Kamis, 30 Agustus 2012

Bolehkah? Menampakkan Amal Kita Agar Diikuti

Menampakkan Amal Supaya Diikuti dan Ditiru, Bolehkah?

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Hukum asal dari amal shalih yang dikerjakan orang haruslah dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi. Pelakunya menutupinya agar tidak terlihat oleh orang, khawatir tumbuh perasaan riya (berharap pujian dan sanjungan) dalam dirinya.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 271)

Dan dalam hadits tujuh orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ

"Dan seseorang yang bersedekah lalu menymebunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diperbuat oleh tangan kanannya." (Muttafaq 'Alaih)

Imam al-Bukhari membuat bab dalam Shahihnya dengan judul: Bab Shadaqah Sirr (shadaqah rahasia/tersembunyi) dan menyebutkan ayat di atas. Yang pada bab sebelumnya beliau membuat judul: Bab Shadaqah 'Alaniyyah (Shadaqah terang-terangan) dan menyebutkan firman Allah Ta'ala,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً الْآيَةَ إِلَى قَوْلِهِ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah: 274)

Walaupun boleh kedua-duanya, namun menyembunyikan amal shalih itu akan lebih ikhlas. Amalan para ulama salaf menjadi buktinya. Hanya saja, apabila seorang muslim menginginkan agar amal baiknya tersebut diikuti dan dicontoh orang maka ia boleh menampakkan amal tersebut dengan syarat ia sungguh-sungguh menundukkan jiwanya, karena syetan pasti akan berusaha memasukkan riya' ke dalamnya.

Terdapat dalam Shahih Muslim, dari hadits Jarir Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata: Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di satu siang. Lalu ada satu kaum yang tanpa pakaian, tidak bersandal, dan berkerudungkan kain sambil menenteng pedang mendatangi beliau. Mayoritas mereka dari suku Mudhar, bahkan keseluruhannya dari suku Mudhar. Wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  langsung berubah saat melihat kesengsaraan mereka. Kemudian beliau masuk rumah lalu keluar. Kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan adzan dan iqamah, lalu beliau shalat. Setelah itu beliau berkhutbah sembari membaca firman Allah,

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan dari padanya Allah menciptakan isterinya (Hawa), yang dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. Al-Nisa': 1)

Dan satu ayat dalam surat al-Hasyar, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). . ."

Maka (hendaknya) seseorang bersedekah dengan sebagian dinarnya, sebagian dirhamnya, sebagian pakaiannya, dan secarub gandum dan kurmanya, -sampai beliau bersabda-, "Dan walaupun bersedekah dengan separoh butir kurma." Kemudian datang seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan membawa pundi-pundi besar hingga hampir-hampir saja tangannya tidak kuat untuk mengangkatnya. Kemudian Jarir berkata: kemudian orang-orang mengikutinya sampai aku lihat ada dua tumpuk makanan dan pakaian sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berseri-seri dan bersinar karena senangnya."

Orang Anshar pada hadits di atas bersedekah dengan membawa kantung yang berat sehingga ia keberatan membawanya. Dan ia lakukan itu dengan dilihat dan didengar manusia. sehingga ketika orang-orang mengikuti perbuatannya tersebut, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa yang mengawali satu perbuatan baik dalam Islam, maka baginya pahala perbuatan baiknya dan pahala orang mengejakannya sesudahnya tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun. . ."

. . . apabila seorang muslim menginginkan agar amal baiknya tersebut diikuti dan dicontoh orang maka ia boleh menampakkan amal tersebut dengan syarat ia sungguh-sungguh menundukkan jiwanya, karena syetan pasti akan berusaha memasukkan riya' ke dalamnya. . .
Walhasil, apabila terdapat maslahat yang jelas dengan menampakkan amal shalih, maka seorang muslim boleh menampakkan amalnya sebatas kemashlahatan tersebut. 

Wallahu Ta'ala A'lam.