Rabu, 19 September 2012

Bagaimana Ketakwaan Kita Pasca-Ramadan

Meningkatkan Ibadah Pasca-Ramadan 

RAMADAN telah berlalu dari kehidupan kita. Ada hikmah yang kita rasakan saat menjalankan kewajiban puasa Ramadan tersebut sehingga kita tetap semangat untuk melaksanakan aktivitas ibadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan menuju target sasaran puasa adalah menjadi golongan mutakin (orang yang bertakwa).


Itulah tujuan berpuasa yang kita lakukan dengan kesungguhan hati diikuti dengan ketakwaan kita kepada Allah swt. semoga kita termasuk orang yang takwanya semakin meningkat dalam melaksanakan ibadah pasca-Ramadan ini. Karena puasa yang berhasil meningkatkan takwa seseorang, akan menumbuhkan sikap ketahanan yang positif, baik dilihat dari ketahanan rohaniah ataupun ketahanan jasmaniah. Kehidupan seseorang sangat ditentukan ketahanan rohaniah, dengan kuatnya rohaniah ia akan dapat bertahan dalam menghadapi segala problematika hidup.

Maka di saat manusia lupa terhadap tujuan hidupnya, dia senantiasa ingat bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya, yaitu jin dan manusia, bertujuan supaya berbakti dan menyembah kepada-Nya dalam konteks ibadah. Ibadah merupakan suatu cara mendekatkan diri kepada Sang Khalik, menyucikan jiwa dan amal perbuatan manusia sehingga terhindar dari dosa dan kejahatan. Hal tersebut akan tercapai manakala ibadah betul-betul dilaksanakan dengan tulus dan bersikap hati-hati untuk mempertahankan kebutuhan rohaniah yang sejati.

Maka kebutuhan rohaniah akan terus terpenuhi manakala adanya self control (penguasaan diri) secara sempurna. Kontrol diri termasuk bagian dari pemahaman akhlak, tidak berbeda seperti keimanan dan keistikamahan. Pemahaman kontrol diri bukan merupakan cabang dari agama, dan bukan agama yang menciptakannya. Hanya saja agama dapat menjamin lebih baik bagi terlaksananya nilai tersebut agar di dalam kehidupan manusia khususnya kaum muslimin menjadi pribadi-pribadi yang selalu tunduk dan taat atas setiap ajaran agama yang telah digariskan.

Untuk itu harus ada konsistensi dalam menjalankan agama, terutama pasca-Ramadan, yang mana di bulan Ramadan kita bisa meminimalisasi atau sama sekali bisa memerangi hawa nafsu. Memang sangat tepat dalam diri setiap manusia terdapat nafsu yang menguasai orang-orang yang lemah batinnya. Nafsu inilah yang menimbulkan segala macam perbuatan keji dan kejam dalam dirinya sendiri.

Ukuran kemampuan kontrol diri seseorang bergantung pada nafsu. Jika seseorang tak mampu dalam mengendalikan nafsu tersebut, maka bisa dipastikan dia tak mampu mengendalikan akal dan hatinya. Kalau hawa nafsu telah berkuasa, bahkan hawa nafsu dijadikan kemudi dan pedoman dalam kehidupan, maka akan celaka dan binasalah kehidupan manusia tanpa ada penangkal dan pengendalian untuk mencegah merajalalelanya nafsu tersebut.

Maka kemampuan kontrol diri amat penting dalam kehidupan manusia. Apabila seseorang mampu mengendalikan nafsunya, menurut ilmu jiwa, merupakan salah satu ciri jiwa yang sehat. Bagi orang yang beriman, alat pengendaliaan dirinya adalah keimanan yang telah menjelma menjadi kepribadian. Jika bisa dicapai, keimanan tersebut akan mengarahkan dan membentuk prilaku dan pribadi muslim yang baik. Keimanan dan kontrol diri merupakan senjata ampuh di medan peperangan yang terdapat di dalam dirinya sendiri terhadap godaan, baik yang timbul dari dalam maupun dari luar.

Dengan demikian, untuk membentuk pribadi muslim dengan semangat fitrah ilahiah menuju terbinanya manusia muslim yang utuh dalam berbakti kepada-Nya, berlandaskan tauhid yang cukup dan sempurna. Berbakti dan menyembah Allah merupakan langkah ketaatan dan kepatuhan dalam menjalankan perintah Ilahi di setiap amal ibadah.

