Senin, 03 September 2012

Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

ar-Rahman ar-Rahim

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Fatihah: 2)

Ayat yang agung ini mengandung pelajaran, di antaranya:
  1. Penetapan bahwa Allah memiliki nama, yang di antaranya adalah dua nama ini; ar-Rahman dan ar-Rahim. Nama ar-Rahman mengandung sifat kasih sayang pada diri-Nya. Adapun nama ar-Rahim mengandung perbuatan Allah yang merahmati hamba-hamba-Nya (lihat Tafsir Juz ‘Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 10)
  2. Nama Allah ar-Rahman juga mengandung makna suka memberikan kebaikan, bersifat dermawan, dan suka berbuat kebajikan (lihat al-Fawa’id, hal. 21)
  3. Di dalam ayat ini terkandung salah satu pilar ubudiyah yaitu roja’/harapan. Maksudnya dengan merenungi kandungan ayat ini maka seorang hamba akan senantiasa mengharapkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab apabila Allah itu adalah sosok yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka tentu saja rahmat/kasih sayang-Nya sangatlah diharapkan (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 18)
  4. Ayat ini -sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya- menunjukkan bahwa rububiyah Allah itu dilandasi dengan sifat kasih sayang yang sangat luas, bukan rububiyah yang dibangun di atas sifat suka menyiksa dan menghukum (lihat Tafsir Juz ‘Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 10)
  5. Seorang hamba akan bisa meraih kebahagiaan dengan mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Karena dengan mengenali keindahan dan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka dia akan bisa menyempurnakan kekuatan ilmunya (lihat al-Fawa’id, hal. 20)
  6. Nama ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah yang maha luas dan mencakup seluruh makhluk. Oleh sebab itu ketika berbicara tentang kemuliaan diri-Nya yang ber-istiwa/tinggi menetap di atas Arsy -sementara Arsy itu meliputi semua makhluk- maka Allah menyebut dirinya dengan nama yang memiliki kandungan sifat yang paling luas pula yaitu ar-Rahman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “ar-Rahman istiwa’ di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5). Di sisi lain, Allah juga berfirman (yang artinya), “Rahmat-Ku luas mencakup segala sesuatu.” (QS. al-A’raaf: 56). (lihat adh-Dhau’ al-Munir fi at-Tafsir [1/60])
  7. Konsekuensi dari sifat rahmah/kasih sayang yang terdapat dalam nama ar-Rahman, adalah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing manusia demi kebahagiaan hidup mereka. Perhatian Allah untuk itu jelas lebih besar daripada sekedar perhatian Allah untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan biji-bijian di atas muka bumi ini. Tetesan air hujan akan membuahkan kehidupan tubuh jasmani bagi manusia. Adapun wahyu yang dibawa oleh para rasul dan terkandung di dalam kitab-kitab merupakan sebab hidupnya hati mereka (lihat at-Tafsir al-Qayyim, hal. 8).
  8. Berangkat dari faedah terakhir di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang ingin mendapatkan rahmat Allah yang sempurna di dunia dan di akherat maka dia harus tunduk kepada syari’at Rasul yang diutus kepadanya. Sehingga pada jaman sekarang ini -setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- siapa saja yang ingin masuk surga dia harus tunduk kepada ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun di antara umat ini yang mendengar kenabianku, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada ajaranku, melainkan dia pasti termasuk golongan penduduk neraka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, lihat Syarh Muslim [2/243]). Maka tidak ada pertentangan sama sekali antara sifat kasih sayang Allah dengan dimasukkannya orang kafir ke dalam neraka.  Wallahu a’lam.  Posted By: Abu Mushlih

Minggu, 02 September 2012

Allah Mengabulkan Doa Pada Waktu Yang Dikehendaki

Cara Allah Mengabulkan Do'a Hamba-Nya
Kapan doa dikabulkan adalah pada waktu yang dikehendaki oleh Allah. Yang jelas, doa seorang mukmin tidak akan pernah sia-sia. Bahkan, doa seorang mukmin pasti akan “dikabulkan” oleh Allah, tetapi bagaimana, dalam bentuk apa, dan dengan cara apa doa itu dikabulkan adalah sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. 
Rasulullah saw bersabda, ”Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutuskan silaturahim, kecuali Allah pasti akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal: Allah akan mengabulkan doanya dengan segera, atau Allah akan menyimpan doanya (sebagai suatu pahala) di akhirat, atau Allah akan memalingkan dan menghindarkannya dari suatu keburukan yang sebanding dengan doanya itu.” (HR Ahmad, Al-Bazzar, dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dan beliau berkata: sanadnya shahih. Demikian pula Adz-Dzahabi sependapat dengan beliau).

Demikianlah cara Allah mengabulkan doa seorang mukmin. Ada doa yang dikabulkan dengan segera. Inilah yang sering kita sebut sebagai doa yang dikabulkan. Ketika doa seseorang tidak dikabulkan dengan segera, ia akan mengatakan bahwa doanya tidak dikabulkan. Padahal Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Karena itulah bagi sebagian orang Allah justru menyimpan pahala doanya di akhirat. Akhirat adalah hari dimana setiap orang sangat butuh dengan pahala. Ketika itulah setiap orang berharap seandainya doa-doanya di dunia tidak ada yang dikabulkan di dunia, sehingga bisa menjadi simpanan pahala di akhirat.
Bentuk lain dari pengabulan doa adalah dipalingkan dan dihindarkannya seseorang dari keburukan, kejahatan, musibah, atau marabahaya yang sebanding dengan doanya. Jika Anda berdoa agar diberi rizki sebanyak 50 juta rupiah, manakah yang lebih Anda sukai: mendapatkan uang sejumlah itu lalu jatuh sakit yang biaya pengobatannya sebesar 50 juta rupiah, ataukah Anda terhindar dari sakit tersebut? Tentunya Anda akan lebih memilih yang kedua bukan? 

