga, pahala yang besar, surga, dan ridha-Nya. Sebaliknya, siapa pun yang sengaja menelantarkannya, terlebih mengingkari dan menolaknya, akan ditampakan azab atasnya. Ayat ini adalah di antara yang menjelaskan perkara tersebut.
Hanya Manusia
Allah SWT berfirman: Innâ ‘aradhnâ al-amânah ‘alâ al-samâwât wa al-ardh wa al-jibâl (sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung). Kata al-amânah merupakan bentuk mashdar seperti halnya kata al-amn dan al-amân (keamanaan, ketenteraman). Dalam konteks ayat ini, kata amanah bermakna ketaatan dan berbagai kewajiban yang diwajibkan atas hamba-Nya. Demikian al-Baghawi dalam tafsirnya. Al-Jazairi menafsirkannya sebagai semua taklif  syar’i dan segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik berupa harta, perkataan, kehormatan, maupun perbuatan. Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa amanah tersebut meliputi semua tugas agama. Menurutnya, ini merupakan pendapat jumhur. Tak jauh berbeda, Ibnu Jarir al-Thabari juga mengatakan pengertian amanah dalam ayat ini mencakup semua makna amanah dalam agama dan amanah manusia. Pasalnya, Allah SWT tidak mengkhususkan dalam firman-Nya: ‘aradhnâ al-amânah hanya menunjuk sebagian makna amanah.
Penggunaan kata amanah, menurut Sihabuddin al-Alusi, merupakan peringatan bahwa semua taklif tersebut merupakan hak-hak yang harus dipelihara; dititipkan dan dipercayakan Allah kepada para mukallaf; dan diwajibkan atas mereka untuk ditunaikan dengan penuh ketaatan dan ketundukan; diperintahkan untuk dipelihara, dijaga, dan ditunaikan tanpa melanggarnya sedikit pun.
Diberitakan dalam ayat ini, bahwa Allah SWT telah menawarkan amanah tersebut kepada tiga makhluk-Nya yakni langit, bumi, dan gunung.  Akan tetapi, semua makhluk yang besar dan kuat fisiknya tersebut menolaknya. Allah SWT berfirman: Fa abayna an yahmilnahâ wa asyfaqna minhâ (maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya).
Kata abâ berarti enggan untuk menerima tawaran tersebut. Hanya saja, sikap itu bukan didasarkan oleh sikap takabbur sebagaimana Iblis ketika menolak bersujud kepada Adam. Sebaliknya, sikap tersebut justru disebabkan oleh sikap merasa dirinya rendah dan lemah. Kesimpulan ini dikukuhkan dengan frasa sesudahnya:wa asyfaqna minhâ. Artinya, sebagaimana dijelaskan al-Baghawi dalam tafsirnya, mereka merasa takut tidak bisa menjalankan amanah tersebut sehingga mendapatkan hukuman karenanya. Ditegaskan juga oleh Abdurrahman al-Sa’di, penolakan semua benda tersebut disebabkan oleh ketakutan mereka tidak bisa memikul amanah. Bukan karena kemaksiatan terhadap Tuhan mereka dan tidak menginginkan pahala-Nya.
Menurut Fakhruddin al-Razi, sekalipun ketiga benda tersebut kuat, akan tetapi amanah Allah SWT melebihi kekuatan mereka. Abu Hayyan al-Andalusi juga mengatakan, tawaran amanah kepada sejumlah benda tersebut memberikan makna ta’zhîm[an] (pengagungan) terhadap perkara taklif.
Sikap ketiga benda tersebut bertolak belakang dengan sikap manusia. Allah SWT berfirman: Wa hamalahâ al-insân, (dan dipikullah amanah itu oleh manusia). Kata al-insân menunjuk Adam as dan keturunannya. Demikian penjelasan al-Jazairi. Secara fisik, manusia jelas jauh lebih kecil dan lebih lemah dari semua makhluk tersebut. Allah SWT berfirman: Dan manusia dijadikan bersifat lemah(TQS al-Nisa’ [4]: 28). Akan tetapi, manusia bersedia menerima tawaran tersebut.
Kemudian disebutkan: Innahu kâna zhalûm[an] jahûl[an] (sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh). Kata dzalûm[an] berarti katsîr al-zhulm li nafsihi (banyak menzalimi dirinya sendiri). Sedangkan jahûl[an] artinya bodoh terhadap akibat.