Salah satu ciri dan pertanda yang harus selalu melekat dan menonjol dalam diri kaum muslimin, yaitu apa yang dinamakan dengan ibadah. Ibadah merupakan implementasi dari iman dan Islam yang tertanam kokoh di dalam sanubari kaum muslimin. Demikianlah banyaknya amal perbuatan yang dapat dilakukan oleh seorang muslim sebagai ibadah dan pembaktian kepada Allah sehingga boleh dikatakan bahwa setiap gerak dan langkah, setiap kata dan ucapan dapat dijadikan sebagai ibadah.

Jika direnungkan, diteliti, dan dicermati bahwa ibadah itu sangat berpengaruh untuk memercikkan semangat kebebasan dan kemerdekaan ke dalam jiwa manusia, melepaskan dari belenggu makhluk, baik yang merupakan benda ataupun berupa manusia. Sebab, nilai-nilai ibadah akan menghilangkan sifat ketergantungan manusia kepada yang lain-lain, kecuali kepada Allah.

Menurut pandangan Imam Fakhruddin Arrazie, hal yang menjadikan positif dalam melakukan ibadah itu akan menumbuhkan tiga hal dalam kehidupan manusia, yaitu:

Pertama, ibadah membentuk manusia, menjadi manusia sempurna (kamil). Dengan ibadah-ibadah yang dilakukan, hati nurani manusia diterangi dengan cahaya ilahiah, lidahnya terpelihara dengan ucapan-ucapan yang mulia, seperti zikir dan lain-lain, anggota tubuhnya menjadi sehat dan segar sehingga dia mencapai tingkat kemanusiaan yang tinggi, dan akhirnya mencapai sa'adah (bahagia) dalam arti seluas-luasnya.

Kedua, ibadah membentuk sifat amanah. Amanah atau sifat dipercayai itu adalah salah satu akhlak yang utama. Orang yang amanah senantiasa mendapat pertolongan Allah pada saat yang diperlukan.

Ketiga, ibadah menciptakan kegembiraan dan sukacita. Ibadah mengeluarkan manusia dari alam kesusahan dan keresahan ke alam kesenangan kegembiraan, dari alam yang gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang, Allah memberikan jalan keluar dari suatu kesulitan, menunjukkan pemecahan persoalan dari kesukaran yang sedang dihadapi.

Sebenarnya, melaksanakan ibadah itu, tiada lain untuk kepentingan dan keuntungan manusia yang mengerjakan ibadah itu sendiri. Karena tujuan ibadah adalah menyucikan jiwa dan amal perbuatan sehari-hari dari dosa dan kejahatan. Telah diatur sedemikian rupa bahwa tujuan tersebut akan terpenuhi asalkan ibadah betul-betul dilaksanakan dengan tulus dan cukup berhati-hati untuk mempertahankan semangatnya yang sejati.

Maka, hendaknya kita tetap teguh dalam menjalankan ibadah, terutama setelah berlalunya puasa Ramadan, untuk meningkatkan ibadah dan amal perbuatan. Umat Islam dengan demikian, sepatutnya mengetahui hikmah-hikmah (hikmatut tasyri') ibadah tersebut agar lebih mantap dalam menjalankannya. Dengan mengenal hikmah ibadah, bukan berarti kita beribadah sekadar untuk mendapatkan hikmah-hikmah tersebut.
Namun, secara kejiwaan hikmah beribadah adalah menuju sikap takwa dan mendorong manusia menjadi pribadi muslim yang berkarakter ketuhanan (rabbani). Manusia yang berkarakter ketuhanan digambarkan oleh Imam Hasan Al-Basri "Ia teguh dalam berprinsip. Teguh tapi bijaksana. Tekun menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana".

Maka alangkah besar kerugian yang diderita manusia jika tak mengubah orientasi hidup dan mensucikan hatinya. Karena dengan memperbaiki orientasi hidup dan menyucikan niat itu sajalah yang mengubah usaha-usaha mencari kesenangan menjadi ibadah. Marilah kita meningkatkan ibadah dan amal perbuatan sehingga kita dapat bahagia dalam kehidupan baik dunia maupun akhirat.

Semoga setiap ibadah dan amalan-amalan kita selama Ramadan diterima oleh Allah, dan tetap istikamah dalam menjalankan ibadah sampai kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadan yang akan datang.