Rabu, 12 September 2012

Surga Bukan Tempat Gratis

Mau Meraih Surga? Ya Berbuatlah Baik Karena Allah

“PERCUMA sholat jika jarang berbuat baik. YANG penting berbuat baik sama orang, meski tidak sholat,” demikian kalimat yang sering kita dengar di masyarakat.


Kekeliruan seperti ini adalah kesalahan konsep berfikir yang sangat berbahaya dan menyesatkan. Surga bukan tempat gratis. Bahkan untuk bisa survive hidup di kota Metropoliran seperti Jakarta saja, mandi dan buang air bersa haruslah membayar, apalagi nilai sebuah surga Allah Subhanahu wata’a.

Benarkah dengan cukup berbuat baik dan beramal orang bisa meraih surga? Tunggu dulu. Kalau cara pandang seperti itu digunakan, betapa banyak pencuri dan perampok baik hati memenuhi surga Allah. Lantas, di mana keadilan Allah kepada orang-orang miskin tapi taat beribadah? Di mana mereka (mungkin) tidak banyak melakukan infaq, shadaqoh?

Kemuliaan surga tidak akan diberikan oleh Allah secara gratis, melainkan kepada hamba-hamba-Nya beriman, bebramal shalih, berjihad di Jalan Allah dan bersabar.

Seperti yang telah dicontohkan oleh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemani Nabi di gua hingga hanya berdua bersama nabi, mengorbankan hartanya, dan dipanggil dari delapan pintu surga, dan ketika menjadi khalifah, beliau justru melawan orang-orang murtad.

Umar bin Khattab menjadi pemimpin yang paling merakyat. Rela bersusah payah demi hak-hak rakyatnya. Dan tiadalah setan bertemu Umar bin Khattab melainkan lari terbirit-birit. Ide-idenya juga menjadikan wahyu diturunkan lebih dari sekali.

Utsman bin Affan telah mempersiapkan jaisy al-‘usrah, mewaqafkan sumur Rumat untuk umat Islam yang dilanda kekeringan, dan menghatamkan Al-Qur’an dalam setiap raka’at sejarahnya.

Ali telah merelakan dirinya mengganti posisi tidur Rasulullah di ranjang beliau tatkala malam hijrah. Ia juga ksatria perang tanding ketika Badar, pembuka benteng Yahudi di Khaibar, dan penakluk para penentang Islam.

Khalid bin Walid telah mengikuti seratus laga peperangan, membunuh lima ribu prajurit musuh dengan tangannya, dan mematahkan sembilan pedang.

Abdurrahman bin Auf telah menyedekahkan 1000 ekor unta sekaligus muatannya untuk kaum fuqara. Dan, tidak pernah menghadapi meja makan, melainkan menangis karena ingat penderitaan Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya.
Sementara itu dari sisi keilmuan, Jabin bin Abdullah harus menempuh sebulan perjalanan ke Mesir hanya untuk peroleh satu hadits, dan Ibnu Musayyab harus menempuh tiga hari perjalanan untuk peroleh jawaban satu masalah.

Ya, mereka itulah calon penghuni surga yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang mau bersabar dan berjihad. Bahkan Allah secara tegas mengatakan kepada umat Islam bahwa surga hanya akan diperoleh oleh Muslim yang mau berjihad dan bersabar.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3 : 142).

Ibn Katsir menjelaskan dalam tafsirnya; “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian diuji dan nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang yang sabar dalam melawan musuh”.

Syeikhul Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, tentang amalan ahlul jannah dan amal perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka. Beliau menjawab,  amalan ahlul jannah (penghuni surga) adalah iman, takwa, dan amal shalih yang lain. Adapun perbuatan penghuni neraka ketika di dunia adalah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Amalan ahlul jannah adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, percaya adanya hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Amalan lainnya adalah mengucapkan syahadatain; Laa ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Demikian pula, seorang ahlul jannah ketika di dunia adalah seorang muhsin (berbuat ihsan). Maksudnya, beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya maka sungguh Dia pasti melihatmu.

