Rabu, 03 Oktober 2012

Ibu Teladan Pertama Bagi Anaknya

Kemuliaan Ibu dan Peningkatan Kualitasnya

baitijannati - Menjadi seorang ibu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan dalam kondisi yang semakin melemah. Setelah itu, ibu akan melahirkan anak yang telah dikandungnya dengan susah payah. Namun, begitu mendengar jerit tangis seorang bayi yang keluar dari mulut rahimnya, seorang ibu akan tersenyum bahagia. Segala keletihan yang dia rasakan di saat mengandung dan melahirkan serasa hilang. Dengan penuh kasih sayang seorang ibu akan menyusui bayinya, membelai dan menciumnya. Seorang ibu akan selalu siap menenangkan bayinya, di saat bayinya menangis. Seorang ibu akan selalu siap merawat bayinya. Seberat apa pun tubuh si bayi, ibu akan selalu siap menggendongnya.


Seiring dengan berjalannya waktu, usia bayi pun bertambah. Bayi akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak kecil yang membutuhkan bimbingan dan arahan untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Di sinilah dibutuhkan peran seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Ibu, Sekolah Pertama bagi Anak

Seorang ibu mempunyai peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anaknya, sosok pertama pula yang memberikan rasa aman dan nyaman serta sosok yang dia percaya. Karena itu, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Peran ibu dalam mendidik anaknya ini sangat penting karena dapat menentukan kualitas generasi masa depan suatu masyarakat dan negara. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa ibu ibarat tiang negara. Tinggi rendahnya moralitas suatu bangsa dapat dilihat dari tinggi rendahnya moralitas para ibu di negeri itu atau sejauh mana kepedulian para ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Salah satu aspek penting keberhasilan dalam pendidikan anak adalah adanya kedekatan fisik dan emosional antara seorang ibu dengan anaknya. Secara alami, kedekatan fisik dan emosional ibu dengan anaknya sudah terjalin sejak anak berada dalam kandungan, menyusui dan masa pengasuhan. Kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman. Karena itu, ibu mempunyai peran yang penting dan mulia dalam mendidik anak sejak usia dini. Untuk memainkan peran ini, Allah telah memberikan potensi pada ibu berupa kemampuan untuk hamil, menyusui serta naluri keibuan. Allah juga menetapkan anjuran kepada para ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun, mengamanahkan para ibu untuk mengasuh anaknya selama masa pengasuhan (hadlonah), yaitu sampai anak bisa mengurus dirinya.

Sesungguhnya karakter seorang ibu merupakan kesan pertama yang ditangkap seorang anak. Apabila seorang ibu memiliki kepribadian yang agung dan tingkat ketakwaan yang tinggi maka kesan pertama yang masuk dalam benak anak adalah kesan yang baik. Kesan awal yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah yang ideal. Di samping itu anak sendiri membutuhkan figur teladan dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, karena kemampuan berfikir anak di masa ini belum sempurna. Di masa ini anak belum mampu menerjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Kekuatan figur seorang ibu akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya. Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai. Para pakar pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat untuk berperan sebagai teladan pertama bagi anaknya. Ibulah yang paling besar peranannya dalam memberikan corak pada pembentukan kepribadian anak, sehingga dibutuhkan ibu yang berkualitas yang akan mampu mendidik anaknya dengan baik.

Peningkatan Kualitas Ibu

Mengingat begitu besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu. Karena tinggi rendahnya kualitas para ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. Untuk itu terwujudnya figur ibu ideal merupakan langkah awal untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Mencetak ibu yang berkualitas bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Menjadi ibu yang berkualitas dapat dicapai apabila ada kesadaran dari para ibu akan arti penting peran dan fungsinya. Para ibu yang sadar, tidak akan menginginkan anaknya kelak ketika menempuh masa remaja terlibat dan terjerumus dalam kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran dan berbagai tindak kriminal lainnya.

Menjadi ibu berkualitas yang mampu mengantarkan anaknya mengarungi kehidupan dengan kesuksesan adalah sesuatu yang realistis. Banyak tokoh –tokoh teladan- baik yang hidup di masa lalu maupun masa kini, baik dari negeri orang maupun dari negeri sendiri- seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhori, Buya Hamka, Moh. Hatta, B.J. Habibie, AA. Gym dan lain-lain, mendapat sentuhan dan pendidikan langsung dari para ibu yang luar biasa sehingga mampu mengantarkan kesuksesan anaknya.

Salah satu modal dasar untuk menjadi ibu yang berkualitas adalah adanya wawasan dan keilmuan tentang konsep pendidikan anak. Sehingga seorang ibu harus senantiasa memperkaya dirinya untuk memahami perkembangan kondisi anaknya (baik aspek fisik maupun aspek emosi). Ia juga harus mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang perlu dia lakukan untuk memenuhi seluruh hak-hak anaknya. Menurut seorang pakar pekembangan anak, ada beberapa konsep pendidikan yang perlu dipahami oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan tahapan perkembangannya, antara lain adalah:

Pertama, bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk masing-masing anak dalam proses pembelajarannya bisa jadi berbeda.

Kedua, anak akan mengalami perubahan dengan pendidikan yang diberikan. Perubahan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan, tetapi bertahap. Maka di sinilah diperlukan kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak.

Ketiga, anak usia dini merupakan masa emas, yang akan dengan cepat menyerap informasi. Di sinilah diperlukan memberikan pengajaran yang benar sejak dini tanpa anak merasa terbebani. Kemudian memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat anak berupaya mengkaitkan antara informasi yang satu dengan yang lain, sehingga dapat merangsang kemampuan proses berfikirnya.

Dengan memahami konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya, diharapkan peran mulia ibu sebagai pendidik anaknya menjadi lebih optimal. Anak-anak tidak hanya sebagai penyejuk mata ibu tetapi mereka juga adalah asset bangsa. Para ibu yang berusaha dengan sungguh-sungguh mendidik anaknya dengan penuh keiklasan untuk menjadi anak yang sholeh, mereka akan mendapatkan dua hal, yaitu kesuksesan anaknya dan pahala yang tiada putusnya dari Tuhannya.

Yang tidak kalah penting untuk mendukung terwujudnya para ibu yang berkualitas adalah lingkungan. Lingkungan yang kondusif adalah lingkungan yang di dalamnya terdapat pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan untuk para ibu. Sebaiknya para ibu dan para calon ibu dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan tentang pengasuhan dan pendidikan anak. Untuk saat ini pembinaan terhadap para ibu dan calon ibu bisa dilakukan oleh individu yang peduli dan organisasi-organisasi yang ada di tengah masyarakat. Karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan orangtua terutama ibu merupakan unsur yang dapat menghambat ibu dalam pengasuhan anak secara optimal. Mengingat anak adalah mutiara-mutiara bangsa. Dalam diri mereka tersimpan berbagai potensi. Penggalian potensi positip mereka diperlukan suatu ilmu. Alangkah beruntungnya negeri ini andaikan para ibu di negeri ini mampu membimbing dan mengarahkan potensi positip anak-anaknya. Mungkin tidak ada lagi penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran dan tindakan amoral lainnya di kalangan anak-anak kita.

Selamat hari ibu. Semoga para ibu dapat menjadi jembatan terwujudnya generasi masa depan yang berkualitas.

(Penulis adalah pengajar di SMA Bina Bangsa Sejahtera Bogor)