Selasa, 28 Agustus 2012

Orang yang Kecewa dan Merugi

Tiga Orang Kecewa dan Merugi

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menaiki mimbar (untuk berkhutbah). Menginjak anak tangga pertama beliau mengucapkan  amin. Begitu pula pada anak tangga kedua dan ketiga. Seusai shalat Sahabat bertanya, mengapa Rasulullah mengucapkan amin? Beliau lalu menjawab, 

“Malaikat Jibril datang dan berkata, ‘Kecewa dan merugi orang yang bila namamu disebut dan dia tidak mengucap shalawat atasmu.’ Lalu aku berucap amin.”


“Kemudian malaikat berkata lagi, ‘Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan hidup bersama kedua orang tuanya tapi dia tidak sampai bisa masuk surga.’ Lalu aku mengucapkan amin.”

“Kemudian katanya lagi, ‘Kecewa dan merugi orang yang berkesempatan (hidup) pada bulan Ramadhan tapi tidak terampuni dosa-dosanya.’ Lalu aku mengucapkan amin.” (Riwayat Ahmad)

Melalui Haditsnya di atas Rasulullah hendak menjelaskan kepada kita tentang orang-orang yang kecewa dan merugi. Menurut beliau, orang yang kecewa adalah orang yang mendapatkan kesempatan besar lalu mereka tak memanfaatkannya secara optimal, baik karena ketidaktahuannya (kebodohannya) atau karena keengganannya (tertipu hawa nafsu) atau karena keingkarannya.

Peluang pertama, ketika ada orang menyebut nama Muhammad, bagi kita adalah peluang untuk menyahutnya dengan membaca shalawat. Barangsiapa yang membaca shalawat saat disebut nama Muhammad, maka pahala dan syafaat darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah.

”Orang yang berilmu pasti tahu bahwa kelak nanti di akhirat ada suatu masa di mana semua manusia akan mencari syafaat Nabi Muhammad. Orang yang terbiasa membaca dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah di masa hidupnya tentu akan mendapat prioritas atas syafaatnya. Orang yang tidak berilmu tidak memahami hal tersebut sehingga mereka lalai dan tidak melakukannya.”

Salah satu tanda cinta kita kepada Rasulullah adalah sering menyebut namanya, mendoakannya dengan membaca shalawat, serta meneladaninya.

Kedua, peluang lain yang tak kalah besarnya adalah berbuat baik kepada orang tua. Orang yang mengetahui dan menggunakan peluang ini akan memperoleh keberuntungan yang luar biasa, yaitu surga. Siapa yang tidak ingin hidup dan menikmati segala fasilitas di surga?

Caranya mudah, birrul walidain. Jika sekarang kita masih hidup bersama orang tua, maka peluang emas itu jangan sia-siakan. Hindari segala perkataan, perbuatan, maupun sikap yang mengundang marah kedua orang tua. Jauhi apa yang tidak mereka sukai, tinggalkan semua yang dibenci. Sebaliknya, mintalah selalu keridhaannya dengan perbuatan baik, amalan yang makruf, dan sikap yang santun. Hormati mereka, bantulah mereka, dan jangan pernah berkata “ah”, yang membuat luka hatinya.

Alangkah naifnya orang yang masih bersanding dengan orang tuanya, tapi tidak mendapatkan keberuntungan berupa surga.

Ketiga, orang rugi besar dan kebangkrutan yang tak ternilai harganya adalah orang yang diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan tapi tidak mendapat ampunan dari Allah. Bukankah kita telah mengetahui bahwa Ramadhan merupakan bulan ampunan?

Saat ini kita berada di bulan Ramadhan. Kesempatan untuk meminta ampuan Allah sangat terbuka lebar. Tergantung kita, mau memanfaatkan kesempatan baik atau menyia-nyiakannya. Rasulullah bersabda:

”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhaan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Riwayat Bukhari) Suara Hidayatullah