Rabu, 31 Oktober 2012

Sabar Dan Rela Menghadapi Takdir Allah

Sifat Rela dan Menerima Takdir Allah 

Apabila seseorang mukmin berlaku sabar dalam menghadapi musibah, dan berlaku demikian karena ingin mendapat pahala dari Allah, maka Allah takkan mengecewakannya. Bahkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. 
 
Hendaknya seseorang berlaku sabar ketika musibah menimpanya, karena hal ini merupakan batu ujian baginya. Apabila ia rela, maka ia akan mendapat kerelaan dari Allah. Dan apabila ia berlaku tidak rela, maka Allah pun akan murka kepadanya. 
Rasulullah SAW bersabda :

 إن عظم الجراء من عظم البلاء وان الله اذا حب قوما ابتلاهم, فمن رضي فله الرضى, ومن سخط فله السخط (رواه الترمذى وابن ماجة
“Sesungguhnya, agungnya pahala itu terletak pada besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mencobanya. Maka barangsiapa rela menghadapinya, Allah akan merestuinya, dan barangsiapa yang berlaku sebaliknya, maka Allah akan murka kepadanya”.( Hadits riwayat Turmudzi dan Ibnu Majah ) 
Obat yang paling mujarab bagi orang yang tertimpa musibah ialah berlaku taat kepada Allah dan menjalankan perbuatan yang diridlainya. Karena, rahasia cinta kepada Allah itu ialah berlaku sabar dan rela dalam menghadapi takdir-Nya. 
Apabila musibah yang menimpa seseorang dapat mengakibatkan ia tersesat dan meninggalkan kewajiban-kewajiban, serta melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, maka ia termasuk golongan orang-orang yang binasa. Dan apabila musibah itu menyebabkan seseorang makin menentang hukum-hukum Allah dan mengancam kebijaksanaan-Nya, maka ia termasuk orang-orang kafir zindik. 
Tetapi, jika musibah itu dapat menambah kesabaran dan teguh dalam menghadapi segala macam musibah, maka ia termasuk golongan orang-orang yang sabar. Dan mereka termasuk orang-orang yang terdekat dengan Allah, dan yang khusus mendapat kecintaan-Nya. 
Dalam hal ini Allah telah berfirman : “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku sabar”. (QS. 3 : 146). 
Dan apabila musibah dapat membuat seseorang bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya, maka ia termasuk orang-orang yang bersyukur dan memuji Allah. Kelak, ia akan mendapat pahala yang agung dari Allah. 
Rasulullah bersabda :

 اذا مات ولد العبد قال الله للملائكته : قبضتم ولد عبدى؟ فيقولون نعم, فيقول : قبضتم ثمرة فؤاده فيقولون : نعم, فيقول : ماذا قال عبدى فيقولون : حمدك واسترجع فيقول الله عز وجل ابنوا لعبدى بيتا فى الجنة وسموه بيت الحمد (رواه الترمذى
“Apabila anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikat : “Kamu telah mencabut (nyawa) anak hamba-Ku?”. Para malaikat menjawab : “Ya”. Kemudian Allah berfirman : “Apa yang dikatakan hamba-Ku?”. Para malaikat menjawab : “Ia memuji-MU dan berlaku sabar mengharapkan pahala-Mu”. Allah lalu berfirman pada mereka : “Bangunkanlah sebuah gedung di surga buat hamba-Ku kemudian berilah nama Baitulhamd”( Hadits riwayat Turmudzi). 
Apabila musibah menimpa perasaan cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengan-Nya, ia tergolong orang-orang yang ikhlas dan golongan orang-orang yang terdekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda :

 من احب لقاء الله أحب الله لقاءه (رواه مسلم والنسائى
 “Barangsiapa yang rindu bertemu dengan Allah, maka Allah pun akan merindukan bertemu dengannya”.( Hadits riwayat Muslim dan An-Nasai ) 
Setiap orang, hendaknya berlaku hati-hati ketika tertimpa musibah. Janganlah mengucapkan perkataan negatif yang bisa meleburkan pahala dan membuat murka Tuhannya. Sekali-kali janganlah menuduh Allah berlaku aniaya terhadap dirinya. Karena Allah selalu berbuat adil dan tak akan menganiaya seseorang. Allah Maha Mengetahui tak pernah keliru atau bodoh, dan Allah Maha Bijaksana, tak pernah menakdirkan sesuatu kecuali karena terkandung hikmah. Allah SWT berhak memberi dan mengambil, tak ada yang berhak mempertanyakan apa yang diperbuat-Nya. Allah berbuat menurut kesukaan-Nya, dan Allah Maha Kuasa terhadap hamba-hamba-Nya. 
Beliaulah yang berfirman : 
 
 “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”. (QS. 6 : 17).