Balasan bagi Kaum Munafik. Musyrik, dan Mukmin
Setelah diberitakan tentang sikap manusia yang mau menerima tawaran amanah, kemudian diberitakan mengenai tentang konsekuensi atas sikap tersebut. Allah SWT berfirman: liyu’adzibbal-Lâh al-munâfiqîn wa al-munãfiqât wa al-musyrikîn wa al-musyrikât (sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan). Orang munafik adalah orang yang menampakkan keimanan karena takut kepada kaum Mukmin dan menyembunyikan kekufurannya untuk mengikuti kaum kafir. Sedangkan orang musyrik adalah orang yang lahir dan batinnya menyekutukan Allah dan menyelesihi rasul-Nya. Demikian penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Terhadap semua orang kafir tersebut, baik berusaha menyembunyikan kekufurannya maupun yang menunjukkannya secara terang-terangan, Allah SWT  menimpakan azab. Dikatakan Muqatil, mereka diazab karena telah mengkhianati amanah dan melanggar perjanjian.
Selanjutnya Allah SWT berfirman: wa yatûbal-Lâh ‘alâ al-mu`minîn wa al-mu`minât (dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan). Jika orang munafik dan musyrik adalah orang-orang yang mengkhianati amanah, maka orang Mukmin bersikap sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang berupaya menjaga, memelihara, dan menunaikan amanah tersebut. Terhadap mereka Allah SWT berjanji untuk memberikan ampunan. Artinya, sebagaimana dijelaskan al-Syaukani, mereka kembali kepada Tuhannya dengan mendapatkan ampunan dan rahmat apabila melalaikan terhadap sebagian ketaatan. Oleh karena itu, disebutkan dengan lafadz al-tawbah. Ini menunjukkan bahwa orang Mukmin yang bermaksiat kemudian bertobat akan terlepas dari azab.
Kemudian diakhiri dengan firman-Nya: Wa kânal-Lâh Ghafûr[an] Rahîm[an](dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Dalam ayat sebelumnya disebutkan dua sifat manusia, yakni: al-zhalûm dan al-jahûl.Kemudian dalam ayat ini disebutkan dua sifat Allah SWT, yakni: Ghafûr danRahîm. Artinya, Ghafûr li al-zhalûm (Maha Mengampuni orang zalim) dan Rahîm ‘alâ al-jahûl (Maha Penyayang terhadap orang bodoh). Hal itu disebabkan karena telah Allah SWT berjanji kepada hamba-Nya untuk mengampuni semua kezaliman kecuali kezaliman yang besar, yakni syirik sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (TQS Luqman [31]: 13). Mengenai janji ampunan disebutkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (TQS al-Nisa’ [4]: 48).
Sedangkan al-rahmah (kasih sayang) terhadap orang bodoh karena sesungguhnya kebodohan merupakan tempat yang layak bagi rahmat. Oleh karena itu, orang yang berbuat salah meminta maaf dengan perkataan, “Saya tidak tahu.”
Demikianlah. Syariah yang dibebankan kepada kita harus dijalankan secara totalitas. Tidak boleh ada yang ditelantarkan dan disia-siakan. Ancaman azab bagi orang orang-orang munafik dan musyrik -orang-orang yang menolak dan mengingkari syariah– harus membuat kita takut untuk melakukan tindakan serupa.  Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
1.      Syariah yang dibebankan adalah amanah yang harus ditunaikan.
2.      Langit, bumi, dan gunung tidak mau menerima tawaran amanah tersebut, namun manusia sebagai makhluk yang lebih lemah justru mau menerimanya.
3.      Allah SWT mengazab orang-orang munafik dan musyrik; dan mengampuni orang-orang Mukmin.
 

Tips-tips Positif Buat Para Remaja Muslim

Tips Syiar Untuk Remaja Muslim

Apakah kamu remaja muslim/muslimah yang sedang kesulitan untuk memelihara keimanan atau mensyiarkan Islam di tengah komunitas non muslim? atau mungkin teman-teman kamu sekarang anak-anak muslim yang ‘terlalu gaul’ sehingga melupakan ajarannya? atau mungkin saat ini kamu sedang belajar di negara orang yang mayoritas beragama non islam? Jika demikian, mohon luangkan waktu sedikit untuk membaca tips-tips berikut ini. Insya Allah ada hal positif yang bisa membantu kamu

  1. Luruskan dan niatkan setiap kegiatan kamu hanya untuk Allah SWT.
    Kapanpun, dimanapun dan apapun yang sedang kamu lakukan, baik sendirian maupun bersama teman-teman, usahakan selalu mengingat Allah SWT. Berdoalah dan niatkanlah semuanya hanya demi Allah SWT.
