Kamis, 01 November 2012

Memang Lidah Tak Bertulang

Lidah Tak Bertulang – Dusta atau berbohong, Ghibah atau menggunjing, Namimah atau adu domba, Suka mencela.

Mungkin judul di atas tidak berlebihan jika kita lihat realita yang ada sekarang. Anggota tubuh sekecil lidah dan tampak lemah itu ternyata mampu menyakiti hati serta memberinya bekas yang dalam. Kadang orang tidak menyadari saat dia berbicara ternyata telah menyakiti hati orang lain. Baik pria ataupun wanita pasti pernah melakukannya baik sengaja ataupun tidak sengaja, namun yang paling sering melakukannya adalah kaum wanita. Perlu diketahui bahwa lidah bisa menjadi sebab seseorang masuk surga ataupun masuk neraka, karena tidak ada satu pun kata yang kita ucapkan kecuali ada malaikat yang menulisnya. Mungkin di dunia kita bisa mengingkarinya namun di akhirat nanti mulut akan dikunci dan anggota badan lain yang berbicara.


Ada beberapa perbuatan yang merupakan tanda rusaknya lidah, di antaranya adalah:
  • Dusta atau Berbohong.
Berdusta merupakan salah satu dosa besar yang membawa pelakunya kepada kejelekan, dan kejelekan akan membawa pelakunya pada neraka. Tidak ada bedanya berbohong saat serius ataupun sedang bercanda, kedua-duanya haram hukumnya. Berdusta sama sekali bukan akhlaq seorang muslim, karena dusta merupakan perbuatan yang sangat hina. Bahkan orang kafir Quraisy di zaman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat anti untuk berbohong karena bohong bagi mereka merupakan ‘aib. Siapa saja orang yang sering berdusta, maka Allah akan mencatatnya sebagai pendusta.
  • Ghibah atau Menggunjing.
Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau ‘aib saudaranya ataupun kebaikannya yang mana jika saudaranya itu tahu, dia tidak menyukainya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa jika saudaranya ada di majelis itu, juga disebut dengan ghibah. Jadi tidak hanya menceritakan kejelekan saudaranya saja disebut bid’ah, tapi juga kebaikannya jika orang yang dibicarakan tersebut tidak menyukainya. Orang yang menggunjing saudaranya, menyebutkan ‘aib-‘aibnya hingga jatuh harga dirinya maka dia telah berdosa. Pelaku ghibah bagaikan memakan daging saudaranya dan mereka diancam dengan adzab di akhirat, yaitu kelak mereka akan mempunyai kuku-kuku yang terbuat dari tembaga yang digunakan untuk mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Siapa yang sanggup menerimanya? Namun sangat disayangkan, tiap hari masyarakat disuguhi dengan tayangan infotainment atau gosip yang jelas-jelas merupakan ghibah. Namun Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengampun, Dia mengampuni segala dosa selama orang tersebut bertaubat dan minta ampun termasuk dosa ghibah. Jika kita terlanjur menggunjing seseorang, maka kafaroh atau tebusannya adalah meminta ampun kepada Allah untuk kita dan orang yang kita gunjing. Lafadz do’anya adalah “Allahummaghfirly wa lahu”. Kemudian kita berusaha mengangkat kembali nama baik saudara kita di majelis yang kita pernah menjatuhkan namanya. Namun ada pengecualian mengenai ghibah ini, yakni boleh memperingatkan orang lain dari seseorang yang jahat atau sesat supaya selamat.
  • Namimah atau Adu Domba.
Namimah sangat tercela, tidak ada yang bisa melakukannya kecuali dengan lisannya. Namimah adalah menukil ucapan seseorang kemudian disampaikan pada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau menimbulkan permusuhan di antara kedua orang tersebut. Perbuatan ini merupakan dosa besar yang pelakunya diancam tidak akan masuk surga. Ada sebuah kisah di zaman nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berjalan dan melewati dua kuburan, ternyata penghuni kedua kuburan tersebut sedang disiksa karena dosa yang selalu mereka kerjakan. Yaitu yang satu suka berjalan di tengah manusia dengan menyebarkan namimah, dan satu lagi disiksa karena tidak menjaga dirinya dari najis ketika buang air kencing sehingga pakaian dan badannya terkena air kencing.
  • Suka Mencela.
Orang yang sering mencela orang lain biasanya terkumpul padanya akhlaq yang buruk, antara lain ujub yaitu bangga dengan dirinya sendiri, sombong yaitu menolak kebenaran dan mencela orang lain, tidak instropeksi diri, dan lain-lain. Allah Ta’ala dan Rosul-Nya melarang keras dari hal tersebut. Bahkan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa mencela seorang muslim tanpa sebab yang dibenarkan adalah kefasikan. Pernah dahulu ummul mukmunin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha mencela ummul mukminin yang lain dengan menyebutnya ”pendek”. Dengan kata itu saja sudah membuat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam marah, dan beliau bersabda bahwa kata-kata itu jika dimasukkan dalam lautan maka akan mencemarinya. Betapa buruknya perbuatan ini sampai Allah Ta’ala pun mencela perbuatan ini dengan surat az-Zalzalah. Mungkin tepatlah peribahasa “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”.

Itulah beberapa dari sekian banyak kerusakan lidah yang yang dapat berakibat buruk bagi pelakunya di dunia dan di akhirat. Hendaknya setiap diri kita berhati-hati dari terjatuh ke dalamnya, karena salah satu  sebab terbanyak seseorang masuk neraka adalah karena lidahnya. Kita mohon perlindungan dan keselamatan pada Allah subhanahu wa ta’ala.