Senin, 08 Oktober 2012

Hidup Kita Sangat Singkat

Jangan korbankan kebahagiaan yang abadi hanya untuk kepuasan sesaat!


Hidup yang sekarang kita jalani ini AKAN BERAKHIR, dan ketahuilah waktunya SANGAT SINGKAT, sedangkan kehidupan yang KEKAL akan menanti kita. apakah kita akan mengorbankan kebahagiaan untuk kehidupan yang kekal, hanya untuk meraih kepuasan yang fana?


Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

”Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, dan neraka dikelilingi oleh kenikmatan.”
(HR Muslim)

Cukuplah sabda beliau diatas sebagai ancaman yang keras bagi para pengikut (atau bahkan, PENYEMBAH) hawa nafsu. ia berbuat sekehendak hawa nafsunya tanpa memikirkan nasibnya dihari kemudian.
Kecintaannya didasarkan hawa nafsunya, kebenciannya pun didasarkan hawa nafsunya.
Larangan-larangan Allah ia terjang hanya untuk memuaskan hawa nafsunya. hingga akhirnya ia pun membenci laranganNya.
Perintah-perintahNya ia tidak kerjakan, tidak pula ia indahkan, karena harus mengorbankan hawa nafsunya. hingga akhirnya ia pun membenci perintahNya.
Ia mengira kehidupan yang penuh kelapangan di dunia akan abadi, ia mengira hal tersebut bermanfaat untuk dirinya..
Tidak sadarkah ia kehidupan yabg sedang ia jalani kehidupan ang singkat lagi fana? tidak sadarkah pula ia kehidupan yang kekal akan menantinya? tidak sadarkah ia bahwa ajal akan menjemputnya? tidak sadarkah ia bahwa ajal menjemputnya tanpa pemberitahuan sebelumnya? tidak sadarkah ia apabila ajal telah datang maka tidak berguna taubat dan amalan shalih?!

Tidakkah ia mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berikut?

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،

“Pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling banyak kenikmatan di dunia di antara penghuni neraka.

فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ.

Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kebaikan dan merasakan kenikmatan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak, wahai Rabbku.”

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dan akan didatangkan orang yang paling sengsara di dunia di antara penduduk surga.

فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ، مَا مَرَّ بِي بُؤُسٌ قَطُّ، وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

Lalu ia dicelupkan di surga satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan dan merasakan kesusahan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak wahai Rabbku, aku tidak pernah mengalami kesengsaraan dan tidak pernah melihat kesusahan sama sekali.”
(HR. Muslim)

Sungguh hadits diatas adalah kabar gembira dan peringatan orang-orang beriman.
Kabar gembira bagi orang-orang yang senantiasa bersyukur ketika mendapat nikmat serta kabar gembira bagi orang orang yang bersabar ketika ia ditimpa ujian/cobaan/fitnah.
Ia tahu nikmat duniawi yang ia dapatkan TIDAKLAH KEKAL, yang nantinya akan ia tinggalkan; sehingga ia tidak tertipu dengannya.
Ia pun tahu cobaan duniawi yang ia dapatkan TIDAKLAH KEKAL, sehingga ia tidak meratap karenanya.
Ia tahu kesabaran untuk tetap berada diatas kebenaran dengan menjauhi syubuhat dan syahwat akan diberi balasan oleh Allah, sehingga ia tetap bersabar.
Demikianlah orang-orang beriman, maka alangkah menakjubkannya mereka, ketika ditimpa musibah maka mereka bersabar, dan ketika ditimpa nikmat maka mereka bersyukur. sehingga apapun yang menimpanya, baik cobaan maupun nikmat, maka itu baik baginya.
Sebaliknya, hadits diatas merupakan peringatan bagi orang-orang yang tertipu, yang ia menganggap kesuksesan duniawi adalah segala-galanya; yang ia mengira cobaan kehidupan dunia adalah kehinaan baginya.

Allah berfirman

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Rabbku menghinakanku“.
(QS. Al Fajr: 15-16);

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya (demikian pula sebaliknya). Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian.”
Demikianlah celaan Allah bagi orang orang yang MATREALISTIS, yang menilai sesuatu dengan timbangan duniawi; mengira bahwa kemuliaan itu didapatkan dengan kelapangan duniawi, dan kehinaan itu adalah kesempitan duniawi.
Sungguh bukan demikian prinsip seorang muslim, bagi mereka kemuliaan dan kehinaan seseorang itu berlandaskan aqidah/ketaqwaan mereka. siapa yang beriman dan bertaqwa, maka ia adalah orang yang mulia. siapa yang kafir lagi fajir, maka ialah yang hina.

Ingatlah bahwa Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman

قَالَ اللَّهُ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ .

“Telah Aku siapkan untuk hamba-hambaKu yang saleh apa-apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah di dengar oleh telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sekarang, tidakkah kita merindukan kenikmatan ini? Semua nikmat itu bisa kita raih, asal kita mau.
Nabi bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.”
Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapa sih yang enggan masuk surga? 

Rasulullah menjawab: 

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Barang siapa yang mentaatiku akan masuk surga. Dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia telah enggan.
(HR. al-Bukhari)
Maka hendaknya kita kembali kepada Islam yang benar, menganutnya secara KAAFFAH (menyeluruh) dengan mengikuti Rasulullah dengan sebaik-baiknya; mengikuti beliau dalam hal aqidah, ibadah, akhalak serta muamalah dalam menjalani hidup ini.
Ingatlah hidup itu penuh dengan ujian dan cobaan. tapi ingatlah hidup ini hanyalah singkat, ujian dan cobaan tersebut tidaklah ada apa-apanya dengan kebahagiaan kekal yang menanti. maka bersabarlah ketika kita ditimpa ujian dan cobaan.

Ketahuilah bahwa Allah menjadikan kehidupan dunia sebagai penjara bagi kaum muslimin.
Nabi bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara untuk orang-orang mukmin dan surga bagi orang-orang kafir.”
(HR. Muslim)

Jadi, alam yang ada di hadapan kita sekarang ini adalah alam ujian, alam beramal dan bersabar.
Jangan sampai kita tergoda oleh kenikmatan semu dunia! Harapkanlah buah manis yang menanti, jika kita lulus, yaitu surga yang kita rindukan.
Seperti dikatakan: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang di tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.


Sumber:

- http://www.serambimadinah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=88%3Abuletin-serambi-madinah-edisi-2&catid=62%3Anasehat&Itemid=54

- http://muslim.or.id/aqidah/memahami-allah-maha-pemberi-rizki.html