Senin, 23 Juli 2012

6 sifat perempuan yang menjijikan dan tidak bisa dijadikan istri

1. Al -Anaanah:

banyak keluh kesah. Yg selalu merasa tak
cukup, apa yg diberi semua tak cukup. diberi
rumah tak cukup, diberi motor tak cukup,
diberi mobil tak cukup, dll. Tak redha dg
pembelaan dan aturan yg diberi suami. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia
saja, tanpa memperhatikan perasaan suami,
tak hormat kepada suami apalagi berterima
kasih pada suami. Bukannya hendak
menolong suami, apa yg suami beri pun tak
pernah puas. Ada saja yg tak cukup.


2. Al-Manaanah:

suka mengungkit. Kalau suami melakukan
hal yg dia tak berkenan maka diungkitlah
segala hal tentang suaminya itu. sangat
senang hendak membicarakan suami: tak
ingat budi, tak bertanggungjawab, tak sayang dan macam-macam. Padahal suami
sudah memberi perlindungan macam2
padanya.


3. Al -Hunaanah:

ingin pada suami yg lain atau berkenan kpd
lelaki yg lain. sangat suka membanding-
bandingkan suaminya dg suami/lelaki lain.
Tak redha dg suami yg ada.


4. Al- Hudaaqah:

suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka
dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang
malam asyik menekan dan memaksa suami.
Adakalanya dg berbagai ancaman: ingin lari,
ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan
sebagai pemimpinnya. Yg dipentingkan
adalah kehendak dan kepentingan dia saja.


5. Al -Hulaaqah:

sibuk bersolek atau tidur atau santai2 dll
hingga lalai dg ibadah-ibadah asas, seperti
solat berjemaah, wirid zikir, mengurus
rumah-tangga, berkasih sayang dg anak2,
dll.


6. As-Salaaqah:

banyak berbicara, menggosip. Siang malam,
pagi petang asik menggosip terus. Apa saja
yg suami kerjakan selalu tidak benar
dimatanya. Zaman sekarang ni bergosip
bukan saja berbicara di depan suami, tapi dg telfon, SMS, internet, BBM dan macam2 cara
yang lain . Yg jelas isteri tu asyik
menyusahkan suami dg kata2nya yg
menyakitkan.



Sebelum diniatkan utk dinikahi, ada baiknya
ditelusuri dulu lebih jauh dan lebih dalam
segala sifat psikis dan kejiwaan nya, bukan
mksud nya dalam artian waras atau gila nya
ya, tp lebih kepada jiwa normal nya sebagai
pertimbangan (sudah) layak atau tidak nya, sudah siap atau tidak kah untuk dijadikan
sebagai seorang istri dan sbagai seorang Ibu
buat anak-anak kelak.
Jadi, itu smua dilakukan supaya tidak ada
rasa penyesalan karena keterlambatan
saling memahami sifat dan jiwa satu sama lain pas pada saat sudah menikah mnjadi
suami-istri.

Catatan :
Muhamad Caniago

Share Grup: Rindhu
https://m.facebook.com/groups/436028619754729?view=permalink&id=459091627448428&_rdr#459294207428170

~ 18 Syaaban 1433H ~
www.info-iman.blogspot.com