Rabu, 19 September 2012

Kawallah Aqidah Kita Hidup Itu Sebentar

Jagalah Iman Selamanya

Tidak henti-hentinya kita bersyukur kepada Alloh SWT atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya. Dialah Alloh yang telah memberikan kita modal software dan hardware untuk mengarungi kehidupan, mulai dari naluri atau insting,  akal dan pikiran, sampai diturunkannya Agama sebagai pedoman setiap manusia.


Bicara mengenai pedoman hidup berupa agama, Alloh berfirman dalam QS al-Maidah 3, 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu”.

Melalui firman ini, Alloh menekankan bahwasanya risalah agama dan diturunkannya kitab suci sudahlah usai, sehingga kita tidak memerlukan keyakinan lain di luar islam dan al-Quran. Keimanan terhadap kitab Jabur, Taurat, dan Injil hanyalah sebatas lidah dan hati, tidak perlu dengan amal keseharian. Rosululloh pernah berkata, andaikata Musa hidup saat al-Quran diturunkan, maka dia akan mengatakan, tidak ada kewajiban selain tunduk kepada al-Quran. Kita tidak memerlukan nabi siapapun dan apapun setelah nabi Muhamad. Andaikata kita meyakini masih ada kerasulan, maka itu merupakan pembangkangan terhadap al-Quran dan nabi.

Melalui firman ini, Alloh menekankan juga bahwa ajaran islam sudahlah final. Sehingga menjadi kewajiban kita saat ini untuk menjaga dan mengamalkannya dengan penuh ketulusan.

Dalam perjalanan mengawal ajaran islam yang luhur ini, tidaklah semudah diucapkan. Diperlukan kewaspadaan yang tinggi terhadap gangguan syetan, baik dari golongan jin maupun manusia.  Kita telah mengetahui, bahwa dalam sejarah kehidupan manusia, syetan telah membangkang kepada Alloh SWT. Dia berjanji akan merayu, membujuk dan membisikan manusia agar berpindah ke selain kiblat dan falsafah islam.
Dalam QS Al araf 16-17, diterangkan,  

“Iblis menjawab, “karena engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.  Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).

Merujuk ayat ini, kita harus waspada bahwasanya iman yang lurus akan selalu dibelokkan oleh godaan syetan. Diperlukan ketahanan untuk menyelamatkan diri, keluarga serta anak dari gangguan tidak bertanggung jawab ini, karena kita tidak mengerti apa yang akan terjadi dengan anak cucu kita.

Untuk itulah, perlu komitmen yang istiqomah dalam beragama. Perlu iman yang baik dan benar sebagai fondasi strategis dalam mengarungi kehidupan. Iman yang menghadirkan rasa pengawasan dan takut kepada Alloh, dan rasa tidak aman terhadap siksanya. Iman yang disertai ilmu yang mantap. Sehingga melahirkan amaliyah yang sesuai tuntutan Alloh dan rosul-Nya. Para Sahabat bertanya kepada rosul, berikan aku tips sehingga tidak membutuhkan pedoman-pedoman lain, rosul menjawab, katakan iman kepada Alloh kemudian istiqomah.

Bagi mereka yang sukses memegang teguh keimanannya sampai hayat menjemputnya, malaikat akan turun menemuinya. Melaikat menyampaikan kabar, wahai hamba Alloh yang baik, tidak perlu takut, dan jangan sedih meninggalkan dunia. Bergembiralah dengan surga.

Beristiqomahlah dengan mantap. Janganlah meniru pemikiran atau paham tertentu yang menyimpang. Rosul pernah mengingatkan, Inginkah aku sampaikan orang yang rugi di dunia?. Amalannya sia-sia, sementara ia menganggap dirinya sudah baik?. Mereka adalah orang yang kufur, orang yang riya dan orang yang menyimpang. Mereka akan menjadi salah satu korban iblis, dan akan menyesal saat iblis yang mengganggunya melepas diri di hadapan Alloh di akhirat kelak.

Untuk itulah, jaga dan kawallah aqidah kita. Hidup kita sebentar. Umur kita singkat. Janganlah bermain-main dengan aqidah. Memohon dan berharaplah kepada Alloh, agar sisa hidup kita selalu ada dalam bimbingan dan tuntunan-Nya.