  2. Praktekkan selalu apa yang kamu katakan.
    Kerjakanlah selalu apa yang kamu katakan pada teman-teman. Yakinkan teman-teman kamu bahwa Islam memang menjadi panduan hidup dan selalu konsisten kamu kerjakan.
  3. Teladani Al-Qur’an dan Sirah Rosulullah SAW dalam mensyiarkan Islam.
    Banyak sekali pelajaran mengenai cara syiar Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam yang terdapat di Al-Qur’an dan Sirahnya. Gunakan itu sebagai panduan syiar Islam kamu.
  4. Jangan menilai teman kamu hanya dari wajah atau penampilannya.
    Terkadang wajah dan penampilan bisa menipu. Bisa saja teman kamu yang pendiam dan sopan ternyata punya pekerjaan sampingan sebagai penari striptis, atau sebaliknya, bisa saja teman kamu yang nyentrik dan gaul, ternyata adalah seorang muslim yang taat. Hadapilah setiap orang dengan sikap yang sama, seakan-akan kamu belum mengenal mereka.
  5. Tersenyumlah 
    Banyak sekali kita jumpai muslim yang taat menunjukkan wajah serius bahkan terlihat sebal jika diantara kalangan non muslim. Salah! Seperti kata Pak Mario Teguh, Tersenyumlah! dan perhatikan apa yang terjadi 
  6. Ambillah inisiatif pertama jika bepergian bersama mereka.
    Usahakan selalu ambil inisiatif pertama jika akan bepergian. Jauhkan teman-teman kamu dari tempat-tempat yang tidak baik.
  7. Tunjukkan pada mereka bahwa Islam itu tetap relevan kapanpun juga.
    Banyak orang yang beranggapan bahwa Islam itu kuno dan ketinggalan zaman. Tunjukkan pada mereka bahwa ajaran Islam itu relevan kapanpun juga.
  8. Ajaklah mereka untuk ikut kegiatan sosial bersama kamu.
    Ketika ada kegiatan amal atau sosial, ajaklah teman-teman kamu untuk ikut serta. Partisipasi mereka akan banyak berpengaruh positif pada kedekatan kamu dengan mereka, dan terbukanya hati mereka untuk menolong sesama.
  9. Tanyakan kepada mereka 4 hal mendasar.
    Pada setiap kesempatan, pancinglah mereka untuk menjawab 4 pertanyaan ajaib ini. Empat pertanyaan ini seringkali dapat dengan mudah mengarahkan pembicaraan kepada Allah dan Islam dengan halus.
    a. Apa tujuan hidup kamu dan apa yang membuat kamu bahagia secara jujur dari hati terdalam?
    b. Apa sih yang kamu percayai?
    c. Kepada siapa seharusnya kita berterimakasih atas semua nikmat ini?
    d. Apakah semua keberhasilan kamu sampai hari ini tanpa bantuan orang lain?
  10. Lakukan dan tunjukkan kepada mereka bahwa sholat 5 waktu itu terpenting dari semua kegiatan.
    Tunjukkan pada mereka bahwa sholat 5 waktu itu adalah yang terpenting dalam semua waktu kamu. Katakanlah pada mereka bahwa itulah saat-saat kita berhubungan langsung dengan Allah SWT dan saat itu, kita bisa meminta bantuan apapun kepada-Nya. Jika teman kamu sedang menghadapi masalah, ajaklah dia untuk berdoa atau bahkan ikut sholat dengan kamu.
  11. Angkatlah sikap-sikap orang dewasa yang positif di depan teman-temanmu.
    Seringkali anak-anak muda menganggap orang dewasa (termasuk orang tua mereka) kuno dan -maaf- ‘bodoh’. Tunjukkan rasa hormat kamu pada orang-orang dewasa dan pujilah sikap orang dewasa yang positif, misalnya: ketika ada yang menolong anak muda lain, atau ketika ada da’i yang memberikan dakwah yang menarik, atau ketika ada yang memberi sumbangan dana untuk bencana, dll. Hal-hal itu tidak hanya akan membuka perspektif baru bagi teman-teman kamu, tapi juga akan membuat mereka lebih hormat pada orang tua mereka. Ingatlah, hormat kepada orang tua sangat dinilai tinggi dalam Islam.
