Senin, 17 September 2012

Berkah Adalah Bersyukur dan Berbagi

Agar Tetap Berkah Saat Kondisi Senang

Dalam sebuah pengajian, biasanya saya buat tebak-tebakan begini. “Kalau ada dua ujian. Yang pertama berpeluang besar lulus dan yang kedua berpeluang kecil, mana yang Anda akan pilih?” Semua serempak menjawab yang pertama.

Setelah itu saya jabarkan bahwa Allah swt. menurunkan dua macam bentuk ujian, yaitu


Pertama
: ujian keburukan, kesusahan dan hal-hal yang tidak enak,
Kedua
: ujian kebaikan, kesenangan dan hal-hal yang enak-enak.

Tujuan ujian itu adalah untuk melihat siapa yang amalnya terbaik.

Allah menegaskan, ”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiya 35).

Saat diuji kesusahan berupa sakit, kekurangan, kehilangan harta benda, musibah kematian, atau mendapat goncangan di tengah laut atau di atas pesawat, rata-rata kita akan langsung mengingat Allah swt. dan memohon pertolongan kepada-Nya. Ini artinya kita sukses melalui ujian itu.

Sebaliknya saat diuji dengan kesenangan berupa kesehatan, ketampanan, kecantikan, harta melimpah dan lain-lain berupa kesenangan, rata-rata kita lupa pada Zat yang memberi kesenangan tersebut. Bahkan untuk sekadar bersyukur sangat sulit. Kalaupun bersyukur hanya sebatas lisan. Ini menunjukkan bahwa diuji kebaikan jauh lebih sulit dan kecil kemungkinan lulusnya.

Setelah mendapat penjelasan seperti ini, biasanya kalau ditanya lagi pilih mana ujian yang peluang lulusnya besar atau yang kecil hadirin hanya menjawab dengan senyum. Karena sudah fitrah kita semua ingin hidup senang.

Bagaimana agar saat keluarga dalam kondisi senang tetap berkah? Berkah itu artinya keluarga itu dalam kondisi bahagia. Sebab senang dan bahagia sesuatu yang berbeda. Senang berasal dari luar diri kita dan bahagia berasal dari dalam diri. Sumber kebahagiaan ada dua: bersyukur dan berbagi.

Bersyukur
Bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Lebih dari itu adalah merasakan nikmat Allah swt. yang begitu luar biasa banyaknya. Hanya untuk sekadar merasakannya semua nikmat saja kita tidak mampu. Ekspresi syukur minimal adalah tersenyum ceria atau menampakkan wajah manis pada orang lain.

Saya menukil penjelasan guru saya terkait level syukur. Menurut Ustadz Mudzoffar Jufri, nilai keberkahan pada nikmat itu sangat bergantung pada level nikmat yang kita sykuri. Sebagaimana nikmat itu bertingkat-tingkat maka syukurpun berlevel-level sesuai dengan tingkatan nikmat yang di syukuri:
  • Nikmat yang pertama adalah nikmat materi duniawi
Inilah nikmat yang paling rendah nilainya di sisi Allah swt. dan manusia. Nikmat inilah yang paling banyak diingat oleh kita dan itu artinya nikmat inilah yang paling banyak disyukuri. Karena sangat tidak mungkin mensyukuri sesuatu yang jarang, bahkan tidak diingat.
  • Nikmat yang kedua adalah nikmat primer
Contohnya antara lain kesehatan, kemampuan berfikir dan waktu, atau kalau kita simpulkan hidup itu sendiri.
Ini nikmat yang lebih tinggi dari materi. Buktinya sekaya apapun kita kalau sakit pasti akan melepaskan harta bahkan sampai habis untuk mencari kesehatan, atau saat kita di ampok dengan pilihan harta atau nyawa maka pasti harta itu akan kita lepas.

Kenapa? Karena hidup kita lebih berharga dari materi yang kita punya.
Namun sayang nikmat ini jarang sekali disyukuri. Tanda ketidaksyukuran itu adalah cepat mengeluhkan keadaan di luar dirinya. Orang yang sering mengeluh pada orang lain hanya mampu bersyukur saat dia mendapat kenikamtan materi.

Dan akan kufur atau tidak bersyukur saat materi itu tidak ada walaupun saat itu di sehat dan punya banyak kesempatan. Orang yang bisa mensyukuri nikmat kedua ini apapun kondisi di luar dirinya pasti akan berbahagia setiap hari. Karena dia fokus pada kenikmatan yang ada pada dirinya yang jauh lebih berharga.
  • Nikmat yang ketiga adalah nikmat hidayah.
Inilah nikmat paling tinggi. Nikmat ini adalah keterpautan rasa dalam hati kita dengan sang Maha Pengasih. Bahwa seluruh nikmat yang dimilikinya selalu dikaitkan dan dirasakan betul berasal dari-Nya sehingga melahirkan ketaatan kepada-Nya, dan puncaknya adalah ibadah kepada Allah.

Maka saat kita melakukan ibadah saat itu kita harus bersyukur atas ibadah tersebut namun tidak boleh berbangga. Sebab berbangga dengan amal baik akan melahirkan penyakit ujub. Syukur atas ibadah artinya berterima kasih pada Allah swt. atas nikmat bisa melaksanakan ibadah seperti bersyukurnya rasul saw. saat shalat tahajud hingga kaki beliau bengkak saking lamanya.

Ketika Aisyah ra bertanya mengapa beliau ‘menyiksa’ diri seperti itu padahal Allah swt. telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Nabi saw. menjawab, “Tidakkah engkau rela jika melihatku menjadi hamba yang bersyukur?”

Bisa jadi ada keluarga yang berada dalam kondisi menyenangkan hidupnya lalu mereka bersyukur dengan level tertinggi yaitu taat dan beribadah kepada Allah swt. Saat itu keluarga itu sedang mendapat keberkahan dari kondisi senangnya yang itu terkandung dalam doa saat akad nikah dulu benar-benar berlaku baginya barakallahu laka ‘Semoga Allah swt. memberkahimu saat engkau senang’. (Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Orang atau keluarga yang mampu bersyukur pada level tertinggi yaitu nikmat hidayah pasti dengan mudah akan mensyukuri level di bawahnya.

Namun orang yang hanya berkutat pada syukur level terendah maka pada saat yang sama dia akan melalaikan atau bahkan mengingkari nikmat yang di atasnya yaitu nikmat hidup sehat dan nikmat hidayah. Dia hanya bisa bersyukur saat ada tambahan materi dan berkeluh kesah (kufur nikmah) saat materi itu berkurang atau hilang.

Masih ada satu lagi sumber kebahagiaan yang mendatangkan keberkahan dalam keluarga yaitu: berbagi kesenangan pada orang lain. Insya Allah kita membahasnya lebih jauh nanti. Jika Allah swt. berkenan, kita sambung lagi di tulisan berikutnya.  

Wallahu a’lam.

*Adhan Sanusi Lc
Nara Sumber Family Talk 93,8 FM Suara Muslim Surabaya (setiap senin pukul 21.00 WIB)