Senin, 24 September 2012

Berakhir Khusnuh Khatimah

Meraih Khusnuh Khatimah 

KALAU ada Husnul Khatimah ( Pernghabisan umur yang baik ) maka sebaliknya ada juga disebut SUUL KHATIMAH ( Penghabisan umur yang jelek ).( Na’udzu Billah !). Kalau perjalanan hidup dalam Islam diumpamakan lari maraton, maka seorang yang berlari sekalipun perrnah jatuh, asal bangkit kembali dan berusaha sampai di finish dengan selamat, tidak lagi membuat kesalahan (dosa), hal itu tidak termasuk Suul Khatimah, karena berakhir dengan tidak berbuat dosa. Itulah yang didambakan seorang muslim.Artinya mulanya muslim bersyahadat, kemudian berbuat baik, tapi sering berbuat dosa (jatuh) tapi kemudian bangkit kembali (taubat) dan tidak lagi jatuh (berbuat dosa) sampai di finish, itu sudah tidak termasuk Suul Khatimah.

Menurut Doktor Abdullah Al-Mutlaq, dalam bukunya Husnul Khatimah Wasailiha antara lain, hal-hal yang menyebabkan Suul Katimah:

Pertama : Menunda taubat.Taubat kepada Allah dari segala dosa. merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap saat oleh seorang muslim yang mukallaf. Sesuai firman Allah WATUBU ILALLAHI JAMI’AN…( Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, agar kalian mendapat keuntungan (QS.Al-Nur 31). Diperjelas oleh Rasulullah SAW yang bertaubat seratus kali setiap hari dengan sabdanya “ Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya, dalam sehari, seratus kali ” (HR.Muslim dari Al-Muzani).

Dari kedua sumber tersebut, dipahami, alangkah baiknya kalau seorang muslim membiasakan bertaubat 1OO kali setiap hari. Misalnya “Astagfirullah waatubu ilaihi “. Tetapi istigfar itu harus direalisasikan dengan taubat (meninggalkan dosa ) yang menjadi kegemarannya. Menurut ulama Tafsir, termasuk kesuksesan Iblis menggoda manusia, karena berhasil mempengaruhi sebagian hamba Allah dengan menunda taubatnya. Dengan bisikian seperti “ Anda masih muda, buat apa cepat-cepat bertaubat. Nanti tua baru anda bertaubat nasuha. Kalau terlalu cepat, baru berbuat dosa lagi, akhirnya anda akan jatuh ke neraka juga. Jadi sekali ditunda saja. Puaskanlah dahulu jiwa mudamu, umur muda hanya datang satu kali dalam hidup ”. Demikian bisikan Iblis yang manjur diterima sebagian orang, akhirnya menunda taubat.

Menunda taubat itu adalah kegagalan pertama seorang muslim. Karena kehidupan dunia ini laksana penumpang Bus. Singgah dari satu terminal. Kalau tiba-tiba sopir Bus mengumumkan berangkat sekarang sebelum siap, akhirnya tidak sampai ke tempat tujuan, karena ditinggalkan oleh kendaraannya. Setiap orang telah ditentukan kendaraannya dan tidak ada pergantian kendaraan atau perpanjangan umur, jika jadwal telah tiba. Inilah jeleknya seseorang yang menunda taubat. Setiap hari kita saksikan bukan hanya yang tua saja yang lebih dahulu meninggalkan terminal. Tapi bervariasi. Tua muda. Sakit-sakitan atau masih sehat buga. .Jika giliran sudah tiba harus segera tinggalkan terminal.Sesuai nomor dan tanggal karcis.

Jadi, menunda taubat itu adalah penyebab datangnya Suul Khatimah. Sebab itu harus kita hindari. Bahkan sebagian ulama berpendapat, segera bertaubat sebelum sampai 6 jam.

Orang mukmin yang sejati itu selalu siap dengan bekalan dan persiapan, sebelum Bus berangkat meninggalkan terminal. Dan dari situlah hikmahnya mengapa kita dianjurkan menghadiri kematian (takziyah), berziarah ke kubur (bukan menjelang hari raya saja) serta merasakan sesuatu, jika melihat iklan belasungkawa di media, supaya selalu teringat, disuatu waktu pasti akan mengalami juga pemberangkatan di terminal, karena telah dijemput Sopir Bus yang namanya Sakratul maut.

Kedua: Panjang angan - angan.
Salah satu keberhasilan iblis dalam bujukannya, agar manusia merencanakan sebanyak mungkin angan-angan yang mau dicapai. Segala daya dan dana dikerahkan mencapai angan-angan setinggi langit, sehingga tidak sempat lagi mengingat walau sedikit, bahwa maut itu tiba-tiba segera menjemputnya. Kalau hal yang positif misalnya bernilai persiapan akhirat, justru sangat dianjurkan. Kalau bukan, yakni semata-mata untuk kesenangan sesaat dunia, maka kerugian pasti balasannya.

