Selasa, 16 Oktober 2012

Orang Hidup Tak Ubahnya Seperti Mati?

Sebenarnya Ia Telah Mati

Saudaraku…
Pada suatu hari Hudzaifah bin Yaman ra pernah ditanya seseorang mengenai orang hidup tapi tak ubahnya seperti mati?.
Ia menjawab:


اَلَّذِيْ لاَ يُنْكِرُ الْمُنْكَرَ بِيَدِهِ وَلاَ بِلِسَانِهِ وَلاَ بِقَلْبِهِ

“Yaitu orang yang tak mencegah kemungkaran dengan tangannya, tidak juga dengan lisan dan hatinya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami). 
 
Saudaraku..
Jangan terpesona dengan tampilan luar. Rajin mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Jubah yang selalu dikenakan. Peci dan sorban yang menyertai kemana ia pergi. Mushaf al Qur’an yang selalu dibawa kemana-mana. Tasbih yang tergenggam di tangan. Dan seterusnya. Jika dalam kesehariannya, ia tak pernah memberi warna keshalihan kepada orang lain. Tak pernah berbagi kebaikan dan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pernah ada upaya untuk menghilangkan virus maksiat dan mencabut akar dosa di lingkungannya. Bahkan ia membiarkan menjalarnya wabah kebodohan dan penyimpangan akidah, akhlak dan pemahaman agama di tengah-tengah masyarakat.

Sejatinya ia telah mengalami kematian bathin. Walaupun ia hidup secara zahir. Jantung ruhaninya telah berhenti berdetak walau raganya masih tetap bergerak. Wujuduhu ka’adamihi, keberadaannya seperti tiada. Itulah pribahasa Arab untuk membahasakan seseorang yang tidak memberikan andil dan peran postitif di masyarakatnya.

Saudaraku..
Kita tentu tidak ingin mengalami kematian ruh sebelum kematian jasad. Oleh karena itu perlu kita buktikan bahwa kita masih layak dikelompokkan sebagai orang yang hidup. Yang bisa menjauhkan mudharat dan mara bahaya bagi diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Jika kita memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka kekuatan dan kekuasaan itu kita pergunakan untuk mendatangkan maslahat, kebaikan dan kebajikan untuk masyarakat. Memblokir dan bahkan menghalangi dan menutup semua jalan yang dapat mendatangkan dosa dan maksiat.

Jika suara kita didengar oleh umat. Karena kita sebagai kyai, ustadz, penceramah dan yang senada dengan itu. Maka dengan lisan kita berjihad, bersungguh-sungguh mentransfer pemahaman yang benar ke dalam hati dan akal masyarakat. Menyingkirkan duri dosa dan maksiat yang dapat mencelakakan umat. Mengingatkan mereka dari perilaku dosa dan kecerobohan yang dapat melemparkan mereka ke dalam neraka. Juga mendekatkan masyarakat kepada perilaku ahli surga. Yang mana kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit di dalam hati manusia.

Saudaraku..
Sebagai masyarakat umum alias awam. Kita pun tak bisa tinggal diam membiarkan bakteri maksiat dan dosa menyebar dan mewabah di tengah-tengah masyarakat. Minimal kita membentengi diri kita dan keluarga kita agar tak terjangkit wabah berbahaya tersebut. Jika masing-masing keluarga memiliki pemahaman seperti ini, insyaallah maksiat dan dosa tidak akan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dan bahkan bisa jadi ia akan menyingkir dan menjauh dari daerah kita.

Saudaraku..
Jika kita tengok alam di sekitar kita saat ini. Perjudian sulit dihentikan. Rumah remang-remang semakin diminati sebagian orang. Orang yang tidak berpuasa justru bangga dengan keteledorannya. Masjid semakin sepi dari pengunjung. Al Qur’an semakin jauh ditinggalkan oleh umat Islam. Praktek jual beli riba semakin semarak. Perzinaan semakin subur dan seterusnya.

Hal ini membuktikan bahwa tidak sedikit dari kaum muslimin dan muslimat. Dan mungkin juga kita. Yang telah bergelar al marhum. Meskipun nafas kita masih berhembus. Kita telah mengalami kematian ruh. Sebab tangan, lisan dan hati kita telah mati. Tak tergerak untuk memberikan warna bagi orang lain. Tak memiliki andil bagi perbaikan umat. 

Wallahu a’lam bishawab.