Rabu, 31 Oktober 2012

Rezeki Dalam Al-Qur'an

Rezeki dan Peranan Umat Islam
 
Jika agama Yahudi lebih condong ke segi materiilnya dan agam Kristen ke segi rohaniahnya, maka agama Islam menduduki tempat tengah di antara keduanya, yang menghimpun antara kebutuhan-kebutuhan materieel dan spiritueel, antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat.
Dengan demikian maka ummat Islam adalah umat yang ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan risalah yang membawa manusia mencapai kesempurnaan materieel dan spiritueel. Allah berfirman; 
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah 143). 
 
Pengarahan tentang Rezeki dalam Al-Qur'an 

Sesungguhya agama Islam mempunyai pandangan yang luwes dan tidak kaku ketat tentang urusan-urusan duniawi, namun ia memberi pengarahan kepada umatnya agar jangan terlampau condong kepada salah satu bagian dengan mengurangi perhatiannya kepada bagian yang lain. Pengarahan-pengarahan itu berupa peringatan bahwa: 
  • Hidup di dunia adalah jalan ke akhirat, dan tidak ada kemungkinan akan hidup kekal di dalamnya. Karenanya orang harus ingat akan risalah yang diciptakan Tuhan untuk memenuhinya, yaitu beribadah kepada Allah dan berlindung serta kembali kepada-Nya. 
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Adz-Dzariaat 50). 
  • Bahwa kehidupan di akhirat adalah kekal dan lebih mulia, karena patut diutamakan dan didahulukan; 
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’laa 16-17).

“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabuut 64). 
  • Orang hendaklah memperteguh kemauannya, dan mengikat diri dengan ketentuan halal dan haram, menundukkan nafsunya kepada hukum-hukum syari’at dan kepada pertimbangan akalnya. Allah berfirman: 
“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”(An-Nazi’at 40-41).