Al-Quran memberi sedikit gambaran siapa-siapa yang akan bertempat di surga.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dalam keadaan mereka kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya lagi melampaui batasan-batasan-Nya niscaya Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya dan untuknya di dalam neraka itu azab yang hina.” (QS: an-Nisa: 13—14).

Begitulah penjelasan Allah Subhanahu Wata’ala. Tentu, berbuat baik pada orang dan tetangga atau sering beramal saja tidaklah cukup memenuhi syarat. Sarat lain adalah taqwa, iman dan tunduk aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala. Perampok, orang atheis bisa saja beramal karena uangnya, namun mereka bukan karena Allah. Sehingga amal-amalnya tertolak dan sia-sia.

Muhsinin

Kita masih berpeluang mendapatkan surga dengan tetap menjadikan ajaran Islam sebagai pola pikir kita sehari-hari. Allah akan menyambut orang yang punya niat yang ikhlas untuk mendapat keridhoan-Nya. Bahkan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin).

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS. 29 : 69).

Jadi, jangan khawatir Allah tetap memberikan perhatian besar kepada kita untuk sama-sama bisa mendapat keridhoan-Nya hingga kelak diberi ganjaran terbaik di dalam surga-Nya. Dengan catatan, kita membiasakan diri untuk senantiasa berbuat baik.

Dari Abu Hurairah r.a, “Telah bersabda Rasulullah saw, “Ada seorang  laki-laki sedang naza’ (dalam kondisi sakaratul maut), ia tidak pernah mengerjakan kebaikan, (kecuali) sekadar menyingkirkan ranting berduri dari jalan; ada kalanya ranting itu berada di atas pohon lalu dipotong, kemudian dibuangnya (jauh), dan ada kalanya ia sengaja dipasang (di tengah jalan) lalu disingkirkannya. Kemudian karenanya Allah berterima kasih kepadanya, lalu dimasukkanlah ia oleh-Nya ke surga.” (HR. Imam Abu Daud, Imam Ibnu Hibban dengan derjajat shahih).

Berbuat baik dengan menyingkirkan ranting di jalan saja, Allah berikan balasan surga. Bagaimana jika kita berusaha taat aturan Allah Subhanahu Wata’ala (mengikuti standar Al-Quran dan As Sunnah) setiap saat, setiap hari, dan sepanjang waktu. Juga meningkatkan kualitas iman kita terus-menerus menjadi lebih baik, sampai bertambah ketaatan kita padaNya?

Berbuat baik berarti berbuat ihsan. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ihsan adalah gradasi tertinggi dari keimanan setiap Muslim. Setiap Muslim yang mampu berbuat ihsan insya Allah akan dekat dengan keridhoan-Nya. Sebab Muslim yang ihsan akan senantiasa menahan diri dari berbuat aniaya (dosa), dan bersegera dalam kebaikan. Hatinya dipenuhi kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi gerak-geriknya.

Bilal bin Rabbah senantiasa menjaga wudhunya agar terhindar dari berbuat maksiat. Karena kebiasaan menjaga kesucian diri dengan berwudhu, terompah Bilal dikatakan Nabi telah berada di dalam surga. Nabi Daud a.s melakukan sehari puasa sehari buka agar terhindar dari berbuat aniaya kepada diri dan orang lain. Apalagi mengingat posisinya sebagai seorang penguasa, yang jika tidak hati-hati dan waspada sangat mudah tergelincir pada keserakahan dan kesesatan.

Sekiranya, umat Islam di tanah air seluruhnya mau beriman dan berbuat baik (ihsan) tentu tentramlah kehidupan bangsa dan negara ini. Karena Allah telah berjanji akan menurunkan rahmat dan berkahNya hanya kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS: Al-A’raf[ 7]: 96).

Mengapa kehidupan kita jauh dari berkah dan rahmat Allah? Mengapa pula kehidupan berbangsa kita terus-terusan amburadul? Jangan-jangan, kita semua telah silap dengan peringatan Allah ini.  

Wallahu A’lam.

*/Imam Nawawi