Minggu, 28 Oktober 2012

Ujian Hidup Pastilah

Cara Elegan Menghadapi Ujian Hidup

Setiap orang pasti akan menerima ujian dalam hidupnya. Allah akan memberikan ujian kepada semua hamba-Nya, baik itu yang taat maupun yang ingkar. Hanya saja, porsi ujian kepada hamba-Nya yang taat biasanya lebih besar. Jadi, berbahagialah jika Anda selalu menerima ujian karena itu artinya Allah sangat menyayangi Anda.


Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa seorang sahabat bertanya, “Siapakah paling keras mendapatkan ujian?” Rasulullah Saw  bersabda, “Nabi dan pengikutnya. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar agama, jika kadar beragamanya kuat, ujiannya semakin keras. Jika kadar beragamanya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Seorang hamba akan sentiasa diuji sampai dia akan dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa kesalahan.” ( H.R. Tirmidzi )

Lalu, pertanyaannya, bagaimanakah agar kita bisa melalui ujian tersebut dengan ikhlas? Tentu saja, Anda harus menghadapinya dengan tenang dan tetap berpegang teguh kepada kehendak Allah Swt. 

Untuk membantu Anda mencapai hal itu, berikut ini akan dipaparkan beberapa trik untuk menghadapi ujian.

1. Jangan putus asa dalam berdoa
Allah berjanji, “Berdoalah kepadaku niscaya akan kukabulkan doamu.” ( Q.S. Al-Mu’min [40]: 60 )
Harus dicatat, saat memanjatkan doa kepada-Nya kita harus menyertakan juga jiwa optimistis, jangan bersikap pesimis. Belum apa-apa sudah berkesimpulan kalau Allah tidak akan mengabulkan doa yang dipanjatkan.

Rasulullah Saw  bersabda, “Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah Swt, mohonlah langsung ke hadirat-Nya dengan keyakinan bahwa doamu akan dikabulkan karena Allah tidak akan mengabulkan doa yang keluar dari hati yang pesimis” ( H.R. Ahmad )
Berbaiksangkalah, Allah pasti akan mengabulkan doa kita.

2. Jangan putus asa dalam rahmat Allah
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw  bersabda, “Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt  dan berpegangteguhlah pada keyakinan kalian. Ketahuilah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang selamat karena amal perbuatannya.” Sahabat bertanya, “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.”

Secara eksplisit, keterangan tersebut menegaskan bahwa yang akan menyelamatkan kita adalah rahmat Allah Swt  bukan amal semata. Artinya, seandainya memerlukan amal saleh, belum tentu amal saleh tersebut bisa menyelamatkan kita kalau tidak disertai dengan rahmat Allah. Apa yang dimaksud dengan rahmat Allah? Yaitu, cinta kasih-Nya yang tiada batas.

3. Sabar dalam menghadapi musibah
Ketika ujian datang, janganlah terus-terusan mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bangkitlah, hadapi semua dengan tenang dan sabar. Berbaiksangkalah kepada Allah. Pasti ada hikmah di balik musibah. Kesabaran dalam menghadapi musibah bisa menjadi penggugur dosa-dosa kita.

“Dan sesungguhnya, Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut ( kepada musuh ) dan kelaparan, dan kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 155)

4. Syukur
Syukur adalah menggunakan nikmat Allah secara proporsional. Dengan kata lain, nikmat yang kita terima harus dimanfaatkan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki-Nya. Misalnya, nikmat harta harus diinfakkan, ilmu harus diamalkan, umur harus digunakan untuk ibadah, dan sebagainya. Jadi, syukur mempunyai makna yang sangat luas, bukan sekadar getaran terima kasih yang terungkap dalam hati, mengucapkan dalam lidah, atau mengadakan syukuran. Hal terpenting adalah memanfaatkan semua karunia Allah pada jalan yang diridhai-Nya.

Insya Allah, jika keempat poin tersebut dijalankan, tidak akan ada lagi perasaan putus asa atau merasa diabaikan oleh Allah Swt.  Allah menyayangi semua makhluk-Nya. Dan, kadar cinta itu menjadi lebih besar kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, mereka yang senantiasa bisa mengambil hikmah dari setiap musibah yang dihadapinya. Ingatlah, Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dihadapi oleh hamba-Nya.   
 
Wallahu A’lam
Oleh : Ustadz Aam Amiruddin