Kamis, 30 Agustus 2012

Memulailah Dari Diri Sendiri

Menjadi Lilin 

Ada yg bilang, ini sulit! aturan yg abu-abu dan kebiasaan yg sudah mendarah daging dan hampir dijalankan oleh semua orang, sadar ini memang salah tapi bagaimana cara memperbaikinya? Keadaan begitu serba samar-samar dan tidak jelas lagi. Pendek kata tidak ada acuan yg jelas, mulai dari bawahan sampai atasan polahnya tidak ada bedanya, karena semua sama-sama berada pada ruangan yg gelap!

Harus ada yg memulainya, tapi siapa?
"Zaman edan, kalau tidak ikut edan tidak akan kebagian!" itulah sebait kata pujangga dan peramal Ronggowarsito (http://id.wikipedia.org/wiki/Ronggowarsito) mengenai keadaan atau zaman edan yg kita sedang lalui dan rasakan sekarang ini. Tidak semua edan alias gila, kata saya dalam hati. Saya yakin masih banyak yg belum gila betulan dan masih bisa disembuhkan.

Memulai dari sendiri tak mudah tapi harus dimulai. Tak mudah membenahi keadaan yg sudah carut marut di lingkungan kita, kita selalu berharap orang lain berubah dan memulainya, padahal jelas orang lain juga begitu, menunggu orang lain berubah. Lantas kapan ada perubahan? memulai dari diri sendiri adalah kata kuncinya! jelas berat, apalagi untuk memulai dari diri sendiri terkadang dan bahkan seringkali diri kita sendirilah korban awalnya.

Seperti sebuah lilin yg terbakar di ruangan gelap, bisa menerangi ruangan sekitar walau temaram dengan diri sendiri ikut terbakar dan habis karenanya. Keberanian yg jelas harus diacungi jempol bukan malah dikucilkan dan dianggap aneh dan gila. Jelas harus ada yg memulainya, syukur alhamdulillah orang lain sadar dan tergugah ikut rawa-rawe rantas malang malang putung, lilin kecil saja mau dan berani berkorban menjadi pelita di kegelapan malam, apalagi kalau yg punya lampu petromax berani menampakkan jati dirinya, maka teranglah ruangan yg selama ini gelap gulita ,tak jelas dan samar-samar, mana yg benar mana yg salah, mana yg halal mana yg haram.

Membawa rizki untuk keluarga sungguh bernilai ibadah karena sesuai syariah, namun patutkah membawa pulang rizki subhat  alias abu-abu untuk dimakan anak istri kita? nilai ibadahnya pasti berkurang atau  bisa jadi hilang, hanya tinggal nilai ekonominya saja dan yg pasti nilai keberkahannya tidak ada. Rizki yg berkah itulah yg seharusnya kita bawa pulang ke rumah walau sedikit, karena keberkahan membawa kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. 
Amin.
Selamat menjadi lilin di antara gelapnya malam, mulai sekarang juga.
Semoga ikhlas dan sabar.