Demikianlah Allah Maha Bijaksana dan Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Hidup Di Dunia Hanya Sesa’at

Merenungi Hidup Yang Serba Singkat, Tak Terasa Kala Di Akhirat

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat" (QS Al Mu'minun [23]: 12 - 16)


Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hambanya baik melalui kalimat secara langsung maupun tidak langsung, agar memperbanyak tafakkur/merenung. Termasuklah salah satu bahan renungan adalah tentang makna sebuah kehidupan; darimana asal kejadian, bagaimana proses penciptaan manusia, mengapa dan untuk apa diciptakan, kemudian ke mana akhir kehidupan, serta apa kejadian sesudah dimatikan. Demikian isi kandungan dari ayat di atas.

Yang dapat diketahui bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah, menjadi mani, menjadi segumpal darah, segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging, daging dikuatkan dengan tulang jadilah manusia seperti kita yang kemudian berproses dalam kehidupan dari masa anak-anak, remaja, tua, hingga mengakhirinya dengan kematian, kemudian dibangkitkan untuk mempertanggung-jawabkan masa kehidupan di dunia. Ini adalah proses alamiah yang tidak hanya manusia yang akan melewatinya, tetapi seluruh makhluk yang bernyawa.

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya." (QS Ali Imran :145)

Apabila disadari betul-betul hidup di dunia sungguh-sungguh singkat, sangat-sangat sebentar/sesa’at, menurut WHO salah satu badan kesehatan dunia, rata-rata harapan manusia untuk hidup maksimal adalah antara 50-79 tahun. Hal ini apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Allah SWT menggambarkannya: "Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi." (QS 79: 46)

Dari pemahaman yang mendalam inilah, diharapkan timbul kesadaran, dan dari kesadaran diharapkan muncul akhlak yang mulia selama menjalani hidup di dunia. Dengan prinsip untuk apa melalaikan perintah Allah dalam kehidupan yang singkat dan terbatas, dan untuk apa berbuat jahat kepada sesama manusia, semua itu akan sia-sia dan menjadikan rugi bahkan menyesal ketika di hari pertanggungjawaban.

Sebaliknya, hidup yang serba singkat ini hendaknya banyak berbekal dengan keshalehan, ketakwaan, mengisi waktu tersisa dengan hal-hal yang bermanfaat dan banyak membahagiakan orang lain tentunya dapat mengantarkan manusia kepada ketenangan menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat."(QS 7: 26).

Wallahu ‘alam bish-shawab.
(Republika.co.id)

 

Cinta Kita Untuk Siapa?

Untuk Siapakah Cinta Kita Sesungguhnya?

Cinta adalah perhiasan dunia, karena cinta manusia rela berkorban, karena cinta manusia rela kehilangan harta, bahkan karena cinta manusia rela kehilangan nyawa. Lalu kepada siapakah manusia memberikan cintanya?

Kepada laki-laki tampan atau wanita cantik? Karena hanya dengan melihat wajahnya, hati menjadi tenteram, karena ketampanan atau kecantikannya banyak orang yang terpukau, dan kamu bangga bisa berada di dekatnya. Tapi apakah hanya dengan melihat kamu bisa hidup? Apakah dengan melihat kamu bisa kenyang? Apakah wajah yang baik menjamin hatinya baik? 


Sadarlah Saudaraku!

Kepada Harta? Karena dengan harta kamu bisa memiliki banyak hal, orang-orang akan menghormatimu, banyak orang yang datang ke rumahmu untuk meminjam uang. Tapi apakah orang akan bersikap baik jika kamu miskin? Apakah yang mereka hormati, kamu atau hartamu? Dan apakah hartamu akan kamu bawa ke dalam kubur? 

Sadarlah Saudaraku!!

Kepada Benda? Karena dengan memakainya kamu dikagumi banyak orang, orang akan menyukaimu karena benda yang kamu miliki sangat mahal, atau karena apakah bila kamu memakai benda itu hati mu menjadi tenang, kamu yakin benda itu membuatmu kuat dan sehat. Tapi bukankah yang disukai dan dikagumi orang adalah benda itu? Apakah kamu yakin benda yang tak bisa berbicara bisa menolongmu? Apakah kamu yakin benda itu memiliki kekuatan padahal bila terjatuh lalu terinjak, benda itu tetap diam?

Sadarlah Saudaraku!!!

Kepada Dunia? Karena di dunia kamu bermimpi dan berusaha, dunia adalah tempat mencapai impian, banyak orang yang bermimpi untuk menguasai dunia. Tapi apakah kamu akan abadi hidup di dunia? Apakah kamu yakin masih ada hari esok untukmu? Apakah kamu pikir dunia ini akan tegak selamanya?

Sadarlah Saudaraku!!!!

Lalu kepada siapakah kita cinta?

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakan laki-laki tampan dan wanita cantik? Dialah Yang Maha Indah dan Maha Pencipta.

Apakah kah kamu lupa siapakah yang memberimu rezeki yang melimpah? Dialah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki .

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakan benda-benda di dunia agar bisa kita manfaatkan? Dialah Yang Maha Tahu dan Maha Pintar.

Apakah kah kamu lupa siapakah yang menciptakn dunia serta alam semesta? Dialah Yang Maha Besar, Yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Apakah kah kamu lupa siapakah Dia sebenarnya? Dialah Allah SWT Tuhan dari semua makhluk. Sudah sepatutnya kita mencintai Allah SWT melebihi cinta terhadap apapun atau siapapun! Untuk Allah di atas segalanya…
 
SUDAH SADARKAH KAMU, SAUDARAKU??

Doa Adalah Inti Ibadah

Sebab-sebab Tidak Dikabulkannya Do'a

Setiap kita tentunya biasa berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan.


Ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, tidak jarang sejak saat itu ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta agar doa segera dikabulkan?’ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ’(Yakni) hamba itu berkata, ‘Aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (HR Muslim)

Kita semestinya menyadari bahwa ada banyak sebab mengapa sebuah doa tidak segera dikabulkan oleh Allah. Kita juga hendaknya paham bahwa hikmah besar pasti selalu ada di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut.

Pertama, bisa jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Misalnya, kita tidak menghadirkan hati, tidak khusuk dan tidak merendahkan diri saat berdoa, kita berdoa bukan pada waktu dimana doa akan mudah dikabulkan, atau kita belum memenuhi syarat-syarat doa penting lainnya.

Kedua, terkadang doa tidak terkabul dikarenakan sebab tertentu seperti karena dosa yang kita belum bertaubat darinya, karena dosa di mana kita tidak bertaubat dengan jujur darinya, karena makanan kita mengandung syubhat, atau karena ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Karena itu, kita hendaknya bertaubat dengan taubatan nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu hak orang lain tersebut masih ada pada diri kita. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya doa. Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.” Juga disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwasanya Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambutnya acak-acakan dan berdebu lalu menengadahkan tangannya ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan keluarganya diberi makan dari sumber yang haram. Bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Oleh karena itu, kita harus berusaha membersihkan diri dari segala kotoran dosa yang bisa menjadi menghalangi ‘jalan-jalan’ terkabulnya doa.

Ketiga, bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita karena Ia sengaja hendak menyimpan pahala doa kita tersebut untuk Ia berikan kepada kita di akhirat kelak atau karena Ia hendak menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“Jika di atas bumi ada seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Ia akan mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan dosa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim). Dalam riwayat Al-Hakim ada tambahan: “Atau Allah akan menyimpan pahala seperti doanya itu untuknya.” (HR Al-Hakim). Bisa jadi, ini lebih baik bagi kita, sebab dengan disimpannya pahala doa kita di akhirat dan baru diberikan kepada kita saat itu, maka hal itu akan mengangkat derajat dan martabat kita di akhirat. Saat itu, kita akan berbahagia dan bahkan berharap sekiranya seluruh pahala doa kita disimpan dan baru dibagikan di akhirat.

Keempat, penundaan terkabulnya doa merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah kepada seseorang. Allah ingin menguji iman orang itu. Ketika doa tidak segera dikabulkan, syetan membisikkan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang kita minta itu ada pada Allah. Tetapi mengapa doa kita tidak segera dikabulkan?” Begitu pula, syetan akan menyusupkan bisikan-bisikan jahat lainnya. Setiap muslim harus melawan bisikan-bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus sadar bahwa bisa jadi Allah tidak segera mengabulkan doanya karena Allah hendak menguji imannya. Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihatlah perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap seorang mukmin tidak akan berubah terhadap Tuhannya hanya karena doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.

Kelima, tidak segera dikabulkannya doa semestinya membuat seorang muslim tahu dan menyadari sebuah hakikat penting. Yaitu bahwa ia adalah hamba Allah, sementara Allah iadalah pemilik segala-galanya. Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, baik memberi ataupun tidak memberi. Jika Allah mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Sedangkan jika Ia tidak memberi, itupun salah satu bentuk keadilan-Nya dan Ia juga pasti punya alasan yang kuat untuk itu. Ada baiknya kita merenungkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah Perdamaian Hudaibiyah yang sepintas lalu merugikan Rasulullah dan kaum muslimin. Ketika itu beliau bersabda,”Aku Rasulullah dan Allah tidak akan pernah akan menelantarkan aku.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Keenam, terkadang doa yang tidak segera dikabulkan justru akan membuat kita semakin dekat kepada Allah, terus bersimpuh di hadapan-Nya, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, tidak jarang jika permintaan kita dikabulkan, maka kita menjadi lebih sibuk, lalu kita tidak lagi ingat kepada Allah, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya adalah inti ibadah. Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan maka kita tidak berlindung kepada Allah.

Ketujuh, bisa jadi terkabulnya doa kita justru akan menjadikan kita berbuat dosa, akan berdampak buruk pada agama kita, atau akan menjadi fitnah bagi kita. Atau bisa juga apa yang kita minta itu sepintas lalu baik bagi kita padahal sebenarnya tidak baik bagi kita. Yang demikian ini terutama bagi seseorang yang mengajukan permintaan tertentu yang sangat spesifik kepada Allah dan tidak berdoa dengan doa-doa yang telah dituntunkan dalam Al-Qur’an atau yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu hendaknya kita memperhatikan doa-doa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Kedelapan, setiap doa punya ketentuan dan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini seseorang yang amat miskin dan tidak melakukan usaha yang signifikan berdoa agar ia menjadi milyarder kaya raya pada esok paginya. Doa memiliki takaran, syarat, sebab, prolog, kerja keras, dan bahkan pengorbanan yang besar.

Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.” Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub ‘alaihissalam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, juga hilang, sampai-sampai kedua matanya buta karena kesedihan yang mendalam. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa semua penderitaan tersebut suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).

Demikian pula, Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berdoa kepada Allah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan pada kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kuncilah mati hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88). Namun konon Allah baru mengabulkan doa beliau tersebut, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah “Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan” (Yunus: 89), setelah empat puluh tahun lamanya! Padahal yang berdoa adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul ‘Azmi, sedangkan yang mengamininya adalah Nabi Harun ‘alaihissalam, seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika berdoa. Sementara pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang sudah jelas manusia paling dzalim, fasik, dan kafir saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa tidak segera dikabulkan Allah, sebab doa tersebut adalah doa yang tidak sembarang doa. Diperlukan kerja keras dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Itulah yang dimaksud dengan takaran doa. Dan ini harus benar-benar kita pahami.

Itulah beberapa hal yang menjadi penyebab sebuah doa tidak terkabul, berikut hikmah yang ada dibaliknya. Dengan mengetahui penyebab-peyebab dan hikmah-hikmah tersebut, semoga kita menjadi orang-orang yang tidak pernah bosan berdoa, karena doa adalah inti ibadah. 

