Jumat, 19 Oktober 2012

Warna Keterkejutan Dalam Hidup Kita

Mensikapi Keterkejutan Yang Menyapa Kita

Saudaraku..
Dalam hidup, pasti kita pernah mengalami berbagai warna keterkejutan, di luar dugaan dan perkiraan kita. Baik dalam skala pribadi maupun jama’ah. Yang demikian itu, jika tidak kita sikapi dengan baik, terkadang membuat kita terpukul, hilang harapan, patah semangat, putus asa dan shok berat serta trauma berkepanjangan. Tapi kita sebagai insan beriman, sudah sepantasnya melihat berbagai persoalan yang mendera kita dan keterkejutan yang menyapa kita dengan kaca mata iman atau bathin. Sehingga kita dapat mendulang hikmah, memetik buah pelajaran dan terjauhkan dari putus asa dari rahmat Allah . Karena berputus asa dari rahmat Allah merupakan mental yang diwariskan orang-orang kafir kepada kita.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” Yusuf: 87.

Saudaraku..
Bencana alam yang datang bertubi-tubi silih berganti tak pernah henti menyapa negeri kita. Kemerosotan moral yang dialami oleh masyarakat kita, terlebih generasi mudanya. Politisi licin yang terus mendominasi di lingkaran kekuasaan dan parlemen. Sakit kronis mendera tubuh dan badai krisis yang menghantam diri. Hambarnya ukhuwah dan lemahnya pelita persaudaraan iman yang telah lama dibangun. Kepergian orang-orang dekat kita. PHK dari tempat kerja dan seterusnya. Itu semua merupakan contoh dari keterkejutan yang mungkin menyapa kita. Menyiapkan diri sebaik mungkin agar kita siap sedia menghadapi keterkejutan, merupakan upaya mengatur nafas dan pasang kuda-kuda menghadapi serangan keterkejutan yang datang secara tiba-tiba, tanpa memberi aba-aba dan mengetuk pintu hati kita.

Saudaraku..
Syekh Mustafa Siba’i, dalam salah satu karyanya “hakadza ‘alllamatnil hayat”, membagi pengalamannya kepada kita, mengenai kiat-kiat menghadapi keterkejutan. Ia menulis: 

Jangan panik jika bencana datang menyapa kita, dan jangan pernah berputus asa, sebab ia pasti akan berlalu.
Jika zaman telah berubah jangan membuat kita terkejut karenanya, dan jangan membuat kita berkeluh kesah.
Jika kita rasakan sahabat telah banyak berubah, jangan terpancing untuk mengobral aib dan kekurangannya kepada orang lain.
Jangan terkejut jika sakit kronis mendera kita, dan jangan mengeluarkan suara rintihan keras pertanda kita terpukul karenanya.
Jika kita saksikan masyarakat telah terpuruk, jangan pernah kita remehkan perkara tersebut.
Jika kita diperintah oleh orang-orang yang berperangai buruk, jangan pernah terkejut dan berputus asa, sebab suatu saat jatah kekuasaan mereka akan usai.
Jika kita disapa penyakit yang mendera tubuh, jangan berputus asa dari rahmat-Nya.
Jika kita melihat dunia tak seperti yang kita damba, ketahuilah bahwa hal itu merupakan sunnah kehidupan.
Jika kejahatan menyebar di sebuah negeri, berbuatlah semampu kita untuk mencegahnya. Jika tidak, tunggulah sampai kesempatan itu datang menyapa kita untuk merubahnya.
Jangan pernah berputus asa menyaksikan masyarakat tempat kita hidup tengah terjangkit penyakit berbahaya, yang membuat kening kita berkerut menahan sakit.
Jika kebohongan dan kebathilan menjadi barang yang laris manis di masyarakat, jangan pernah ragu bahwa suatu saat nanti pasti Allah akan membuka kedok kepalsuan itu.

Saudaraku..
Bila kita merenungi nasihat guru kita dari Siria di atas, dapat kita himpun kiat-kiat menghadapi keterkejutan yang menyapa kita adalah sebagai berikut:

Menghindarkan diri dari segala warna kepanikan.
• Sikapi keterkejutan itu sebagai bentuk ujian Allah Swt.
• Keterkejutan merupakan sunnah kehidupan (garis ketetapan hidup) atau takdir Ilahi.
• Kembalikan segala persoalan kepada Allah Swt.
• Tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt.
• Ada usaha maksimal dan ikhtiyar mencari sebab serta mengambil peran aktif menyisiri keterkejutan hidup.

Saudaraku..
Jika keenam hal tersebut mampu kita siapkan dalam hidup ini, insyaallah kita dapat melewati keterkejutan dengan tenang tanpa ada kepanikan berlebihan. Justru keterkejutan dapat kita maknai sebagai hentakan teguran dari-Nya dan sapaan kasih sayang dan cinta-Nya. 

Wallahu a’lam bishawab.