Selasa, 16 Oktober 2012

Mengubah Pola Pikir Kita

Sorban Putih, Eeh Kuning

Siapa bilang pola pikir tidak bisa diubah. Sesungguhnya kita bisa mengubah pola pikir kita. Bahkan kita bisa mengubah pola pikir orang lain, sejauh mana kuatnya informasi yang kita sampaikan, sejauh itu pula pola pikir orang akan berubah.

Tersebutlah kisah seorang pedagang di sebuah pertokoan di Andalusia. Pedagang ini sangat tidak disukai oleh para pedagang lain karena praktek bisnisnya yang menerapkan persaingan yang tidak sehat. Karena merasa dirugikan oleh ulahnya, para pedagang di sekitarnya membuat konspirasi untuk ‘ngerjain’ pedagang itu.


Di suatu pagi yang cerah, seperti bisa si Pedagang A, sebut saja begitu berangkat dari rumahnya menuju toko miliknya. Dengan dandanan yang rapi an tidak ketinggalan wewangian parfum untuk menarik daya beli pelanggan. Juga tidak lupa ia kenakan sorban putih baru di kepalanya. Ia berjalan dengan penuh optimis melewati pertokoan sebelum sampai ke tokonya.

“Assalamu alaikum tuan, cerah sekali pagi ini,” sapa pedagang B
“Wa alaikum salam, ya terima kasih,” sahutnya.
“Bagus sekali baju gamis tuan, dan sangat serasi dengan sorban kuning itu.”
“Ini bukan sorban kuning, ini putih.”
“Kuning tuan, tapi gak apalah, walaupun kuning, tapi bagus dan serasi.”
“Dasar buta warna,” pikir Pedagang itu sambil melihat kembali sorban putih yang dikenakannya.
“Pagi tuan, masa Allah masya Allah, gagah sekali hari ini tuan,” sapa pedagang C.
“Pagi, oh, terima kasih.”
“Apa lagi dengan baju dan sorban hijau itu tuan, anda nampak sepuluh tahun lebih muda.”
“Ini sorban putih saudara, lihatlah baik-baik,” sergahnya agak kesal.
“Ah tuan salah, itu hijau, dan memang ia sangat indah, hingga anda nampak begitu gagah.”
“Orang pada gila, sorban putih begini dibilang hijau,” gumamnya.
Kali ini ia lihat ujung kanan dan kiri sorbannya, memastikan bahwa ia berwarna putih. sambil tetap berjalan menuju tokonya.
“Hai tuan, kok jalan gak nengok-nengok!” sapa pedagang D
“Oh maaf tuan.”
“Hai lagi, dari mana anda dapatkan sorban biru ini, begitu indah dan menawan.”
“Apa kalian buta warna, ini putih tuan…”
“Ah, tuan ini, jangan marah begitu, tapi bagus kok sorban biru, jarang tuan orang punya sorban biru seperti ini.”
Kali ini ia benar-benar kesal. Segera ia percepat langkah menuju tokonya sambil terus mengamati warna sorbannya.
“Assaalamu alaikum.” Pedagang E yang bersebelahan toko datang .
“Waalaikum salam,” jawabnya kesal.
“Ada apa tuan, kenapa tuan nampak kesal?”
“Gak apa tuan,” ia coba menutupi kekesalannya.
“Oh, ya sudahlah. Eh tuan, anda hebat tuan!”
“Kenapa, sorban?”
“Ya betul, anda bisa membaca pikiran saya, sorban merah, luar bisaa…”
“Bukan, ini bukan merah, tapi kuning, ah putih, hijau, biru…ahhhh,” dan Pedagang itu jatuh pingsan.
Pedagang lain pun berdatangan melihat apa yang sedang terjadi. Mereka segera memberikan pertolongan sebisanya.
Tidak lama kemudian Pedagang A itu siuman.
“Alhamdu lillah,” gumam mereka.
“Ini sorban kuning, eh merah… eh hijau ha ha ha ha…”
“Kalian buta warna, sorban merah dibilang putih, ha ha ha ha…”
Ia segera keluar dari tokonya sambil terus tertawa.
“Merah, hijau, kuning… ha ha ha.”
Ya, akhirnya Pedagang yang malang itu pun gila.

Kawan, salah satu pekerjaan jamaah dakwah adalah membuat opini kebaikan Islam kepada ummat, agar ia menjadi arus besar yang mengubah dan membentuk pola pikir ummat. Mengubah dan mengarahkannya sesuai dengan konsep Islam yang benar. Mari kita suarakan bersama kebenaran Islam ini, bahwa ia adalah solusi bagi semua persoalan pribadi, masyarakat, bangsa, dan negara. Kita gunakan semua media untuk membentuk arus opini itu agar mampu memainkan perannya.

Kita lihat banyak hal-hal tabu menurut agama dan budaya kita, namun karena ia banyak disuarakan orang dengan berbagai media dan sarana, lama-lama ia menjadi wajar. Lihatlah, banyak produk yang kurang berkualitas, karena gencarnya iklan, lambat laun ia banyak dikonsumsi orang. Bahkan ia menjadi kebutuhan banyak orang.
Semoga bermanfaat…