 Wallahu a’lam bish-shawab. 

Doa Koruptor Tidak Diterima Allah

Uang Haram Koruptor

" Daging apa pun yang tumbuh dari barang haram, maka neraka adalah tempatnya yang paling pantas " (HR Al-Baihaqi) 

Jauh-jauh hari, Nabi SAW telah mengingatkan agar jangan sekali-kali kita mengonsumsi barang haram atau makan dan minum dari uang haram. Tidak mengherankan, apabila banyak anak pejabat koruptor yang moralnya rusak; angkuh, sok jagoan, pencandu narkoba, pergaulan bebas, hobi maksiat, ngebut-ngebutan, dan sebagainya. Hal ini tak lain karena harta orangtuanya dipenuhi uang haram hasil korupsi.

Tidak ada anak koruptor yang saleh, berakhlak baik, dan taat beribadah. Sebab, mereka sudah dijanjikan masuk neraka. Maka, tingkah polah mereka pun layaknya calon penghuni neraka. Lagi pula, Allah itu Mahabaik yang hanya menerima sesuatu yang baik-baik pula. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja.” (HR Muslim)

Jangan berharap negeri ini bisa seperti Cina yang menghukum mati para koruptor sekaligus keluarganya. Karena, bisa jadi akan terlalu banyak korbannya. Pertanyaan, “Bapak ikhlas nih?” setelah menerima uang haram dari ‘korban’, merupakan senjata ampuh untuk beralasan bahwa itu bukan suap dan juga tidak korupsi.

Ini yang langsung berhadapan, baik yang di kantor maupun di jalan raya. Adapun yang main petak umpet, langsung sikat, langsung transfer, lewat orang ketiga, mark up, dan proyek fiktif, mungkin lebih banyak lagi dan jauh lebih besar jumlahnya. Koruptor di negeri ini benar-benar tak lagi punya hati dan tak tahu malu. Bermewah-mewah dan bangga dengan harta hasil korupsi benar-benar memalukan lagi menjijikkan.

Disebutkan dalam hadits shahih, ada seorang lelaki sedang dalam perjalanan jauh; rambutnya kusut dan pakaiannya penuh debu. Dengan menengadahkan tangan ke langit, lelaki ini berdoa penuh harap kepada Tuhannya. Tetapi, karena makanannya, minumannya, pakaiannya, dan tempat tinggalnya semua berasal dari uang haram; maka Nabi pun bersabda, “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim)

Sekiranya para pejabat dan aparat koruptor itu masih merasa diri sebagai muslim, hendaknya mereka merenungkan baik-baik kisah dan sabda Nabi di atas. Jika doanya saja tidak mungkin dikabulkan, apakah amal ibadah lainnya (termasuk yang sengaja ditampakkan) akan diterima?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Orang Bermuka Dua = Musuh Dalam Selimut

Bahaya Orang Bermuka Dua

(Nabi mengecam orang yang bermuka dua sebagai orang yang termasuk dalam orang-orang terburuk di sisi Allah.)

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari Yahya bin Yahya, dari Malik, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya, termasuk orang yang paling buruk adalah orang bermuka dua yang mendatangi mereka dengan satu muka dan mendatangi yang lain dengan muka lain.”


Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya termasuk orang terburuk di sisi Allah pada Hari Kiamat, adalah orang yang bermuka dua.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Maksud “orang yang bermuka dua” dalam sabda Nabi di atas, yaitu orang yang menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya ketika bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang yang dia musuhi dengan mengatakan perkataan atau sikap yang berbeda dengan apa yang disimpan dalam hatinya. Bagaimanapun, orang yang bermuka dua adalah orang yang sangat berbahaya. Sebab, dia adalah musuh dalam selimut yang sulit dideteksi atau dibuktikan.

Dalam sejarah Islam, yang dimaksud dengan orang bermuka dua ini adalah orang-orang munafik yang mengaku beriman manakala mereka bersama-sama dengan kaum mukminin. Tetapi, ketika kembali kepada kelompoknya, mereka kembali lagi kepada kekufurannya. Mereka ini lebih berbahaya daripada orang kafir yang jelas-jelas menampakkan kekafirannya. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur`an, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan jika mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (Al-Baqarah: 14)

Khusus untuk orang-orang munafik yang hanya menampakkan keimanan pada lahiriyah saja, sementara dalam hatinya mereka menyembunyikan kekufuran; Allah sangat mencela sikap mereka dan mengancam mereka dengan siksaan-Nya yang pedih di dalam neraka. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak pula kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (An-Nisaa`: 142-145)

Namun demikian, yang dimaksud dengan mempunyai dua muka dalam hadits ini bukanlah munafik dalam arti kata sesungguhnya. Melainkan seorang muslim yang kondisinya seperti orang munafik, atau dia memiliki sifat seperti sifatnya orang munafik. Imam Al-Qurthubi berkata, “Sesungguhnya yang menyebabkan orang yang mempunyai dua muka ini menjadi orang terburuk adalah karena kondisinya seperti orang munafik. Dia senang melakukan perbuatan batil dan dusta. Dia senang membuat orang lain saling bermusuhan.”

Imam An-Nawawi berkata, “Yang dimaksud dengan orang bermuka dua ini, yaitu orang yang datang kepada satu kelompok dengan menampakkan seolah-olah dirinya berada di pihak mereka dan berseberangan dengan pihak lawannya. Tetapi dalam waktu yang sama, dia juga datang kepada kelompok lain dan melakukan hal yang serupa.” Dalam konteks sekarang, orang seperti ini barangkali bisa disebut sebagai oportunis. Orang yang selalu mencari selamat dan tidak mempunyai idealisme.

