Rabu, 31 Oktober 2012

Sosok Pemimpin Itu Mengayomi

Karakter Pemimpin Idaman

Pemimpin adalah sosok yang diandalkan dalam suatu komunitas, dihormati, dikagumi, dicintai, dan disayangi oleh rakyatnya. Tetapi tidak dapat dipungkiri, banyak pemimpin yang mendapatkan apresiasi yang sebaliknya, mereka dihina, dibenci, dan direndahkan oleh masyarakat yang ia pimpin. Sehingga tidak perlu heran jika sosok pemimpin dijadikan indikator baik buruknya suatu komunitas yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin mempunyai kewajiban yang pokok mengayomi dan menyejahterakan rakyat yang ia pimpin. Oleh sebab itu rakyat dalam memilih pemimpin tidak boleh sembarangan dan mementingkan kehidupan pribadinya, karena kepemimpinan tersebut menyangkut kehidupan orang banyak. Dalam memilih pemimpin harus ditelaah terlebih dahulu dan potensi yang ia miliki, sikap dan kepribadiannya sehari-hari, dan aspek-aspek lainnya.

Dalam sejarah banyak kita temukan contoh-contoh pemimpin yang baik dan yang buruk, yang sukses dan yang gagal, oleh karena itu kita bisa berkaca pada sejarah sosok pemimpin seperti apa yang pantas menduduki kursi pemimpin, termasuk pemimpin di negara kita yakni Presiden Republik Indonesia. Ada beberapa kriteria yang diharapkan dan seharusnya ada dalam diri seorang pemimpin, antara lain sebagai berikut:

1.    Beriman pada Tuhan

“Mengapa seorang pemimpin harus beriman?”, sebagai seorang pemimpin tentu kekuasaan tertinggi ada digenggamannya, ada beberapa sistem kepemimpinan yang menyatakan bahwa keputusan pemimpin adalah mutlak, sehingga dalam hal ini seorang pemimpin berpotensi menjadi pribadi yang angkuh, dan merasa menjadi orang yang paling berkuasa. Nah, disinilah letak peran keimanan seorang pemimpin, ketika ia beriman kepada adanya sang maha perkasa, dan sang maha berkuasa, ia akan sadar bahwa kekuasaan yang ada ditangannya tidak lah seberapa, dan sadar kekuasaannya adalah titipan dari tuhan untuk dijalankan sebaik-baiknya. Sehingga keimanannya kepada tuhan dapat menjadi pengontrol agar tidak bersikap semena-mena pada rakyatnya.

Kita dapat melihat contoh dari Nabi Muhammad SAW, pada saat itu beliau tidak hanya menjadi pemimpin agama tetapi juga pemimpin dalam pemerintahan umat Islam, namun besarnya kekuasaan yang ada ditangannya tidak membuat ia menjadi pemimpin yang angkuh dan semena-mena karena keyakinannya pada Allah SWT.

2.    Berani

Seseorang pemimpin sudah seharusnya memiliki sifat pemberani. Apa jadinya suatu pemerintahan jika sang pemimpin adalah orang yang pengecut. Pemimpin harus berani menghadapi segala permasalahan, berani memberantas kemungkaran, berani saat ia benar, berani saat keselamatan rakyatnya terancam. Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab RA, Shalahuddin Al-Ayyubi adalah sosok-sosok pemimpin yang berani, mereka berani mempertahankan keselamatan rakyat yang terancam, berani menumpas segala bentuk kemungkaran, dan berdiri dibarisan depan saat terjadi perang. “Adakah pemimpin yang seperti itu saat ini?, Wallahu A’lam”.

3.    Penakut

Mungkin beberapa orang tidak setuju jika penakut dimasukkan dalam kriteria pemimpin, namun jika ditelaah, sifat penakut ternyata juga dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Banyak yang beranggapan berani dan penakut adalah sifat yang kontradiksi, ternyata kedua sifat ini bisa berjalan beriringan dan saling mendukung. Contohnya, ketika seseorang yang takut pada hantu berada di depan bangunan tua yang terkenal angker, ketika di belakangnya ada seekor anjing menggonggong keras dan mengejarnya, secara spontan rasa takutnya pada anjing menumbuhkan keberanian untuk memasuki bangunan tua yang angker untuk lari dan bersembunyi dari kejaran si anjing.

