Kamis, 04 Oktober 2012

Bersikap Berpendirian Dan Istiqamah

Kata Hati tentang Diri/Perbuatan Diri

Kenapa sebagian kita termasuk para pemimpin/mereka yang secara formal berada ada posisi pemimpin lebih mementingkan bagaimana pandangan luar terhadap diri/perbuatan kita? Lebih mementingkan apa kata/penilaian luar pada diri/perbuatan kita? Sebaliknya, mengabaikan bagaimana diri/perbuatan kita menurut diri sendiri atau apa kata hati dan penilaian sendiri tentang diri/perubatan sendiri? Sebagaimana pemangku kepentingan negara/pejabat tinggi negara, pemangku kepentingan daerah/pejabat daerah, dan semua abdi negara/abdi rakyat, ibarat janggut berurat ke dagu lebih mementingkan bagaimana menurut atasan atau apa kata/penilaian atasan daripada bagaimana menurut rakyat/apa kata dan penilaian rakyat dipimpin terhadap perbuatan kita dan siapa kita!?


ADA sebagian dari kita yang secara ekstrim lebih mementingkan “bagaimana dirinya dan perbuatannya dilihat orang” dan atau yang lebih mementingkan “apa kata/penilaian orang terhadap dirinya dan perbuatannya.” Sebaliknya, ada sebagian dari kita yang secara ekstrim lebih mementingkan “bagaimana dirinya dan perbuatannya menurut dirinya sendiri” dan atau “apa kata hati sendiri tentang dirinya dan perbuatannya.” Lalu, ada yang memilih posisi tengah konvergensi, yang mengombinasikan antara keduanya. Baik yang mengambil posisi secara lemah dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang lebih menguntungkan secara sempit bagi dirinya atau mengambil posisi konvergentif sebagai pilihan.

Ini memang lebih merupakan perkara bersikap, berpendirian, dan istiqamah (bersiteguh dengan sikap dan pendiriannya--walaupun langit akan runtuh). Sikap dan pendirian serta istiqamah, adalah cerminan dari nilai dan bobot moralitas, integritas, dan dignitas (harga diri). Moralitas pula merupakan bentukan dari nilai-nilai yang ditanamkan dan dianut. Katakan, yang mudah menyebutnya, nilai ajaran Islam yang membentuk kepribadian seorang muslim yang baik (al-akhlaq al-karimah). Sama ada, filosofi, sistem nilai budaya, dan tata nilai budaya (adat) Minang. Setiap individu/kelompok masyarakat akan dipandang/bernilai, atau sebaliknya (tidak dipandang/tidak bernilai) di tengah masyarakatnya berdasarkan filosofi/sistem nilai budaya/tata nilai budaya yang dianut masyarakat yang bersangkutan.

Tiap manusia akan dipandang/dinilai berdasarkan perbuatan: perbuatan hati, perbuatan pikiran, dan pebuatan anggota tubuh katakan perbuatan lidah. Secara personal atau kelompok (organisasi). Sama ada mendayagunakan ilmu pengetahuan/penerapan ilmu pengetahuan (teknologi) dan atau mendayagunakan hati/pikiran/anggota tubuh secara sangat bodoh pun! Memang, sebagian kita juga memandang setiap manusia berdasarkan bentuk fisik, kekayaan, dan atau kekuasaan/jabatan walau hal itu tidak abadi. Betapa pun, buah/investasi dari perbuatan (hati/pikiran/anggota tubuh dan ilmu pengetahuan/teknologi secara individu dan atau kelompok/organisasi) akan lebih abadi dan lebih bernilai/lebih dipandang dalam sejarah.

Jadi, yang membuat sebagian dari kita mengambil posisi ufuk demarkasi yang berbeda secara ekstrim adalah karena nilai dan filosofi yang dianut. Nilai dan filosofi yang dianut tergantung nilai yang ditanamkan atau pembentukan sikap/identifikasi diri di dalam keluarga, lingkungan masyarakatnya, dan pendidikan formal yang dilalui. Pembangunan watak/kepribadian, karenanya, di dalam Islam, dipandang sebagai yang terpenting diperhatikan/dilakukan. Islam menegaskan satu perintah: Salah satu dari tugas terpenting Muhammad Rasulullah adalah membentuk al-akhlaqu al-karimah (berkepribadian sebagai seorang mukmin/muslim yang bertaqwa semua perbuatan hati, pikiran, dan tingkah lakunya mencerminkan diri seorang muslim/mukmin yang bertaqwa).

Bagi seorang muslim/mukmin yang bertaqwa, bagaimana diri dan perbuatannya di mata/dalam pandangan Allah puncak tertinggi upaya tiap muslim/mukmin yang bertaqwa adalah mencari dan mendapatkan keredhaan-Nya (berbuat dengan jujur dan tulus). Kalau pun bagaimana diri dan perbuatannya di mata orang banyak, lebih merupakan pencerminan secara tidak langsung kepribadian atau akhlaq mulianya, dan buah kemusliman/keberimanan/ketaqwaan (religiusitas). Bukan sebaliknya, lebih mementingkan bagaimana diri/perbuatannya menurut orang dan apa kata/penilaian orang terhadap diri/perbuatannya sekarang populer istilah pencitraan, yang dapat membuat yang bersangkutan melakukan dengan berpura-pura/berbohong/menipu (memanipulasi fakta).