  12. Dukunglah dan bantulah teman kamu yang meneladani atau mulai mengikuti ajaran Islam.
    Ketika pada akhirnya ada seorang teman kamu yang tertarik dan berusaha mengikuti ajaran Islam, segera bantu dan dukunglah dia semaksimal mungkin. Hadirlah selalu di dekatnya agar imannya yang masih lemah terus terbina dengan kehadiran kamu.
Semoga hal-hal di atas bisa membantu kamu. Ingatlah bahwa dakwah itu bukan hak seorang muslim, tapi merupakan KEWAJIBAN kita. Setiap kita punya tugas untuk mensyiarkan cahaya Islam kepada siapapun juga, dimanapun kita berada dan siapapun teman-teman kita. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan meridhoi langkah kita. Amiiin. Sukses teman-teman

by. cara-muhammad

Referensi:
  1. http://www.soundvision.com/info/parenting/teens/12tips.asp
  2. Sheema Khan, seorang pendiri Muslim Youth of North America (MYNA) advisor for eastern Canada

Label

'idul adha adab dan sunnah adik saudara sepersusuan adzan air kencing bayi air kencing Rasulullah Akhirat akhlak Akhlaq Kepribadian Akhwat akidah Al Qur'an Al Qur#039;an Al Quran Al-Qur'an Alam Aliran-aliran Amalan AMALIYAH NU anak Analisa Angin Aqidah Aqiqah Artikel Artikel IImiah Asmara Astronomi ASWAJA Azab Bab Adab Bab Nikah Bab Puasa Bab Sholat Bab Thaharah Bab Zakat bantahan belajar islam Berita bersin Bid'ah bid'ah dalam aqidah bid'ah dalam ibadah Biografi Biologi Bisnis Blackberry Budaya Budi Daya buka puasa buku Cantik Fisik catatanku Cerpen Chairil Anwar Curahan Hati Curhat daging qurban Dakwah Dakwah Pemikiran Islam dakwah umum Dambaan insan Dari Salafushshalih Dasar Islam Dasar Keislaman demam Desain Dhaif Do'a do'a buka puasa Do'a dan Dzikir Doa doa bersama doa sholat tarawih download dunia islam Dunia Islam Kontemporer Dzikir dzikir dengan tangan kiri Ekonomi Eksoplanet Emansipasi Emha Ainun Nadjib Fakta Ilmiah Fakta Jin-Iblis-Syetan Fakta Manusia faraidh Fenomena Asteroid Fenomena Bencana Alam Fenomena Bintang Fenomena Bulan Fenomena Bumi Fenomena Hewan Fenomena Kutub Fenomena Langit Fenomena Matahari Fenomena Meteorit Fenomena Petir Fenomena Planet Fenomena Ruang Angkasa Fenomena Tumbuhan Fiqh Fiqh Muamalat Fiqh Wanita Fiqih Fisika Galaksi Geografi Geologi gerhana gigi palsu Hadis Hadis 40 hadist Hadits Hadits Palsu HAID Halal Haram HAM HARI RAYA ID HUKUM ISLAM hukum natal bersama hutang i'tikaf Ibadah ibadah yang baik ibu mertua ilmu ilmuan muslim Ilmuwan imam terlalu cepat bacaannya IMAN Inovasi intermezzo Internet Iptek iqomah isbal Islam jabat tangan setelah sholat JADWAL RAMADHAN Jagad Raya Jalaluddin Rumi jamaah sholat jumat jenazah Jual Beli judi junub Kabar Dalam Negeri kabar manca negara Kahlil Gibran Kajian Karya Buku Karya Ulama KB Keajaiban Alam Keajaiban Hewan KECANTIKAN Kecelakaan Maut Kehutanan Kelautan keluarga Kepemerintahan Kepengurusan Kerajaan Kesehatan Keuangan Keutamaan KHITAN Khitan Wanita khurofat Khutbah Khutbah Jum'at khutbah jumat Khutbah Rasulullah saw Kiamat Kidung Hati Kimia Kisah Kisah Kami Kisah Nyata Kisah Orang-Orang Shaleh Kisah Teladan Komputer Konversi Energi Kosmologi Kumpulan Do'a Kumpulan Kata lafadz adzan lafadz iqomah Lain-Lain Lalu Lintas lembaga sosial Lingkungan Hidup Lubang Hitam macam puasa sunnah