Adapun sifat penakut pada pemimpin berfungsi sebagai pengontrol, contohnya: rasa takutnya akan kebencian rakyat pada dirinya, membuat ia tidak jadi melakukan korupsi, rasa takutnya pada kemurkaan dan siksa tuhan membuatnya menjauhi berlaku semena-mena dan berlaku tidak adil. Contoh: Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dinasti Umayyah, sewaktu bekerja dikantor menggunakan cahaya dari lampu minyak, kemudian anaknya datang ingin bertemu dengannya. Umar langsung bertanya,”Masalah apa yang ingin kau bicarakan?, menyangkut kepentingan Negara atau keluarga?”, anaknya menjawab ”kepentingan keluarga ayah”. Lalu Umar memadamkan lampu didekatnya sehingga ruangan menjadi gelap. Sang anak bertanya “mengapa kita bicara dalam keadaan gelap?” Umar menjawab “minyak lampu ini dibeli dengan uang rakyat, maka harus digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan aku pribadi atau pun keluargaku”.

4.    Merakyat

Sifat merakyat seyogyanya ada dalam diri seorang pemimpin agar ia dapat melihat langsung bagaimana keadaan rakyat yang ia pimpin, sehingga dapat langsung ditindaklanjuti segala keluhan dan kekurangan. Contoh: Umar bin Khattab saat menjadi Khalifah hampir setiap malam ia menyamar dan berkeliling melihat keadaan rakyatnya secara langsung, dan pada suatu malam ia menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk mengelabui anak-anaknya yang kelaparan supaya bisa tidur, karna keluarga ini tidak mempunyai sesuatu apapun untuk dimakan, saat itu juga Umar mengambil gandum dari Baitul Maal dan mengangkat gandum itu dengan tangannya sendiri, lalu ia berikan kepada sang ibu tersebut untuk dimakan bersama anak-anaknya. Bisa dibayangkan betapa mulianya seorang pemimpin yang seperti itu.

5.    Pintar Merasa

Penulis teringat nasehat seorang Ustadz, saat penulis masih di pesantren, beliau berkata, “jadilah kamu orang yang pintar merasa, bukan orang yang merasa pintar”. Kalimatnya sangat sederhana tapi dalam maknanya. Seseorang pemimpin seharusnya pintar merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya, sehingga dalam bertindak pun ia akan hati-hati, bisa saja itu menyakiti rakyatnya, dan bagaimana rasanya seandainya ia dalam posisi sebagai rakyat. Contoh: dalam suatu riwayat dikatakan, pada masa pemerintahan Umar RA, umat muslim mengalami musim paceklik/kekeringan, dengan segala cara Umar mengupayakan ketersediaan pangan bagi rakyatnya, bahkan ia tidak memakan gandum dan madu jatahnya, karena takut ada umat muslim yang tidak mendapat bagian makanan. Ia hanya memakan sisa-sisa gandum dengan minyak jelantah. Tentu saja itu tidak cukup dan perutnya selalu berbunyi minta diisi, akan tetapi Umar malah berkata, “berkeronconganlah kau sepanjang hari, aku tidak akan mengisimu sampai semua rakyatku merasa cukup dan kenyang”, Subhanallah.

6.    Adil

Sudah tidak diragukan lagi sifat adil adalah syarat dari seorang pemimpin, karena sudah pasti dalam kehidupan masyarakat terjadi perselisihan dan permasalahan, seorang pemimpin harus bisa menyelesaikannya dengan adil. Drs. H. Suis Qaim A, M.Fil.I, salah satu dosen dari Fak. Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya dalam ceramahnya menyatakan,”dunia masih berdiri tegak karena 4 unsur: Ilmu Ulama, doa fakir miskin, kedermawanan orang kaya, dan keadilan seorang pemimpin.”

7.    Tegas

Sikap tegas harus dimiliki seorang pemimpin, jika ia bersalah maka harus dihukum, jika ia benar maka wajib dibela. Tidak bersikap plin-plan yang menimbulkan ketidakjelasan dalam tata masyarakat. Contoh: Umar RA bersikap tegas dalam menegakkan hukum Islam, ia pernah menghukum cambuk anaknya sendiri sampai meninggal dunia, yang dilaporkan melakukan perzinaan.

8.    Berhati Nurani

Sikap tegas pemimpin memang diperlukan namun dalam menegakkan keadilan, namun terkadang dibutuhkan juga hati nurani, agar seorang pemimpin bisa berlaku adil. Penulis teringat pada kasus seorang nenek yang mencuri kakao untuk menyambung hidup, sang nenek pun diadili dan diberi hukuman ditahan dan ganti rugi, memang sesuai ketegasan hukum nenek tersebut harus dihukum, akan tetapi apakah pantas nenek yang sudah tua renta mendekam di penjara?, kemanakah pemerintah yang katanya menjamin kesejahteraan rakyatnya? Sampai seorang nenek harus mencuri hanya untuk makan, dan bagaimana dengan para koruptor yang menelan ratusan juta rupiah dengan wajah tanpa dosa?. Terkadang keadilan tidak bisa dicapai hanya dengan ketegasan hukum, akan tetapi dibutuhkan hati nurani.

