Selasa, 18 September 2012

Kesabaran Nabi Ayyub Cermin Buat Kita

Dengan Sabar Kita Bakal Jadi ’Orang Besar’

NABI Ayyub adalah orang kaya yang beriman di zamannya. Ia memiliki keluarga besar yang sangat bahagia. Dia adalah putra ‘Ish bin Ishak bin Ibrahim. Dia memiliki tanah berhektar-hektar. Jumlah hewan ternaknya mencapai ratusan ekor. Ia hidup makmur dan sejahtera. Tapi ia tetap tekun beribadah. Ia gemar (ahaba) berbuat kebajikan. Suka menolong orang yang menderita (kaabada), terle bih dari golongan fakir dan miskin. Suka membantu anak-anak yatim dan para janda serta suka menghormati tamu (dhaif).

Nabi Ayyub adalah contoh orang yang memiliki kesabaran tinggi dan keikhlasan yang sempurna dalam menghadapi musibah. Para malaikat di langit terkagum-kagum dan sama membicarakan ketaatan Ayyub dan keikhlasannya dalam beribadah kepada-Nya, Allah SWT. Iblis yang mendengar pembicaraan itu merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayyub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka (nakbah).

Pertama kali Iblis mencoba menggoda Nabi Ayyub agar tersesat dan tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Namun ia gagal. Nabi Ayyub justru masih kokoh dan tidak tergoyahkan. Iblis kemudian mulai menyerbu keimanan Ayyub. Mula-mula membinasakan hewan ternak peliharaan Ayyub. Satu persatu hewan-hewan itu mati bergelimpangan disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertanian yang terbakar serta musnah (baad).

Karena gagal (fasyil) mengajak Ayyub ke neraka, iblis beserta pembantu-pembantunya mengganggu putra beliau yang tinggal di gedung yang besar dan megah. Mereka goyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu pun roboh sementara anak-anak Nabi Ayyub mati semuanya.

Ayyub masih tegar. Sehat walafiat. Imannya masih kokoh. Si iblis makin menjadi-jadi. Dia menaburkan baksil di sekujur tubuh Ayyub sehingga menderita sakit kulit yang menjijikkan. Akibatnya famili beserta tetangganya menjauhinya. Sebelum akhirnya ia diusir dari kampung dan ditinggal pergi satu-satunya istri yang masih setia menemani, Rahmah.

Namun Ayyub tetap berbaik sangka pada ketentuan Allah SWT. Dia tetap bersikap baik pada sesama. Beliau adalah contoh orang yang memiliki kesabaran tinggi dan keikhlasan yang sempurna dalam menghadapi musibah. Setelah Nabi Ayyub berjuang keras tanpa pernah kenal putus asa dibarengi dengan kesabaran yang tinggi menghadapi musibah yang dideritanya, Allah SWT pun mendengar rintihannya:

“(Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku) bahwasanya aku - (diganggu oleh setan dengan kepayahan) kemudharatan - (dan siksaan”) yakni rasa sakit. (QS Shaad 41).

Nabi Ayyub, kata Imam Jalaluddin Al-Mahally dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain, menisbatkan atau mengaitkan hal tersebut kepada setan, sekalipun pada kenyataannya segala sesuatu itu berasal dari Allah SWT. Dimaksudkan sebagai sopan santun Nabi Ayyub terhadap Sang Maha Pencipta.

Menurut pakar tafsir terkemuka Indonesia, Buya Prof Dr M Quraish Shihab, ketika Nabi Ayyub merintih, mengadu seraya berdoa kepada Tuhan pelindung dan pembimbingnya, beliau tidak menggerutu, tidak pula mengeluh kepada-Nya. Beliau hanya menjelaskan keadaannya seraya berucap: “Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa kesulitan menyangkut diriku disebabkan oleh setan.”
Masih menurut Quraish Shihab, Nabi Ayyub tidak bermohon agar kesulitannya dihapuskan Allah, karena beliau menyadari bahwa ujian cobaan salah satu wujud pematangan kepribadian dan cara Tuhan mengajarkan kesabaran kepada Nabi Ayyub.

Nabi Ayyub hanya melanjutkan munajatnya dengan menyebut sifat Allah yakni “Demikian keadaanku wahai Dzat yang Maha Kasih sedang Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, maka wahai Tuhanku, karuniakanlah aku sesuai kebesaran, ketulusan dan keindahan kasih sayang-Mu.”

Allah SWT merespon baik doa Nabi Ayyub dengan memerintahkan utusan-Nya itu menghentakkan kakinya. (“Hantamkanlah) maksudnya hentakkanlah - (kakimu) ke bumi, lalu ia menghantamkannya, setelah itu tiba-tiba menyumberlah mata air dari bekas hentakan kakinya. Kemudian dikatakan pula kepadanya - (inilah air untuk mandi) artinya, mandilah dengan air ini - (yang dingin dan untuk minum”) minumlah kamu daripadanya. Segeralah Nabi Ayyub mandi dan minum. Maka hilanglah semua penyakit (maradh) yang ada di dalam dan luar tubuhnya.

Menurut Syamsul Rijal Hamid. Sejak saat itu kesehatan dan kebugaran Nabi Ayyub pulih kembali sediakala. Beberapa tahun kemudian, Nabi Ayyub lebih gagah dan lebih kaya dari sebelum ia mendapat musibah. Demikian juga anak keturunannya, lebih banyak dan kesemuanya tunduk, patuh serta berbakti kepada Allah SWT.

(“Dan Kami anugerahi dia dengan mengumpulkan kembali keluargaanya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka) maksudnya, Allah SWT menghidupkan kembali anak-anaknya yang telah mati itu dan menambah pula kepadanya anak lain sejumlah anak yang telah mati itu - (sebagai rahmat) sebagai nikmat dan karunia - (dari Kami dan pelajaran) nasihat (bagi orang yang mempunyai pikiran”) yaitu bagi orang-orang yang berakal.

Subhanallah! Sangat mengagumkan. Jauh di lubuk hati terdalam mungkin kita tertegun sejenak dan kehabisan kata-kata karena tidak sanggup melukiskan kisah mengharu-biru ini setiap kali mengenang rangkaian ujian keimanan yang ditimpakan kepada Nabi Ayyub.

Di dalam Alquranulkarim, Allah SWT menyatakan bahwa manusia itu suka berkeluh kesah (tanahhada wa taawwah). Dia mengabadikan kisah Nabi Ayyub dalam kitab suci Alquran agar manusia tidak berkeluh kesah ketika ditimpa musibah dan cobaan.

Namun sangat disayangkan spirit dan maknanya acapkali tertinggal di rak-rak buku yang pada akhirnya menjadi lapuk dimakan zaman. Lewat kisah hidup Nabi Ayyub dan keluarganya ini kita diberi pelajaran (dars) berharga bagaimana mencintai Allah SWT tanpa persyaratan apa pun.

Kemudian melalui kisah (qishshah) ini juga kita dapat bercermin bahwa pada saat kita tertimpa musibah, seberat apa pun musibah itu, hendaknya kita tetap tabah dan bersabar serta tidak putus asa (yais) dari rahmat dan ampunan Allah SWT.
Dengan berbekal keyakinan akan adanya rahmat dan maghfiroh Allah SWT, insya Allah kita akan selalu optimis dalam menembus pekatnya kabut kehidupan.

Muslimin
Direktur Ma’had Tahfidz Kiai Marogan