Nabi bukan hanya mengecam orang yang bermuka dua ini sebagai orang yang termasuk dalam jajaran orang-orang terburuk di sisi Allah, melainkan beliau juga mengancam mereka dengan neraka! Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai dua muka di dunia, maka pada Hari Kiamat kelak dia akan diberi dua mulut dari api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi dari Ammar bin Yasir)[5]

Jika seseorang diancam akan diberi dua mulut dari api neraka, artinya orang tersebut pun diancam akan dimasukan ke dalam neraka! Al-Alqami mengatakan, “Orang yang bermuka dua ini diberi dua mulut oleh Allah kelak ketika di neraka, karena dulu saat di dunia dia suka mendatangi dua kelompok berbeda dengan muka yang berbeda pula. Setiap kali datang kepada satu kelompok, dia mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikatakannya kepada kelompok lain. Dia mempunyai dua mulut. Maka Allah pun membuatkan dua mulut baginya di neraka.”

Tersenyum Itu Ibadah

Murah Senyum

"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu."(HR. At-Tirmidzi)

Kita semua pernah tersenyum. Saat kita melemparkan senyum kepada saudara kita, dia pun membalas dengan senyuman. Dan ketika saudara kita tersenyum kepada kita, kita juga membalas senyumnya. Terasa damai hidup ini jika hari-hari terlalui dengan senyuman.

Tersenyum bukan hanya mudah dilakukan, namun ia juga mempunyai banyak manfaat. Dengan senyum, keakraban antarsesama bisa terjalin, beban yang berat terasa lebih ringan, dan kemarahan serta permusuhan pun bisa mencair. Seseorang juga lebih menarik dengan senyumannya. Bahkan, seseorang tampak lebih muda dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

Seseorang yang murah senyum lagi berwajah ceria biasanya mudah bergaul dan mempunyai banyak kawan. Sebaliknya, orang yang selalu bermuka cemberut dan pasang tampang masam, cenderung sulit bergaul dan sedikit temannya. Senyum adalah sinyal persaudaraan dan keramahan.

Dari segi kesehatan, terbukti secara ilmiah bahwa senyum bisa menurunkan tekanan darah, meningkatkan imunitas tubuh, dan dapat menghilangkan stres. Tidak heran, jika Nabi SAW adalah orang yang sangat sehat, karena beliau adalah sosok yang murah senyum dalam interaksinya bersama keluarga dan para sahabat.

Jarir bin Abdillah RA berkata, “Sejak aku masuk Islam, Nabi SAW tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya. Dan setiap kali berjumpa denganku, beliau selalu tersenyum padaku.” (HR. Al-Bukhari)

Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim)

Jadi, tersenyum dan bermuka manis adalah Sunnah. Ia bukan sekadar suatu formalitas atau aktivitas kemanusiaan semata. Tersenyum adalah ibadah. Siapa yang melakukannya akan memperoleh pahala.

Sungguh ironis, jika ada orang yang tidak mau tersenyum kepada saudaranya karena menganggap dirinya berada di atas Sunnah, sementara saudaranya dianggap sebagai ahlu bid’ah yang tidak pantas mendapatkan senyumannya. Padahal di saat yang sama, dialah sesungguhnya yang telah meninggalkan Sunnah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

___________________________________

Amat Beruntung Orang Yang Jujur 

Rasulullah SAW bersabda : 

"Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berkata jujur hingga dia disebut sebagai "shiddiq" dan sesungguhnya dusta itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berdusta dia akan dituliskan di sisi Allah SWT sebagai "kadzdzab" (sang pendusta)". (HR. Bukhari dan Muslim)

 
Anas RA berkata, 
"Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi SAW selalu berpesan tentang kejujuran. Beliau bersabda, 'Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada agama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji'." (HR Ahmad, Bazzar, Thobroni)

 
Rosululloh bersabda ;
"tinggalkanlah urusan yang meragukanmu, lakukanlah suatu pekerjaan yang tak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu menyebabkan ketenangan sedangkan dusta menyebabkan kebimbangan( keraguan.)" (HR.Turmudzi)



Bagaimanasih Menjadi Manusia Ideal


Tips Menjadi Manusia Ideal 

Menuju pintu gerbang manusia ideal harus selalu diupayakan oleh setiap insan. 
Terutama yang muslim atau yang beragama Islam. Sebab menurut Islam 
di dunia ini tidak banyak pilihan kecuali dua, yaitu : selamat atau sesat, 
surga atau neraka, baik atau buruk, hak atau batil. Dan batas 
di antara keduanya sangatlah tipis, sehingga banyak 
orang mengira dirinya selamat padahal sesat.
Untuk menjadi manusia ideal disyaratkan lima hal, yaitu: (1) harus menjadi manusia yang beribadah, karena memang Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka beribadah kepada Allah (2) menjadi manusia yang kaya, karena dengan kekayaannya manusia bisa berangkat naik haji, menunaikan rukun Islam yang kelima, mengeluarkan zakat, sedekah jariah, menyantuni anak yatim, dll. (3) menjadi orang muslim yang benar-benar muslim, bukan Islam KTP, atau Islam abangan (4) menjadi orang yang sungguh-sungguh beriman atau orang mu’min sejati. Dan (5) memiliki hati yang selamat atau “qalbun salim”  dari berbagai penyakit iri, dengki, hasud, marah, ujub, riya dan sombong.
Baiklah kita mulai 

yang pertama menjadi manusia ibadah. Untuk menjadi manusia yang beribadah kepada Allah, seseorang harus selalu melakukan latihan sehari-hari agar terhindar dari melakukan maksiat. Dimulai dari hal-hal yang sepele atau kecil. Misalnya belajar untuk tidak berdusta kepada siapa saja termasuk kepada dirinya sendiri, belajar untuk tidak menceritakan kekurangan orang lain (ngrasani), melihat gambar porno atau film porno yang kini merebak di internet dan di hp anak-anak muda. Apalagi berpacaran,  kencan dengan si do’I, apel malam Minggu, makan di kafe remang-remang, nonton konser, dangdut, atau aktifitas apa saja yang berbau maksiat. Kini dalam acara pernikahan saja sudah mulai terkontaminasi oleh acara hiburan yang berbau maksiat. Ya, itulah tantangan kita semua. Tanpa menjauhi larangan Allah, nihil nilai ibadah kita dan sia-sia belaka shalat kita.