mahram Makanan mandi jum'at mandi wajib Manhaj Manusia Manusia dan Teknologi masjid masjid quba Masuk Perguruan Tinggi Matahari Materi gelap Mayit media cetak memandikan jenazah membayar zakat memotong kuku memotong rambut mendahului gerakan imam menemani sholat jamaah menembok kuburan mengadzankan mayit di liang kubur mengangkat tangan menghadiahkan pahala mengqadha puasa menguburkan jenazah mengucapkan selamat natal mengusap kepala Mengusap muka setelah berdoa menikah di bulan syawwal menikah setelah berzina meninggal dunia Meninggalkan sholat jum'at menjawab adzan menjual kotoran hewan menyapu kepala menyentuh wanita Meteorologi Meteorologi-Klimatologi mihrab Mineralogi minum air zamzam Motivasi motivasi belajar Motivasi Beramal MQ (menejemen qolbu) mu'athilah Muallaf muamalah Muhasabah Mungkar murottal Muslimah Muslimah Articles Musyabbihah Mutiara Hikmah Mutiara Kalimat Mutiara Tafakur Nabi Muhammad Nagham Alqur'an Nasehat Neraka News niat sholat nikah nisfu aya'ban Oase Iman Olah Raga OLAHRAGA Otak PAKAIAN panas PAUD Pendidikan Penelitian penelitian sunnah Pengembangan Diri Pengobatan Akibat Sihir Peninggalan Sejarah Penjajahan Pentingnya Waktu Peradaban Islam Perbandingan Agama dan Aliran Perbankan Pergaulan Perkawinan Perkembangan Da'wah Islam Permata Hati pernikahan Personaliti Pesawat Ruang Angkasa Pesepakbola Muslim Pojok Ramadhan posisi imam wanita produksi awal program kerja Proyek Luar Angkasa Psikologi Puasa puasa daud puasa rajab Puasa Setiap Hari puasa sunnah puasa wanita hamil Puisi Puisi bahasa Ingris qunut nazilah QURAN radar lampung Radio Rajab Ramadhan ramalan cuaca Renungan Riba dan Jual Beli salafush shalih salah bacaan sholat Salam Khudam Sastra sedekah Sejarah Sejarah Islam SEKS Sentilan Seputar Daerah Buton Shalat shodaqoh shodaqoh melebihi kadar Sholat sholat dan keputihan sholat di rumah sholat ghoib sholat jamaah sholat jamaah estafet sholat jumat sholat jumat wanita sholat pindah tempat sholat qashar sholat sambil melihat mushaf sholat sendirian sholat sunnah sholat sunnah qobliyah isya sholat sunnah sebelum asar sholat sunnah setelah shubuh sholat takhiyatul masjid sholat wanita sifat dzatiyah sifat fi'aliyah Sihir Simpan Pinjam Sirah Siroh Shahabiyyah Software Islami Sosial Kemasyarakatan Sosiologi sujud sahwi sujud syukur sumpah dan nadzar Sunnah sutrah sutroh syafaat Syurga Tafakur Alam Semesta Tafsir Tafsir Al-Qur'an tahlilan Takbirotul ihram takwil mimpi tambal gigi tamsil Tanda Akhir Zaman Tanda-Tanda Kiamat Tanya jawab Tarbiyah Tasawwuf dan Adab tata cara tidur menurut sunnah Tata Surya Taufiq Ismail Tauhid tayammum Tazkirah Tazkiyah tazkiyatun nafs Tech News Teknik Sipil teladan Tenaga Kerja tertawa saat sholat Thoharoh tidak taat suami tinggi TK Tokoh Tokoh Dan Ulama Tokoh Islam Tools TPA Tsunami Tujuan Hidup tuntunan sholat uang pensiun dari riba uang riba ucapan assalamualaika UNCATEGORY Video da'wah video Motivasi Diri Video Muhasabah video murotal W. S. Rendra waktu membaca doa wanita wanita haid Wisata wudhu yasinan zakat zakat anak kepada orang tua zakat barang temuan zakat harta zakat harta warisan zakat hasil perkebunan zakat hasil pertanian zakat mal zakat padi zakat pns zakat tanah zina