Akibatnya Rasulullah SAW memperingatkan “ dua sifat yang paling aku takutkan atas kalian : memperturutkan hawa nafsu dan terlalui panjang angan-angan. .Memperturutkan hawa nafsu akan menghalangi mengikuti kebenaran. Sedang panjang angan-angan, menjadikan seseorang akan cinta (gila) pada dunia ” .(HR.Abu Dawud ).

Kemudian lebih dipertegas “ Jadilah di dunia ini seperti orang asing, atau penyeberang jalan, Ibnu Umar selalu berpesan : Kalau kamu berada di waktu sore, jangan menunggu sampai pagi, dan kalau berada diwaktu pagi jangan menunggu sore. Dan gunakan waktu sehatmu, sebelum menghadapi waktu sakitmu, dan masa hidupmu sebelum menghadapi kematianmu “.(HR.Bukhari dari Abdullah bin Umar).

Menurut ulama Hadis, peringatan hadis yang berbunyi seperti diatas, mengingatkan manusia, agar menjauhi angan-angan yang terlalu panjang, karena hakikat kehidupan dunia adalah kesenangan yang menipu (mataul ghurur). Itu sebabnya seorang muslim dianjurkan sering berziarah ke kubur, menghadiri takziyah, memandikan dan menyembayangi mayat, menjenguki orang sakit, serta menziarahi orang-orang saleh, tak lain hikmahnya agar seorang muslim, mengingat kematian dan tidak terlalu panjang angan-angan dunianya.

Biasanya, yang mendorong memanjangkan angan-angan seseorang, karena persepsi yang salah, ingin membahagiakan kelurganya 7 turunan.Dibuatnya rumah mewah lengkap perabot. Disediakan kendaraaan dan rumah untuk tiap-tiap anaknya. Disekolahkan hingga ke jenjang tertinggi. Disediakan empang dan kebun untuk rekreasi tiap minggu, dan seribu satu macam. Padahal tugas orangtua menurut Islam, hanya empat Pertasma, Memberi nama yang baik (Islami). Kedua, Memberi makan yang halal. Ketiga, Mendidiknya salat dan keterampilan. Keempat, Mengawinkan dengan perempuan berakhlak, sesudah dewasa. Dengan dasar apa orangtua harus menyediakan tiap anaknya rumah mewah dan peninggalan harta yang banyak ?.
Yang dikhawatirkan kaum Hukama terdahulu kepada aqnaknya, Apa yang kamu sembah, kalau saya sudah mati ? Bukan apa yang kamu makan, kalau saya sudah mati ?. Urusan makan sesudah ditinggalkan, bukan urusan orangtua, tapi Itu urusan Tuihan. Sebelum lahir sudah ditentukan rezeki. Urusan kita hanya mengjarkan keterampilan waktu hidup, sehingga mampu mencari sendiri sesuai kemampuan akal dan dayanya. Orangtua tidak ditanya, berapa harta yang kamu tinggalkan untuk anakmu ?. Justru hartalah menjadi biang keladi adanya bunuh membunuh antara bersaudara, sesudah orangtua meninggal. Filsafat harta, makin banyak, makin terasa kehausan. Sama jika minum air laut, makin banyak minum, makin terasa haus. Sebab itu peranan harta itu ialah untuk melengkapi kewajiban kita dalam rukun Islam, dan untuk digunakan membantu sebagian masyarakat miskin dan parasarana agama. Artinya, semata untuk persiapan akhirat. Bukan ditinggalkan untuk anak-cucu 7 turunan, agar mereka bahagia kehidupan dunianya.

Sebab kalau kehidupan dunianya diurus juga, dari situlah timbulnya angan-angan tinggi. Padahal Al-Quran menyebutkan WAMAL HAYAT AL- DUN -YA ILLA LA’IBUN…( Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sesungguhnya kampong akhirat itu lebih baik bagi orang bertakwa (QS. 6:32).

ILLA MATAUL GHURUR (…Tiadalah kehidupan dunia, ini melainkan kehidupan yang menipu) (QS.2: 185).

Alhasil, yang menjadi penghalang datangnya Husnul Khatimah ialah menghindari dua hal yang berpotensi membawa ke Suul Khatimah, yaitu suka menunda Taubat dan Angan-angan dunia terlalu tinggi. Sebaiknya, kita meniru Rasul SAW bertaubat sebanyak 1OO kali setiap hari. dan meninggalkan angan-angan dunia terlalu tinggi. Semua harta yang kita miliki, disamping dimanfaatkan sendiri dan keluarga, didalamnya ada hak orang miskin dan sarana keagamaan.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari Suul Khatimah. Amin.

H. Mochtar Husein