 Kedua, menjadi manusia yang kaya. Orang sering mengatakan bahwa orang yang kaya adalah orang yang mempunyai banyak uang, banyak harta, banyak rumah, banyak kendaran, mobil, tanah yang luas, dan lain-lain. Tetapi di mata Allah dan Rasulullah saw. Orang yang kaya adalah orang banyak amalnya, banyak ibadahnya, banyak berbuat baiknya. Seluruh kekayaan yang dimilikinya hampir seluruhnya dibelanjakan untuk jihad di jalan Allah swt seperti harta milik Abu Bakar  Al-Shiddiq, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan harta Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad saw. Beliau pernah bersabda : “Bukanlah termasuk orang kaya orang yang banyak harta, tetapi sesungguhnya orang yang kaya adalah orang yang kaya hati (hati yang selalu merasa kecukupan) atau hati yang senantiasa menerima bagian rizki dari Allah swt meski dalam keadaan tidak punya uang,  atau bahkan dalam keadaan sakit atau dipenjara. Karena sesungguhnya peristiwa yang menimpa pada diri seorang muslim seluruhnya baik dan akan menjadi sebuah pembelajaran dari Allah swt. Allah tidak akan pernah berbuat dzalim kepada hamba-Nya dan nasib yang menimpa pada seorang hamba meskipun menyakitkan adalah jalan yang terbaik di mata Allah apalagi sekedar tidak punya uang.

Ketiga, menjadi seorang muslim yang benar-benar muslim, bukan Islam KTP, bukan Islam abangan yang kini merebak di mana-mana, termasuk bukan Islam yang menyepelekan akad nikah sebagai ikatan suci, lantas dengan mudah melakukan kawin cerai- kawin cerai dan dengan seenaknya melakukan kawin kontrak, kawin sirri, sekedar menghalalkan hubungan seksual versi mereka. Menurut Rasulullah saw seseorang baru disebut muslim manakala berbuat baik kepada tetangganya- Ini ukuran minimal. Tidak mungkin seseorang dapat berbuat baik kepada tetangga jika dalam internal rumah tangganya berantakan. Maka dapat dipastikan rumah tangga yang broken home, yang sering cekcok, kawin cerai tidak sempat berbuat baik kepada tetangganya. Dan perlu diketahui bahwa rumah tangga (RT) adalah unsur yang amat penting dalam masyarakat. Jika unsur-unsur RT dalam masyarakat baik, maka menjadi baiklah masyarakat itu. Sebaliknya jika unsur-unsur RT dalam masyarakat itu buruk, maka menjadi buruklah masyarakat itu. Itulah, makanya Islam menekankan dan sangat memperhatikan tentang hukum keluarga, dan hampir dominan hukum keluarga dibahas dalam Alqur’an maupun hadis Nabi.

Rasulullah menyuruh kita agar membangun rumah tidak melebihi rumah tetangga dan menyuruh kita agar saat memasak makanan diperbanyak kuahnya untuk diberikan kepada tetangga, adalah perintah dalam rangka mempertahankan eksistensi keislaman kita. Lantas bagaimana keadaan masyarakat sekarang. Hampir-hampir sudah jauh dari norma-norma Islam yang sebenarnya. Dan mungkin hanya sekedar hidup bertetangga secara formal yang mungkin hanya sebulan atau dua bulan sekali  mereka bertemu di dalam rapat RT.

Keempat, menjadi orang yang sungguh-sungguh beriman atau mu’min sejati. Iman terletak di hati seorang manusia. Dan kita tidak dapat mengetahui seberapa dalam keimanan seseorang. Namun begitu Rasulullah saw menerangkan tentang indikator seseorang yang beriman kepada Allah. Beliau pernah bersabda : “Tidak termasuk orang yang beriman seseorang kecuali dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari Muslim). Zona untuk melakukan kebaikan lebih luas cakupannya (unlimitid) baik vertikal maupun horizontal, tidak sebatas tetangga, RT atau RW.  dan didasari oleh rasa cinta karena panggilan keimanan kepada Allah. Perilaku mu’min tersebut telah dicontohkan oleh Nabi Muhamad saw beserta shahabat-shahabatnya. Ketika datang tamu di rumah Baginda Rasulullah saw dalam keadaan haus, Rasul ke belakang lalu menanyakan kepada istrinya. “Wahai istriku, adakah air untuk seorang tamu yang kehausan?” Istri menjawab : “Ada, hanya segelas air susu jatah untuk Baginda”. Segelas air susu itu diambilnya oleh Rasulullah dan diberikannya kepada tamu itu. Jika Rasulullah kedatangan tamu dan kebetulan tamu itu hendak bermalam, beliau menawarkan kepada shahabat-shahabatnya. “Siapa di antara kalian yang siap menerima tamu untuk menginap di rumah kalian?”  Salah seorang shahabat kemudian mengacungkan jari dan menyatakan siap. Tamu itu kemudian dipersilahkan untuk ikut bersama shahabat tadi pulang ke rumahnya. Begitu sampai di rumah, ternyata di rumah tidak ada makanan kecuali satu piring untuk jatah anaknya. Istrinya kemudian disuruh supaya menidurkan anaknya. Dia mencari strategi bagaimana agar tamu itu mau makan satu piring bersama dia. Istri lalu disuruh mematikan lampu di ruang tamu yang sudah disediakan makanan satu piring untuk tamu. Begitu lampu mati dan dalam keadaan gelap-gulita. Dia mengambil piring kosong dan pura-pura makan bersama. Begitulah penghormatan shahabat Nabi kepada tamu itu meskipun anaknya belum makan.