9.    Pluralistis

Seorang pemimpin tidak seharusnya menghapuskan kemajemukan, akan tetapi harus menghargainya. Seperti Indonesia, masyarakatnya yang serba pluralistis, pemimpin harus mengatur bagaimana kemajemukan ini bisa dipersatukan dan dipersaudarakan. Contoh: saat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, nabi mempersatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, baik yang muslim atau tidak, Nabi menghargai perbedaan tersebut  dan dibentuklah Piagam Madinah yang mengatur masyarakat Madinah yang Majemuk. Indonesia seharusnya dapat mencontoh hal tersebut, terlebih Indonesia mempunyai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

10.    Mampu Memimpin Diri Sendiri

Bagaimana mungkin seorang pemimpin memimpin rakyatnya dalam jumlah banyak, sedangkan ia belum bisa mengatur dirinya sendiri, belum bisa menahan diri dan nafsunya, belum bisa memperbaiki akhlaknya. Seorang Kyai dari pesantren tempat penulis bersekolah dulu pernah berkata, “orang yang tidak bisa dipimpin, tidak akan bisa memimpin.” Contoh: dari riwayat para sahabat mengatakan, “Nabi Muhammad tidak pernah memerintah sesuatu sebelum ia melakukannya lebih dahulu, dan tidak pernah melarang sesuatu sebelum ia menjauhinya lebih dahulu.” Yazid bin Muawiyah saat masih muda terkenal suka berfoya-foya dan minum minuman keras, saat ia naik tahta, roda pemerintahannya jauh dari harapan kaum muslimin.

11.    Berpengetahuan

Seorang pemimpin tentu harus memiliki keilmuan yang mumpuni untuk memimpin masyarakatnya, dan menyelesaikan segala permasalahan, keilmuan yang dimiliki dapat membantu menjalankan roda pemerintahan. Contoh: Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun, kedua Khalifah dari dinasti Abbasiyah ini memiliki keilmuan yang tinggi, mereka mencintai berbagai macam ilmu pengetahuan, menerjemahkan buku-buku dari berbagai macam disiplin ilmu ke dalam Bahasa Arab, kegiatan ini pun menambah keilmuan rakyatnya, sehingga muncullah ilmuan-ilmuan islam yang diakui diseluruh dunia seperti Ibnu Sina, Al-Ghazali, Al-Farabi, Ar-Razi, Az Zamakhsyari yang berjasa besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan mengangkat derajat Islam. Seandainya saja Indonesia memiliki pemimpin seperti itu.

12.    Sederhana

 
Kesederhanaan melatih seseorang untuk tidak menjadi tamak dan gila harta atau pun dunia. Seorang pemimpin tidak sepantasnya memimpin untuk kepentingan duniawi dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, seperti para koruptor di negeri ini. Pemimpin yang sederhana tidak akan mudah goyah dengan iming-iming harta kekayaan, ia akan tetap mengutamakan kesejahteraan rakyat dibandingkan kesejahteraan pribadi.

Contoh : Ahmadinejad Presiden Iran adalah sosok yang sederhana, ia tidak mengambil gajinya sebagai presiden, pernikahan anaknya pun diselenggarakan dengan sangat sederhana dan ala kadarnya. Terbiasa tidur di atas karpet biasa bukan kasur yang empuk.

Said bin Amir, saat diangkat menjadi gubernur di daerah Himsh, ia menolak menerima gaji, dan pada saat utusan dari Himsh menghadap khalifah Umar, ia meminta daftar nama orang fakir miskin di daerah himsh untuk disantuni, alangkah terkejutnya ketika ia menemukan nama Said bin Umar. Umar bertanya: Siapakah Sa’id bin Amir ini?.” Mereka menjawab, “Gubernur kami.” Umar berkata, “Gubernurmu fakir?” Mereka berkata, “Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari tidak terlihat asap mengepul dari atap rumahnya.” Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar untuk diberikan pada Said, ketika diberikan pada Said, ia malah membagikan uang itu pada rakyatnya yang fakir, bukan untuk dirinya, Subhanallah.

Ketika seseorang menjadi pemimpin ia akan disuguhi oleh dua pilihan, yaitu menjadi pemimpin yang baik atau menjadi pemimpin yang buruk. Kedua-duanya bisa ia capai, karena kedua pintu menuju jalan yang baik dan buruk terbuka lebar, tergantung bagaimana sang pemimpin tersebut bersikap, dan menjalankan roda kepemimpinannya. Semoga saja pemimpin yang akan memimpin Indonesia adalah pemimpin yang baik. 

by. Roby Yansyah
Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya
E-mail: edogawaconan24@ymail.com