Rabu, 24 Oktober 2012

Puasa Arafah Sayang Jika Kita Diliwati

Mari Berpuasa Arafah

“Di dalam surga terdapat delapan pintu, padanya ada pintu yang dinamakan Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa” (H.R. Bukhari)

Dalam ingatan kita tentunya masih hangat semangat memaksimalkan ibadah pada bulan Ramadhan. Bulan penuh hikmah yang menjadi kesempatan besar bagi kita untuk memperbaiki diri bahkan kembali menuju fitrah. Memasuki bulan Dzulhijjah, kita juga memiliki kesempatan untuk menyempurnakan perbaikan diri yang mungkin belum terasa maksimal saat bulan Ramadhan lalu.


Imam Al-Bukhari dalam salah satu riwayat hadisnya, dari Ibnu Abbas R.A., Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini. Lalu sahabat bertanya, “Tidak juga jihad?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa suatu apapun (H.R. Bukhari

Menurut Muhammad Yajid Kalam, manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB, salah satu referensi shahih mengenai amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat diketahui dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. “Berdasarkan hadis riwayat Bukhari tersebut, para ulama berpendapat amalan yang dapat dilakukan di sepuluh hari di awal Dzulhijjah bisa berupa amalan apa saja, yang terpenting kegiatan yang dilakukan merupakan amal keshalehan, misalnya puasa pada 1-9 Dzulhijjah, terutama puasa pada hari ke-9 yang dikenal dengan puasa Arafah,” ungkapnya. Dalam sejarahnya, kemunculan puasa Arafah berkaitan dengan umat Islam pada generasi awal. Ketika itu, umat ini memiliki semangat besar untuk belomba dalam kebaikan.

Saat yang lain berkesempatan melakukan ibadah haji (wukuf arafah), muncullah keingintahuan mereka yang belum berkesempatan melaksanakan haji (wukuf di arafah) agar memiliki kesempatan untuk beribadah pula. Kemudian, untuk mereka yang berkesempatan melaksanakan haji ada wukuf. Sementara untuk mereka yang belum berkesempatan melaksanakan wukuf, bisa melaksanakan puasa Arafah. Keutamaan puasa arafah ialah dapat menghapus dosa yang menunjukkan besarnya pengampunan Allah SWT, seperti yang diriwayatkan H.R. Muslim:

“(Puasa pada hari itu) menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang berikutnya (H.R. Muslim)”

“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka seperti hari Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian membangga-banggakan mereka (para jemaah Haji) dihadapan para malaikat ” Lalu Dia bertanya, “Apa yang diinginkan oleh para jema’ah Haji itu?” (H.R. Muslim)

Sama halnya dengan puasa pada umumnya, puasa Arafah juga memiliki keutamaan lain yang bisa menjadi kesempatan yang sangat disayangkan jika terlewatkan, misalnya keutamaan akan doa yang tidak akan ditolak. Saat berpuasa Arafah, kita juga memiliki kesempatan meningkatkan perbaikan diri lebih baik lagi dengan melakukan amalan baik lainnya, seperti memperbanyak shalat sunah selain shalat wajib, memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil (berdzikir), terutama pada pagi dan sore hari.

Maha Pemurah Allah yang memberikan begitu banyak kebaikan dan kesempatan kepada Hamba-Nya untuk selalu memperbaiki diri. Yuk, semangat puasa Arafah. (by.Suci Iswara)