Kelima, memiliki hati yang selamat atau steril dari penyakit hati yang umumnya hinggap di hati setiap insan, seperti : marah, iri, dengki, syirik, ujub, riya, takabur dan sombong. Bagaimana indikatornnya jika seseorang steril hatinya. Sedangkan di dunia ini, tak seorang pun tahu isi hati seseorang atau orang lain. Mengenai hal ini Rasul hanya menjelaskan bahwa biasanya seorang yang kotor hatinya itu banyak tertawa dan jarang meneteskan air mata dalam keheningan malam atau saat membaca Alqur’an atau berdzikir. Hatinya mengeras bagai batu, bahkan lebih keras daripada batu, seperti dijelaskan dalam Alqur’an surat Al-Baqarah ayat 74 :” Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Sebenarnya jika manusia patuh dan tunduk secara total kepada Allah atau dikenal dengan “Islam Kaffah”; masuk agama Islam secara total; tidak setengah-setengah, maka dengan sendirinya manusia akan steril  dari berbagai penyakit hati. Karena pedomannya atau buku panduannya yang membuat adalah Allah yang Maha Mengetahui. Hanya saja manusianya yang cenderung membangkang lagi bodoh.  

Anehnya, tidak sedikit manusia yang tidak merasa bodoh. Sehingga condong tidak bersemangat dalam melakukan eksplorasi, pengkajian dan studi tentang alam dan seisinya. Mereka lebih suka bertengkar dengan sesama daripada berpikir dan merenung serta memanfaatkan alam untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia. Muncullah image bahwa Islam agama terbelakang, agama untuk orang-orang miskin, pengangguran yang hidup di tepi sungai dan di kolong-kolong jembatan. 

Naudzu billah.


 

Jadilah Orang Bermanfaat

Menjadi Orang Bermanfaat
(Barangsiapa membantu kesusahan seorang mukmin dari beberapa kesusahan dunia, maka Allah akan membantu kesusahannya di hari Kiamat.)

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daraquthni dan Ath-Thabarani). Demikian bunyi sebuah hadits yang terkenal dan sering kita dengar, meski belum tentu kita telah mengamalkannya.


Imam Al-Munawi menjelaskan, bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada sesama. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berbuat baik atau membantu kesulitan seseorang, baik dalam masalah dunia maupun agama. Akan tetapi, hal-hal yang bermanfaaat dalam agama itu lebih mulia keutamaannya dan lebih kekal manfaatnya.

Suatu ketika, Hasan Al-Bashri menyuruh beberapa muridnya untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Dia berkata, “Temuilah Tsabit Al-Bunani dan pergilah kalian bersamanya.” Lalu, mereka mendatangi Tsabit yang ternyata sedang i’tikaf di masjid. Dan, Tsabit minta maaf karena tidak bisa pergi bersama mereka.

Mereka pun kembali lagi kepada Hasan dan memberitahukan perihal Tsabit. Hasan berkata, “Katakanlah kepadanya; Hai Tsabit, apa engkau tidak tahu bahwa langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama muslim itu lebih baik bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?”

Kemudian, mereka kembali menemui Tsabit dan menyampaikan apa yang dikatakan Hasan Al-Bashri. Maka, Tsabit pun meninggalkan i’tikafnya dan pergi bersama mereka untuk membantu orang yang membutuhkan.

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan beban penderitaan, membayarkan hutang, memberi makan, hingga menyisihkan waktu untuk menunggu tetangga yang sakit. Pimpinan yang baik juga bermanfaat bagi bawahannya, sebagaimana penguasa yang adil pun bermanfaat bagi rakyatnya. Bahkan, membuat orang lain menjadi gembira juga termasuk amalan bermanfaat yang dicintai oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membantu kesusahan seorang mukmin dari beberapa kesusahan dunia, maka Allah akan membantu kesusahannya dari beberapa kesusahan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan beban orang kesulitan, maka Allah akan meringankannya dalam urusan dunia dan akhirat.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Adalah ironi, jika banyak orang kaya yang lebih senang naik haji berulang kali daripada membantu kaum dhu’afa yang membutuhkan uluran tangan. Banyak juga orang kaya yang jor-joran membangun masjid mewah, sementara di sekelilingnya masih banyak kaum fakir miskin yang membutuhkan bantuan. Padahal, Allah tidak butuh disembah dengan indahnya masjid, maupun ibadah haji yang berulang-ulang.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Oleh : Abduh Zulfidar Akaha