Lebih mementingkan bagaimana diri/perbuatan kita (perbuatan hati, pikiran, dan tingkah laku--secara personal atau kelompok/organisasi) menurut diri sendiri dan atau apa kata hati sendiri tentang diri/perbuatan kita, lebih berorientasi ke dalam, lebih jujur, dan lebih ilahiyah. Betapapun, setiap orang tidak dapat membohongi diri sendiri--dan membohongi Allah. Entah bilamana manusia sudah berada pada keadaan khazlan (betapa Allah membiarkan manusia semain tersesat sementara mereka merasa menikmati dunia) dan atau hatinya membatu (ghisawah)--Allah sudah menutup hati dan pendengarannya. Secara populis, sekarang kita dapat menyebutnya sebagai permisif. Betapa sebagian kita (semakin banyak dari kita) yang sudah tidak mau tahu dengan salah/benar atau halal/haram--naudzubillah!

Yang paling menyedihkan, paling tidak di dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, sebagian kita sebetulnya mengetahui mana yang salah/mana yang benar, atau mana yang halal/mana yang haram, tapi, kenapa yang kita ketahui salah dan atau yang kita ketahui haram masih tetap kita lakukan Allahumaghfir ma ashraftu! Lebih menyedihkan dan menakutkan, semakin banyak mereka disebut para pemimpin yang masuk kategori ini. Betapa rapuh keimanan manusia yang sudah tidak dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan mana yang salah, dan mana baik dan mana yang buruk apa pula akan memahami ma baianahuma (al halal bain/al-haram bain, wa ma baina huma) yang cenderung jatuh pada haram/dosa. Sungguh jahiliyah!

Lalu, kalau lebih mementingkan bagaimana diri/perbuatandi mata orang lain dan atau apa kata/penilaian orang lain terhadap diri/perbuatan kita lebih berorientasi ke luar dan mengabaikan/keropos ke dalam. Bilamana berusaha untuk menampilkan kesan baik tanpa ada unsur bohong/memanipulasi/mengambil keuntungan/cenderung merugikan orang lain--setidaknya dalam batas-batas toleransi basa-basi, menurut Cucu Magek Dirih, mungkin hal itu masih dapat diterima? Bagaimana kalau lebih mementingkan bagaimana diri/perbuatan kita di mata orang lain, atau kata dan penilaian orang terhadap diri/perbuatan dilakukan dengan direncanakan--membagus-baguskan dan menutupi kekurangan untuk maksud/mendapat keuntungan tertentu, sengaja berbohong, memanifulasi data/fakta, dengan memanfaatkan kebodohan/ketidaktahuan orang banyak?

Bagaimana halnya kalau perbuatan demikian dilakukan oleh para pemimpin dan mereka yang secara formal berada ada posisi pemimpin? Pada mulanya, adalah mereka yang secara formal berada pada posisi pemimpin (katakanlah pejabat negara/pejabat daerah pejabat publik) yang mestinya mengurus negara (pejabat tinggi negara)/daerah (pejabat daerah) atasnama rakyat, digaji rakyat, dan difasilitasi rakyat, dan seharusnya lebih loyal pada rakyat, tapi, kemudian ternyata lebih mementingkan diri sendiri dan atau mengutamakan apa kata/penilaian atasannya. Lalu, para pegawai negara dan aparatur serta alat negara pula lebih mementingkan apa kata/penilaian atasanhya daripada mengabdi pada rakyat. Lama kelamaan, aspek/dimensi dari kepentingan rakyat termarginalkan oleh keneptingan oknum dan atasan serta kelompok/partai berkuasa.

Di antara ufuk ekstrim lebih mementingkan bagaimana menurut orang lain dan atau apa kata orang lain tentang diri dan perbuatan kita, adalah realitas “mental pegawai” dan atau “mental aparatur” yang ibarat janggut berakar ke atas (bukan ke bawah atau ke bumi), yang lebih mementingkan “bagaimana menurut atau apa kata dan penilaian atasannya” daripada bagaimana menurut diri sendiri atau apa kata hati sendiri atau bagaimana menurut rakyat apa kata rakyat yang dipimpin? Apa boleh buat, bagi para pemangku kepentingan negara/pejabat tinggi negara/pejabat daerah, bagaimana menurut atasan/apa kata dan penilaian atasannya lebih berkaitan dengan nasib/masa depannya--dan dengan (sadar) mengabaikan kepentingan rakyat.

Bilamana para menteri/pejabat tinggi negara, pimpinan badan/lembaga/komisi negara, pimpinan/anggota legislatif, atau pimpinan daerah/pejabat daerah dan pimpinan/anggota legislatif daerah (provinsi dan kabupaten/kota) lebih mementingkan dirinya sendiri dan atau lebih mementingkan bagaimana menurut atau apa kata/penilaian atasan, lalu siapa yang akan mementingkan rakyat?

Selanjutnya, para pemimpin masyarakat/informal leader pula terbawa untuk pula berlaku sama. Para ulama/dai/mubaligh yang terjun ke politik dan atau para akademisi yang menjadi birorat dan atau para tokoh masyarakat memilih jalan politik untuk jadi pemimpin/pemangku kepentingan negara dan daerah, hatta tidak tersisa lagi moralitas/integritas/dignitas atau kemuliaan hati untuk (bahagia) dapat berbuat bagi rakyat?

Bagi Cucu Magek Dirih--mungkin akan terasa lugu atau berpura-pura bodoh, marilah selalu bertanya pada diri sendiri: siapa kita, apa yang sudah kita lakukan bagi diri/bagi keluarga/bagi masyarakat kita? Lalu, tanyalah pada diri sendiri, bagaimana penilaian diri sendiri terhadap siapa kita dan apa yang sudah kita perbuat? Kita yang lebih tahu siapa diri sendiri, dan apa yang sudah kita lakukan bagi diri sendiri/keluarga/masyarakatnya. Buat apa mencari penilaian luar/orang lain, dan kenapa pula kita harus tidak jujur atau memanipulasi data/fakta atau mendayaguna ketidaktahuan dan kebodohan rakyat bagi kepentingan/keuntungan sendiri?