Minggu, 28 Oktober 2012

Mengapa Kita Harus Bersilaturahim

Hikmah Silaturahim

Kita selalu dianjurkan untuk selalu menyambung tali silaturahim di antara sesama dan konon sangat agung balasan Allah kepada yang melanggengkan silaturahim. Apakah hikmah dan keutamaan di balik anjuran dan perintah menyambung tali silaturahim itu?


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. “(QS al-Nisa’ [4]: 36). Allah SWT menempatkan berbuat baik (ihsan) pada karib kerabat setelah berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak. Bahkan, Allah SWT sangat mencela perbuatan memutuskan hubungan baik dengan karib kerabat. “Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad [47]: 22-23).

Di antara hikmah dan keutamaan menyambung silaturahim dalam Islam adalah:
  • Bersilaturahim merupakan bentuk ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. “…dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.“ (QS al-Ra’d [13]: 21).
  • Bersilaturahim sebagai manisfestasi iman kepada Allah SWT dan hari kiamat. Abu Hurairah RA meriwayatkan dari Nabi SAW  beliau bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahimnya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau lebih baik diam.“ (HR Bukhari).
  • Membiasakan silaturahim adalah jalan orang beriman masuk ke dalam surga. Abu Ayyub al-Anshori RA meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Beritahukanlah kepadaku tentang satu amalan yang memasukkan aku ke surga. Seseorang berkata, “Ada apa dia? Ada apa dia?“ Rasulullah SAW berkata, “Apakah dia ada keperluan? Beribadahlah kamu kepada Allah dan jangan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tegakkan shalat, tunaikan zakat, dan bersilaturahimlah.“ (HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).
  • Silaturahim adalah sebab diluaskannya rezeki dan dipanjangkannya usia. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahimnya.“ (HR Bukhari dan Muslim).
  • Allah SWT akan menyambungkan (pahala kebaikan) orang yang menyambung silaturahimnya di akhirat kelak.
Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan seluruh makhluk. Sampai ketika Allah selesai menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berkata, ’Inikah tempat bagi yang berlindung kepada-Mu dari terputusnya silaturahim?’ Allah menjawab, ‘Benar. Tidakkah kamu senang kalau Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘Tentu, wahai Rabb.’” Allah berfirman, “Kalau begitu, itulah yang kamu miliki.“ Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian mau, maka bacalah ayat berikut ini: Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, maka kalian akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kalian? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.“ (QS Muhammad [47]: 22-23). (HR Bukhari dan Muslim). Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Rahim itu tergantung di ‘Arsy, ia berkata, “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya.“ (HR. Muslim).
Wallahu a’lam bish-shawab