Label

'idul adha adab dan sunnah adik saudara sepersusuan adzan air kencing bayi air kencing Rasulullah Akhirat akhlak Akhlaq Kepribadian Akhwat akidah Al Qur'an Al Qur#039;an Al Quran Al-Qur'an Alam Aliran-aliran Amalan AMALIYAH NU anak Analisa Angin Aqidah Aqiqah Artikel Artikel IImiah Asmara Astronomi ASWAJA Azab Bab Adab Bab Nikah Bab Puasa Bab Sholat Bab Thaharah Bab Zakat bantahan belajar islam Berita bersin Bid'ah bid'ah dalam aqidah bid'ah dalam ibadah Biografi Biologi Bisnis Blackberry Budaya Budi Daya buka puasa buku Cantik Fisik catatanku Cerpen Chairil Anwar Curahan Hati Curhat daging qurban Dakwah Dakwah Pemikiran Islam dakwah umum Dambaan insan Dari Salafushshalih Dasar Islam Dasar Keislaman demam Desain Dhaif Do'a do'a buka puasa Do'a dan Dzikir Doa doa bersama doa sholat tarawih download dunia islam Dunia Islam Kontemporer Dzikir dzikir dengan tangan kiri Ekonomi Eksoplanet Emansipasi Emha Ainun Nadjib Fakta Ilmiah Fakta Jin-Iblis-Syetan Fakta Manusia faraidh Fenomena Asteroid Fenomena Bencana Alam Fenomena Bintang Fenomena Bulan Fenomena Bumi Fenomena Hewan Fenomena Kutub Fenomena Langit Fenomena Matahari Fenomena Meteorit Fenomena Petir Fenomena Planet Fenomena Ruang Angkasa Fenomena Tumbuhan Fiqh Fiqh Muamalat Fiqh Wanita Fiqih Fisika Galaksi Geografi Geologi gerhana gigi palsu Hadis Hadis 40 hadist Hadits Hadits Palsu HAID Halal Haram HAM HARI RAYA ID HUKUM ISLAM hukum natal bersama hutang i'tikaf Ibadah ibadah yang baik ibu mertua ilmu ilmuan muslim Ilmuwan imam terlalu cepat bacaannya IMAN Inovasi intermezzo Internet Iptek iqomah isbal Islam jabat tangan setelah sholat JADWAL RAMADHAN Jagad Raya Jalaluddin Rumi jamaah sholat jumat jenazah Jual Beli judi junub Kabar Dalam Negeri kabar manca negara Kahlil Gibran Kajian Karya Buku Karya Ulama KB Keajaiban Alam Keajaiban Hewan KECANTIKAN Kecelakaan Maut Kehutanan Kelautan keluarga Kepemerintahan Kepengurusan Kerajaan Kesehatan Keuangan Keutamaan KHITAN Khitan Wanita khurofat Khutbah Khutbah Jum'at khutbah jumat Khutbah Rasulullah saw Kiamat Kidung Hati Kimia Kisah Kisah Kami Kisah Nyata Kisah Orang-Orang Shaleh Kisah Teladan Komputer Konversi Energi Kosmologi Kumpulan Do'a Kumpulan Kata lafadz adzan lafadz iqomah Lain-Lain Lalu Lintas lembaga sosial Lingkungan Hidup Lubang Hitam macam puasa sunnah mahram Makanan mandi jum'at mandi wajib Manhaj Manusia Manusia dan Teknologi masjid masjid quba Masuk Perguruan Tinggi Matahari Materi gelap Mayit media cetak memandikan jenazah membayar zakat memotong kuku memotong rambut mendahului gerakan imam menemani sholat jamaah menembok kuburan mengadzankan mayit di liang kubur mengangkat tangan menghadiahkan pahala mengqadha puasa menguburkan jenazah mengucapkan selamat natal mengusap kepala Mengusap muka setelah berdoa menikah di bulan syawwal menikah setelah berzina meninggal dunia Meninggalkan sholat jum'at menjawab adzan menjual kotoran hewan menyapu kepala menyentuh wanita Meteorologi Meteorologi-Klimatologi mihrab Mineralogi minum air zamzam Motivasi motivasi belajar Motivasi Beramal MQ (menejemen qolbu) mu'athilah Muallaf muamalah Muhasabah Mungkar murottal Muslimah Muslimah Articles Musyabbihah Mutiara Hikmah Mutiara Kalimat Mutiara Tafakur Nabi Muhammad Nagham Alqur'an Nasehat Neraka News niat sholat nikah nisfu aya'ban Oase Iman Olah Raga OLAHRAGA Otak PAKAIAN panas PAUD Pendidikan Penelitian penelitian sunnah Pengembangan Diri Pengobatan Akibat Sihir Peninggalan Sejarah Penjajahan Pentingnya Waktu Peradaban Islam Perbandingan Agama dan Aliran Perbankan Pergaulan Perkawinan Perkembangan Da'wah Islam Permata Hati pernikahan Personaliti Pesawat Ruang Angkasa Pesepakbola Muslim Pojok Ramadhan posisi imam wanita produksi awal program kerja Proyek Luar Angkasa Psikologi Puasa puasa daud puasa rajab Puasa Setiap Hari puasa sunnah puasa wanita hamil Puisi Puisi bahasa Ingris qunut nazilah QURAN radar lampung Radio Rajab Ramadhan ramalan cuaca Renungan Riba dan Jual Beli salafush shalih salah bacaan sholat Salam Khudam Sastra sedekah Sejarah Sejarah Islam SEKS Sentilan Seputar Daerah Buton Shalat shodaqoh shodaqoh melebihi kadar Sholat sholat dan keputihan sholat di rumah sholat ghoib sholat jamaah sholat jamaah estafet sholat jumat sholat jumat wanita sholat pindah tempat sholat qashar sholat sambil melihat mushaf sholat sendirian sholat sunnah sholat sunnah qobliyah isya sholat sunnah sebelum asar sholat sunnah setelah shubuh sholat takhiyatul masjid sholat wanita sifat dzatiyah sifat fi'aliyah Sihir Simpan Pinjam Sirah Siroh Shahabiyyah Software Islami Sosial Kemasyarakatan Sosiologi sujud sahwi sujud syukur sumpah dan nadzar Sunnah sutrah sutroh syafaat Syurga Tafakur Alam Semesta Tafsir Tafsir Al-Qur'an tahlilan Takbirotul ihram takwil mimpi tambal gigi tamsil Tanda Akhir Zaman Tanda-Tanda Kiamat Tanya jawab Tarbiyah Tasawwuf dan Adab tata cara tidur menurut sunnah Tata Surya Taufiq Ismail Tauhid tayammum Tazkirah Tazkiyah tazkiyatun nafs Tech News Teknik Sipil teladan Tenaga Kerja tertawa saat sholat Thoharoh tidak taat suami tinggi TK Tokoh Tokoh Dan Ulama Tokoh Islam Tools TPA Tsunami Tujuan Hidup tuntunan sholat uang pensiun dari riba uang riba ucapan assalamualaika UNCATEGORY Video da'wah video Motivasi Diri Video Muhasabah video murotal W. S. Rendra waktu membaca doa wanita wanita haid Wisata wudhu yasinan zakat zakat anak kepada orang tua zakat barang temuan zakat harta zakat harta warisan zakat hasil perkebunan zakat hasil pertanian zakat mal zakat padi zakat pns zakat tanah zina